
Nadia menghela nafas, ia sangat marah kepada pria yang berada di hadapannya itu tampa Raden sadari kalau Nadia baru saja menempelkan sebuah alat penyadap suara di dalam kanton jasnya. "Pergilah, saya tidak ingin melihat mu" Nadia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
"Sial" Umpat Raden mengepal tangan.
Di dalam kamar mandi Nadia menyeringai, lalu ia membasuh wajahnya. "Apa pun yang terjadi, kami pasti bisa menangkap kalian" Setelah itu, Nadia segera menghampiri Zico yang masih menunggunya, "Ayo".
"Nad, wajah kamu kenapa?" Tanyanya khawatir.
"Sshhuueettt.. Ayo cepat" Tarinya membawa Zico pergi dari sana. Di dalam mobil, Nadia menyalakan laptopnya dan memberikan satu alat pendengar kepada Zico. "Apa kamu sudah mendengarnya Co?".
"Mmmmmm" Angguk Zico mendengar suara tawa Raden.
***
"Bagaimana? apa semua berjalan lancar?".
"Hahahaha.. Tentu saja bos" Tawa Raden kembali.
"Bagus, karna dia berhasil mengembangkan bisnis kita, saya mau menuangkan minuman kepadanya. Cepat berikan kemari".
"Ini bos".
"Mmmmm.. Berikan gelas mu Raden".
"Terima kasih bos" Dengan senang hati Raden memberikan gelasnya. "Bos, semua serahkan kepada saya. Saya akan melakukan yang terbaik".
"Hahahahah... Bagus" Tawa mereka di dalam rungan VIP itu.
***
"Aahhh" Geram Nadia mengepal tangan. Lalu Nadia mengeluarkan pistolnya, namun Zico dengan cepat menahan tangan Nadia, "Ada apa Co?".
"Sekarang bukanlah waktu yang tepat Nad".
"Enggak waktu yang tepat gimana Co? kamu dengar sendiri tadi, malahan ini adalah kesempatan kita menyeret mereka ke kantor polisi".
"Kita hanya berdua Nad, sedangkan orang itu".
"Kalau gitu, cepat beritahu pak Bayus" Dengan keras kepala, Nadia menuruni mobil Zico. Ia pun masuk kembali kedalam club tersebut.
"Nad tunggu" Kejarnya dari belakang melihat Nadia telah masuk kedalam dengan pistol di tangan kanan Nadia.
Doorr...
"Semuanya keluar" Teriak Nadia.
Zico pun langsung membulatkan mata, ia tidak menyangka kalau Nadia akan senekat ini. Setelah itu, ia menghubungi Bayus kalau mereka sedang butuh pertolongan.
"Suara apa itu?" Kaget mereka yang berada di dalam ruangan Vip.
__ADS_1
"Tidak tau bos" Jawab Raden. Mereka segera keluar dari dalam sana. "Apa yang terjadi?" Tanya Raden menghentikan salah satu pelanggan yang berlarian.
"Kami juga tidak tau, seorang wanita baru saja memberi peringatan".
"Apa?".
"Iya".
"Aaiissss" Geram Raden mengepal tangan, ia pun segera mendatangi wanita yang telah berani mengganggu ketenangan mereka, "Siapa yang membuat keributan disini?" Teriaknya.
"Saya" Jawab Nadia.
"Kamu?".
"Hahhh.. Kenapa?".
"Sial, kamu pikir kamu siapa berani menghancurkan tempat ini bangsat?".
"Saya tidak ingin menghancurkan tempat ini, saya hanya butuh kamu dan dia" Seringai Nadia menunjuk bos Raden yang hanya duduk saja di atas sofa sambil menonton mereka.
"Kurang ajar" Raden mencoba memukul Nadia, namun dengan cepat Zico langsung menendang tubuhnya.
"Seujung kuku saja kamu menyentuhnya, peluru ini akan menembus jantung mu" Ancam Zico menodong pistolnya.
Raden menyeringai, "Kalian siapa berani mengancam kami haahhh?".
Zico menunjukkan id card ya tepat di mata Raden, "Sekarang kamu sudah tau kami siapa?".
Tetapi pria berbadan besar disana langsung menyuruh mereka berhenti. Ia berjalan kearah Nadia dan Zico, "Sebaiknya kalian pergi dari sini, mereka lebih jahat dari pada yang kalian pikirkan" Ucapnya memberitahu mereka.
