
"Iya nona" Jawab Tiara dari dalam kamar David.
"Hhmm? sedang apa Tiara disana?" Gumam Nadia berjalan memasuki kamar David. "Loh, kamu ngapain disini?".
"Maaf nona, tadi saya mendengar suara dari dalam kamar tuan David. Jadi saya khawatir, dan benar sekali kalau tangan tuan David terluka".
Nadia melirik David yang masih berdiri disana dengan handuk putih melilit diatas pinggangnya. kemudian melihat Tiara, "Sebaiknya kamu pergi, biar aku yang mengobati lukanya".
"Baik nona, permisi" Tunduknya keluar.
Lalu Nadia mendekati David, "Kenapa tangan mu bisa terluka seperti ini?" Tanya Nadia lembut. Namun bukannya menjawab Nadia, David malah menghela nafas berat. "Kemarilah, aku akan mengobati luka mu ini. Kamu menaruh kotak obat dimana?".
"Disana" Jawab David mendudukan diri diatas ranjangnya. Begitu Nadia mendapatkan kotak obat tersebut, ia segera mengobati luka David dengan lembut. "Terima kasih".
"Apanya?".
"Terima kasih sudah mengobati luka ku".
Nadia tersenyum, "Kamu baik-baik saja? pasti rasanya sangat perih".
"Tidak".
"Benarkah?".
"Mmmmmm".
"Wah.. Kamu hebat yah bisa menahan rasa sakitnya. Selesai" Nadia menyimpan kotak obat itu kembali. "Kamu tidak menganti pakaian mu? kamu membuat ku sedikit kurang nyaman".
"Kenapa?" Senyum David.
"Tidak, aku hanya ingin mengingatkan mu saja kalau kamu nanti bisa masuk angi.. Astaga" Kaget Nadia saat David tiba-tiba memeluknya dari belakang. "A-apa yang sedang kamu lakukan?".
"Memeluk mu".
"Aahhh" Senyum Nadia. "Tapi sebaiknya kamu ganti pakaian dulu".
"10 menit saja biarkan seperti ini, memeluk mu membuat tubuh ku hangat".
Nadia terdiam, ia pun membiarkan David memeluk tubuhnya dari belakang. Setelah waktu itu berlalu, baru David membiarkan Nadia keluar dari dalam kamarnya. Tetapi Nadia malah enggan melangkahkan kakinya keluar dari sana, ia melihat David yang sedang menatapnya. "Kenapa?".
"Tadi kak Lisa membawa bekal dari rumah, kalau kamu sudah selesai memakai pakaian mu. Keluarlah, aku menunggu mu".
"Mmmmmm" Nadia pun langsung keluar. Kemudian ia berjalan keruang ganti pakaian. Tidak lama kemudian, ia segera keluar dari dalam sana dengan pakaian santai.
"Kamu sudah datang? duduklah" Senyum Nadia. Kemudian ia bertanya makanan apa yang David suka, dan David pun menjawab terserah tanda ia akan menikmati apa yang Nadia taruh diatas piringnya.
"Terima kasih".
"Sama-sama. Aahh, Tiara kamu juga ikut gabung sama kami saja makan untuk hari ini".
"Tidak usah nona" Tolak Tiara.
"No, kamu kemari. Duduklah, tadi kamu bilang kalau masakan mama ku sangat enak. Ayo cepat".
"Tapi nona, saya merasa tidak enak gabung dengan nona dan tuan".
__ADS_1
"Tidak apa-apa, cepat kemari".
"Baiklah" Angguk Tiara ikut bergabung dengan mereka.
"Sekarang kamu bebas pilih menu apa yang kamu suka".
"Terima kasih nona" Senyum Tiara menaruh diatas piringnya. Lalu Nadia melihat David yang sangat menikmati makanannya.
"Bagaimana rasanya?".
"Enak".
"Syukurlah" Ia pun menikmati makanannya dengan senyum mengembang melihat David dan Tiara cukup lahap. "Tiara, aku mau kita lebih akrap lagi, dan kamu juga tidak usah segan seperti itu kepada ku. Berapa usia mu?".
"25 tahun nona".
"Kita beda satu tahun saja. Terus keluarga mu dimana? apa kamu tinggal bersama dengan mereka?".
"Tidak, keluarga ku berada di kampung. Aku disini tinggal sendiri".
"Oohh.. Lalu kamu tinggal dimana sekarang?".
"Aku tinggal di sebuah kontrakan tidak jauh dari sini nona".
"Pasti kamu kesepian".
