Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 61


__ADS_3

Sesampainya David dan Nadia di apertemen, ia langsung membawa Nadia masuk kedalam kamarnya. Kemudian menyuruh Tiara masuk, "Iya tuan?".


"Tolong kamu jaga dia..


"Kamu mau kemana?" Potong Nadia menahan tangannya.


"Aku ada urusan sebentar".


"Jangan pergi, aku tidak ingin sendiri" Geleng Nadia sedih.


"Aku tidak akan lama, ada dia disini" Ucap David pergi meninggalkan mereka. Lalu Tiara mendekati Nadia sambil memperbaiki selimutnya.


"Nona baik-baik saja?".


"Mmmmm".


"Nona mau saya buatin sesuatu?".


"Tidak, aku hanya ingin sendiri".


"Baiklah, kalau nona perlu sesuatu nona tinggal memanggil ku. Permisi".


Sekeluarnya Tiara dari dalam kamarnya, Nadia mencoba memejamkan kedua mata, namun bukannya terlelap, ingatan itu malah kembali menghantuinya. "Aahh, rasanya aku ingin marah" Gumam Nadia. Lalu ia menuruni tempat tidur berjalan kearah jendela, ia melihat cuaca tampak indah dan juga langit yang biru.


Tok.. Tok..


Ceklek!


"Maaf nona, ada tamu untuk nona" Ucap Tiara memberitahu.


"Siapa?".


"Elisa nona".


Nadia pun langsung keluar dari dalam kamar, disana ia melihat kakak perempuannya itu sedang duduk diatas sofa. "Kak" Panggilnya.


Elisa tersenyum tipis, "Ternyata di rumah memiliki seorang pelayan juga" Ujar Elisa melihat Nadia berada di hadapannya. "Dimana suami mu? apa dia sedang berada di kantor?".


"Mmmmm.. Ada apa kak Lisa datang kemari?".


"Kenapa? kamu tidak senang melihat ku datang kemari?".


"Bukan begitu kak?".


"Terus?".


"Aku hanya ingin tau saja kak".


"Oohhh" Senyum Elisa. "Aku kemari hanya ingin tau kalau kamu baik-baik saja atau tidak, dan ini ada bekal dari mama untuk mu. Makanlah bersama dengan suami mu".


"Kakak mau langsung pulang?" Tanya Nadia melihat Elisa bangkit berdiri.


"Iya, aku hanya singgah sebentar saja. Terima kasih untuk tehnya" Jawab Elisa menyambar tasnya.

__ADS_1


"Kalau gitu sampaikan rasa terima kasih ku kepada mama ya kak".


"Mmmmmm".


Begitu Elisa keluar, Nadia membawa bekal tersebut di atas meja makan, Ia melihat semua bekal itu adalah makanan kesukaannya. "Mama bisa saja membuat ku senang" Gumam Nadia, lalu Tiara datang menghampirinya.


"Tiara, kamu sudah makan?".


"Sudah nona. Itu apa?".


"Tadi kak Lisa membawa bekal ini dari rumah, masakan mama sangat enak. Kamu mau mencobanya?".


"Boleh nona?".


"Tentu saja boleh" Jawab Nadia menyuap di mulut Tiara. "Bagaimana?".


"Mmmm.. Enak nona, rasanya sangat enak" Jawab Tiara menunjuk jempol.


"Masakan mama ku memang sangat enak dan juga yang terbaik" Senyum Nadia.


.


Sesampainya David di markas, ia langsung di sambut oleh Bagas. "Tuan" Tunduknya.


"Dimana dia?".


"Di bawah tanah tuan".


Dengan langkah panjang, David melangkahkan kedua kakinya turun kebawah. Disana ia langsung melihat si pria tersebut sedang terikat dengan mulut tertutup.


"Lepaskan dia" Perintah David.


"Baik tuan" Bagas melepaskan pengikat talinya, lalu membawanya mendekat kearah David.


"Tuan, tolong maafkan saya tuan tolong maafkan saya. Saya sangat menyesal, saya tidak tau kalau wanita adalah wanita tuan" Tangisnya memohon ampun di bawah kaki David.


Kemudian Vincen memberikan kursi kepada David dan juga rokoknya, begitu David menghisapnya. Ia melihat si pria tersebut memohon ampun kepadanya. Namun rasa marah yang ada dalam hati David membuat ia ingin mencabik-cabik tubuhnya.



"Bawa dia" Ucap David.


Bagas dan Vincen yang mengerti maksud dari perkataan David, mereka membawanya ketempat dimana David akan melakukan penyiksaan yang sangat kejam. "Aarrkkhhh.. Tidak, tolong maafkan saya tuan" Teriaknya tidak ingin merasakan panasnya api.


