Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 84


__ADS_3

Begitu Bagas meredahkan emosi, ia melihat Nadia yang tergeletak diatas lantai kotor dengan tubuh lemas. "Ini peringatkan untuk kalian semua, jangan sampai tuan David tau kalau kalian membawa wanita ini kemari".


"Siap tuan" Jawab mereka tampa menanyakan alasan. Lalu Bagas membawa tubuh Nadia pergi dari sana menuju hotel tempat ia tinggal bersama dengan David, hingga kini mobilnya telah tiba disana. Kemudian Bagas mencoba menghubungi nomor David kembali.


"Mmmmm?" Jawab David.


"Tuan ada dimana?".


"Dirumah. Ada apa?".


"Nona Nadia bersama ku tuan di parkiran, dia jatuh pingsan".


"Apa?" Kaget David. "Aku akan kesana" Ia segera keluar dari dalam apartemen menuju parkiran dimana Bagas memarkiran mobilnya.


Ting..


Pintu lift terbuka, ia melihat mobil Bagas berada disana. "Tuan" Panggil Bagas keluar dari dalam mobil.


"Kenapa dia bisa bersama mu Bagas?".


"Nona Nadia melakukan pekerjaan itu lagi tuan".


David menghela nafas, "Apa kalian ketahuan?".


"Tidak tuan, tapi agen kita yang berada disana. Mereka semua tertangkap polisi".


"Bagaimana dengan anak buah mu?".


"Mereka berhasil selamat".


"Bagus, lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi, yang lebih dari ini akan segera datang".


"Siap tuan" Angguk Bagas yang mengerti maksud dari perkataan David.


"Mmmmm, terima kasih sudah membawanya pulang" David membuka pintu mobil belakang Bagas, ia melihat Nadia yang masih terlelap dalam tidurnya dengan luka kecil di sudut bibirnya. Lalu ia segera mengangkat tubuh Nadia membawa pergi ke apartemen.


Ceklek!


David meletakkan tubuh Nadia diatas ranjangnya, kemudian mengeluarkan kotak obat dari dalam lemari. Sambil mengobati luka Nadia, tidak lama kemudian ia membuka mata, ia melihat David sedang menyentuh bibirnya. "Kamu sudah bangun?".


"David?".


"Mmmmm".


"Apa ini mimpi? kenapa aku bisa berada di dalam kamar mu?".


"Ini tidak mimpi" Jawab David memberinya segelas air putih. "Kamu sudah merasa baikan?".

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Tapi kenapa aku bisa berada disini? perasaan tadi aku berada di.." Gantung Nadia mengingat pria-pria berbadan besar itu membawa Larisa pergi dari sana. "Astaga Larisa!".


"Kenapa?".


"Larisa, aku mengkhawatirkan Larisa rekan kerja ku. Tolong berikan ponsel mu, aku takut terjadi apa-apa dengannya" David memberikan ponselnya. Ia segera menghubungi nomor Larisa, "Hallo. Risa kamu baik-baik saja?".


"Kamu siapa?" Tanya balik Larisa dengan suara lemas.


"Ini aku Nadia, kamu baik-baik saja atau...


"Senior Nadia?".


"Iya, ini aku".


"Benarkah? benarkah kamu senior Nadia? ini enggak salah sambungkan?".


"Tidak, ini aku. Kamu baik-baik saja? aku sangat mengkhawatirkan kamu Risa".


Larisa meneteskan air matanya kembali, "Mmmm, aku baik-baik saja. Maaf".


"Syukurlah, apa kamu berada di rumah? mereka tidak menyakiti mu kan?".


"Iya, mereka tidak menyakiti ku dan sekarang aku sudah berada di rumah. Lalu bagaimana dengan mu kak?".


"Aku juga sudah berada di rumah" Jawab Nadia melihat David berada di depannya. "Mereka juga membebaskan ku, meskipun aku tidak tau alasan mereka membebaskan aku begitu saja. Padahal mereka tau kalau kita adalah musuhnya. Tapi syukur juga, karna mereka kita bisa kembali dengan keluarga yang menunggu di rumah".


"Iya kak".


"Iya. Terima kasih kak".


"Mmmmm" Nadia mematikan ponselnya. Lalu memberikan ponsel David di tangannya kembali. "Terima kasih. Tapi bisakah aku bertanya kepada mu?".


"Kenapa?".


"Bagaimana bisa aku berada disini?".


