
Setelah mobil itu berhenti di sebuah rumah mewah, Nadia juga langsung menghentikan mobilnya. Ia melihat supir yang membawa mobil tersebut keluar dari dalam, lalu membuka pintu belakang. Dan benar sekali, wanita yang tadi ia lihat itu adalah Mira.
"Sedang apa dia disini?" Gumam Nadia keluar dari dalam mobil. Lalu ia bertanya kepada tetangganya, "Permisi buk, saya mau bertanya siapa pemilik rumah itu?".
Mereka melihat Nadia, "Sepertinya kamu bukan orang sini. Kenapa kamu ingin mengetahui siapa pemilik rumah itu?".
Nadia tersenyum, "Tadi saya melihat teman saya baru keluar dari dalam mobil yang baru masuk kedalam itu".
"Siapa?".
"Namanya Mira".
"Oohh, Mira?".
"Iya buk".
"Dia istri dari pemilik rumah itu, minggu kemarin mereka baru menikah. Mira tidak memberi tahu mu? dia beruntung sekali bisa menikahi pria terkaya di desa ini meskipun ia menjadi istri ketujuhnya".
"Apa? ketujuh?".
"Iya".
"Astaga, kenapa Mira harus menikahinya? pria itu benar-benar sangat kurang ajar. Bagaimana bisa dia menikahi wanita sebanyak itu, dia benar-benar tidak memiliki perasaan" Umpat Nadia sampai membuat ibu-ibu disana menatapnya dengan heran. "Maaf buk, kalau gitu saya permisi dulu".
"Iya" Angguk mereka.
Tetapi Nadia yang merasa kasihan kepada Mira membuat ia sedikit geram, dan pada akhirnya Nadia pun kembali menuruni mobilnya. Ia mendekati gerbang rumah tersebut, "Permisi, bisakah kalian membukakan pintu gerbang ini untuk ku?" Teriak Nadia.
Kemudian seseorang segera membukakan pintu itu, "Anda siapa?" Tanyanya.
"Boleh saya masuk?" Ia mengernyitkan dahi melihat Nadia dari atas sampai bawah, "Hahaha, kamu pasti tidak mengenal ku. Itu, saya temannya Mira, tolong beritahu dia kalau saya ada disini. Saya mohon".
"Baiklah, kamu tunggu disini" Ia menutup gerbang itu kembali.
"Ck, apa salahnya sih dia menyuruh ku masuk kedalam? sangat tidak sopan sekali" Gumam Nadia menunggu. Tidak lama kemudian, Mira pun datang menghampirinya. "Hallo Mira, apa kabar?" Tersenyum.
"Kamu?" Kaget Mira dengan mata membulat.
"Mmmm.. Kedua kaki ku sangat pegal sekali berdiri disini Mira, bisakah kamu mengajak ku masuk kedalam?".
"Tidak bisa" Jawab Mira melarangnya. "Sedang apa kamu datang kemari? kita bukanlah teman".
"Kenapa? kamu merasa bersalah kepada ku? tidak apa-apa, aku juga tidak mau terjadi apa-apa kepada mu saat itu kalau saja kamu memberitahu kepada warga disini. Jadi kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu kepada ku, seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja. Lalu bagaimana kabar mu? kamu baik-baik saja? aku dengar kamu sudah menikahi pria tubang itu".
"Maaf" Tunduk Mira menyesal.
"Tidak apa-apa" Dengan mata berkaca-kaca Mira melihatnya. "Hey, aku sudah bilang tidak apa-apa Mira, kamu tidak usah sedih seperti ini".
Mira mengusap air matanya, "Terima kasih sudah mengerti aku saat itu, dan aku dengar pria itu telah pergi meninggalkan desa ini, tapi aku tidak tau dia pergi kemana. Sekali lagi tolong maafkan aku".
"Mmmmm" Angguk Nadia memeluknya sambil bertanya. "Kamu bahagia menikahi pria itu?".
"Iya, selagi dia tidak menganggu keluarga ku lagi".
.
Begitu Nadia mengetahui kalau Mira baik-baik saja, ia pun kembali menghampiri Zico dan Larisa yang sedang menunggunya di depan rumah orang yang mereka hampiri itu.
"Itu dia sudah datang" Beritahu Larisa.
Nadia keluar dari dalam mobil, ia berjalan menghampiri mereka. "Maaf, sepertinya aku membuat kalian lama menunggu ku".
"Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah berada disini" Jawab Zico memberitahu sepasang suami istri itu adalah orang yang ingin mereka temui. "Buk pak, dia Nadia rekan kerja kami".
Mereka tersenyum, "Silahkan duduk, kami hanya memiliki teh ini saja".
