Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 26


__ADS_3

Di dalam kamar Nadia tidak bisa tidur, ia masih kepikiran dengan apa yang tadi ia lakukan. "Aaiiss, kenapa kamu melakukan itu Nadia?" Dengusnya kesal.


Sekarang sudah pukul 2 pagi, namun ia masih saja belum bisa menutup kedua matanya. Kemudian Nadia menuruni tempat tidur, ia berjalan kearah jendela kaca. "Malam yang sangat indah" Gumamnya menatap kearah lampu perkotaan.


Sedangkan David yang berada di dalam kamarnya, ia sedang sibuk dengan pekerjaan, "Hhooaammm" Mulai merasa ngantuk, David keluar dari dalam kamar membuatkan secangkir kopi, tetapi saat ia menuju dapur, ia melihat Nadia tengah menonton televisi di ruang tengah.


Tidak ingin mencampuri urusan Nadia, ia mengabaikannya meskipun mata mereka berdua sempat bertemu. "Dia apaan sih?" Gumam Nadia kesal.


Di dapur, David sedang mengaduk kopi panas tampa ia ketahui Nadia tiba-tiba berdiri hadapannya, "Hhhrrrmmm".


David terkejut, namun ia langsung terlihat biasa saja, "Kenapa?".


"Aku tidak bisa tidur" Jawab Nadia.


David menaikkan sebelah alisnya.


"Itu, bisakah aku tidur bersama mu malam ini saja?" David menggeleng segera pergi dari hadapan Nadia. "Kumohon, malam ini saja" Ucapnya lagi meninggikan suara.


David tetap tidak menjawabnya.


"Kalau gitu, aku minta cerai".


Deng...


David menghentikan langkahnya, lalu melihat Nadia berdiri di belakangnya, "Kalau kamu tidak mengizinkan aku tidur di ranjang mu malam ini, aku mau cerai. Aku mau kamu menceraikan ku saja dari pad..." Gantung Nadia melihat David berjalan kearahnya.


"Cerai?".


Nadia gelagapan, ia merasa sangat takut kepada pria yang berada dihadapannya itu. Dengan tangan bergetar, ia mencoba menatap manik mata David. "Kalau gitu biarkan aku tidur di kamar mu. Bukankah aku ini istri kamu?".


"Istri?".


"Maksud kamu? jadi selama ini kamu tidak pernah menganggap ku sebagai istri mu?".


David tertawa, "Apa Hendrawan tidak pernah memberitahu mu?".


"Apa?".


"Kamu mau tau alasan aku menikahi mu? itu semua untuk menutupi kebusukan Hendrawan dan juga hutang Hendrawan yang belum lunas sampai sekarang kepada kami" Jawab David dengan senyum smirknya.


Kedua mata Nadia langsung berkaca-kaca, ia tidak mengerti dengan ini semua, bahwasanya ia baru saja mendengar kalau dia adalah jaminan Hendrawan sebelum Hendrawan membayar hutangnya kepada David. "Tidak mungkin, tidak mungkin. Papa tidak mungkin melakukan itu kepada ku, papa tidak akan melakukan hal sejahat itu kepada putrinya sendiri".


"Haahhh.. Putri? sejak kapan Hendra menganggap kamu sebagai putrinya?".


"Aarrrkkhhh.. Diam, aku tidak ingin mendengar mu" Bentak Nadia menutup kedua telinga.


David menggeleng, setelah itu ia memasuki kamarnya. "Tidak mungkin, papa tidak mungkin berbuat sejahat itu hiks.. hiks.. Papa" Semakin tangis Nadia.


.


Pagi hari, Nadia yang berada di atas sofa tidak memperdulikan Zico sedari tadi memanggilnya. Satu minggu ini Nadia benar-benar hancur, bukan hanya kakaknya saja, bahkan orang tuanya juga telah menjualnya kepada pria yang tidak menginginkan dirinya.


Kemudian Nadia kembali menangis seperti anak kecil, "Tuhan, kenapa harus Nadia Tuhan? kenapa harus Nadia Tuhan hiks.. hiks.." .


David yang baru keluar dari dalam kamar tidak perduli dengan Nadia yang dari semalam menangis, ia memilih mengabaikannya.

__ADS_1


Sekeluarnya David, ia semakin meninggikan suaranya. "Rasanya aku ingin mengakhiri semuanya ini. untuk apa lagi aku hidup jika keluarga ku sendiri tidak menginginkan ku".


Sesampainya David dikantor, ia hanya mendatangi setelah itu ia menuju markas, disana Bagas dan Vincen tengah menunggunya. "Tuan, kami menemukan hotel yang kemarin Steven dan Gery gunakan" Beritahu Bagas menunjukkan kepada David.


"Lalu dimana mereka sekarang?".


"Mereka ada disini tuan".


David tersenyum, "Bagus. Malam ini mereka akan datang mencari ku".


