
Tampa Tiara sadari ia pun akhirnya mengeluarkan suara ******* yang membuat David tersenyum. "Aahh.. Maafkan saya tuan".
"Tidak apa-apa. Kamu menyukai sentuhan ku?" Bisik David.
Tiara menatap kedua manik mata David, lalu ia mengangguk. Kemudian David menarik pinggang Tiara, ia menyentuh leher jenjangnya dan memberikan beberapa ciuman yang sangat menggairahkan disana. Sedangkan Bagas dan Vincen yang melihatnya terlihat biasa saja, mereka tau kalau David bukanlah pria yang mencintai wanita setiap kali ia menyentuh mereka.
"Hahahha.. Sepertinya tuan David sudah sangat lama tidak bersenang-senang" Tawa mereka melihat David kini sudah mencium bibir Tiara di hadapan mereka. Namun Tiara yang merasa kurang puas berada di tempat ramai membuat ia menghentikan David. Dan David pun yang mengerti maksud dari tatapan Tiara membuat ia tertawa kecil.
"Bagas, ada kamar kosong?".
"Ada tuan" Jawabnya.
"Ayo" Tarik David membawa Tiara kedalam kamar kosong tersebut. Lalu ia menghempaskan tubuh Tiara diatas ranjang dengan senyuman mematikan. Kemudian David menciumnya kembali, begitu juga dengan Tiara yang sangat menikmati permainan tersebut.
"Aahhh.. Tuan, aku sangat menyukainya" Desah Tiara kembali merangkul leher David sambil mencoba melepaskan pakaiannya. Tetapi David malah menahan tangannya membuat Tiara sedikit meringis kesakitan. "Ada apa tuan?".
David menggeleng dengan senyuman manis, ia tau saat ia menunjukkan ekspresi wajah itu Tiara langsung terlihat ketakutan. "Tubuh mu sangat indah, siapa saja yang sudah pernah menyentuhnya?".
"Apa?".
"Siapa saja yang sudah pernah menyentuh mu?".
Tiara terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari David yang jelasnya juga David tau kalau ia bekerja disana dan yang pastinya sudah banyak laki-laki pernah menidurinya.
"Hahahaha.. Aku tidak mengerti maksud tuan".
"Tidak apa-apa, asalkan Nadia jangan sampai tau apa yang telah kita lakukan malam ini" Ia mencium bahu Tiara, secara perlahan ia menarik gaun merahnya sampai melorot. Lalu ia melihat kedua buah dada Tiara yang menonjol sangat indah, dan menyentuhnya berbentuk lingkaran. "Kamu juga memiliki payudara sangat indah".
"Mmmmm.. Tuan menyukainya?".
Tersenyum, "Pria mana pun pasti menyukainya, kamu merawatnya sangat bagus".
Tiara mendudukan diri, ia membawa kepala David kearah dadanya sehingga David bisa merasakan kenyalnya milik Tiara. Setelah itu ia mendesah kembali begitu David menggesek-gesek wajahnya.
"Tuan" Bisik Tiara.
"Mmmmm?".
"Aku sudah mulai basah tuan" David melihat Tiara yang sudah diambang kenafsuan, ia pun langsung mencium leher Tiara. "Aahhh.. Tuan, aku tidak tahan lagi" Ringis Tiara meremas rambut David tampa ia sadari wajahnya yang kini terlihat sangat kesal kepadanya ia berani menyentuh kepala seorang David.
Ceklek!
"Tuan" Panggil Bagas.
__ADS_1
David tersenyum, ia menghentikan permainannya. "Ada apa?".
"Tuan di panggil".
"Baiklah" Angguk David menuruni ranjang, ia pergi begitu saja tampa melirik kearah Tiara lagi.
"Tuan, ini sudah jam 12 malam".
"Mmmmmm".
Sedangkan Tiara yang baru saja di tinggal oleh David ia meremas pakaiannya, ia benar-benar sangat kesal kepada Bagas yang tiba-tiba masuk kedalam sana, "Aahh.. Kenapa dia harus muncul sih diwaktu yang tidak tepat?".
.
Begitu Bagas mengantar David pulang, ia langsung keluar dari dalam mobil. "Tuan tunggu" Tahan Bagas.
"Kenapa?".
"Sebaiknya Tiara tidak usah bekerja di rumah tuan lagi".
"Kenapa?".
"Saya takut dia.." Gantung Bagas melihat David mengernyitkan dahi. "Lupakan saja tuan, kalau terjadi apa-apa capat beritahu saya" David tersenyum, ia tau apa yang sedang Bagas khawatirkan. "Kalau gitu saya pulang dulu tuan".
Ceklek!
Begitu ia membuka pintu, ia melihat semua lampu menyala. "Kamu sudah pulang?".
"Nadia?" Kaget David.