Tiara tersenyum, "Tidak juga nona, aku memiliki cukup banyak teman".
"Bagus dong, aku pikir kamu kesepian. Atau kamu mau pekerjaan lain? kalau kamu mau aku bisa mencarikan kamu pekerjaan. Dari pada kamu harus bekerja seperti ini".
"Benarkah?" Tanya Nadia melirik David.
"Iya nona, tuan David malah menyamakan gaji ku dengan pegawai di perusahaannya".
"Wah.. Kamu beruntung sekali punya bos sebaik dia" Senang Nadia bertepuk tangan. "Tapi kalau kamu sudah mulai merasa bosan kerja disini, kamu tidak usah segan-segan bilang kepada ku yah. Aku juga tau gimana rasanya menjadi ART, pasti tidak menyenangkan".
"Iya nona" Angguk Tiara.
"Ayo di habisan, jarang-jarang ada seperti ini".
"Iya nona".
Tidak lama kemudian, mereka telah selesai menikmati makanan mereka masing-masing, kemudian David melirik jam tangannya, ia melihat jam telah menunjukkan pukul 3 sore.
"Ada apa?" tanya Nadia.
"Tidak" Jawab David menerima telepon dari Bagas. "Hallo".
"Tuan, kami sudah membereskannya".
"Bagus" Senyum David.
"Apa tuan akan datang?".
"Aku tidak tau".
__ADS_1
"Tuan tidak usah datang, beristirahat" Senyum Bagas mematikan ponselnya secara sepihak. Lalu Nadia bertanya siapa yang baru saja menelponnya. "Bagas" Jawab David.
"Oohh.. Kamu mau pergi lagi yah? tidak apa-apa kalau kamu mau pergi, siapa tau urusan mendesak".
"Tidak. Inih, tadi aku membelinya" Jawab David memberikan sebuah ponsel di hadapannya.
"Wah, ini milik ku? terima kasih banyak" Senang Nadia menerima ponsel tersebut. Lalu ia menghubungi nomor ponsel Zico, "Hallo Co, ini aku Nadia".
"Nadia?".
"Iya, maaf yan Co aku baru bisa menghubungi mu. Ponsel aku kemarin hilang di jalan, bisa kamu mengirim nomor ponsel pak Bayus?".
"Mmmmm.. Kamu baik-baik saja?".
"Aku baik-baik saja".
"Syukurlah, kemarin aku sangat mengkhawatirkan kamu, aku pikir terjadi apa-apa kepada mu".
"Jangan khawatir, kamu seperti tidak mengenal ku saja hehehehe" Tawa Nadia tampa menyadari ekspresi wajah David yang kini berubah. "Oohh iya Co, sampaikan permintaan maaf ku kepada Refano yah".
"Dia juga akan mengerti. Kamu dimana Nad? hari ini aku pulang cepat sekitar jam 5 sore".
"Maaf Co, sepertinya malam ini juga aku tidak bisa pergi bersama mu".
"Kenapa Nad? kamu sakit?".
"Tidak Zico, aku hanya ingin istirahat saja. Kemarin aku sangat lelah sampai aku tidak bisa masuk kerja hari ini".
"Oohh.. Kamu mau aku bawain sesuatu Nad?".
"Tidak usah, terima kasih Co. Kalau gitu aku sudahi dulu ya, jangan lupa kirim nomor ponsel Pak Bayus".
"Iya Nad".
Begitu Nadia mematikan ponselnya, ia langsung melihat kearah David. Namun orang yang ia cari tidak berada disana lagi, "Loh, dia kemana?".
"Tuan David baru saja masuk kemar nona".
"Oohh, aku tidak tau" Nadia menerima pesan masuk dari Zico. Setelah ia itu menghubungi nomor Bayus. "Selamat sore pak, ini saya Nadia. Maaf hari ini saya tidak bisa masuk kerja pak".
"Tidak apa-apa Nadia, maaf juga karna membiarkan mu pergi kesana seorang diri. Kamu baik-baik saja?".
"Hhmmm? bagaimana bisa pak Bayus tau?".
"Seseorang memberitahu ku Nad".
"Siapa pak?".
"Saya juga tidak tau, dia tidak memberitahu identitasnya" Nadia melirik pintu kamar David, ia tahu kalau David lah orang yang sudah memberitahu Bayus. "Soal mobil juga sudah ada ditangan ku Nadia".
"Benarkah pak".
"Mmmmm".
"Syukurlah, kemarin saya sempat khawatir sekali pak".
__ADS_1