Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 35


__ADS_3

Dikantor polisi mereka sedang ditatap Nadia dengan tajam, ia benar-benar sangat marah kepada anak jaman sekarang yang sudah berani menggunakan obat larangan. "Kamu, siapa nama mu?" Tanya Nadia menulis nama mereka satu persatu di komputer.


"Ba-bayu" Jawabnya.


"Alamat?".


"Jalan xx".


"Usia?".


"17 tahun".


"Apa?" Kaget Nadia memukul kepala mereka satu persatu.


"Aahhh" Kaget mereka.


"Iiissss.. Kelas berapa kamu?".


"Kelas 2 SMA".


"Nomor telepon orang tua mu".


"Tidak, jangan lakukan itu, saya mohon jangan lakukan itu. Apapun yang bapak ibu minta kami akan menurutinya asalkan kasus ini tidak sampai kepada kedua orang tua kami, tolong".


Nadia menatap Zico sambil tersenyum tipis, "Baiklah, dari mana kalian menemukan benda haram ini?".


Namun mereka malah terdiam.


"Kenapa kalian jadi diam?" Diwajah mereka tampak di penuhi kegelisahan, tetapi Nadia yang sedari tadi mendesak, akhirnya mereka membuka mulut, "Siapa?".


"Abang Ra-Raden" Jawabnya menunduk.


"Raden?".


"Mmmmmm".


Zico langsung memukul meja, ia terlihat sangat marah kepada pria yang tadi menganggu mereka saat sedang menikmati makanan. "Ternyata dia".


"Kalian mengenalnya?".


"Kalian-kalian.. Siapa kalian?" Ujar Nadia.


"Maaf".


"Sekarang berikan nomor ponsel orang tua kalian?"


"Apa? tadi, bukankah ibu sudah berjanji tidak akan memberitahu orang tua kami".


Nadia tidak memperdulikannya, ia melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 5 sore, "Cepat sebutkan, kami tidak punya banyak waktu. Cepat..!!" Bentaknya lagi sampai membuat mereka ketakutan.


"Ba-baiklah".


Mereka pun langsung menyebut nomor ponsel orang tua mereka masing-masing, lalu Zico membawa mereka kedalam ruang tahanan dibawa umur, "Untuk saat ini kalian harus berada disini sebelum orang tua kalian masing-masing datang kemari" Ucap Zico.


"Pak, tolong maafkan kami. Kami masih butuh pendidikan, kalau saja pihak sekolah tau kami seperti ini. Mereka pasti akan mengeluarkan kami dari sekolah, kami mohon pak, tolong kejadian jangan sampai ke pihak sekolah. Kami juga awalnya tidak tau, kami itu di jebak pak".

__ADS_1


Zico menghela nafas, ia juga merasa kasihan kepada mereka. Setelah itu ia datang menghampiri Nadia, "Apa kamu sudah menghubungi orang tua mereka?".


"Mmmmm.. Mereka akan segera datang kemari, tolong kamu hubungi pak Bayus, biar bapak itu saja yang bicara kepada orang tua mereka".


"Itu pak Bayus sudah datang, Pak" Tunduk Zico.


"Mmmm.. Ada apa?" Tanya Bayus yang baru datang bersama dengan Rico.


"Itu pak, kami baru saja mengamankan 5 siswa pelajar SMA atas kasus penyalahgunaan obat terlarang".


"Dimana mereka?".


"Disel tahanan bawah umur".


"Terus, kalian mau pergi lagi?".


"Iya pak, kami harus menangkap orang yang telah merusak masa depan anak-anak".


"Mmmm.. Kalau terjadi apa-apa, cepat beritahu kami".


"Siap pak" Nadia dan Zico segera pergi dari sana menuju lokasi itu lagi.


Lalu Bayus dan Rico menghampiri kelima siswa tersebut, mereka tampak sangat memprihatinkan. "Apa ini yang kalian mau?".


Mereka melihat kearah sumber suara.


"Bersiaplah, sebentar lagi orang tua kalian akan datang kemari".


Mereka hanya bisa menghela nafas.


Tidak lama kemudian, suara keributan terdengar sangat kuat. Lalu salah satu polisi menghampiri mereka sambil bertanya, "Tolong suaranya di kecilkan, ini kantor polisi. Ada yang bisa kami bantu?".


"Pemanggil atas nama siapa? dan kasusnya kasus apa?"


"Nadia, dia bilang anak kami yang masih SMA menggunakan narkoba, sangat tidak masuk diakal, bagaimana bisa anak ku yang sangat baik mengunakan benda-benda seperti itu".


"Kalau gitu, mari ikut saya" Bawanya keruangan khusus pemberantas mafia yang di pimpin oleh Bayus.


Tok.. Tok..


"Masuk!".


Ceklek.


"Permisi pak, mereka orang tua...


"Mmmmm" Potong Bayus melihat mereka.


"Kalau gitu saya permisi dulu pak".


"Iya, terima kasih".