"Kenapa? kamu terkejut? Hey" Tawa Nadia mengejeknya. "Kamu lapar? aku sedang memasak mie instan, kalau kamu mau aku akan memasaknya dua".
"Boleh" Angguk David.
"Kalau gitu tunggu sebentar" Nadia berlari kearah dapur. Ia melihat air mie sudah mendidih, "Ooo.. Airnya sudah mendidih" Ia pun langsung memasukkan mie tersebut kedalam wajan. Sambil menunggu matang, ia mengeluarkan minuman kaleng alkohol yang tadi ia beli di mini market.
"Dari mana kamu mendapatkannya?".
"Tadi aku membelinya di luar, aku pikir kamu tidak akan pulang jadi aku ingin bersenang-senang malam ini" Jawab Nadia yang tidak bisa tidur. "Sepertinya mie ya sudah matang" Nadia mengangkatnya, ia membawa keatas meja. Lalu ia menaruh di dalam mangkok, satu untuk David dan satunya lagi untuk dirinya. "Selamat makan" Nadia menyuap kedalam mulutnya. Namun mie tersebut yang masih panas membuat lidahnya terbakar sampai ia menjerit kepanasan. "Aahh.. Panas panas panas" Ia mengeluarkan dari dalam mulut.
David pun segera membawakan air putih dingin, "Kamu baik-baik saja?" Tanyanya khawatir.
"Mmmm.. Gara-gara aku kelaparan aku tidak ingat lagi kalau mie ini masih sangat panas. Terima kasih" Jawabnya tersenyum.
__ADS_1
"Lain kali kamu harus hati-hati, coba lihat lidah mu, sepertinya lidah mu terbakar".
"Tidak apa-apa, sekarang sudah mendingan".
"Kamu yakin tidak apa-apa?".
"Mmmmmm.. Jangan khawatir" Nadia kembali menikmati mienya, namun kali ini dia lebih hati-hati sebelum memasukkan kedalam mulutnya. "Ayo dimakan, rasanya sangat enak".
David tersenyum, ia senang melihat Nadia yang seperti ini. Lalu ia menikmati mie instannya juga cukup lahap seperti yang Nadia katakan tadi kalau mie tersebut sangat enak. "Bagaimana? mienya sangat enak kan".
"Lumayan" Jawab David.
"Hey, bilang saja enak. Dulu waktu aku kecil, nenek ku selalu memasak mie instan kalau saja aku sedang menangis atau pun sedih. Kamu tau alasannya apa?".
David menggeleng.
Tertawa, "Kalau kamu sedang menangis atau pun sedih, cobalah memakan mie instan. Pasti rasa sedih mu akan hilang karna rasanya yang sangat enak, kalau kamu tidak percaya cobalah nantinya".
"Jadi sekarang kamu sedang apa?".
"Apa itu?".
"Alasan kamu memakan mie ini?".
"Heheheh.. Sedang lapar. Kalau aku sedang lapar aku tidak bisa tidur" Jawabnya berbohong, dan yang sebenarnya ia sedang sedih saat David pergi meninggalkannya. Namum David yang tidak bisa di bohongi, ia tau kalau Nadia saat ini sedang sedih. "Kenapa? kamu tidak percaya kepada ku?".
"Aku percaya" Jawabnya.
"Aku pikir kamu tidak percaya" Gumam Nadia menyambar minuman kalengnya. "Kamu mau?".
"Mmmmm" David menerimanya. Ia melihat Nadia sangat menikmati minuman kaleng itu.
"Aarrkkhhh.. Malam ini aku ingin mabuk, karna besok adalah hari libur" Senang Nadia melirik David yang belum membuka minuman kalengnya. "Kenapa kamu belum meminumnya? kamu tidak menyukainya? rasanya memang tidak seenak anggur. Kamu tau sendiri kalau aku tidak punya cukup uang untuk membeli anggur, jadi aku membeli ini saja" Nadia meneguk miliknya sampai habis.
"Kalau kamu tidak suka, berikan saja kepada ku" Nadia mengambilnya, ia meneguknya lagi sampai habis. "Aaarrr.. Aku sangat menyukainya hehehe" Dan lagi-lagi Nadia meminum alkoholnya sampai ia benar-benar sudah mabuk.
"Hentikan Nadia, kamu sudah mabuk" Larang David merampas minum kaleng tersebut dari tangannya.
"Tidak, aku tidak sedang mabuk. Siapa bilang aku mabuk? Ayo berikan kepada ku" Geleng Nadia mencoba mengambilnya .
"Aku bilang hentikan Nadia".
Nadia menunduk, lalu ia tertawa menyeringai kepada David, "Kenapa? kenapa aku tidak bisa meminumnya hhmm?" Kedua matanya berkaca-kaca. "Kenapa aku tidak bisa meminumnya? padahal aku sangat ingin meminumnya hiks.. hiks.." Ia pun akhirnya menangis dihadapan David.
__ADS_1