
Kemudian David menghubungi Bagas untuk membereskan kejadian yang baru saja ia buat, sambil menunggunya, David menyempatkan diri menghisap sebatang rokok. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, kini Bagas telah tiba disana dengan beberapa anak buahnya. "Tuan" Tunduk mereka.
"Mmmm.. Bereskan dia" Ucap David memasuki mobil. Lalu Bagas mengendarai mobil tersebut pergi dari sana menuju markas mereka. "Bagaimana dengan Club? apa semuanya sudah di perbaiki?".
"Sudah tuan, minggu depan sudah bisa di buka kembali seperti biasa".
"Bagus, aku mau penjaga disana di perketat dan juga jangan sampai polisi kembali datang kesana".
"Siap tuan".
"Dan sepertinya Steven dan Gery telah mengetahui Nadia siapa?".
"Apa? Lalu apa yang akan tuan lakukan?".
David menghela nafas menatap keluar jendela kaca "Jalan satu-satu supaya ia tidak terlibat bercerai".
"Apa?" Kaget Bagas.
"Mmmmm".
"Tuan yakin akan menceraikan nona Nadia? lalu bagaimana dengan Hendrawan. Sampai sekarang dia belum juga bisa melunasi hutangnya".
"Dia akan membayarnya".
Bagas pun terdiam, ia tau kalau David mulai menaruh perasaan kepada Nadia meskipun wanita cantik diluaran sana selalu menyatakan cinta kepadanya. "Kalau tuan menceraikan nona Nadia, apa tuan akan baik-baik saja?".
"Mmmmm".
"Sebaiknya tuan memikirkannya lagi, begitu banyak cara untuk melindungi nona Nadia dari musuh. Dan tuan tau sendiri kalau nona Nadia seorang polisi".
"Karna dia seorang polisi aku berniat menceraikan dia Gas, aku tidak mau karna aku dia harus kehilangan pekerjaannya dan aku juga tidak mau melihat dia sedih ataupun menangis saat dia tau siapa aku yang sebenarnya".
"Iiisss.. Segitu rumitnya kah percintaan? itu sebabnya aku tidak akan memiliki perasaan kepada wanita" Gumam Bagas.
Sesampainya mereka di markas, David langsung masuk kedalam ruangannya. Ia meminta kepada Bagas untuk tidak mengganggunya selama ia tidur.
__ADS_1
Kemudian Bagas meminta kepada yang lainnya supaya tidak satu pun diantara mereka mendekati ruangan David. Setelah itu Bagas memeriksa barang yang semalam tiba.
Dengan nafas berat, David menatap langit-langit ruangannya dengan mata terbuka. Lalu ia menyambar ponselnya, ia memperhatikan gambar Nadia yang sengaja ia ambil kemarin saat Nadia sedang tersenyum manis. "Nadia Zaliva. Gadis mungil yang bekerja di kantor polisi pusat tepat di bagian investigasi pemberantas para mafia. Dan sekarang yang sedang mereka cari-cari adalah aku" Gumam David tersenyum.
"Benar kata dia. Aku penasaran ekspresi wajah apa yang akan Nadia tunjukkan begitu ia tau kalau aku seorang mafia? akankah dia marah? atau dia terlihat biasa saja atau dia akan menangis dengan membenci ku sampai selamanya? Aahhh, memikirkannya membuatku semakin penasaran".
DDDRRRRTTTTT... DDDRRRTTTTT..
"Tepat sekali. Kenapa dia menelpon ku?" Gumam David memandangi layar ponselnya.
DDDRRRRTTTTT... DDDRRRTTTTT..
"Hhhmmmsss.. Aku sedang tidak ingin mendengar suara mu" Ia mematikan ponselnya, lalu ia menutup kedua matanya yang sudah sedari tadi ingin tertidur.
"Ada apa dengannya? kenapa dia tidak menjawab panggilan ku dan malah mematikan ponselnya? perasaan tadi dia bilang dia tidak akan ke kantor. Padahal aku tadi hanya ingin mengajaknya makan siang bersama" Gumam Nadia menaruh ponselnya diatas meja.
"Apa dia baik-baik saja setelah dia mengatakan dia merindukan ku?" Nadia tersenyum. "Tapi kenapa dia malah mematikan ponselnya? aku kan jadi kepikiran dia terus".
