Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 46


__ADS_3

Begitu mereka tiba di kantor polisi, Nadia segera keluar dari dalam mobil David. "Nadia tunggu" Tahannya.


"Iya" Lihatnya kearah David.


"Nanti aku akan menjemput mu pulang, beritahu aku jam berapa kamu pulang".


Dengan senyum mengembang diwajah Nadia ia mengangguk, "Kalau gitu aku masuk dulu".


"Mmmmmm" Angguk David melihat punggung Nadia yang sudah menjauh. Lalu ia melihat sekitar kantor polisi, "Bagaimana bisa penjahat seperti ku datang kemari? bahkan sekarang aku memiliki status hubungan dengan seorang polisi" Gumam David. "Aku penasaran, jika suatu saat nanti rahasia ku terbongkar. Akankah aku berakhir disini atau kematian yang menjemput ku" Tidak ingin berlama-lama disana, ia pun langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.


Dengan bantuan tongkat Nadia berjalan memasuki ruangannya, "Syukurlah, semakin hari dia semakin ada perubahan" Gumam Nadia tersenyum senang.


"Permisi, boleh saya bertanya?".


"Ya" Senyum Nadia melihat wanita cantik yang berdiri dihadapannya itu.


"Aahh.. Maafkan saya. Ini, saya mau bertanya ruangan pemberantas Mafia ada dimana?".


Nadia menatapnya, "Kamu orang baru?".


"Iya. Saya orang baru".


"Oohh.. Kalau gitu mari ikut saya".


"Terima kasih" Ikutnya dari belakang Nadia. Lalu ia bertanya lagi, "Apa anda juga seorang polisi disini?".


"Iya".


"Wah, maafkan saya jika tadi saya kurang sopan".


"Tidak apa-apa".


"Anda baik sekali, perkenalkan nama saya Larisa, biasa dipanggil Risa. Kalau..


"Nadia, kamu bisa panggil Nadia".


"Oohh Nadia".


"Mmmmm.. Kita sudah sampai, ayo masuk" Ajak Nadia membuka pintu ruangan mereka. "Selamat pagi, maaf saya terlambat lagi pak" Senyum Nadia melihat kearah Bayus yang hanya tinggal berdua bersama dengan Rico.


"Kamu kenapa pakai tongkat Nadia?" Tanya Bayus melihat Nadia.


"Tadi pagi saya jatuh dari kamar mandi pak, tapi sekarang saya sudah baik-baik saja".


"Ya sudah, kamu duduk saja. Hari ini kamu di ganti dengannya" Tunjuk Bayus kearah Risa.


"Apa? saya pak?".


"Iya, hari ini kamu langsung terjun kelapangan bersama dengan Zico. Tapi Zico tadi keluar sebentar".


"Oohh" Angguk Larisa.

__ADS_1


"Kamu kemari".


"Iya pak".


"Ini, jangan lupa kamu mempelajari ini semua".


"Siap pak".


"Mmmm.. Meja kamu ada disana, disamping meja yang ada tulisan nama Zico".


"Baik pak" Larisa berjalan kearah meja kerjanya, ia tersenyum kepada Nadia. "Wah, sekarang aku sudah menjadi seorang detektif pemberantas mafia setelah 5 tahun lamanya aku menunggu biar sampai disini" Senang Larisa menaruh semua barang-barangnya diatas meja.


"Pak, mbak Devi dan senior Raka apa mereka sudah pergi?" Tanya Nadia.


"Iya, mereka sudah berada di lapangan. Ini saya juga mau keluar, kamu disini saja. Nanti, kalau Zico sudah kembali, katakan padanya dia pergi bersama dengan dia".


"Baik pak".


"Mmmm.. Ayo Rico".


"Siap pak" Angguk Rico mengikuti Bayus.


Lalu Larisa mendekati Nadia, "Mbak Nadia" Panggilnya.


"Iya".


"Zico itu orang seperti apa? apa dia menakutkan seperti yang lainnya? tadi aku sangat ketakutan saat pak Bayus dan yang satunya lagi menatap ku".


"Oohhh.. Semoga saja ya mbak, soalnya aku sedikit takut".


"Percaya diri saja. Mereka orang-orang yang baik".


"Mmmmm".


Tidak lama kemudian, Zico telah kembali dari luar dengan berkas ditangan kanannya. "Zico, kamu mendapatkan perintah dari pak Bayus kalau kamu bekerja hari ini bersama dengan dia, anak baru" Beritahu Nadia.


"Anak baru?".


"Iya".


"Kenapa Nad? lalu bagaimana dengan mu?".


