Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 78


__ADS_3

Sekarang sudah sore, begitu Zico Nadia dan Larisa mendapatkan klarifikasi dari keluarga tersebut mengenai kejadian kemarin. Mereka meminta pamit pergi dari sana, namun saat Nadia menaiki mobil Zico, ia melihat seseorang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. "Kenapa Nadia?" Tanya Zico.


"Sebentar Zico, aku merasa seseorang sedang memperhatikan kita" Jawab Nadia melarang Zico melihat kearah orang tersebut. "Jangan lihat kesana, sekarang kamu masuklah".


"Mmmm" Angguk Zico. Kemudian Larisa bertanya kenapa Nadia belum masuk, "Aku juga enggak tau" Jawab Zico melihat kebelakang dimana pria yang tadi Nadia lihat masih berada di sana. Sedangkan Nadia pura-pura menerima telpon dari seseorang.


"Siapa pria itu? kenapa dia melihat kearah kita terus?" Ucap Larisa melihat Nadia mendekati pria itu. "Hhmm, senior Nadia mau kemana?".


Zico langsung membuka pintu, namun pria itu malah pergi begitu saja saat ia mendengar suara pintu mobil Zico. "Nadia" Panggilnya.


Nadia mendengus, ia menyimpan ponselnya kembali mendatangi Zico. "Kenapa? harusnya kamu tidak keluar dari dalam mobil".


"Aku mengkhawatirkan mu Nadia".


"Kamu berlebihan sekali Zico, ayo" Tetapi Nadia malah menghentikan langkahnya. Lalu melihat Zico yang sedang melihatnya, "Zico, kamu masih ingat enggak tempat yang kemarin suami istri itu curigai? kamu masih ingat enggak?".


"Iya, kenapa?".


"Tepat sekali. Ini sudah mau malam, kamu tau kan maksud aku?".


Zico menghela nafas, "Aku tau maksud kamu Nadia, tapi kita juga tidak boleh gegabah. Kamu sudah lupa dengan apa yang terjadi kepada mu kemarin? aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Cukup itu yang pertama dan yang terakhir Nadia".


"Ck, itu sudah menjadi resiko dari pekerjaan kita Zico. Kalau kita hanya melakukan hal seperti ini, mau sampai kapan warga disini harus kehilangan lagi?".


"Nadia hentikan".


"Aku setuju dengan senior Nadia, kalau kita hanya melakukan hal seperti ini saja mau sampai kapan warga disini menderita terus dengan mereka" Sambung Larisa keluar dari dalam mobil.


"Kamu dengar Larisa Zico? apa cuman kamu saja yang tidak berpikir seperti itu?".


Zico mengusap wajahnya kasar, ia melihat kedua wanita itu dengan tatapan yang tidak bisa Nadia dan Larisa artikan. "Baiklah kalau itu mau kalian, tapi kalian berdua harus berjanji kepada ku kalau kalian berdua harus selalu berada di belakang ku dan jangan sampai ada yang terluka".


"Mmmmm" Senyum Nadia Larisa.

__ADS_1


"Ayo" Mereka langsung menaiki mobil, kemudian Nadia melihat jam ponselnya telah menunjuk pukul 18.20 menit. Setibanya disana, Zico sengaja memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari lokasi tersebut. "Jam berapa Nadia?".


"Jam 7.10 menit Co" Lalu mereka berjalan sekitar 100 meter lagi dari tempat Zico memarkirkan mobilnya. Ia melihat susana disana sangat sepi dan juga mereka tidak menemukan rumah. "Benar-benar sangat sunyi yah" Ujar Nadia tiba-tiba melihat sebuah rumah tempat hiburan disebelah kanannya. "Tempat apa itu Zico?".


Zico dan Larisa melihat tempat tersebut, "Tempat itu seperti tempat wanita hiburan" Jawab Larisa.


"Terus tempat yang kemarin mereka bilang itu adalah tempat ini?".


"Sepertinya. Kalian tunggu disini saja, tidak mungkin kalian juga ikut masuk kesana".


"Kenapa? bukankah tempat itu bebas untuk siapa saja? kamu ada-ada saja Co" Nadia berjalan duluan lalu di susul oleh Larisa dari belakang membuat Zico kebingungan melihat kedua wanita itu.


