
Diatas tempat tidur, David menyentuh wajah Nadia dengan lembut. Ia merasa sangat marah kepada kedua orang tua Nadia yang sudah menampar wajah istrinya itu. "Kenapa?" Tanya Nadia.
"Tidak" Jawab David mencium kedua pipi Nadia bekas tamparan Hendrawan dan istrinya. "Sekarang tidurlah, hari ini aku sangat lelah sekali".
"Mmmmm, aku juga. Secepat mungkin aku akan segera menyelesaikan pekerjaan ini" Nadia memejamkan kedua matanya, tidak lama kemudian ia benar-benar terlelap begitu juga dengan David.
.
Pagi harinya, Nadia membuka mata. Ia melihat David masih memejamkan kedua mata, lalu ia menyentuh wajah tampan itu, kemudian mencium bibir David. "Selamat pagi suami ku".
David tersenyum.
"Ooo, ternyata kamu sudah sudah bangun".
"Kenapa?".
"Tidak, aku pikir kamu masih tidur. Aku mandi dulu, ini sudah jam 7 pagi".
"Tunggu" Tahan David.
"Kenapa?".
"10 menit saja" David menariknya lagi kedalam pelukannya. Lalu David membanjiri wajah Nadia penuh dengan ciuman, setelah itu ia mencium bibirnya. "Apa ini sudah hampir 10 menit?".
"Sudah lebih".
"Benarkah?" David melepaskan ciumannya, ia tersenyum melihat wajah Nadia yang sangat menggemaskan. "Sekarang mandilah, jangan lupa berdandan cantik seperti hari itu".
"Malas, wajah ku yang seperti ini saja banyak pria menyukai ku. Apalagi aku merias wajah ku seperti hari itu, mereka pun akan semakin banyak lagi melirik ku, kamu mau para pria itu menggoda ku?".
Tersenyum, "Tidak apa-apa kalau mereka menyukai mu, asalkan kamu tidak menyukai mereka".
"Ada-ada saja" Geleng Nadia keluar dari dalam kamarnya. Ia pun segera membersihkan tubuhnya. Begitu ia keluar, ia melihat David sedang menyiapkan sarapan untuknya, "Kamu sedang apa?".
"Duduklah" Jawab David memberikan segelas jus segar di hadapannya dan juga sepotong sandwich. "Ayo di makan".
Nadia tersenyum melihat jus tersebut, ia tidak pernah berpikir akan sejauh ini kalau suatu saat nanti David akan menyiapkan sarapan untuk dirinya, namun sekarang David baru saja menyiapkan sarapan untuknya penuh dengan senyuman. Nadia melihatnya, ia menatap laki-laki yang dulunya tidak pernah menginginkannya tiba-tiba bersikap manis kepadanya.
"Jangan melihat ku seperti itu, ayo cepat diminum. Aku akan mengantar mu".
__ADS_1
"Bagaimana dengan mu? kamu tidak berangkat ke kantor?".
"Tidak".
"Kenapa? apa hari ini kamu akan dirumah?".
"Tidak".
"Aku pikir kamu akan dirumah" Gumam Nadia segera meminum jus tersebut dan juga sandwich ya. "Wah, rasanya sangat enak. Kamu benar-benar hebat".
"Kamu menyukainya?".
"Mmmmm, aku sangat menyukainya".
"Kalau gitu habiskan, besok aku akan menyiapkan sarapan untuk mu lagi".
"Jangan lakukan itu, aku tidak mau merepotkan kamu. Besok pagi biar aku saja yang menyiapkan sarapan. Untuk hari ini terima kasih banyak, aku sangat menyukainya".
David menyambar kopinya, ia melihat Nadia sangat lahap tampa ia sadari saus yang menempel di sudut bibirnya. "Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Tanya Nadia melihatnya.
"Sebentar" David langsung melap saus itu menggunakan ibu jarinya. Lalu ia melap tangannya dengan tissue. "Ada saus di sudut bibir mu".
"Kamu mau mobil baru?".
"Tidak, aku tidak butuh mobil lagi".
"Kalau kamu mau bilang saja, aku akan membelinya".
"Untuk apa lagi? sebentar lagi kita akan segera meninggalkan negara ini" Sesampainya di kantor polisi, Nadia langsung keluar dari dalam mobil David. Lalu David pergi meninggalkan tempat itu saat ia melihat Nadia sudah masuk kedalam.
