
Tetapi David yang masih merasa kesakitan, ia meremas handuknya dengan wajah memerah mencoba untuk menahannya. Kemudian Nadia yang merasa sangat bersalah tidak tau mau berbuat apa untuk membantunya akibat dari perlakuannya. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar sudah melakukan kesalahan yang sangat besar" Gumam Nadia masih memperhatikan David.
Kemudian David menaiki tempat tidur, ia merentangkan tubuhnya. Lalu Nadia menyentuh tangannya mencoba memberinya kekuatan. "Apa rasanya sangat sakit? tolong maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya" David pun langsung meremas tangan Nadia, lalu melihatnya dengan wajah yang masih memerah sampai membuat Nadia merasa kesakitan. "Tangan ku sakit David" Ucapnya dengan pelan.
David menutup mata, kemudian menarik Nadia sampai terjatuh disampingnya, lalu membawanya kedalam pelukannya. "Kali ini kamu ku maafkan, tapi bukan untuk kedua kalinya" Ucapnya menatap manik mata Nadia.
"Mmmmm, maaf" Dengan wajah memelas Nadia menatapnya dengan tatapan sendu penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa" Ciumnya di kepala Nadia.
"Apa rasanya sangat sakit?".
"Mmmmm".
"Sekali lagi tolong maafkan aku".
"Mmmmmm".
"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi".
"Mmmmmm".
"Apa kamu sudah memaafkan ku?".
"Mmmmm, dan berhentilah berbicara, aku sangat mengantuk sekali Nadia" Jawab David memejamkan mata.
"Baiklah, aku akan membiarkan mu tidur sampai kamu benar-benar tidak mengingat kejadian ini lagi" Nadia pun ikutan memejamkan kedua matanya tampa merasa terganggu dengan tubuh David yang hanya dibaluti dengan handuk putih saja.
Setelah hampir 1 jam lamanya, Nadia merasa sesuatu benda berat menimpah tubuhnya membuat ia segera membuka mata. Ia melihat David masih terlelap, lalu melihat kebawah dimana kaki kanan David berada diatas tubuhnya. "Astaga, bagaimana bisa ia melakukan itu ditubuh kecil k.."Gantung Nadia melihat handuk yang melilit di pinggang David terlepas, sehingga pemandangan yang tidak ia inginkan terlihat di kedua mata Nadia sampai membuat wajahnya memanas.
"Anak ini benar-benar tidak tau apa yang sedang ia lakukan atau di sedang pura-pura tampa merasa berdosa?" Gumam Nadia melihat wajah David kembali yang benar-benar terlelap di kedua matanya. "Tetapi memandangi wajah mu yang seperti ini membuat jantung selalu berolah raga. Bisakah aku mencium bibir ini?" Nadia menyentuhnya dengan lembut, lalu menciumnya.
"Terima kasih" Senangnya. Kemudian melirik jam dinding yang menempel di kamar David kini telah menunjukkan pukul 5 sore. "Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu" Setelah itu Nadia melihat wajah David kembali sebelum menunjukkan pukul 6 sore.
__ADS_1
.
Di markas Bagas dan Vincen sedang duduk di depan gedung melihat rintik-rintik hujan yang sampai sekarang belum berhenti, "Vincen" Panggil Bagas.
"Mmmmm?" Gumam Vincen menghisap rokoknya.
"Kamu bisa merasakan apa yang sedang David rasakan?".
"Mmmmm, aku tau apa yang sedang dia rasakan saat ini. Orang tua yang selama ini ia anggap sebagai ayah kandungnya sendiri telah pergi untuk selamanya tampa ia lihat untuk yang terakhir kalinya" Jawab Vincen meneteskan air mata mengingat perlakukan Beyonce yang sangat menyayangi mereka seperti anaknya sendiri.
"Disaat seperti ini kita jadi terlihat sangat lemah" Tawa Bagas ikutan meneteskan air mata yang sedari tadi ia tahan. "Aahh, sial. Air mata yang sedari tadi aku tahan akhirnya terjatuh juga. Tidak apa-apa, untuk hari ini saja aku akan membiarkan air mata ini terjatuh, tapi bukan untuk kedepannya lagi. Kamu baik-baik saja?" Tanyanya melihat Vincen.
