
Didalam mobil, Nadia tak henti-hentinya menunjukkan senyum mengembang di wajahnya. Ia merasa sangat bahagia saat David memperlakukan ia layaknya sebagai seorang istri, kemudian David meliriknya. "Kenapa kamu melepaskan kalung pemberiannya?".
"Hhhmmm?".
"Tadi sore aku melihat mu memakai kalung. Sepertinya itu pemberian dari orang spesial".
"Aaaa.. Mmmmm, itu pemberian dari Zico rekan kerja aku. Yaa, dia selalu seperti itu sejak pertama kali kami berteman, bahkan aku sendiri tidak ingat kalau hari ini aku berulang tahun, tapi dia mengingatnya. Dia anak yang manis, lalu bagaimana dengan mu?".
"Kenapa dengan ku?".
"Bagaimana bisa kamu tau kalau hari ini adalah hari ulang tahun ku?".
"Ayah mu memberitahu ku" Jawab David berbohong.
"Oohh" Gumam Nadia tersenyum kecewa.
"Kenapa?".
"Tidak" Gelengnya. "Hari ini aku sangat lelah, dan cuaca malam ini sangat indah" Ujar Nadia melihat keatas langit yang gelap. "Aku menyukainya".
"Menyukai apa?".
"Bintang diatas langit, mereka sangat indah".
"Mmmmm.. Mereka memang sangat indah".
Sesampainya mereka di hotel, Nadia membaringkan tubuhnya dia atas tempat tidur, namun tiba-tiba cuaca jadi mendung dan juga hujan yang sudah menetes. "Ada apa ini? kenapa hujan tiba-tiba turun?" Nadia menuruni tempat tidurnya, ia berjalan kearah jendela kacanya.
DDDUUUAARRR...
"Aarrkkhhh" Kaget Nadia melonjak.
DDDUUUAARRR...
Dengan nafas tak beraturan Nadia melihat bayangan kilat petir tersebut masuk kedalam kamarnya. "Nenek, Nadia sangat takut hiks.. hiks.." Tangis Nadia menutup kedua telinganya.
DDDUUUAARRR... DDDUUUAARRR...
Kemudian Nadia melirik tempat tidurnya, ia berjalan merangkap menuju kesana, namun petir tersebut malah semakin kuat di kedua telinganya. "Nenek, tolong Nadia hiks.. hiks.. Nadia sangat takut" Semakin tangis Nadia telungkup diatas lantai.
__ADS_1
Sedangkan David yang kini berada di dalam kamarnya membuat ia termenung mengingat kejadian di masa lalu saat ia berusia 13 tahun. Lalu ia melihat jam yang telah menunjukkan pukul 11 malam. Setelah itu David bangkit berdiri dari atas kursi kerjanya, tetapi saat ia berjalan, tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Ada apa?" Tanya David.
"Tolong aku hiks.. Aku sangat takut".
DDDUUUAARRR...
"Aarrrkkhhh" Teriak Nadia kembali. David pun langsung berlari kedalam kamarnya. Lalu ia melihat David berdiri diambang pintu, "Aku sangat takut hiks.. hiks".
"Kenapa kamu tidak menutup jendela mu?" tanyanya berjalan kearah jendela. "Kalau kamu takut petir, harusnya kamu menutup gorden ini supaya kamu tidak melihatnya. Dan sekarang kamu malah menangis ketakutan" Ucap David berjongkok dihadapannya. "Berhenti menangis, mulai dari sekarang kamu bisa menganggap suara petir itu menjadi suara musik yang sangat kencang".
"Tidak bisa" Geleng Nadia masih menangis.
"Terus, kamu mau seperti ini terus? kalau kamu takut petir kamu akan tersiksa seumur hidup mu" David menyentuh kedua pipi Nadia sambil mengusap air matanya. "Dulu aku juga pernah sangat takut kepada hujan dan petir, namun aku mencoba melawannya untuk tidak takut. Dan setelah itu, sampai sekarang aku tidak pernah takut lagi mendengar suara petir ".
"Benarkah? kamu pasti berbohong, sejak dari kecil aku sangat takut dengan petir. Tapi nenek ku selalu datang memelukku sambil berkata tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, dan sekarang aku sangat merindukan nenek ku hiks.. hiks.. Nenek, Nadia merindukan nenek Nadia sangat merindukan nenek".
David membuang nafasnya, "Hentikan, aku akan memeluk mu" Tariknya membawa Nadia kedalam pelukannya. "Berhenti menangis, aku tidak suka mendengar suara orang menangis".