"Hari ini aku di kantor. Pergilah, kamu jangan menyakiti dia" Senyum Nadia melihat kearah Larisa yang menunduk malu bercampur tidak percaya diri.


"Ya sudah" Zico pun langsung melirik kearah Larisa yang sudah bersiap-siap berangkat dengannya. "Siapa nama mu?".


"Lari-sa pak" Jawab Larisa menatap kagum Zico yang sangat tampan di kedua matanya. "OMG, kenapa dia tampan sekali" Teriaknya dalam hati.


"Ayo, kita berangkat" Zico meletakan berkas yang tadi ia bawa dari luar di atas meja Bayus, setelah itu ia pergi meninggalkan Nadia bersama dengan Larisa.


Seperginya mereka Nadia melihat seisi ruangannya yang sepi, "Sekarang aku tinggal sendiri, dan aku juga tidak boleh hanya tinggal duduk diam tampa melakukan apa-apa" Ia bangkit berdiri, lalu berjalan kearah sel tahanan Raden yang masih belum di pindahkan ke sel tahanan yang sepantasnya sebelum ia memberitahu siapa saja orang di balik itu semua.

__ADS_1


"Selamat pagi tuan Raden yang terhormat" Senyum Nadia.


Raden menyeringai melihat wanita yang sedang berdiri di hadapannya itu, "Kenapa? apa kamu masih berpikir kalau aku akan menjawab pertanyaan mu?".


"Mmmmm.. Kalau kamu memberitahu kami siapa saja rekan mu. Maka hukuman mu akan di kurangi, kamu mau membusuk sendiri di penjara?".


Raden mengepal kedua tangannya dengan tawa sumbang, "Yah.. Kamu pikir kamu siapa berani menggoda ku? aku sudah katakan mau sampai dunia terbalik pun aku tidak akan memberitahu kalian semua".


"Kamu yakin tidak akan memberitahu kami?".


"Mmmm.. Sebaiknya kamu pergi, aku tidak ingin melihat mu berlama-lama disini".


"Kenapa? ini adalah wilayah ku. Suka-suka saya mau dimana pun saya mau".


Raden tertawa mengejek, "Harusnya malam itu kamu mati saja, Ck".


"Kamu senang kalau malam itu aku mati?".


"Tentu saja, aku sangat bahagia kalau kamu mati malam itu juga, tapi takdir berkata lain. Tuhan masih mengasihani mu dan memberi mu umur yang panjang".


"Tuhan? kamu percaya Tuhan? Wah.. Aku pikir kamu tidak percaya Tuhan. Lalu bagaimana dengan yang kamu lakukan? kamu percaya kepada Tuhan, tapi kamu tidak melaksanakan kehendaknya. Mau jadi apa kamu kalau kamu bukan pengikut iblis?".


"Yah..!!" Lihat Raden dengan mata tajam.


"Kenapa?".


"Mendekatlah".


"Tidak mau".


"Mendekatlah selagi aku menyuruh mu dengan baik".


"Aku bilang aku tidak mau".


"Yah...!!" Dengan sangat marah Raden membentak Nadia seperti ingin menelannya saja. "Aku peringatkan kamu sekali lagi, cepat kemari".


"Kenapa aku harus mendekati mu? dari situ juga kamu bisa bicara. Lagian disini tidak ada orang dan mereka juga sedang pada sibuk".


"Ccuuiihhh" Raden meludahi wajah Nadia. Lalu ia tersenyum puas melihat Nadia melap bekas ludahnya.


"Aaiiisss.. Kamu jorok sekali, kamu tau hukum apa buat narapidana seperti kamu meludahi wajah seorang polisi?".


"Aku tidak perduli" Senyumnya.


"Hhhmmsss.. Terserah kamu saja, hari ini aku ingin berbaik hati dengan tidak menghukum mu, tapi bukan untuk yang kedua kaliny...


"Cccuuiiiihhhhh" Raden pun meludahi wajah Nadia kembali. "Hahahah.. Kenapa? apa kamu masih tidak ingin marah lagi? Ck, ayolah.. Aku senang melihat wanita cantik seperti kamu sedang marah. Ayo marah, ayo marah".


"Sepertinya kamu belum pernah melihat ku marah, dan sekarang kamu malah ingin melihat ku marah. Tapi sayang sekali, pergelangan kaki ku sedang tidak kondisi baik. Jadi hari ini aku benar-benar tidak ingin marah" Senyum Nadia pergi meninggalkan Raden.


"Yah.. Kamu mau pergi kemana?" Teriak Raden merasa terhina.

__ADS_1


__ADS_2