"Aku juga tidak tau, tadi Bagas yang mengantar mu kemari" Jawab David tidak berbohong.


"Bagas?".


"Mmmmm".


Nadia memperhatikan wajah David, ia tidak melihat kebohongan disana. "Terus Bagas siapa? apa aku mengenalnya?".


"Tidak, dia orang yang aku perintahkan untuk memperhatikan mu".


"Yah, berarti selama ini kamu mengawasi ku?".

__ADS_1


"Bisa dibilang, tapi tidak sepenuhnya".


"Iiisss, aku membenci mu".


"Terserah" Balas David menyimpan kota obat itu kembali lalu menyuruh Nadia mengganti pakaiannya yang sudah kotor, namun sebelum Nadia menganti pakaiannya, ia terlebih dahulu bertanya dari mana ia mendapatkan pakaian tersebut.


"Kenapa kamu bertanya kepada ku kalau kamu sudah tau? tidak mungkin bawahan mu itu tidak memberitahu mu".


"Dia tidak memberitahu ku".


"Kamu berbohong".


"Tidak".


"Benarkah kamu tidak tau?".


"Mmmmm".


"Wah" Tawa Nadia merasa lucu melihat wajah David yang tiba-tiba terlihat polos. "Kamu tau enggak? melihat mu yang seperti ini, kamu jadi terlihat sangat menggemaskan" David menaikkan sebelah alisnya, "Aku serius David, kamu menggemaskan sekali malam ini. Aaoommm sampai aku ingin memakan mu heheheh".


David tertawa memalingkan wajahnya, kemudian mendekati Nadia sambil menjitak keningnya. "Jangan berusaha merayuku, aku tidak menyukainya".


"Hey, buktinya kamu tertawa" Balas Nadia geleng kepala memasuki kamar mandi. Ia segera membersihkan tubuhnya yang bau, lengket dan berkeringat sambil memandangi wajahnya di depan cermin. "Tapi untung juga David mengawasi ku, kalau tidak. Ah, para pria kurang ajar itu pasti sudah membuat ku tumbal mereka".


Setelah Nadia selesai, ia baru menyadari kalau ia tidak sedang berada di kamar mandi kamarnya. "Astaga, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?. Bodoh sekali, bahkan satu handuk pun tidak ada dikamar mandi ini".


Nadia mencoba memanggil David, ia meminta supaya David memberinya handuk. Namun ia tidak mendapatkan jawaban dari yang empunya nama, membuat Nadia penasaran membuka pintu kamar mandi.


Ceklek!


"David!" Panggilnya. "David kamu dimana?" Panggilnya lagi melihat setiap sudut kamar David tidak melihatnya disana. "Dia kemana? sepertinya dia.." Gantung Nadia melihat handuk putih berada diatas sofa. "Ketemu, aku melihat handuk itu" Nadia melihat sekitanya lagi untuk memastikan kalau David benar-benar tidak ada di dalam kamar tersebut. Lalu Nadia melangkah keluar, ia sedikit mempercepat langkahnya.


Ceklek!


"OMG, jangan lihat kemari David" Teriak Nadia dengan pasrah berjongkok diatas lantai menutup mata begitu David membuka pintu. Kemudian ia mendengar suara langkah kaki David mendekati dirinya. Lalu ia merasakan sebuah kain lembut menutupi tubuhnya, "David" Lihatnya melihat David tersenyum semakin membuatnya merasa aneh dengan perubahan David.


"Ini" David memberikan pakaian Nadia di tangannya. "Ruang ganti ada disana".


"Terima kasih" Angguk Nadia segera mengganti pakaiannya di ruang ganti. Disana ia melihat semua pakaian David tersusun sangat rapi dan juga barang-barang mewah yang selama ini pakai. Setelah ia selesai, Nadia memandangi wajahnya di depan cermin.


"Kamu sudah selesai? kalau kamu sudah selesai keluarlah" Ucap David.


"Iya, aku sudah selesai" Nadia keluar dari dalam, ia melihat David menunggunya. "Kenapa?".


"Mie, aku ingin memakan mie instan buatan mu. Tolong masakkan untuk ku, aku sangat lapar".


"Jam berapa sekarang?".

__ADS_1


"3 pagi".


"Baiklah, aku akan memasaknya untuk mu dan aku akan membuatnya sangat enak. Ayo" Senang Nadia melangkah duluan keluar dari dalam kamar di susul oleh David.


__ADS_2