
Kemudian Hendrawan menyalakan lilin kue ulang tahun Nadia yang berada diatas meja, lalu ia menyuruh Nadia meniupnya. "Nadia tunggu, sebelum kamu meniup lilinnya jangan lupa berdoa dulu ya sayang" Ingatkan sang mama.
"Iya ma" Angguk Nadia menutup mata, setelah ia meniupnya. Suara tepuk tangan pun langsung terdengar di kedua telinganya. "Ya Tuhan, rasanya bahagia sekali melihat keluarga ku seperti ini" Ucapnya dalam hati.
Kemudian David berjalan mendekati Nadia dan menatapnya dengan tatapan hangat, "Selamat ulang tahun istri ku sayang" Ucap David mencium kening Nadia.
"Oohh Tuhan, jantung ku hampir saja mau copot" Teriaknya dalam hati. Begitu juga dengan yang lainnya merasa heran dan terkejut melihat David tiba-tiba menunjukkan sisi baiknya di hadapan mereka semua.
Lalu David mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya. "Aku tidak bisa memberi mu apa-apa, aku hanya bisa memberi mu ini" Dengan mata membulat Nadia melihat sebuah kalung mewah dan elegan David keluarkan dari dalam kotak kalung tersebut. "Aku akan memakannya di leher mu".
"Apa aku sedang bermimpi?" Tanya Nadia berbisik.
"Tidak" Jawab David tersenyum.
"Aku tidak yakin, aku pasti sedang bermimpi. Iya, aku pasti sedang bermimpi".
David kembali tersenyum sambil menjewer pipi kanan Nadia cukup kuat sampai membuat Nadia mengeluarkan suaranya. "Kamu masih bilang ini mimpi?" Bisik David.
"Berarti ini tidak mimpi?".
"Mmmmm.. Ini nyata, coba kamu lihat wajah keluarga mu. Mereka tampak sangat terkejut melihat putri mereka bahagia dengan pria tampan seperti ku".
"Iiisss" Dengus Nadia melirik kearah keluarganya itu yang sedang memperhatikan mereka sedari tadi. "Hahahha, terima kasih banyak untuk semua, terutama untuk papa dan mama, terima kasih banyak yah ma pa Nadia ucapkan. Malam ini Nadia benar-benar sangat bahagia sekali bisa berkumpul bersama dengan kak Riwan juga".
"I-iya" Tawa mereka. "Kalau gitu, ayo silahkan duduk" Ucap Hendrawan. "Menu malam ini semua ide mama kamu, mama sangat tau makanan kesukaan kamu. Saya harap juga tuan David menyukainya".
"Iya, kalau istri saya menyukainya saya juga pasti menyukainya" Angguk David melirik Nadia.
Sedangkan Elisa yang sedari tadi memandangi mereka berdua terlihat sangat tidak suka, ia merasa kalau David dan Nadia hanya bersandiwara saja. Ia tidak yakin kalau David benar-benar mencintai Nadia, karna ia tau kalau David bukanlah tipikal pria yang menyukai satu wanita saja setelah ia mencari tahu siapa David yang sebenarnya.
__ADS_1
"Nadia" Panggil Elisa.
"Iya kak" Jawab Nadia.
"Kamu bahagia menikah dengannya?".
"Apa?" Nadia bingung mendengar pertanyaan Elisa yang tiba-tiba bertanya kalau ia bahagia atau tidak.
"Aku bertanya kamu bahagia atau tidak menikah dengannya? yang aku tau dia bukanlah pri..
"Sayang" Tegur Riwan menghentikan Elisa.
"Kenapa? aku tidak salahkan bertanya sama adik ku sendiri dia itu hidup bahagia apa tidak bersama dengan pria yang telah menikahinya".
"Aku bahagia kak" Jawab Nadia dengan tegas. Lalu ia melirik David. "Aku sangat bahagia dan aku sangat mencintai dia. Bahkan aku tidak bisa berhenti memikirkannya sedetik pun, wajahnya selalu terbayang di pikiran ku" Senyum Nadia. "Terima kasih banyak ya pa ma sudah menjodohkan aku dengannya, dia adalah pria yang selama ini Nadia cari".
"Iya pa hehehe".
