
Tidak lama kemudian Nadia terlelap dalam tidurnya dengan posisi tubuh masih membelakangi David. "Dasar bodoh" Gumam David membuka mata. Ia melihat Nadia membelakangi dirinya, kemudian membawa Nadia kedalam pelukannya.
Sambil memandangi wajahnya, David tersenyum senang. Ia merasa sangat bahagia melihat Nadia cemburu. Kemudian David mencium keningnya, "Tidurlah, tidak usah memikirkan hal yang aneh-aneh lagi" Ia pun segera memejamkan matanya kembali.
.
Begitu pagi hari kembali, Nadia merasa seseorang sedang memeluk tubuhnya, ia langsung membuka mata, ia melihat orang yang sedang memeluknya itu adalah David membuat hatinya merasa sangat senang. "Aku pikir siapa ternyata kamu".
Nadia menuruni tempat tidur David, ia pergi meninggalkannya yang masih terlelap. "Selamat pagi nona" Senyum Tiara.
"Pagi Tiara, bagaimana dengan tidur mu? aku harap kamu nyaman".
"Iya nona, tidur ku sangat nyenyak. Ah iya, aku telah menyiapkan sarapan nona, semoga nona dan tuan menyukainya".
"Kamu mau kemana?".
"Ke pasar nona, bahan-bahan di dapur sudah pada habis".
"Oohh.. Terima kasih ya Tiara. Kamu punya ongkos naik taksi?".
"Punya nona, permisi".
"Hati-hati dijalan Tiara".
"Iya nona".
Sekeluarnya Tiara dari sana, ia pun segera masuk kedalam kamarnya, ia melihat kamar tersebut telah tertata rapi. "Anak rajin" Puji Nadia memasuki kedalam kamar mandi.
Tidak ingin berlama-lama disana, begitu ia selesai ia segera keluar, Ia pun langsung memakai pakainya. Dan seperti biasa Nadia tidak terlalu suka berdandan seperti wanita lainnya, ia lebih suka terlihat natural karna wajahnya yang sudah putih sejak lahir.
Ceklek!
Nadia membuka pintu kamar, ia berjalan kearah meja makan, "Kenapa dia belum keluar? apa dia masih tidur? ini sudah jam 7 lewat" Gumam Nadia meneguk jus yang Tiara siapkan.
Hampir 10 menit lamanya Nadia menunggu disana, David belum juga keluar dari dalam kamarnya. "Apa sebaiknya aku melihatnya kesana?".
Ceklek!
"Akhirnya dia keluar juga, aku pikir dia masih tidur. Selamat pagi" Senyum Nadia.
"Mmmmm" Gumam David menyambar kopi.
"Aku kira kamu masih tidur".
Terdiam.
Nadia menyambar roti tawar, ia melihat David sedang menyeruput kopi panasnya tampa perduli dengan apa yang baru saja ia ucapkan. "Dasar kulkas" Batin Nadia. Setelah ia selesai, ia bangkit berdiri, "Aku duluan, waktu ku tidak banyak lagi".
__ADS_1
"Mmmmm".
"Astaga, cuma mmmm doang? dia benar-benar sangat menyebalkan. Bilang hati-hati kek, apa kek, emang susahnya cuman bilang itu saja?" Nadia pun segera pergi meninggalkannya dengan wajah kesal. Lalu melihat Yanto sedang menunggu di depan lift, "Oo, selamat pagi Yanto".
"Pagi Nadia" Senyum Yanto.
"Wah.. Setiap pagi kita berdua selalu ketepatan bertemu disini yah".
"Mungkin kita jodoh".
"Hhhmmm?".
Yanto tertawa, "Aku hanya bercanda Nadia, kamu langsung tegang saja. Inih, aku membawanya untuk mu".
Nadia melihat tangannya, ia melihat jajanan yang pernah ia bilang sangat menyukainya berada di atas tangannya. "Terima kasih Yanto, kamu baik sekali".
"Sama-sama Nad. Kamu mau aku antar?".
"Aahh.. Tidak usah Yan, aku naik taksi saja".
Ting..
Pintu lift terbuka, mereka berdua langsung masuk kedalam, namun saat pintu tertutup seseorang dari penghuni lantai itu berteriak untuk menunggunya. "Yanto tunggu" Tahan Nadia.
"Kenapa?".
"Aahh.. Hampir saja aku ketinggalan, terima kasih".
"Iya" Angguk Nadia menutup kembali.
Begitu mereka berada di loby, Nadia segera keluar dari dalam lift, ia melihat sebuah taksi sedang mengantri disana. "Pak, kantor polisi xx yah".