"Tidak apa-apa, ini sudah jauh lebih baik kok" Senyum Nadia.
__ADS_1
"Jadi apa yang kalian inginkan dari kami? sebisa mungkin kami akan menjawabnya?".
Zico melirik Nadia, ia bertanya menggunakan kedua matanya kepadanya Nadia siapakah diantara mereka berdua yang akan bertanya kepada sepasang suami istri itu, "Kamu saja Zico".
Zico mengangguk, bagian Nadia dan Larisa adalah mencatat setiap kata yang keluar dari bibir mereka. "Baiklah, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibu dan bapak. Sebelumnya bapak dan ibu mengenal pak Bayus? beliau adalah pimpinan kamu".
"Oohh, iya kami mengenalnya. Dan kami juga yang membuat laporan itu".
"Mmmm.. Pantas saja beliau memerintah kami datang kemari" Zico menatap mereka. "Pertanyaan pertama kami, apa ibu dan bapak melihat sesuatu mencurigakan di desa ini?".
"Iya".
"Bisa bapak dan ibu menceritakannya? supaya kami segera menangani kasus ini".
"Mmmm, biar bapak saja buk. Sebenarnya kami sudah sangat lama mencurigai suatu tempat bersama dengan istri saya. Dan akhir-akhir ini juga sudah sangat sering terjadi kemalingan di setiap rumah seperti kami ini".
"Biasanya apa saja yang hilang pak?".
"Seperti perabotan dan juga beras".
"Menurut bapak itu akibat dari apa?".
Ia melihat istrinya yang mengangguk, "Menurut kami itu karna Narkoba, mereka membutuhkan uang untuk membelinya" Jawabnya.
Nadia tersenyum menggeleng, "Bapak melihat seseorang yang patut dicurigai di kampung ini? seperti pengguna atau pengedar?".
"Iya, tapi kami takut memberitahu polisi".
"Jangan takut pak, kami akan melindungi saksi. Sekarang bapak bisa memberitahu kami?".
"Begini, kalian pas datang kemari, apa ada orang yang tau kalau kalian ini adalah seorang polisi selain orang tadi?".
"Tidak pak".
"Kalau gitu saya akan memberitahu orang yang patut dicurigai di desa ini".
"Juragan Wilson, dia adalah orang yang selama ini kamu curigai".
"Juragan Wilson?" Tanya Nadia.
"Iya".
"Kamu mengenalnya Nad?".
"Tidak".
Zico melanjutkannya lagi, "Apa cuman dia saja orangnya pak?".
"Iya yang kami tau, tapi dia bukanlah orang yang mudah ditangani. Karna dia memiliki uang yang banyak, dia selalu menggunakan uangnya untuk mencegah polisi disini menangani kasusnya".
Zico menghela nafas, "Boleh kami tau siapa orangnya?".
"Iya, tunggu sebentar" Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan wajah Wilson yang sedang tertawa bahagia kepada Zico. "Ini dia orangnya, minggu kemarin dia barusan menikah dengan gadis desa disini".
Zico memperhatikan wajahnya, ia minta foto tersebut di kirim ke ponselnya. "Kalau gitu terima kasih banyak ya pak buk untuk informasinya, secepat mungkin kami akan menangani kasus ini".
"Iya, tolong bantu desa kami ini kembali seperti semula".
"Iya pak. Kami permisi dulu" Mereka pun segera masuk kedalam mobil, kemudian Zico melihat Nadia yang sedang berpikir sedari tadi. "Apa yang membuat mu mengerutkan kening seperti itu Nadia?".
Nadia mendengus, "Entahlah, tidak terasa hari sudah mulai gelap. Ayo" Zico pun langsung menjalankan mobilnya pergi dari sana. Kemudian Nadia meminta kepada Zico untuk menyalakan musik.
Adele-Go easy on me
There ain't no gold in this river
That I've been washin' my hands in forever
__ADS_1
I know there is hope in these waters
But I can't bring myself to swim
When I am drowning in this silence
Baby, let me in
Go easy on me, baby
I was still a child
Didn't get the chance to
Feel the world around me
I had no time to choose
What I chose to do
So go easy on me
There ain't no room for things to change
When we are both so deeply stuck in our ways
You can't deny how hard I have tried
I changed who I was to put you both first
But now I give up
Go easy on me, baby
I was still a child
Didn't get the chance to
Feel the world around me
Had no time to choose
What I chose to do
So go easy on me
I had good intentions
And the highest hopes
But I know right now
That probably doesn't even show
Go easy on me, baby
I was still a child
I didn't get the chance to
Feel the world around me
I had no time to choose
What I chose to do
So go easy on me
__ADS_1