"Nadia!" Panggil Zico.
"Ooo, Zico" Senyum Nadia melihat Zico baru tiba juga. "Wah, kamu terlihat bahagia sekali hari ini Zico. Apa yang membuat mu tersenyum selebar itu?".
Zico merangkulnya, "Tadi malam aku melamar Anika".
"Apa?".
"Sshhuueett, nanti orang lain dengar. Aku akan segera menikahi Anika. Tapi bukan saat ini, nanti setelah semuanya kelar. Lalu bagaimana dengan mu? disaat aku menikah nanti, aku mau kamu datang bersama pria yang kemarin kamu ceritakan itu. Apa dia sampai sekarang belum mencintai mu?".
__ADS_1
Nadia tersenyum, "Selamat Zico, aku turut bahagia mendengar kamu akan segera menikah. Kamu tenang saja, nanti aku akan usahakan datang bersamanya".
"Kamu harus berjanji Nadia".
"Iya, aku janji".
"Terima kasih" Tawa Zico masih merangkul Nadia dari belakang tampa mereka sadari Larisa yang sedari tadi juga berada di belakang mereka.
Larisa tertawa kecil, "Menikah? apa dia benar-benar akan segera menikah?" Larisa melihat sekitarnya. "Aahh, dia berhasil membuat hati ku sakit. Bodoh, aku benar-benar sangat bodoh sekali mencintai pria yang sama sekali tidak pernah melirik ku".
.
Sesampainya David di markas, ia melihat para anak buahnya itu sedang bermain judi dan sebagiannya lagi bekerja. "Selamat pagi tuan" Tunduk mereka.
"Mmmmmm" Angguk David masuk kedalam. Disana ia melihat Bagas dan Vincen sedang menunggunya, "Bagaimana Vincen? apa kamu sudah melakukannya?" Tanyanya mengeluarkan rokok.
"Sesuai perintah tuan, saya sudah menghasut beberapa investor dari Vora group untuk bergabung di perusahaan kita. Kita tunggu saja tuan, Hendrawan sebentar lagi akan segera menghubungi nomor ponsel tuan".
"Bagus".
Vincen dan Bagas melirik David, mereka melihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya, "Tuan, bisakah kami tau asalan tuan melakukan ini? bukankah Vora group sudah melunasi hutang perusahaan mereka".
"Hhhmmmsss" Dengus David. Kemudian melihat kedua orang itu, "Harusnya seperti itu, tapi dia telah melakukan kesalahan yang tidak seharusnya ia lakukan. Bagaimana bisa dia datang kerumah ku meninggalkan bekas yang tidak bisa aku maafkan? maka dia harus siap menerimanya. Dia meminta Nadia menceraikan ku dan menamparnya beberapa kali karna Nadia menolak".
"Apa" Kaget mereka.
"Mmmmm".
"Hendrawan" Umpat kedua orang itu dalam hati sangat marah. Lalu Vincen mencari tahu investor dalam perusahaan itu lagi, ia benar-benar ingin menghancurkan perusahaan tersebut. Namun David malah melarangnya, "Kenapa tuan? orang seperti dia tidak tau terima kasih. Saya benar-benar akan menghancurkannya sampai dia bosan dengan hidupnya".
"Hentikan, biarkan saja yang seperti ini..." Gantung David mendengar suara ponselnya berdering. Ia pun langsung menyeringai melihat siapa orang yang baru saja menelponnya itu, "Kalian lihat ini, dia sudah menelpon ku" David segera menggeser tombol hijau.
"Ada apa Hendrawan?" Tanya David.
"David...!!" Geram Hendrawan berteriak histeris mengepal tangan.
"Aaiiss" Kesal David menjauhkan ponselnya dari telinga. Setelah suara itu tidak terdengar lagi, David menempel ponsel itu kembali ditelinga dengan senyum mengejek. "Ada apa kamu menelpon ku Hendra?".
"Aku ingin membunuh mu. Berani-beraninya kamu menarik para investor di perusahaan ku, sekarang katakan apa mau mu? apa mau David?".
__ADS_1
"Mau ku? hahahaha" Tawa David membuat semua orang di ruangan itu merinding hanya mendengar suaranya saja. "Mau ku sekarang, temui aku kalau kamu ingin sekali membunuh ku. Kalau kamu berhasil, maka mereka akan mengembalikan lagi kepada mu. Aku tunggu ditempat xx" Jawab David.