
Dengan senyum mengembang di wajah Nadia ia tidak sadar kalau saja ia telah memuji si pelayan tersebut, "Wah, ini beneran kamu yang nyiapin semuanya?".
"Iya nona, silahkan duduk" Senyumnya menarik kursi untuk Nadia.
Kemudian David tersenyum tipis, setelah itu ia segera menikmati sarapan. "Dia pelayan baru di rumah ini, aku harap kamu baik kepadanya".
"Iiisss.. Dia pikir aku monster yang akan memakannya apa?" Kesal Nadia bergumam. "Terus nama kamu siapa?".
"Tiara nona" Jawab Tiara ramah.
"Oohh.. Selain jago masak, kelebihan kamu apa lagi Tiara?".
"Saya bisa segalanya nona".
"Apa?" Nadia tertawa kecil. "Kamu yang benar saja, lalu kamu tinggal dimana? kamu enggak akan tinggal dirumah ini kan?".
"Kalau nona tidak keberatan, dengan senang hati saya akan tinggal di rumah ini".
"Tidak, kamu tidak boleh tinggal dirumah ini. Iyakan sayang".
"Uhuk.. Uhukk.." Kaget David begitu Nadia memanggilnya sayang. Lalu ia tertawa kecil sambil menyambar tissue yang berada di atas meja. "Saya tidak akan keberatan kalau kamu mau tinggal dirumah in..
"Yah...!!" Bentak Nadia sebelum David menyudahi perkataannya. "Tidak boleh, dia tidak boleh tinggal dirumah ini. Saya sudah selesai, terima kasih untuk sarapannya" Ucap Nadia pergi meninggalkan David dan Tiara kedalam kamarnya.
Kemudian David melirik Tiara, "Jangan terlalu sering membuatnya kesal" Ujarnya bangkit berdiri dari atas kursi.
"Iya tuan" Angguk Tiara memandangi punggung David berjalan kearah pintu. "Jadi kamu benar-benar sudah menikah?" Batin Tiara melirik kearah pintu kamar Nadia. "Aku sudah sangat lama mencintai David, tapi malah kamu yang berhasil mendapatkannya. Apa yang harus aku lakukan? kenapa kalian selalu menganggu ku, tidak Alexa tidak kamu" Geram Tiara mengepal tangan.
Begitu Nadia selesai membersihkan tubuhnya, ia segera keluar dari dalam kamar. Disana ia melihat Tiara sedang membersihkan perabotan yang ada di rumahnya. "Sudah mau berangkat nona?" Tanya Tiara.
"Mmmmm.. Aku titip rumah ya".
"Iya nona" Nadia pun langsung meninggalkan apartemennya. Kemudian Tiara berjalan kearah pintu kamar David, dengan rasa penasaran ia membukanya. "Ternyata kamarnya seperti ini, aku menyukainya" Senyum Tiara membaringkan tubuhnya diatas ranjang David.
"Seandainya aku yang menjadi istri David, rasanya dunia hanya milik berdua. Aahh, beruntung sekali wanita itu, padahal soal cantik aku jauh lebih cantik darinya. Tapi kenapa David menyembunyikan kalau dia benar-benar sudah menikah? Ck, dia membuatku penasaran saja" Tiara melirik seisi kamar David. "Foto pernikahan mereka tidak ada, dan mereka juga tidak satu tempat tidur. Lalu alasan David menikahinya apa?".
Lama berpikir membuat kepala Tiara pusing, dan pada akhirnya ia pun tertidur pulas diatas ranjang David.
.
Sesampainya Nadia di kantor, ia melihat semua rekannya kerja telah berada di atas kursi mereka masing-masing. "Pagi semua" Sapa Nadia seperti biasa.
"Pagi Nadia" Balas mereka. "Apa kamu sudah baik-baik saja Nadia?" Tanya Diva.
"Sudah mendingan mbak".
Kemudian Zico menghampirinya, "Sini aku bantu duduk" Ajaknya membawa Nadia keatas kursinya.
__ADS_1
"Hey, jangan membuat ku malu Zico" Bisik Nadia menolak bantuannya. "Aku bisa duduk sendiri".
Zico tersenyum, lalu ia mendekati Nadia sambil membisikkan sesuatu di telinganya. "Nad, selamat ulang tahun".
"Apa?" Kaget Nadia melihat Zico.
"Kenapa? kamu pikir aku akan melupakannya" Senyum Zico memberikan sebuah kado diatas mejanya. "Ayo buka".