Tidak berapa lama kemudian Nadia pun berhenti menangis, namun ia malah tertidur pulas di dalam pelukan David. "Apa kamu tertidur?" Tanya David mendengar hembusan nafas Nadia yang beraturan. Kemudian ia melepaskan pelukannya, dan benar sekali Nadia telah terlelap di dalam pelukannya. "Bodoh!" Gumam David membawa tubuh Nadia diatas tempat tidur.
"Nenek jangan tinggalkan aku, ku mohon jangan tinggalkan aku nenek. Nadia sangat takut kalau tidur sendiri" Gumam Nadia dengan mata tertutup.
Pada pukul 12 malam lewat, hujan dan petir pun akhirnya berhenti. David melirik Nadia kembali, ia melihat Nadia yang tertidur sangat pulas. "Seumur aku hidup, baru kali ini aku perduli dengan seseorang. Apa benar aku telah memiliki perasaan kepadanya. Tapi kenapa? aku sudah berjanji tidak akan pernah jatuh cinta kepada wanita mana pun" Ucap David mengusap wajahnya dengan kasar.
.
Setelah pagi hari tiba, Nadia terbangun dari tidurnya. Ia melihat dirinya berada di atas tempat tidur dengan selimut yang berada diatas tubuhnya, "Apa dia yang membawa ku kemari?" Gumam Nadia mencari keberadaan David yang tidak ia lihat di dalam kamarnya.
Ceklek!
"Selamat pagi nona, sarapan sudah saya siapkan di atas meja" Ucap Tiara ramah.
"Iya, terima kasih. Apa kamu melihat tuan David?".
"Tuan David sudah berangkat kerja nona sekitar 15 menit yang lalu".
"Kenapa? inikah masih jam 7 pagi".
__ADS_1
"Ini sudah jam 8 kurang 15 menit nona".
"Apa?".
"Mmmmmm" Tiara menunjukkan jam ponselnya. "Hari ini nona tidak bekerja?".
"Astaga, aku terlambat lagi" Nadia kembali masuk kedalam kamarnya.
Hari ini pergelangan kaki Nadia sudah mulai membaik berkat ia yang selalu rutin meminum obat yang dokter kemarin resepkan, dan juga ia tidak lupa mengoles salep di pergelangan kakinya sehingga Nadia tidak perlu bantuan tongkat lagi.
Hanya membutuhkan 10 menit lamanya, Nadia segera keluar dari dalam kamar. Lalu ia melihat Tiara sedang menyiapkan sebuah bekal yang akan ia bawa ke kantor. "Wah, terima kasih banyak ya Tiara. Sampai jumpa nanti".
"Iya nona" Angguk Tiara.
Nadia berlari menuju lift, disana ia melihat Yanto tengah berdiri di depan pintu lift dengan pakaian kantor, "Yanto?".
"Hhhmmm? Aahh, Nadia" Senyum Yanto melihat Nadia. "Apa kabar mu Nad, sudah sangat lama kita tidak pernah bertemu lagi".
"Aahh iya Yanto maaf, akhir-akhir ini aku sangat sibuk sekali sampai aku tidak punya waktu untuk menyapa mu, padahal kita tetangga".
"Tidak apa-apa Nadia, aku juga akhir-akhir ini sangat sibuk. Di kantor pekerjaan ku setiap hari selalu menumpuk".
"Astaga, pantas saja kamu terlihat kurusan Yanto".
"Mmmmm.. Makan saja aku tidak punya waktu".
Dengan perasaan tidak tega Nadia menepuk lengang Yanto sebagai tanda ia berkata, tidak apa-apa, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk perusahaan mu.
"Terima kasih Nadia, tapi kenapa kamu baru berangkat? padahal ini sudah jam 8 pagi".
"Ck, aku ketiduran Yan. Dan lagi-lagi aku akan terlambat masuk ke kantor, aku tidak tau apa pendapat mereka terhadap ku nanti" Kesal Nadia mengingat ia yang sudah sangat sering datang terlambat.
Ting..
Pintu lift terbuka, "Kalau gitu aku akan mengantar mu. Ayo masuk".
"Tidak usah Yan, aku bisa naik taksi. Lagian aku juga tidak mau ngerepotin kamu, kamu pasti sudah terlambat".
Yanto tersenyum, "Tidak apa-apa, aku akan membuat sebuah alasan yang bisa membuat atasan ku percaya".
__ADS_1
"Hahahaha" Tawa Nadia. "Kamu ada-ada saja, gara-gara aku kamu mau berbohong kepada atasan mu?".
"Mmmmm.. Sekali-kali tidak apa-apa" Senyum Yanto kembali.