Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 68


__ADS_3

Nadia menatap lurus, di tepi pantai itu ia melihat gadis-gadis cantik dan seksi sedang tertawa riang bermain air. Kemudian Nadia melirik David, ia melihat David juga sedang melihat kearah para wanita itu dan juga salah satu diantara wanita itu sedang berusaha menggoda David.



"Ck, wanita itu menyebalkan sekali" Gumam Nadia kesal. Meskipun David terlihat biasa saja, namun wanita itu berhasil membuat Nadia merasa cemburu. "Aahh.. Aku bosan disini, mau lihat tempat yang lain enggak?" Tanyanya.


"Kenapa?" Tanya balik David.


"Disini tidak menyenangkan. Ayo" David mengalah, ia mengikuti kemana Nadia akan membawanya pergi. "Aku tidak suka melihat wanita itu menggoda mu".


"Hhhmmm?".


Tersenyum, "Tidak, aku hanya bergurau saja. Wah, enggak terasa yah sekarang sudah mulai sore".


"Tunggu" Tahan David menemukan sesuatu, lalu ia mengambilnya.


"Apa itu?".


"Berikan tangan mu, kata orang kalau kamu menemukan benda seperti ini di pantai, kamu pasti akan mendapatkan keberuntungan".


Nadia tertawa melihat David, "Yah, siapa yang mengatakan itu kepada mu? ada-ada saja".


"Ibu ku".


"Apa?".


"Waktu aku kecil ibu ku selalu membawa ku ke pantai, saat itu ia menemukan benang merah di pinggir pantai" David tersenyum tipis. "Saat itu juga aku tidak mempercayainya, tapi ibu ku tetap memakaikan di tangan ku. Kamu menyukainya? ditangan mu sangat cantik".


"Gelangnya cantik sekali, aku menyukainya. Terima kasih" Lagi-lagi David tersenyum seperti tidak percaya kalau Nadia menyukai gelang tersebut. "Kenapa? aku mengatakan yang sebenarnya. Serius".


"Mmmm.. Aku mempercayai mu".


"Kalau gitu, tolong fotokan aku disana" Nadia memberikan ponselnya. "Yang cantik yah".



Begitu David mengambil gambarnya, Nadia langsung berlari kearahnya. "Bagaimana?" David memberikan ponselnya, ia melihat hasil gambar David yang baru saja ia ambil. "Wah, kamu hebat juga mengambil gambarnya. Aku terlihat cantik" Pujinya.


"Kalau gitu kita pulang saja, ini sudah sore".


"Tunggu dulu, bisakah aku mandi sebentar? dari tadi aku ingin mandi seperti mereka hhhmm. Please".


David melihatnya.

__ADS_1


"Please, yah".


"Terserah kamu saja. Aku akan menunggu disana".


"Jangan, kamu tunggu disini saja. Tolong kamu pegang semua ini, aku tidak akan lama" Nadia berjalan ke bibir pantai, ia tertawa sangat bahagia. "Hahahaha, tolong ambil gambar ku disini juga" David mengambil gambarnya lagi. "Terima kasih" Setelah itu Nadia langsung berenang ketempat yang lebih dalam lagi.


Sambil menunggu Nadia selesai mandi, ia tak berhenti mengalihkan pandangan matanya dari Nadia yang semakin jauh ke pertengahan. "Nadia, hati-hati" Teriaknya.


"Jangan khawatir, aku sangat ahli berenang" Balas Nadia. Namun saat itu juga, ia melihat seorang anak kecil tengah terbawa arus ombak besar ke pertengahan laut yang semakin dalam tampa ibunya sadari. "Astaga, anak itu" Nadia segera menolongnya. Tetapi ia juga malah terbawa arus ombak pantai yang semakin tinggi. "David tolong aku" Teriaknya.


"Nadia, yah Nadia!" David pun langsung melompat kedalam laut yang semakin tinggi akibat naik pasang.


"David tolong aku" Teriak Nadia kembali yang semakin jauh bersama dengan anak kecil yang tadi ingin ia selamatkan itu. Hampir 10 menit lamanya, David pun berhasil menyelamatkan Nadia, tetapi ia malah menyuruh David pertama menyelamatkan anak tersebut.


"Kamu sudah gila" Bukanya menuruti perkataan Nadia, ia tetap duluan menyelamatkan nyawa Nadia. Setelah itu ia baru menyelamatkan nyawa anak kecil yang tadi. Meskipun tidak keadaan sadar, setidaknya ia berhasil menyelamatkannya.


"Oohh.. Tuhan, anak ku" Teriak ibu dari si anak tersebut melihat putranya.


