Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 34


__ADS_3

Melihat Nadia dan Zico sangat lahap, ia bertanya dari mana datangnya mereka. "Maaf, bisakah kami memakannya dulu?" Ucap Zico.


Ia tersenyum, lalu mengangguk meskipun dalam hatinya ia berkata kalau Zico terlalu sombong memperlakukan dia seperti itu.


Sambil menunggu mereka selesai, ia masih tetap berada disana dengan wajah tersenyum, "Aneh sekali pria ini?" Batin Nadia. Setelah ia selesai, ia melap mulutnya dengan tissue. "Bibi, rasanya sangat enak" Jempol Nadia.


"Benarkah".


"Iya bi".


"Terima kasih, saya harap kalian berdua sering-sering datang kemari".


"Pasti bi, karna rasanya sangat enak" Senyum Nadia melihat pria dihadapannya itu. Kemudian Zico mengeluarkan rokok, ia menawarkan kepada pria itu. Tidak ingin membuang kesempatan, ia pun menerima rokok Zico.


"Terima kasih".


"Mmmmmm" Begitu si pria itu menghisap rokok Zico, ia terlihat sangat menikmatinya, "Apa rasanya enak?".


"Iya, sepertinya rokok ini sangat mahal".


"Iya, sangat mahal. Disini kamu tidak akan pernah mendapatkan rokok seperti ini".


Ia tertawa melihat Zico yang sedang mengejeknya.


"Saya mengatakan yang sebenarnya, rokok ini hanya di miliki orang-orang seperti saya".


"Aaiiisss..!!" Ia mulai terpancing emosi melihat Zico yang semakin-makin menghina dirinya. "Yah.. Apa kamu sedang menghina ku?".


"Aahhh.. Maaf, saya tidak bermaksu..


BBRRRAAKKK..


Ia memukul meja sangat kuat sambil menatap Zico dengan tajam, lalu menarik kerah baju Zico, "Kamu mau tau siapa saya disini?".


Zico terdiam menghentikan Nadia.


Lalu ia tersenyum sinis, "Dasar pengecut, baru di gertak seperti ini saja kamu langsung menjadi anjing yang kedinginan" Ejeknya melepaskan kerah baju Zico. "Bibi" Panggilnya.


"Iya".


"Tolong beritahu mereka siapa aku disini, aku tidak mau menerima tamu yang tidak menghargai aku".


"Iya Raden" Jawabnya.


Ia pun pergi meninggalkan mereka, lalu si penjual mei itu melihat Zico dan Nadia. "Kalian tidak boleh cari gara-gara dengannya".


"Kenapa bi?" Tanya Nadia.


"Dia itu kepala preman disini".


"Lah terus..?".

__ADS_1


"Kalian itu harus menghargai dia supaya kalian bebas datang kemari".


"Oohhh.. Iya bi, lain kali kami akan lebih hati-hati lagi".


"Iya, bibi hanya mengingatkan kalian saja".


"Jadi semuanya berapa bi?" Tanya Zico.


"Semuanya 120 ribu".


"Ini bi, sisanya untuk ganti rugi gelas yang telah dia pecahkan".


"Iya, terima kasih. Lain kali kalian datang lagi, kami akan menyiapkan mie yang jauh lebih enak dari ini dan juga kami menjual sob tulang sapi".


"Iya bi, permisi".


"Iya" Si penjual itu meninggalkan mereka. Lalu Nadia dan Zico saling tatap-tatapan melihat puntung rokok yang tadi Raden hisap. Nadia mengangguk, dengan cepat Zico memungutnya, ia memasukkan ke dalam kantong plastik mini.


Di dalam mobil, Nadia memperhatikan puntung rokok itu, ia merasa kalau si pria tadi pengguna narkoba. "Kalau dia kepala preman disini, kita harus mencari tahu apa pekerjaannya Zico".


"Mmmmmm".


"Berarti kita harus beroperasi di malam hari, tidak mungkin dia bereaksi di siang hari".


"Apa sebaiknya kita menunggu disini?".


"Iya, tapi kita harus mencari tempat lebih aman, aku takut bibi itu mencurigai kita".


"Ada apa buk?" Tanya suaminya dari belakang.


Ia menghela nafas, "Bapak melihat kedua orang tadi?".


"Iya, kenapa? bapak tadi melihat Raden sangat merah kepada mereka".


"Ibu tidak tau, pria itu tadi menghina Raden atau tidak".


"Maksud ibu?".


"Dia menawarkan sebatang rokok kepada Raden, dan Raden tampak sangat menikmati rokok itu. Lalu si pemuda tadi bertanya apa Raden menyukai rokoknya, Raden pun menjawab enak. Ia tersenyum sambil berkata kalau rokok itu tidak akan Raden temukan disini dan yang memiliki rokok itu hanyalah orang seperti dia".


