Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 13


__ADS_3

Setibanya Nadia di kantor tepat pukul 10 pagi, ia segera menuju ruang meeting dimana para rekannya yang lain telah berada disana.


Ceklek!


"Maaf pak, saya terlambat" Segan Nadia.


"Tidak apa-apa, duduklah".


"Terima kasih pak" Duduknya disamping Diva yang berada di sebrang meja.


Setelah Bayus melihat mereka semua sudah berkumpul disana, "Kita akan mulai" Ucapnya menyalakan infokus. "Untuk saat ini titip mereka ada disini".


"Ketua" Panggil Riko.


"Mmmmmm?".


"Saya rasa, ada baiknya kita mengawasi club itu tampa membuat mereka curiga" Ide Riko.


"Saya setuju, siapa yang akan pergi kesana?".


"Kami" Jawab Diva menunjuk tangan melihat Nadia yang berada di sebelahnya.


"Kalian berdua yakin?".


"Mmmmmmm" Angguk Diva dan Nadia.


"Baiklah kalau gitu, jadi kita akan memantau ditempat ini. Tapi saya mau, untuk saat ini kita berpencar dulu, Riko dengan Raka dan Zico akan bersama ku" Ujar Bayus.


"Siap pak".


Sekeluarnya mereka dari ruang meeting, Nadia membawa bekal yang tadi ia bawa dari rumah keluarganya. "Sepertinya ini berat" Ucap Zico mengambil dari tangan Nadia.


Nadia tersenyum, "Terima kasih Zico".


"Ini apa?".


"Aku juga tidak tau, tadi mama memberinya kepada ku".


"Oohhh".


.


Hari ini David tidak berangkat kekantor, ia tengah berada di club bersama dengan Bagas dan Vincen. Kemudian Vincen bertanya kepada David mengenai polisi wanita yang semalam rekannya tangkap, "Dia Nadia" Jawab David.


Vincen dan Bagus pun langsung terdiam.


"Lalu bagaimana dengan tempat yang baru, apa kalian berdua telah mengamankannya?".


"Semua sudah beres tuan".


"Bagus, polisi tidak akan menyerah mencari kita. Dan sepertinya kita akan kedatangan seorang tamu" Seringai David.

__ADS_1


"Maksud tuan?".


"Aku yakin Gery dan Steven akan mengirim anak buahnya datang kemari. Kita lihat saja nanti, atau mereka sendiri yang akan datang".


Setelah itu mereka bertiga mendatangi Rian yang berada di penjara bawa tanah, melihat David datang bersama dengan Bagas dan Vincen, Rian tersenyum sinis. "Kapan kalian akan membunuh ku?".


David mengeluarkan sebatang rokok dari dalam jas, lalu ia menyalakan rokok tersebut sambil menghisapnya setelah itu ia membuang asap rokoknya di wajah Rian. "Kamu mau rokok?".


Rian tidak menjawab, ia masih saja menatap David dengan tatapan tidak suka.


"Rasa rokoknya sangat enak. Ini, hisaplah" Berikan David di bibir Rian secara paksa. "Kenapa? ayo, hisaplah" Semakin paksa David saat Rian menolak.


"Cuuiiihhh.." Rian meludahi wajah David.


Dengan kesal David melap wajahnya, "Aaiiisss.. BBBUUUNNNGGG... BBBUUUNNGGHHHHH" Dua pukulan mendarat diwajah Rian dengan kasar. "Bagaimana rasanya? ayo beritahu aku rasanya seperti apa? BBBUUUNNGGHHHH... BBBUUNNGGHHHH... Aaiiisss, sudah lama sekali aku tidak memukul seseorang lagi".


"Cccuuuiiihhhh" Rian kembali meludahi wajah David sehingga wajah David di lumuri darah dari mulutnya setelah itu Rian tertawa senang melihat David yang ingin membunuhnya.


Davis melap wajahnya kembali menggunakan tangan, kemudian ia menatap Rian dengan tajam sambil melayangkan beberapa pukulan hingga Rian jatuh pingsan. "Tuan, apa tidak sebaiknya kita membunuhnya?" Tanya Bagas.


"Nanti" Jawab David meninggalkan tempat itu.


Di dalam ruangannya, David memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya yang di lumuri ludah Rian. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi David, ia segera keluar dari dalam sana.


"Tuan" Panggil Bagas.


"Ada apa?".