Begitu mereka berada di dalam, wanita penghibur disana langsung melihat Nadia dan Larisa dari atas sampai bawah dengan kening mengerut. "Kalian siapa?".


Nadia tersenyum, "Hallo, kenalin nama ku Vita dan dia Amel. Kami orang baru di desa ini".


"Terus?".


"Kami sedang mencari pekerjaan, bisakah kami bekerja di tempat ini? kami mohon, kami butuh pertahan hidup".


"Aku juga tidak tau kak, mereka tiba-tiba datang kemari mencari pekerjaan".


Lalu ia melihat Nadia dan Larisa dengan kening mengerut. "Kalian dari mana?".


"Kami dari desa sebelah, awalnya juga kami bekerja di tempat seperti ini. Cuman tempat kami yang lama sudah di gusur, kami terpaksa pidah dari desa itu. Tolong bantu kamu kak, tolong biarkan kami bekerja, terserah mau pekerjaan apapun, kami siap melakukannya".


Si wanita itu langsung meremas payudara Nadia sampai membuat ia meringis kesakitan, lalu ia tertawa. "Sepertinya kalian belum pernah melakukan pekerjaan ini, siapa kalian?".


Nadia masih merasa merasa kesakitan, namun ia berusaha untuk menutupinya. "Hahahah, bagaimana aku tidak kesakitan, kakak tiba-tiba meremasnya dengan kuat".


Ia tersenyum, kemudian melihat wajah Larisa sedikit gugup. "Kamu".


"I-iya" Jawab Larisa.

__ADS_1


"Kalian berdua saudara?".


"Tidak, tapi kami sudah seperti saudara kandung".


"Mmmmm" Angguknya. "Baiklah, kalian berdua diterima bekerja disini. Cepat ganti pakaian mereka, sebentar lagi kita kedatangan tamu".


"Baik kak" Jawabnya membawa Nadia dan Larisa ke dalam ruang ganti. "Sekarang kalian bebas mau memakai apapun, dan usahakan kalian terlihat sangat cantik".


"Iya, terima kasih".


"Mmmm, kalau gitu aku tinggal dulu. Bersiaplah, 1 jam nanti aku akan kembali lagi kemari".


"Iya".


Sekeluarnya wanita itu dari sana, Larisa langsung menutup pintu. Nadia pun segera menghubungi nomor ponsel Zico, "Hallo Nad, kalian dimana?".


"Kami ada didalam Co, jangan khawatir. Kami sudah berhasil masuk, kamu tunggu saja disana jangan kemana-mana".


"Maksud kamu apa Nad?" Bentak Zico marah.


"Suara mu Zico, jangan sampai kita ketahuan".


"Aahh, aku tidak perduli Nadia. Sekarang kalian dimana? cepat katakan dimana kalian berdua berada?" Bukannya menjawab, Nadia malah mematikan ponselnya secara sepihak, kemudian mengirim pesan. "Kalau kamu diam, semua akan berjalan dengan lancar. Kalau terjadi apa-apa, aku akan memberitahu mu".


Zico sangat marah meremas ponselnya, ia melihat tamu disana semakin ramai melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam lewat. "Aku tidak tau apa yang sedang kedua wanita itu pikirkan, tapi mereka benar-benar membuat kepala ku pusing" Gumam Zico melihat salah satu wanita penghibur disana mendekatinya dengan senyuman menggoda.


"Hay".


Zico hanya melemparkan senyuman tipis, ia berusaha mengabaikan wanita tersebut meskipun wanita itu sedang berusaha menggodanya. "Saya ingin sendiri, tolong tinggalkan saya".


"Kenapa?" Wanita malah semakin berusaha menggoda Zico.


"Saya mohon, tolong tinggalkan saya" Ucap Zico kembali. Tidak perduli dengan apa yang baru saja Zico ucapkan, ia malah mencoba menyentuh wajah tampan Zico.

__ADS_1


"Kamu sangat tampan, kamu tau saja kalau aku sangat menyukai pria tampan. Siapa nama mu?" Zico terdiam menutup kedua mata, lalu meminta segelas alkohol dan dengan sekali tegukan saja Zico menghabiskan sampai gelas itu benar-benar kosong. "Wah, kamu juga sangat keran bisa menghabiskan alkohol ini hanya dengan sekali tegukan saja. Bravo" Pujinya bertepuk tangan.


__ADS_2