"Sama-sama pak".


Bayus pun menyuruh mereka duduk, lalu mengeluarkan beberapa lembar formulir untuk di isi, "Tolong semuanya di isi ya".

__ADS_1


"Permisi" Ujar salah satu orang tua tersebut.


"Iya, silahkan" Angguk Bayus.


"Apa benar anak kami ditahan disini?".


"Iya, nanti saya akan mambawa ibu dan bapak melihat mereka, sekarang tolong di isi dulu yang ini" Mereka segera mengisinya, setelah selesai, Bayus mengambilnya kembali. "Mari ikut saya".


Kelima orang tua siswa itu mengikuti Bayus kedalam ruang tahanan anak mereka, disana anak-anak mereka sedang menahan tangis akibat dari penyesalan yang telah mereka perbuat. "Lihat kemari, orang tua kalian ada disini".


Suara isak tangisan langsung terdengar sangat kuat di telinga Bayus, ia pun pergi meninggalkan mereka.


.


Sedangkan Zico dan Nadia telah berada di dalam club, mereka memesan 1 botol alkohol agar mereka tidak di curigai. "Apa kamu sudah melihatnya?" Tanya Zico.


"Tidak" Jawab Nadia. Ia melihat jam tangannya, sekarang sudah menunjukkan pukul 10 malam, namun yang mereka tunggu-tunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Kemudian Nadia mengalihkan arah padangan matanya, ia melihat pengunjung disana semakin ramai dan juga pria-pria berbadan besar, "Kenapa aku seperti mengenal mereka yah?" Batin Nadia.


"Ada apa Nad?" Tanya Zico melihat Nadia sedang memperhatikan beberapa pria berbadan besar itu saat mereka masuk.


"Tidak" Geleng Nadia.


"Oohh iya Co, menurut mu siapa mereka?" Zico segera melihat kearah beberapa pria tersebut, namun Nadia langsung menahannya sebelum Zico melihat kearah mereka, "Jangan melihat seperti itu, kamu mau kita ketahuan?".


Tetapi pria berbadan besar itu tidak sengaja melihat Nadia, dengan kening mengerut ia datang menghampiri meja mereka, "Sial, sedang apa dia kemari" Umpat Nadia dalam hati. Penuh dengan keberanian, ia pun melihat pria yang kini berada di hadapannya. "Maaf, anda siapa?" Tanya Nadia.


Ia tersenyum tipis, lalu menunduk sebagai penghormatan.


Nadia dan Zico di buat kebingungan, mereka tidak mengerti maksud dari pria itu, tidak lama kemudian pria itu meninggalkan meja mereka kembali. "Ada apa dengannya? apa dia tau kita seorang polisi?" Gumam Zico yang bisa di dengar oleh Nadia.


"Tidak mungkin, kalau dia tau kita seorang polisi, dia tidak akan membiarkan kita berada disini".


"Iya juga, lalu alasan dia seperti itu apa?".


"Entahlah" Nadia kembali meneguk alkoholnya. Ia mulai merasa bosan, akibat yang di tunggu-tunggu, belum juga tiba disana. "Aku ke toilet dulu Co".


"Mmmmmmm".


Berjalan menuju toilet wanita, tiba-tiba seseorang menabrak bahu Nadia, "Aaiiisss" Kesalnya melihat Nadia.


"Maaf, saya tidak sengaj.." Gantung Nadia melihat pria yang baru saja menabraknya.


"Ada apa? kenapa kamu melihat ku seperti itu?".


Nadia menyeringai, "Kenapa jadi saya yang minta maaf? harusnya kamu yang meminta maaf pada saya, karna kamu yang sudah menabrak bahu saya".


"Apa?" Semakin kesal Raden.


"Ck, kamu seperti perempuan saja, tolong kecilkan suara mu. Mari bicarakan ini secara baik-bai..


"Aaiiisss..." Raden pun mencoba melayangkan pukulan di wajah Nadia, tetapi dengan cepat tangan kasar Nadia langsung menahan tangannya diatas udara. "Hahahaha.. Hey, bagaimana bisa tangan wanita secantik kamu memiliki tangan yang sangat kasar" Ejek Raden menertawai Nadia.


Nadia kesal, ia menghempaskan tangan Raden tampa Nadia sadari Raden melayangkan pukulannya lagi tepat diwajahnya.


PPLLAAAKKKK...

__ADS_1


"Aahhh" Kaget Nadia menyentuh pipi kanannya, hingga sudut bibirnya yang robek. Nadia sangat marah, ia mengepal kedua tangannya, "Hhhiiiaaarrrkkkhhh".


Dengan sangat menggenaskan, Raden tumbang diatas lantai, ia benar-benar tidak menyangka kalau Nadia wanita kuat. "Sial" Umpatnya dalam hati, kemudian ia melihat Nadia mendekatinya lagi, Raden pun langsung menyuruh Nadia berhenti sambil meminta maaf.


__ADS_2