Nadia yang sedang berada di kantin membuat ia merasa kesepian, baru kali ini ia makan sendiri selama bertugas disana. Biasanya ia selalu di temani oleh Zico kalau tidak ia makan bersama dengan rekannya. "Mereka sudah makan siang belum yah? apa sebaiknya aku bertanya? tapi, aahh sudahlah. Mereka pasti sudah makan siang" Nadia mecoba dengan lahap menikmati makan siangnya.
Sore harinya, Raka dan Diva telah kembali ke kantor. Dengan senyum mengembang di wajah Nadia ia menyapa kedua rekannya itu, "Kenapa kamu tidak bersama dengan Zico Nadia?" Tanya Raka.
"Kaki saya terkilir pak tadi pagi di kamar mandi, jadi pak Bayus mengantikan saya dengan anak baru".
"Anak baru?" Tanya Diva.
"Iya mbak, kita kedatangan anak baru".
"Oohhh.. Terus bagaimana dengan kaki kamu? apa kamu sudah membawanya kerumah sakit?".
"Sudah mbak. Paling besok sudah kembali normal".
"Semoga saja. Jangan terlalu banyak bergerak dulu".
"Iya mbak".
__ADS_1
Kemudian Raka menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, namun Nadia malah menolaknya. Ia mengingat kalau David akan datang menjemputnya, "Kalau gitu kami duluan Nad" Senyum Diva pulang duluan bersama dengan Raka melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5.36 sore.
"Iya mbak. Hati-hati dijalan" Lalu ia menyambar ponsel ya. "Semoga saja ponselnya sudah aktif".
DDDRRRRTTTTT... DDDRRRTTTTT..
"Maaf, nomor yang anda tujuh sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan. Silahkan tinggalkan pesa...
Nadia meletakkan ponselnya, ia melihat jam yang kini telah menunjukkan pukul 6 sore. "Dia berbohong, aku pikir dia benar-benar akan datang menjemput ku. Tapi nyatanya dia malah mematikan ponselnya. Dia benar-benar pembohong" Ia pun bangkit berdiri. Dengan bantuan tongkat ia segera meninggalkan ruangannya.
Sedangkan David yang masih berada di ruangannya, ia melihat ponselnya yang terletak di atas meja. "Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa menjemput mu pulang" Namun memikirkan kondisi Nadia yang terluka membuat ia merasa sedikit khawatir. Dan pada akhirnya ia pun menyerah dengan prinsipnya, ia pun langsung keluar dari dalam ruangannya.
"Bagas, berikan aku kunci mobil" ucapnya kepada Bagas.
Tampa bertanya, Bagas pun memberikan kunci mobil tersebut ditangan David. Lalu ia tersenyum, "Aku tau rasa cintanya itu semakin hari semakin tumbuh besar. Dan aku juga tidak tau apa yang akan terjadi jika rasa cintanya itu semakin tumbuh" Gumam Bagas menatap punggung David yang sudah menjauh.
Setibanya David di kantor polisi, ia melihat Nadia sedang berjalan kearah taksi yang sedang menunggu antri disana dengan tongkatnya. "Terima kasih tidak menunggu ku".
David mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian ia melihat kearah Nadia kembali yang kini ditutupi sebuah mobil yang baru saja berhenti di hadapannya. "Nadia, ada apa dengan mu?" Suara itu membuat David menghentikan tangannya saat ia membuka pintu mobilnya.
"Zico, kamu sudah pulang" Senyum Nadia melihat pria yang berada di hadapannya itu.
"Kenapa kamu menggunakan tongkat Nadia? apa sesuatu terjadi kepada mu".
"Tidak, aku baik-baik saja Co. Tadi pagi aku terjatuh di kamar mandi, jadi kaki kanan ku sedikit terkilir. Tapi sekarang sudah merasa baikan setelah aku membawanya kerumah sakit".
"Bohong, kamu pasti berbohong. Sekarang kita kerumah sakit Nad".
"Aku beneran enggak kenapa-napa Zico".
"Aku tidak akan percaya sebelum aku mendengar dari dokter kalau kamu baik-baik saja, jadi aku harus memastikannya sendiri" Dengan secara paksa, Zico membawa Nadia kerumah sakit. "Kamu keluar" Ucapnya kepada Larisa.
"I-iya" Angguk Larisa.
Zico pun langsung membawa Nadia kerumah sakit. Lalu David yang berada di dalam mobilnya hanya bisa tersenyum sakit hati dengan apa yang telah ia lihat. "Wah.. Apa sekarang aku merasa cemburu?" Geleng David tertawa di dalam mobilnya.
__ADS_1