"Siap nona".
Sedangkan Yanto yang masih berdiri disana, ia memandangi Nadia sampai taksi yang Nadia tumpangi benar-benar menghilang dari hadapannya. Setelah itu Yanto berjalan menuju parkiran dimana ia memarkirkan mobilnya.
"Permisi" Panggil seseorang.
"Iya" Jawab Yanto.
"Kamu mengingat ku yang tadi lift?".
"Mmmmm".
"Syukurlah, aku rasa kalian berdua saling mengenal satu sama lain. Inih, tadi aku menemukan barang wanita itu terjatuh di depan lift saat dia buru-buru keluar dari dalam lift, aku harap kamu mengembalikannya kepadanya".
"Iya" Angguk Yanto tersenyum tipis. "Terima kasih".
__ADS_1
"Iya" Yanto melihat benda tersebut di atas tangannya sejenis kotak mini berbentuk perhiasan. Dengan rasa penasaran, Yanto membukanya, ia melihat sebuah kalung indah berada di dalamnya. Setelah itu ia menaruh didalam tas, ia kembali melangkahkan kedua kakinya.
.
Sesampainya Nadia di kantor, ia melihat rekan kerjanya telah berada di atas kursi mereka masih-masing. "Pagi semua" Sapa Nadia.
"Pagi Nadia" Balas mereka.
Kemudian Zico melihatnya, ia tau kalau Zico saat ini merasa tidak enak kepadanya. "Nadia, aku ingin bicara sebentar kepada mu" Ajaknya membawa Nadia keluar.
Lalu Nadia tersenyum, "Kenapa Co? tidak usah segan seperti itu, aku baik-baik saja".
"Nadia!" Panggilnya.
"Mmmmm?".
"Sebelumnya aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf soal kejadian semalam. Aku tidak tau kalau hal seperti itu akan terjadi disaat aku sedang bersama mu. Aku mohon Nad, tolong maafkan aku".
"Aku sudah bilang tidak apa-apa Zico, aku malahan turut sangat bahagia karna kamu sudah mendapatkan kembali orang yang pernah kamu cintai. Semoga kedepannya lagi hubungan kalian berdua semakin baik, dia adalah wanita baik yang tulus mencintai kamu".
Zico tersenyum, "Tapi aku masih tidak enak kepada mu Nad, aku benar-benar terlihat sangat kurang ajar kepada mu dan juga dia".
"Hey, jangan berkata seperti itu. Aku sudah bilang kepada mu sejak dari dulu kalau kamu itu sampai kapan pun akan tetap menjadi sahabat ku. Jarang-jarang loh ada wanita cantik seperti dia masih mencintai mu selama 8 tahun lamanya dan berjuang melawan penyakitnya tampa ada kamu disampingnya. Dan mulai dari sekarang belajarlah untuk membalas semuanya, karna dia sangat membutuhkan kamu Zico".
Zico semakin melebarkan senyumannya, "Terima kasih Nad. Bolehkah aku memeluk mu?".
"Tentu saja boleh" Nadia langsung memeluknya dengan sayang. "Selamat yah, aku bahagia melihat mu bahagia. Semoga kamu segera menikahinya".
"Amin, terima kasih Nadia terima kasih banyak".
"Mmmmmm".
.
Kini David tengah berada di ruang meeting, ia melihat mereka satu persatu sampai membuat mereka merasa tidak nyaman. "Tuan, saya bisa memulainya?" Tanya Vincen.
"Silahkan" Jawab David membelakangi mereka. Ia melihat kearah perkotaan padat tersebut dengan tangan berada di dalam kanton celana sambil mendengar Vincen memulai persentasinya.
Setelah selesai, David kembali duduk diatas kursinya. Ia kembali melihat kearah mereka yang lagi-lagi membuat mereka ketakutan melihat tatapan tajam David. "Saya mau kalian semua lebih berusaha lagi, dan meeting kedepannya saya tidak akan mendengar keluhan ini lagi. Kalian bisa mengerti?".
"Siap tuan" Jawab mereka.
"Meeting hari ini sampai disini" David langsung keluar, mereka semua pun menghela nafas legah begitu Vincen juga keluar dari dalam sana.
"Tuan David menakutkan sekali, jantung ku hampir saja copot melihat tatapan matanya. Padahal kita sudah melakukan yang terbaik di perusahaan ini, masa iya cuman keluhan sedikit itu saja dari pelanggan tuan David sangat marah".
"Sudahlah, sebaiknya kita lebih berusaha lagi membuat pelanggan puas dengan penjualan kita. Ayo" Ajak si manager membawa mereka keluar dari sana.
__ADS_1