
Suara alat medis disebuah ruangan itu berhasil membangunkan Nadia dari tidurnya, dengan mata kunang-kunang ia mengalihkan arah pandangan matanya kesamping kiri kanan, "Kenapa aku disini? apa dia baik-baik saja?" Gumam Nadia bangkit, namun tubuhnya yang sangat lemas ia tidak bisa berbuat apa-apa dan pada akhirnya ia terjatuh, "Aahhh".
"Nona, jangan banyak bergerak dulu" Tegur suster yang sedang menangani pasien disampingnya.
"Sus, bagaimana operasinya? apa semuanya berjalan dengan lancar?".
"Iya, nona istirahat saja. Pasien baik-baik saja".
Nadia langsung tersenyum legah, "Saya boleh melihatnya sus?".
"Nanti saja nona setelah pasien siuman, sekarang nona istirahat saja dulu".
"Tapi saya ingin melihatnya su.." Gantung Nadia begitu si suster tersebut pergi meninggalkannya. "Kenapa dia kasar sekali?" Kesal Nadia melihat pasien yang berada di sampingnya itu, "Ibu" tersenyum.
"Mmmmm" Angguknya membalas Nadia. Setelah itu ia menerima sebuah panggilan dari putra kesayangannya "Kamu dimana Fano? mama lagi dirumah sakit nih?" Dengan kesal ia mematikan ponselnya. "Anak nakal itu, bagaimana bisa dia tidak perduli dengan mamanya sendiri".
Mendengar itu Nadia tersenyum, "Apa mama juga pernah berkata seperti itu?" Batin Nadia.
Tidak lama kemudian, sarapan pagi mereka tiba disana. Nadia tampak tidak berselera, ia memilih tidak ingin makan. "Kenapa kamu tidak makan?" Tanya wanita paruh bayah itu.
"Saya kurang berselera buk".
"Makanlah supaya kamu bisa bertahan" Dengan lahap wanita itu menikmati sarapannya, namun saat putra kesayangan itu muncul di ambang pintu ia langsung menghentikan tangannya sambil pura-pura tidak berselera.
"Mama...!!".
"Anak ku" Sedihnya.
"Ma, mama kok bisa masuk rumah sakit sih?".
"Mmmm.. Tadi malam mama tiba-tiba merasa pusing dan meriang, kamu kemana saja Fano? kamu enggak sayang lagi yah sama mama? tega kamu biarin mama datang sendiri kerumah sakit ini".
"Maaf ma, tadi malam Fano enggak lihat ponsel. Sekarang mama sudah baikan?".
Ibunya menggeleng, "Bahkan makan saja mama tidak selera sayang".
"Mama harus makan biar cepat sembuh, Fano suap ya ma" Ia semakin menunjukkan wajah sedihnya, "Ayolah ma, jangan buat Fano khawatir. Mama makan yah".
"Mmmmm" Angguknya.
Nadia yang sedari tadi memperhatikan anak dan ibu itu membuat ia geleng kepala, ia merasa sangat senang melihat mereka. Kemudian wanita paruh baya itu melihatnya dengan senyum tipis, ia merasa sangat bangga dengan aktingnya didepan putranya. "Fano, kamu lihat wanita itu. Dia sangat cantik" Bisiknya.
Fano langsung mengalihkan padangan matanya kepada Nadia, "Hhhmmm.. Nadia?".
Nadia kebingungan, bagaimana bisa pria yang berada di hadapannya itu mengenal dirinya. "Maaf, apa anda mengenal saya?".
Refano tersenyum, "Mmmmm, aku mengenal mu. Kenalin aku Refano temannya Zico".
"Aahhh.. Jadi kamu temannya Zico?".
"Iya" Senyum Refano semakin lebar sampai ibunya yang sedang memperhatikan mereka berdua marasa curiga. "Kenapa ma? dia temannya Zico" Beritahu Fano.
__ADS_1
"Temannya Zico?".
"Iya ma. Oohh iya Nad, Zico juga sedang berada dirumah sakit. Tadi aku baru dari san..
"Zico dirumah sakit? kenapa? apa sesuatu terjadi kepadanya?" Tanya Nadia penuh kekhawatiran.
"Dia hanya luka ringan, tapi..
"Tapi apa?".
"Pergelangan kaki kanan Zico terkilir, sepertinya dia akan butuh waktu lama untuk sembuh".
"Ya ampun Zico, kenapa kamu harus terluka sih?" Kesal Nadia.
"Lalu bagaimana dengan mu? apa kamu baik-baik saja? wajah mu pucat sekali".
"Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh istirahat yang banyak, jadi Zico di rawat rumah sakit mana?".
"Rumah sakit xx, salah satu rekan kalian sepertinya masih berada disana" Nadia menghela nafas, "Zico juga dari semalam terus menerus mencari mu, kenapa mereka bisa kehilangan mu".
"Boleh aku meminjam ponsel mu?".
"Boleh, ini".
Nadia segera menghubungi Bayus, "Hallo, dengan Bayus dari kanto..
"Pak, ini Nadia" Potongnya.
"Iya pak, maaf semalam saya pergi dari lokasi tampa memberitahu rekan saya" Jawab Nadia penuh penyesalan.
"Sekarang kamu dimana? apa kamu baik-baik saja. Zico lagi dirumah sakit, semalam kakinya terkilir".
"Saya baik-baik saja pak".
"Syukurlah".
"Iya pak" Nadia mematikan ponselnya. Lalu ia meminta kepada Refano untuk memberitahu Zico kalau dia baik-baik saja.
"Kenapa tidak kamu saja yang memberitahunya?".
"Aku takut Zico akan lebih khawatir lagi kalau melihat ku berada di rumah sakit. Aku mohon".
"Baiklah" Angguk Refano menghubungi nomor Zico. "Hallo Co".
"Mmmmm.. Kenapa?".
"Tadi aku bertemu dengan Nadia".
"Apa?".
"Iya, dia terlihat baik-baik saja".
__ADS_1
"Sekarang kamu dimana? tadi kamu bertemu dengan Nadia dimana? apa dia benar-benar terlihat baik-baik saja? sampai sekarang aku belum bisa menghubungi nomornya".
"Percaya pada ku, dia baik-baik saja. Jadi kamu tidak usah khawatir seperti itu".
"Aku tidak yakin sebelum aku melihatnya baik-baik saja Fan".
"Apa aku perlu mencarinya dan memberitahu dia kalau kamu lagi berada di rumah sakit?".
"Tidak, jangan lakukan itu. Aku tidak mau Nadia khawatir, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Kalau gitu terima kasih banyak sudah memberitahu aku Fano".
"Mmmmmm" Begitu Refano mematikan ponselnya, ia melihat Nadia tersenyum legah.
"Terima kasih ya" Ucap Nadia.
"Sama-sama".
.
Di markas Bagas melihat beberapa diantara mereka hanya tersisa sedikit, lalu ia memberitahu keadaan David yang tengah berada di rumah sakit. "Tuan, apa tuan David baik-baik saja?".
"Iya, tuan David berhasil melewati masa kritisnya".
"Syukurlah" Legah mereka. "Lalu apa yang harus kita lakukan tuan?".
"Sampai ke ujung dunia pun, kita harus mencari Steven dan Gery. Jika kalian berhasil menemukan salah satu diantara mereka, kalian tidak usah segan-segan langsung menembak mereka dan juga anak buahnya".
"Siap tuan".
Seperginya mereka mencari keberadaan tempat persembunyian Steven dan Gery. Bagas melihat stasiun televisi hanya menayangkan kejadian semalam hingga sampai situs pencarian ia hanya melihat kasus tersebut.
Setelah itu, ia segera berangkat kerumah sakit tempat David dirawat. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Bagas, dengan kecepatan tinggi ia menginjak pedal gas mobilnya tampa memperdulikan pengendara lainnya.
Sesampainya Bagas dirumah sakit, ia berjala masuk kedalam menuju ruang ICU, "Vincen" Panggilnya.
"Mmmmm" Bangkitnya melihat Bagas.
"Bagaimana? apa tuan David sudah siuman?".
"Belum, tapi kata dokter sebentar lagi tuan David akan segera siuman".
Bagas melihat kearah David yang terbaring lemas diatas bed rumah sakit dengan alat medis yang menempel di sekujur tubuhnya. "Steven" Geram Bagas mengepal tangan.
"Semalam tuan David kehabisan darah" Bagas membalikkan tubuhnya melihat Vincen. "Istri tuan David sendiri yang telah menyumbangkan darahnya. Sekarang dia berada di ruangan pasien".
"Apa?".
"Mmmmmm.. Kalau saja tuan David tidak mendapatkan donor itu, mungkin saja kita semua akan kehilangan dia" Jawab Vincen meneteskan air mata.
Bagas langsung mengusap wajahnya dengan kasar, ia merasa telah gagal melindungi David.
"Ibu, ibu, ibu"
__ADS_1