Kemudian David menghampiri Nadia, ia terlihat sangat ketakutan saat ia hampir saja kehilangan nyawanya sendiri. "Kamu baik-baik saja" Bukanya menjawab, Nadia malah menangis sesenggukan di hadapan David. "Tidak apa-apa, semua baik-baik saja" Peluknya.


"Aku sangat takut hiks.. hiks..".


"Mmmm.. Aku tau" Semakin erat David memeluk tubuhnya. Lalu si ayah anak kecil tadi menghampiri mereka.


"Mmmmm" Angguk David mendengar bisikan-bisikan orang disana memuji keberaniannya telah menyelamatkan anak tersebut dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. "Kamu bisa berdiri?".


"Tidak".


David pun langsung mengangkat tubuh Nadia pergi dari sana, "Terima kasih tuan penyelamat" Ucap mereka tersenyum.


Begitu mereka berdua berada di dalam mobil, David segera menjalankan mobil ya pergi dari sana. Dengan kecepatan tinggi, David menginjak pedal gasnya tampa memperdulikan umpatan dari pengendara lainnya. "Tidak usah buru-buru" Ucap Nadia.


"Kamu kedinginan".


"Tidak apa-apa".


Sampainya mereka di hotel, David kembali menggendong tubuh Nadia meskipun ia sudah menolaknya, namum David tetap melakukannya. Setelah itu David memasukkan Nadia di dalam bathtub kamar mandinya, ia menaruh air panas disana supaya Nadia tidak merasa kedinginan. "Aku bisa mandi sendiri, kamu juga mandilah".


"Aku akan membantu mu".


"Kalau kamu tidak langsung mandi kamu bisa demam".


"Kalau gitu aku akan mandi disini, kemarilah aku akan membantu mu membuka pakaian. Aku tidak akan melakukan apa-apa, jangan khawatir" Ucap David seperti tau apa yang sedang Nadia takutkan.

__ADS_1


Tersenyum, "Yah, aku bukan memikirkan itu, aku hanya memikirkan kamu saja kalau belum mandi sampai sekarang. Aku tidak mau kamu jatuh sakit".


"Aku baik-baik saja".


"Sekarang kamu bilang, nantinya".


David menyentil keningnya lagi, "Kamu terlalu banyak bicara. Cepat angkat tangan mu".


"Kenapa?".


"Aku akan membuka pakaian mu. Cepat".


"Hehehehe.. Aku bisa sendiri, kalau kamu mau mandi, mandilah" David menatap Nadia yang sedang berusaha menutupi tubuhnya. "Ya, jangan melihat ku seperti itu. Aku malu".


"Malu kenapa?".


"Tubuh ku tidak seseksi wanita yang pernah kamu temui" Jawab Nadia menunduk.


David pun langsung menahan tawanya, ia benar-benar tidak habis pikir dengan Nadia yang berpikir sampai kesana. "Baiklah, aku akan keluar. Cepat bersihkan tubuh mu".


"Mmmm, dan maaf".


"Maaf untuk apa?".


"Tidak ada, ayo keluar" Begitu David keluar, baru Nadia membuka pakaiannya. Setelah itu ia segera membersihkan tubuhnya, tidak ingin berlama-lama disana, ia hanya menghabiskan waktu 15 menit lamanya. "Aahh, rasanya dingin sekali" Gumam Nadia.


Selesai memakai pakaian hangat, Nadia keluar dari dalam kamar, ia melihat pintu kamar David yang tertutup rapat. "Aku harus membuatkan teh untuknya" Namun saat itu juga ia melihat Tiara masuk kedalam rumahnya. "Tiara, kenapa kamu datang kemari? inikah hari libur mu?".


"Maaf nona, biasakan malam ini aku menginap disini?".


"Kenapa? kamu ada masalah?".


"Mmmmm" Angguk Tiara menangis.


"Jangan menangis" Larang Nadia memeluknya. "Kalau kamu ada masalah, kamu bisa ceritakan kepada ku".


"Hiks.. hiks.." Semakin tangis Tiara.


Kemudian Nadia membawa Tiara keatas sofa, lalu mengambil segelas air putih. "Minumlah supaya kamu merasa baikan".


"Terima kasih nona".


"Iya. Kalau kamu sudah merasa baikan kamu boleh bicara, siapa tau aku bisa membantu mu".

__ADS_1


Tiara menaruh gelasnya diatas meja, ia melihat Nadia dengan tatapan sendu. "Semalam aku bertemu dengannya, dia membuatku semakin tidak bisa melupakannya. Apa yang harus aku lakukan?".


__ADS_2