Setelah itu David membuang puntung rokoknya, lalu ia mengikuti mereka dari belakang. Kemudian David mendekatinya dengan mata tajam, "Berikan".


Bagas memberikan pisau kecil ditangan David untuk memulai penyiksaan. "Tidak, tidak tidak" Geleng si pria itu sangat ketakutan dengan tangan di rante dan juga kakinya.


David tersenyum, "Rasanya tidak akan sakit, bertahanlah. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan. Apa kamu memukulnya?".


Ia tidak menjawabnya.


"Sekali lagi saya bertanya, apa kamu memukulnya?".

__ADS_1


"Tolong maafkan say..


BBBUUNNGGHHH..


"Saya tidak ingin mendengar yang itu, kamu tinggal jawab apa yang saya tanyakan. Apa kamu memukul dia?".


"Iya hiks".


"Tangan mana? yang ini?" Tanya David menyentuh tangan kanannya. Tetapi ia tidak menjawabnya, namun David yang sudah sangat marah, ia langsung memberikan beberapa sayatan.


"Aarrrkkhhhh" Teriaknya kesakitan. Ia melihat darahnya bercucuran.


"Sakit?" Senyum David.


"Ini sangat sakit" Jawabnya.


"Oohhh.. Aku pikir rasanya tidak sakit" David kembali memberikan beberapa sayatan ditangan kirinya sambil tertawa senang mendengar suara teriakan si pria tersebut. "Kalian berdua melihat dia? dia berteriak kesakitan padahal ini baru permulaan hahahahah".


Bagas dan Vincen pun hanya ikut tersenyum melihat si pria tersebut meringis kesakitan.


"Buka pakaiannya" Ucap David.


Bagas langsung membuka pakaiannya hingga tak sehelai benang pun terlihat di tubuhnya, "Sebenarnya saya tidak suka berurusan dengan orang seperti mu, tapi karna kamu sudah membuat saya sangat marah maka terimalah apa yang telah kamu lakukan" David mengangkat tangannya, lalu ia memberikan sayatan diwajahnya, dan lagi-lagi ia berteriak histeris.


"Hahahaha" Tawa David. "Sakit? apa rasanya sangat sakit bangsat?" Kemudian David langsung memberikan sayatan yang paling menyakitkan di seluruh tubuhnya hingga darah-darah segar itu bercucuran di seluruh tubuh. "Aku sudah membuatnya menderita, tapi rasa sakit yang Nadia rasakan masih menghantui ku" Kesal David melihat Bagas dan Vincen.


"Kalau gitu serahkan dia kepada kami tuan, biar kami yang mengurusnya. Sebaiknya tuan kembali pulang" Ujar Vincen.


David mengusap wajahnya, ia benar-benar sangat marah kepada dirinya. "Bagas, tolong bawa dia pergi".


"Mmmmmm" Angguk Bagas membawa David pergi dari sana. Kemudian Vincen menyeringai melihat si pria tersebut.


"Apa yang baru saja dia lakukan itu belum seberapa dengan sifat aslinya, tapi aku juga tidak tau kenapa dia terlihat lemah. Maka biarkan aku mengantikan dia".


.


Begitu Bagas mengantar David pulang, ia langsung memasuki kamarnya tampa memperdulikan Tiara yang sedang memanggilnya.


Setelah itu David memasuki kamar mandi, ia memandangi wajahnya di depan cermin dengan tangan mengepal lalu memukul cermin tersebut sampai pecah.


"Aahhh" Kaget Tiara. Lalu ia mendekati pintu kamar David, "Apa dia baik-baik saja?" Namun ia yang sangat penasaran, Tiara langsung membuka pintu kamar David. "OMG".


David menyeringai, "Apa yang sedang kamu lakukan disini?".


Tiara menelan ludah, ia merasa kalau sekujur tubuhnya sedang bergejolak melihat tubuh David hanya dibaluti handuk putih diatas pinggangnya, sehingga tubuh atletis David terlihat sangat menggairahkan di kedua mata Tiara. "Maaf tuan, tangan tuan terluka" Jawabnya melihat darah segar menetes dari tangan David.


"Hhhmmss.. Tidak apa-apa, kamu boleh keluar".


"Tapi tuan, kalau tidak di obati..


"Keluar!".


"Tuan..

__ADS_1


"Keluar..!!" Bentak David sangat marah sampai suaranya terdengar ditelinga Nadia yang berada di dalam kamar.


"David?" Gumam Nadia. Lalu ia menuruni tempat tidur, ia berjalan keluar, disana ia melihat pintu kamar David terbuka. "Apa dia sudah kembali? Tiara" Panggil Nadia.


__ADS_2