"Sekarang tanggal berapa Zico?".
"7 Februari Nadia" Jawab Zico menjewer wajah Nadia.
"Aahh.. Sakit Zico. Masa iya sekarang tanggal 7? kok aku bisa lupa sih" Gerutu Nadia melihat klender yang berada diatas mejanya. "Astaga, ternyata benar sekarang tanggal 7. OMG, terima kasih Co sudah mengingat hari ulang tahun ku" Senyum Nadia tersenyum manis.
"Mmmm.. Sekali lagi selamat ulang tahun Nadia Zaliva".
"Terima kasih Zico".
"Sekarang kamu buka hadiah dari ku".
"Ini apa Co?".
"Buka saja, nanti kamu akan tau sendiri".
"Aku buka yah".
"Iya".
"Buka saja Nadia".
Nadia langsung membuka kotak kecil tersebut, "Zico, ini" Kaget Nadia melihat sebuah kalung mewah di dalamnya. "Zico maaf, aku tidak bisa menerima hadiah semewah ini".
"Terus, apa aku perlu mengembalikannya lagi ke toko perhiasan?".
"Tapi Zico..
"Sudah, kamu seperti tidak mengenal ku saja. Sini biar aku pakaikan" Nadia pun mengalah, ia membiarkan kalung yang baru saja Zico berikan itu melingkar di leher jenjangnya. "Kamu cantik sekali mengenakan kalung ini".
"Terima kasih Zico".
"Sama-sama Nad. Oohh iya, pulang kerja nanti kamu punya waktu? Refano mengundang kita makan malam di restorannya".
"Refano?".
"Iya".
"Ya sudah, sepertinya aku punya waktu".
"Ok" Senang Zico tampa ia sadari Larisa yang sedari tadi memandangi mereka berdua dengan wajah kecewa.
__ADS_1
"Aku tidak menyukai" Batin Larisa kembali fokus dengan pekerjaannya. Kemudian Bayus memanggil Zico.
"Iya pak" Jawabnya.
"Tolong kamu cek laporan yang ini".
"Siap pak".
.
Sedangkan David yang kini berada di dalam ruangannya sedang memandangi kunci yang bulan kemarin Riwan berikan kepadanya.
Tok.. Tok..
"Masuk" Jawab David.
Ceklek!
"Tuan" Vincen berjalan mendekati meja kerja David. Lalu memberikan berkas yang perlu ia tanda tangani, "Kenapa tuan sampai sekarang belum membukanya?" Tanya Vincen melihat kunci yang sedari tadi David pegangin.
"Tidak tau, aku belum siap membuka isi dari peninggalan ibu ku" Jawab David menaruh di dalam laci mejanya lagi. "Oohh iya, hari ini Nadia ulang tahun. Kamu beli saja apa yang cocok untuknya".
Vincen mengernyitkan dahi, "Kenapa harus saya tuan? kenapa tidak tuan sendiri yang membelinya".
David menatapnya, "Aku tidak punya waktu" Jawabnya.
Vincen tersenyum, "Kalau saya bilang sebaiknya tuan sendiri saja yang membelinya" Ucap Vincen kembali.
"Ck, aku tidak punya waktu Vince..
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTT...
Tiba-tiba ponsel Vincen bergetar, "Ooo.. Sepertinya saya punya urusan mendadak. Maafkan saya tuan, saya permisi dulu" Senyum Vincen keluar dari dalam ruangan David.
"Ya.. Yah.. Kamu mau kemana?" Tanya David meninggikan suaranya. Namun, Vincen yang sudah keluar membuat David kesal. "Ck, sepertinya Vincen sengaja ini" Gumam David melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Dan pada akhirnya David pun keluar dari dalam ruangannya, "Tuan" Panggil sekretarisnya.
"Ada apa?".
"Itu tuan" Jawabnya menunjuk kearah Hendrawan yang sedang duduk diatas kursi tunggu.
David menyeringai, lalu menyuruh sekretarisnya itu membawa Hendrawan masuk kedalam ruangannya.
"Baik tuan" Angguknya menghampiri Hendrawan. "Tuan, silahkan masuk" Ucapnya dengan sopan.
"Mmmm.. Terima kasih" Senyum Hendrawan bangkit berdiri, lalu ia memasuki ruangan David yang sedang di tungguin olehnya. "Hahahha.. Sepertinya tuan David ingin keluar?" Duduknya diatas sofa.
David menatapnya, "Ada keperluan apa kamu datang kemari?".
__ADS_1