
Setibanya mereka di hotel, Nadia mengerutkan keningnya melihat tempat tersebut seperti ia mengenalnya, "Turun" Ucap Bagas.
Nadia segera keluar dari dalam sana, setelah itu ia mengikuti langkah kaki Bagas. Di dalam loby, Nadia semakin mengenai tempat itu. "Aahh, aku baru ingat. Yah, kita ngapain kemari?".
Bagas tidak menjawabnya.
Di dalam lift Nadia menarik lengan bagas menghadap dirinya, "Apa tujuan kamu membawa saya kemari?".
Lagi-lagi Bagas tidak menjawabnya.
"Kenapa kamu tidak menjawab saya?".
Ting..
Pintu lift terbuka, Bagas langsung keluar dari dalam sana. Dengan mata membulat Nadia melihat beberapa pria berjas hitam berdiri di depan pintu kamar hotel yang kemarin ia masuki bersama dengan David. "Tuan, kami sudah mengamankan mereka".
"Mmmmmm" Angguk Bagas masuk kedalam, namun Nadia yang masih diluar membuat ia menghentikan langkahnya, "Masuk" Nadia melangkah kan kakinya, ia berdiri tepat di belakang Bagas. "Lihat wanita itu".
Dengan wajah kebingungan, Nadia menuruti apa yang Bagas perintahkan. "Kamu" Kagetnya melihat Alexa berada atas ranjangnya bersama dengan seorang pria. "Ka-kamu bukannya. Bagaimana bisa kamu tidur bersama dengan pria lain, sedangkan kamu sedang mengandung anaknya tuan David?".
Alexa terlihat sangat kesal, ia benar-benar sudah tamat. "Diam, kamu pikir saya percaya kalau kamu istrinya David? Haaahhhh.. Enggak usah mimpi kamu bisa mendapatkan David, saya tau David kemarin memberitahu ku kamu istrinya hanya untuk membuat saya tidak berharap jauh kepadanya. Dan sekarang saya ketahuan olehnya" Seringai Alexa melihat Bagas.
"Apa? David mengatakan aku istrinya? masa iya sih? astaga, kenapa aku kemarin tidak mendengarnya yah" Senyum Nadia dalam hati.
"Sekarang kamu puas.. Kamu puas merebut David dari ku hahh?" Pria yang berada di samping Alexa langsung terlihat kesal kepadanya, ia tidak tau kalau Alexa benar-benar cinta mati kepadanya.
"Jadi kamu lebih mencintai pria itu dari pada ku Lexa? bahkan kamu rela mengorbankan bayi kita demi pria itu" Marahnya.
"Kamu Diam" Bentak Alexa sangat marah.
"Kamu yang diam! bagaimana bisa kamu melakukan itu kepada ku?".
Tidak ingin mendengar pertengkaran di antara mereka berdua, Bagas segera keluar dari dalam sana bersama dengan Nadia. Di depan mobil Nadia menunjukan senyumannya kepada Bagas, namun Bagas malah mengabaikannya masuk kedalam mobil.
Sesampainya di rumah sakit, mereka malah mendapatkan informasi yang tidak menyenangkan dari sang dokter yang menangani David. "Apa yang terjadi dok?" Geram Bagas mengepal tangan.
__ADS_1
"Maafkan kami, kami selalu memberikan yang terbaik untuk kepulihan pasien. Tapi, kami tidak bisa melakukan apa-apa di luar kemampuan kami, pasien koma".
"Apa?".
"Maaf".
Nadia langsung meneteskan air matanya, ia tidak menyangka kalau David akan koma. "Lalu kapan dia akan sadar kembali dok? saya mohon tolong selamatkan dia" Isak Nadia menggenggam tangan si dokter.
"Kita lihat saja nanti, mudah-mudah pasien mampu melewati masa koma ya. Paling lama nantinya sekitar satu bulanan saja".
Dengan air mata yang masih mengalir dari kedua pelupuk mata Nadia, ia memasuki kamar inap David, ia melihatnya tengah terbaring lemas dengan alat bantu medis. Kemudian ia menggenggam tangan David dengan sayang sambil melihat wajah pria yang sudah menyelamatkannya itu, "Kenapa harus koma sih? aku lebih suka melihat wajah datar mu melihat ku dari pada aku melihat wajah pucat mu seperti ini hiks.. Ayo bangun".