"Sedang apa dia disini? tidak bisakah dia tidak mengganggu ku" Kesal David menyambar ponselnya. "Katakan padanya aku tidak ada disini"


"Baik tuan" Bagas keluar dari ruangan David, namun Alexa yang mengetahui letak ruangan David ia langsung menerobos masuk kedalam.


"David" Bentak Alexa marah.


David menghela nafas, "Kamu boleh pergi" Ucapnya kepada Bagas. Lalu David bertanya, "Kenapa kamu datang kemari?".


Alexa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, setelah itu ia meletakkan benda tersebut diatas meja David. "Itu apa?".


"Aku hamil".


David langsung tersenyum mengejek, "Lalu? kamu mau apa?".


"Ya kamu harus bertanggung jawab David, ini anak kamu".


David masih tersenyum mengejek sambil mendekati Alexa, "Apa buktinya itu anak ku? bukankah selama ini wanita seperti kamu sudah bergonta ganti pasangan".


"Apa?" Dengan marah Alexa langsung menampar wajah David dengan kuat. "Berani-beraninya kamu berkata seperti itu kepada Dav hiks.. hiks.. Kamu tidak tau betapa aku sangat mencintai mu selama ini, bahkan aku selalu menolak laki-laki yang selalu mendekati ku. Tapi sekarang, kamu tidak mau mengakui anak kamu sendiri David. Kamu jahat David, kamu sangat jahat" Isak Alexa memukul dada bidang David.


David menghela nafas lagi, lalu ia menahan kedua tangan Alexa. "Lalu apa yang kamu inginkan dari ku?".


"Kamu harus bertanggung jawab dengan bayi ini Dav, aku tidak mau gara-gara bayi ini karir aku hancur dan juga aku tidak mau jika nantinya orang tua ku tidak menyukaiku begitu mereka tau aku hamil dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab".

__ADS_1


"Aku tidak bisa".


"Apa?".


"Mmmmm.. Aku tidak bisa menikahi mu, tapi jika benar bayi itu adalah bayi ku maka aku akan bertanggung jawab atau kalau kamu tidak terima, kamu bisa membuangnya".


PPPLLAAAKKKK...


Alexa menampar David kembali, "Kamu benar-banar..


"Aku tidak pernah memaksa mu, tapi kamu sendiri yang datang kepada ku. Dan sekarang kamu meminta pertanggung jawaban dari ku? jika aku mengiyakan, maka semua wanita yang pernah bersenang-senang dengan ku akan meminta pertanggung jawab ku" Potong David.


"Jadi kamu tidak akan menikahi ku?".


"Aku tidak akan menikahi mu".


Mendengar jawaban David membuat Alexa ingin menamparnya lagi, namun David dengan cepat langsung menahan tangan Alexa. "Cukup dua kali saja aku membiarkan mu menyentuh wajah ku, tidak untuk yang ketiga kalinya" Setelah itu David pergi meninggalkannya.


"David, David tunggu" Teriak Alexa mengejarnya. "David tunggu" Tahan Alexa ditangan David. "Baiklah kalau kamu tidak bisa menikahi ku, tapi kamu harus bertanggung jawab dengan bayi ini".


"Aku akan bertanggung jawab, sekarang biarkan aku pergi".


Alexa melepaskan tangan David, lalu ia melap air mata yang sedari tadi jatuh. "Lihat saja David, aku tidak akan membiarkan mu bebas begitu saja. Aku pasti akan membuat mu segera menikahi ku".


.


Sore hari sepulang kerja, Nadia langsung kembali ke apertemen mengunakan taksi meskipun Zico selalu bersi keras ingin mengantarnya pulang. Setibanya Nadia di apertemen, disana ia melihat pria yang kemarin menemukan kartunya berdiri di depan loby.


"Nona" Panggilnya menyapa Nadia.


"Iya" Senyum Nadia.


"Baru pulang?".


"Mmmmmm".


"Sama, saya juga baru pulang kerja".


"Oohhh.. Kamu kerja dimana?".


"Disini" Jawabnya menunjuk id card kepada Nadia. "Nama ku Yanto Jerry, di perusahaan mereka selalu memanggil ku Yanto".


"Apaan sih dia, kadang menggunakan bahasa formal kadang dia menggunakan bahasa seakan kami terlihat sangat dekat" Batin Nadia.


"Nona, nona" Panggil Yanto menyadarkan Nadia.


"Hhhhmm? Pasti gaji disana tinggi".


Ia tersenyum, "Lumayan nona. Ayo, pintu liftnya sudah terbuka".


"Iya" Mereka berdua langsung masuk kedalam lift.

__ADS_1


__ADS_2