Nadia menyeringai, "Anda siapa? atau anda juga komplotan mereka? sebentar lagi polisi akan tiba disini, kita lihat saja nanti. Sebaiknya anda pergi dari sini kalau anda tidak ingin di bawa ke kantor polisi".
Ia tersenyum, "Selagi saya masih bicara baik-baik, ada baiknya kalian pergi".
"Itu tidak akan terjadi".
"Nad, mereka sudah tiba" Beritahu Zico menerima telpon Bayus.
"Anda dengar itu" Senyum Nadia mengeluarkan borgol dari dalam jaket hitamnya, "Sekarang ini juga kamu harus ikut kami ke kantor polisi. Kamu harus bertanggung jawab apa yang telah kamu perbuat".
"Aaiiiisss... Lepasin saya kurang aja..
Doorr..
"Aahhh...!!".
"Nadiaaa" Teriak Zico melihat Nadia terkena tembakan.
"Zi-co.. Aahhh" Nadia pun tergeletak dengan darah bercucuran dari dalam perutnya.
__ADS_1
"Tidak tidak, Nad bukan mata mu Nad, bukan mata mu Nadia" Tangis Zico berteriak.
Sedangkan mereka yang melihat Nadia tertembak langsung tersenyum senang terutama Raden yang sangat bahagia kecuali pria yang berbadan besar tadi. "Bertahanlah Nad, kita kerumah sakit" Tidak memperdulikan mereka lagi, Zico segera membawa Nadia pergi dari sana.
"Zico" Kaget Bayus.
"Pak, Nadia tertembak. Mereka ada didalam".
"Iya, cepat bawa di kerumah sakit" Dengan marah Bayus, Rico Raka dan Devi masuk kedalam, "Jangan kasih ampun, siapa pun yang melawan langsung tembak saja".
"Siap pak".
Di dalam mobil, Zico tak henti-hentinya memohon agar yang maha kuasa menyelamatkan nyawa Nadia, kemudian ia menggenggam tangan Nadia. "Tangan mu dingin sekali Nad, aku mohon bertahanlah".
Tidak lama kemudian, mobil Zico telah tiba di rumah sakit. Ia langsung membawa Nadia ke ruang IGD sambil memanggil dokter dan suster yang bertugas disana. "Tolong bawa kemari" Ucap si dokter.
"Iya dok" Zico meletakkan tubuh Nadia. "Dok, saya mohon tolong selamatkan dia".
"Iya, harap tenang dulu" Angguk sang dokter menggunting pakaian Nadia, ia melihat bekas tembakan tersebut belum sempat melukai organ tubuh penting Nadia. "Sus, tolong siapkan ruang operasi dan jangan lupa beritahu dokter bedah".
"Iya dok".
Mereka segera membawa Nadia keruangan operasi, sedangkan Zico mengisi formulir Nadia.
.
Selesai operasi, kini Nadia telah berada di ruang inap. "Semua baik-baik saja Nad semua baik-baik saja. Terima kasih sudah bertahan" Senyum Zico menggenggam tangannya.
DDDDRRRTTTT.. DDDRRRRTTTTT...
"Iya pak" Jawab Zico.
"Bagaimana keadaan Nadia?".
"Operasinya berjalan lancar pak".
"Syukurlah.. Malam ini kami tidak bisa mengunjunginya, besok pagi saja".
"Iya pak, tidak apa-apa. Lalu bagaimana dengan mereka?".
"Kami hanya berhasil menahan Raden, yang lainnya sudah melarikan diri".
"Hhhmmmmsss.. Terima kasih banyak pak".
"Mmmmm.. Istirahatlah, kamu juga butuh istirahat".
Melihat jam kini sudah menunjukkan pukul 3 pagi membuat Zico mulai merasa ngantuk, ia pun akhirnya menidurkan diri disamping Nadia dengan tangan yang masih ia genggam.
Sedangkan Nadia yang sudah siuman, ia langsung membuka kedua matanya. Ia merasa seseorang sedang menggenggam tangannya, "David?" Lihatnya kesamping. Namun yang ia lihat bukanlah yang ia cari melainkan Zico lah yang sedang menggenggam tangannya. "Zico" Panggilnya.
__ADS_1
Tetapi Zico yang sangat mengantuk tidak mendengarnya lagi, kemudian Nadia menatap langit-langit kamarnya, "Apa kabar mu? aku sangat merindukan mu" Sedih Nadia.
Lalu ia kembali melihat Zico yang terlelap sambil tersenyum, "Terima kasih Zico sudah berada di samping ku. Kamu memang sahabat terbaik ku".