Bagas menghampiri Nadia, ia melihat Nadia menangis sambil menggenggam tangan David, "Sebaiknya kamu pulang, biar saya yang menjaganya".
Nadia menggeleng tidak ingin pergi dari sana.
Tidak lama kemudian, Vincen tiba disana begitu Bagas memberitahunya. "Ada apa ini? jadi benar tuan David koma sebelum dia membuka mata?" Tanya Vincen dengan tangan mengepal.
"Mmmmm.. Kata dokter paling lama sekitar 1 bulanan".
Nadia langsung melirik Vincen, ia tidak mau kalau saja mereka membawa David pergi dari sana. "Jangan, jangan bawa dia pergi. Aku akan merawatnya disini".
Bagas tampak berpikir, sebenarnya ia sangat setuju kalau David dibawa ke luar negeri supaya pengobatan David segera pulih. "Apa itu tidak akan membahayakan tuan David".
"Kita akan membawanya tampa sepengetahuan satu orang pun".
"Aku setuju" Angguk Bagas.
Nadia semakin sedih, namun kedua orang itu tidak akan tinggal diam saja melihat David yang akan siuman menunggu satu bulan lamanya. "Maaf, kami harus membawa tuan David" Ucap Vincen keluar mengurus administrasinya.
Nadia melirik bagas dengan wajah memohon supaya mereka tidak membawa David pergi. "Kenapa harus keluar negeri? kenapa tidak disini saja? dokter juga tadi berkata paling lama satu bulan, bukan berart...
"Maaf" Tunduk Bagas keluar meninggalkannya.
Nadia merasa akan benar-benar kehilangan David, ia kembali menggenggam tangannya. "Jika mereka harus membawa mu pergi, aku mohon cepatlah pulih. Aku masih memiliki hutang yang sangat besar kepada mu, dan jangan lupa kalau aku menunggu mu pulang".
__ADS_1
.
Kini Nadia sudah kembali pulang dari rumah sakit, ia memilih tidak melihat David dibawa pergi dari sana, dengan mata sembap Nadia melap air matanya. "Pak, tolong berhenti disana" Tunjuk Nadia kearah toko eskrim.
"Mau di tunggu nona?".
"Boleh, sebentar ya pak".
"Iya nona".
Nadia keluar dari dalam taksi, ia segera masuk kedalam toko eskrim tersebut, namun saat ia masuk Nadia tiba-tiba melihat Zico berada disana bersama dengan Refano. "Astaga, ada Zico lagi?" Dengan pelan-pelan Nadia keluar.
Tetapi Refano yang mengenali wajah Nadia langsung memanggil namanya, "Aaiiss.. Pake ketahuan lagi" Gumam Nadia tetap melangkah kakinya pergi dari sana.
"Nadia" Panggil Zico.
"Hhhmmmsss.. Kalau ini pasti Zico" Akhirnya Nadia menghentikan langkahnya. Ia kemudian melihat kebelakang, dan benar sekali Zico berada di belakangnya. "Zico" Senyumnya.
Dengan senyum mengembang di wajah Zico, ia menarik Nadia kedalam pelukannya. "Aku merindukan mu Nadia, aku sangat merindukan mu setelah dua hari aku tidak bertemu dengan mu".
Nadia melepaskan pelukan Zico, lalu ia memukul Zico cukup kuat sampai membuat pria yang berada dihadapannya itu meringis kesakitan, "Brengsek.. Aku tidak ingin melihat mu" Ucap Nadia berkaca-kaca.
"Maafkan aku, aku tidak akan melakukan kesalahan itu lagi" Peluknya lagi di tubuh Nadia.
Nadia pun semakin menumpahkan air matanya di dalam pelukan hangat Zico yang sangat ia butuhkan. "Zico..!!".
"Mmmmm.. Kenapa?".
"Zico..!!".
Zico melepaskan pelukannya, ia melihat kedua mata Nadia yang masih menangis, "Kenapa Nadia?" Dengan lembut Zico bertanya.
"Hiks.. Itu Co, supir taksi yang membawa ku kemari sedang menunggu ku di luar".
Refano langsung tertawa dibelakang mereka begitu ia mendengar taksi yang membawa Nadia kesana sedang menunggunya di luar. "Biar aku saja, berapa plak mobilnya" Geleng Refano keluar.
__ADS_1