"Mmmmmmm" Angguk Bagas dan Vincen. Mereka segera menuju club milik Beyonce yang di alihkan kepada David.


Malam harinya, David telah berada di club, ia sedang menikmati segelas alkohol dan juga sebatang rokok ditangan kanannya. Sambil menikmati musik, David tidak pernah tidak di dikelilingi wanita-wanita cantik.


"Tuan, tuan kemana saja selama ini? kami sangat merindukan tuan" Goda mereka dengan manja di samping David.


"Hahahhaha" Tawa David. "Kalian merindukan ku?".


"Tentu saja kami merindukan tuan, ini sudah minggu kedua kami tidak pernah melihat tuan".


"Benarkah?".


"Mmmmmm".


"Kalau gitu, malam ini aku akan menuangkan alkohol ini kedalam gelas kalian. Bagas, tambahi".


"Baik tuan".


"Omo.. Tuan David benar-benar akan melakukannya?".


"Tidak tuan, kami hanya merasa bahagia saja".


"Bahagia?".


"Iya tuan, ini pertama kalian seorang pria tampan mau menuangkan minuman kepada kami, bahkan kami tidak nyangka kalau pria itu adalah tuan sendiri" Jawabnya dengan senyum lebar.


Mereka semua tertawa. Begitu Bagas membawanya, David segera menuangkan alkohol itu didalam gelas mereka sambil tertawa, "Malam ini mari kita bersenang".


"Mari kita bersenang-senang" Tawa mereka.


.


Zico yang sedari tadi menghubungi nomor Nadia membuat ia khawatir. Bahwasanya Nadia sampai sekarang selalu mengabaikan panggilnya. "Bagaimana Zico, kamu berhasil menghubungi nomornya?" Tanya Bayus.


"Tidak pak, sampai sekarang Nadia belum mengangkatnya".


"Apa kamu sudah mengirimnya pesan?".


"Sudak pak, satu pun tidak dibalas Nadia".


"Kamu tau dimana dia tinggal?".


"Tau pak, tadi siang aku mendatangi rumahnya. Tapi mereka menjawab kalau Nadia tidak sedang berada di rumah".


"Kamu yakin dia baik-baik saja?".

__ADS_1


"Iya pak, tadi saya sempat mengobrol dengan ibunya".


"Lalu kenapa dia tidak menjawab panggilan mu?".


"Saya juga kurang tau pak, Nadia tidak pernah seperti ini. Baru pertama kalinya dia mengabaikan panggil...


DDDDRRRTTTTT... DDDDRRRRTTTT...


"Sebentar pak" Zico menyambar ponselnya. Ia melihat siapa yang tengah menghubunginya itu, "Nadia".


"Ayo cepat angkat" Ujar Bayus.


"Iya pak. Hallo Nad, kamu dimana? kamu baik-baik saja? kenapa kamu tidak menjawab panggilan ku dari tadi pagi? bahkan kamu tidak ada dirumah juga, kamu baik-baik saja".


Nadia melap air matanya, "Mmmmm.. Aku baik-baik saja Zico, maaf karna sudah mengabaikan panggilan mu dari tadi pagi".


"Tidak apa-apa, sekarang kamu dimana? malam ini kita akan kelapangan".


"Mmmmmm.. Aku akan datang ke kantor".


"Iya" Begitu Nadia mematikan ponselnya, Zico kembali meletakan ponselnya.


"Apa dia katakan?" Tanya Bayus.


"Dia akan segera kemari pak".


"Bagus, ini sudah jam 8 bersiaplah".


"Iya pak".


Sesampainya Nadia di depan kantor, ia melihat sekitar disana dengan banyaknya orang keluar masuk. Nadia tersenyum, lalu melihat amplop putih ditangan kanannya itu. "Aku akan pergi, maafkan aku Zico tidak bisa menepati janji kita sampai kita tua nanti akan tetap menjadi seorang polisi" Nadia segera masuk kedalam. Disana ia melihat teamnya telah bersiap-siap.


"Nadia" Panggil Diva.


Nadia tersenyum.


"Kamu dari mana saja? kenapa hari ini kamu tidak masuk kerja?".


"Maafkan saya, hari ini saya merasa kurang enak badan" Jawab Nadia.


Kemudian Zico mendekatinya, "Kamu baik-baik saja? mata kamu...


"Aku baik-baik saja Zico. Maaf, bisa saya mengganti pakaian sebentar?".


"Mmmmmm" Angguk Diva.


Sambil menunggu Nadia selesai, Zico merasa ada sesuatu yang sedang Nadia sembunyikan darinya melihat kedua mata Nadi sembap seperti baru habis menangis. "Ada apa Zico?" Tanya Raka.


"Tidak pak" Gelengnya.


"Kamu sudah siap? Nadia sudah keluar".


"Sudak pak".


"Ayo" Mereka semua langsung bergegas ke lokasi.

__ADS_1


__ADS_2