"Mmmmm, aku baik-baik saja" Angguk Vincen tersenyum.
.
Kini telah menunjukkan pukul 6 sore, Nadia segera menuruni tempat tidur sambil berusaha melepaskan pelukan David. Namun bukannya lepas, David malah semakin memeluknya dengan erat sehingga Nadia tidak bisa bergerak. Kemudian Nadia berusaha lagi melepaskan pelukan David kembali sampai ia benar-benar berhasil lepas dari pelukannya. "Akhirnya, kamu melepaskan ku juga" Senyum Nadia memberikan bantal guling di pelukannya.
"Aku pergi dulu, maaf telah meninggalkan mu di saat seperti ini" Cium Nadia di pipi David. Lalu meninggalkan selembar kertas di atas lemari kecil samping tempat tidurnya. Setelah itu Nadia berangkat kerja.
.
Sesampainya Nadia di kantor, ia melihat Larisa dan Zico telah berada disana. Kemudian ia menghampiri Bayus yang sedang sibuk dengan komputernya, "Pak" Panggil Nadia.
"Iya Nadia" Jawabnya.
"Mbak Diva sudah pulang?".
"Mmmmm, baru saja pulang bersama dengan Raka. Ada apa?".
"Bagaimana dengan senior Rico?".
"Rico?".
__ADS_1
"Iya pak".
"Sebentar" Bayus menghubungi nomor Rico. "Rico kamu dimana?".
"Nadia" Panggil Zico.
"Kenapa Co?".
"Sedang apa kamu?".
"Itu, aku mau meminta kepada pak Bayus membawa senior Rico pergi bersama kita. Malam ini kita harus berhasil menangkap mereka".
"Mmmmm" Gumam Zico melihat Bayus selesai menghubungi Rico.
"Bagaimana pak?" Tanya Nadia.
"Rico sedang berada di tempat ini, dia sedang menyelidiki kasus yang kemarin" Jawab Bayus mematikan komputernya. "Ayo".
"Maaf, apa pak Bayus akan ikut bersama dengan kami?".
"Iya, ayo cepat" Ajak Bayus berjalan duluan di susul oleh Zico, Nadia dan Larisa dengan senang hati. Begitu mereka berada di dalam mobil Bayus, ia segera menjalankan mobilnya menuju lokasi tersebut. Hingga kini Bayus telah memarkirkan mobilnya di depan rumah hiburan itu.
Sedangkan Nadia dan Larisa telah berada di dalam, mereka berdua segera menganti pakaian dengan gaun yang tergantung disana. kemudian satu persatu wanita penghibur itu memasuki ruangan dimana Nadia dan Larisa berada, "Oohh, jadi mereka berdua yang sudah menyingkirkan kita?" Ujar salah satu wanita penghibur itu melihat Nadia dan Larisa dengan tatapan tajam.
"Iya, mereka yang sudah menghancurkan karir kita. Dan gara-gara mereka berdualah juragan Wilson tidak pernah melirik kita lagi. Ayo, kita harus memberikan mereka pelajaran" Geramnya mendekati Nadia dan Larisa. Dan terjadilah pertengkaran diantara mereka di dalam sana.
Tetapi itu bukanlah hal yang sulit bagi Nadia dan Larisa untuk membuat mereka terjatuh, kini mereka malah terkapar diatas lantai dengan luka lebam diwajah mereka. "Yah, aku peringatkan kalian satu persatu. Kalau sampai kalian mengadu, maka saya tidak akan segan-segan melakukan hal yang lebih parah dari sini. Kalian mengerti?" Bentak Nadia.
"I-iya" Angguk mereka.
"Bagus, mari kita bekerja sama. Sekarang perbaiki lipstik kalian, jangan sampai kita ketahuan".
"Ya" Mereka pun segera memperbaiki penampilan mereka yang berantakan akibat mendapatkan beberapa pukulan dan tamparan dari Nadia dan Larisa.
__ADS_1