"Aku tidak yakin" Ujar Elisa. "Kalau kamu bahagia dan kalian berdua saling mencintai, kalian pasti sudah memiliki calon bayi. Tapi buktinya sampai sekarang kalian belum memilikinya juga, berati kalian berdua tidak mencintai satu sama lain. Aku yakin hubungan kalian hanyalah sebatas perjodohan yang tidak mencintai satu sama lain, karna suami kamu ini bukanlah laki-laki yang bisa mencintai kamu apa adanya. Kamu lihat sendiri, dia tampan dan juga kaya, wanita mana yang enggak tergila-gila kepadanya? sedangkan kamu hanyalah wanita polos yang tidak tau apa-apa" Seringai Elisa kepada David yang masih terlihat biasa saja.
"Kak hentikan. Kakak punya bukti kalau suami ku seperti itu?".
Elisa tertawa, "Bodoh, kamu benar-benar bodoh Nadia. Kamu pikir aku tidak tau kelakuan suami mu ini diluaran sana? aku tidak tau lagi sudah berapa banyak wanita yang dia tidur..
"Hentikan Elisa. Aku bilang hentikan" Bentak Riwan terbawa emosi. "Tidak bisakah kamu menghargai mereka sebagai tamu di rumah ini? haruskah kamu memberitahu apa yang suaminya lakukan di luaran sana?" Riwan mencoba menahan emosi. Lalu ia melihat Nadia dan David, "Atas nama istri ku aku minta maaf dengan apa yang baru saja ia ucapkan" Tunduk Riwan.
David pun tertawa kecil, kemudian ia melihat Riwan yang sedang menunduk. "Aku tidak menyangka kalau kamu sudah tumbuh dewasa".
"Hhhmmm?".
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu boleh duduk kembali" Ucap David menyuruhnya duduk. Lalu David menggenggam tangan kiri Nadia, "Sayang, kamu lebih percaya aku atau dia?" Tanya David melirik Elisa.
"Hey.. Tentu saja aku lebih percaya kepada suami ku sendiri. Karna aku yakin, kamu tidak akan pernah menyelingkuhi aku" Jawab Nadia dengan manis.
"Terima kasih sayang. Kalau kamu sudah selesai, sebaiknya kita pulang saja".
Dengan marah Hendrawan menghela nafas berat, "Lisa, kamu minta maaf sama adik kamu dan juga suaminya".
"Apa? emang Lisa salah apa pa harus minta maaf kepada mereka? Lisa hanya mengatakan yang sebenarnya kalau suaminya ini sudah menipu Nadia dan kita selama ini pa" Kesal Elisa tidak terima.
"Papa bilang minta maaf Lisa" Ucap Hendrawan kembali menatapnya dengan tajam.
"Iiissss.. Baiklah" Elisa melihat kedua orang tersebut, lalu ia meninta maaf kepada Nadia dan David.
"Tidak apa-apa, saya akan memakluminya. Kalau gitu kami permisi dulu, terima kasih banyak sudah merayakan ulang tahun istri saya dan juga makan malamnya, saya sangat menikmatinya. Ayo sayang".
"Mmmmmmm" Angguk Nadia. "Kalau gitu kami pamit pulang dulu ya ma pa kak, terima kasih banyak untuk malam ini".
"Iya sayang. Sering-seringlah datang kemari, mama akan menyiapkan menu yang spesial untuk kalian berdua".
"Iya ma" Setelah itu David dan Nadia segera meninggalkan kediaman keluarga Hendrawan. Lalu Elisa bangkit berdiri, ia pun meninggalkan mereka juga menuju kamarnya.
"Lisa, Lisa" Panggil Riwan. Tetapi Elisa yang sangat marah tidak memperdulikan Riwan lagi yang sedang memanggilnya. "Pa ma, tolong maafkan kelakukan istri Riwan yang sudah keterlaluan".
"Tidak apa-apa nak. Sekarang kamu susul istri kamu yah, mama tidak mau terjadi apa-apa dengan kandungan Lisa yang masih awal".
"Iya ma. Kalau gitu Riwan susul Lisa dulu".
"Iya, naiklah" Angguk sang ibu mertua.
__ADS_1