"Wah.. Pemuda itu benar-benar kurang ajar sekali telah menghina Raden. Dia pantas mendapatkan pukulan dari Raden".


"Raden tadi tidak memukulnya, ia malah melampiaskan kemeja dan gelas yang ia pecahkan".


Mereka berdua menghela nafas, mereka berpikir kalau Zico dan Nadia sudah sangat berani menantang seorang Raden yang sangat di takuti di lingkungan mereka.


Sekarang telah menunjukkan pukul 2 siang, Nadia dan Zico berada di dalam mobil dengan beberapa cemilan yang tadi Zico beli di swalayan terdekat tempat mereka parkir. "Zico?".


"Mmmmmm?".


"Menurut mu, disini ada tempat club mini gitu?" Zico tampak berpikir, lalu ia melihat seorang anak SMA yang baru pulang sekolah. "Kamu melihat apa Co?".

__ADS_1


"Tunggu disini Nad" Zico menuruni mobilnya menghampiri si anak SMA itu. Dengan senyum manis, ia menyapa mereka, "Hallo, kakak boleh mengajukan beberapa pertanyaan?".


Mereka kebingungan melihat Zico, namun melihat ketampanan Zico membuat mereka mengangguk. "Terima kasih, perkenalkan nama kakak Zico. Kakak mau bertanya, di daerah ini apa ada sebuah club mini gitu?".


Mereka melihat satu sama lain, lalu mereka menunjukkan ekspresi wajah kesal, "Kenapa?" Tanya Zico bingung.


"Percuma kakak tampan kalau kakak menyukai tempat seperti itu" Jawab salah satu gadis itu.


"Aahhh.. Jangan salah sangka dulu, kakak tidak bermaksud ingin bersenang-senang kesana. Jadi, club itu ada dimana?".


"Disana, kakak lurus dari sini, terus nanti ada persimpangan. Kakak pilih jalur kiri, disana nanti kakak akan melihatnya".


"Mmmmm.. Terima kasih banyak yah. Oohh iya, kalian mau cemilan, tadi kakak membelinya dari swalayan. Tunggu sebentar" Zico mengambilnya kebdalam mobil, namun saat itu juga ia melihat Nadia keluar dari dalam mobil. "Nad, kamu mau kemana?".


"Kesana" Jawab Nadia kearah gedung tua yang tidak digunakan lagi.


Setelah itu, Zico membawanya kepada anak SMA tadi. "Ini semua untuk kalian".


"Wah.. Banyak sekali kak, terima kasih ya" Senang mereka.


"Sama-sama" Angguk Zico. Setelah itu ia menghampiri Nadia kearah gedung tua itu.


Dengan langkah pelan Nadia masuk kedalam, ia mendengar suara anak SMA yang tadi ia lihat memasuki gedung tersebut. "Nad" Panggil Zico.


"Sshhhuuueettt🤫 Diamlah, kamu kemari" Ajak Nadia supaya Zico mendekat kearahnya. "Kamu dengan suara itu?".


"Iya".


"Kamu lihat kesana, anak-anak SMA itu sedang merokok seperti..." Gantung Nadia melihat Zico.


"Pemakai" Sambung Zico.


"Aaiiisss" Dengan sangat marah Nadia mendatangi mereka, "Yah...!!" Teriaknya memukul salah satu kepala mereka.


"Siapa kalian?" Kaget mereka melihat Zico dan Nadia.


"Apa kalian ini seorang pelajar? bisa-bisanya kalian berada disini tidak pulang kerumah. Rokok apa yang kalian hisap? jawab?" Bentak Nadia.


"Aiiiisss" Kesal salah satu di antara mereka melihat Nadia. "Kalian pikir kalian siapa Hahhh? ibu kami? atau ayah kami? atau guru kami sehingga kalian berani-beraninya datang kemari dengan memarahi kami?".


Nadia menyeringai, "Kalian memakai narkoba".


"Apa?" Kaget mereka pura-pura tidak tau.


"Jangan membuat lelucon disini, kalian harus dibawa ke kantor polisi".


"Yah.. Serang mereka" Perlawanan diatas mereka pun berlangsung, namun anak SMA itu malah tergeletak sangat menyedihkan di bawah kaki Nadia dan Zico.


"Kalian masih mau melawan?" Bentak Nadia.


"Tidak, kami minta maaf. Tolong biarkan kami pergi dari sini".

__ADS_1


Nadia tertawa kecil, "Membiarkan kalian pergi? itu tidak akan terjadi. Kalian harus dibawa kekantor polisi, ayo Zico" Mereka langsung membawa kelima siswa itu kedalam mobil.


__ADS_2