
Begitu Zico membawa Nadia keluar dari dalam sana, ia langsung melepaskan tangannya, kemudian menatap wajah Nadia yang tidak seperti biasa yang selama ini ia lihat. "Kamu kenapa Nadia? aku tau kamu pasti sedang punya masalah. Ayo cerita kepada ku, aku pasti akan membantu mu".
Nadia tersenyum tipis, "Apa yang sedang kamu bicarakan Zico? kamu ada-ada saja deh. Aku sedang mencari tahu pria di gambar ini, makanya aku kesana, siapa tau mereka akan memberitahu ku".
Zico menghela nafas, ia tau kalau Nadia sedang menyembunyikan sesuatu darinya melihat dari sorot mata Nadia. "Nadia, kemarilah" Tariknya membawa Nadia kedalam pelukannya. "Kalau kamu ingin menangis, menangislah. Aku akan menyembunyikan wajah mu supaya orang lain tidak melihatnya" Seperti apa yang baru saja Zico ucapkan, Nadia benar-benar menangis di dalam pelukannya seperti anak kecil.
Sambil mengusap punggung Nadia, Zico melihat sekitarnya. Setelah hampir 10 menit lamanya Nadia menumpahkan air mata, Nadia segera melepaskan pelukan Zico dengan mata sembap. "Terima kasih sudah meminjamkan tubuh ini, dan maaf baju mu jadi basah".
"Tidak apa-apa, asalkan sekarang kamu sudah merasa baikan".
"Mmmm, aku sudah jauh merasa baikan".
"Syukurlah".
.
Di markas, David baru saja mendapatkan informasi dari Rusia bahwasanya Gery telah berada di indonesia. Sedangkan Steven saat ini masih berada di Rusia, Steven semakin menguasai semua peninggalan Beyonce tampa Gery sadari kalau Steven hanya memanfaatkannya saja.
"Kita harus segera mencari Gery tuan dan memberitahu semuanya. Tuan dengar sendiri tadi kalau Gery selama ini hanya di manfaatkan oleh Steven untuk merebut segalanya"Ujar Bagas.
"Percuma Bagas, dia tidak akan pernah mendengar ku, kamu tau sendiri kalau sejak dari dulu dia sangat membenci ku. Kami berdua tidak akan pernah berdamai, salah satu diantara kami berdua harus ada yang mati".
"Kalau gitu, kami berdua akan mencarinya tuan dan langsung membunuhnya" Sambung Vincen.
"Jangan gegabah, kita tunggu saja sampai Gery menunjukkan dirinya sendiri datang mencari ku" Ucap David mengingatkan mereka. Kemudian David memberikan sebuah ransel kepada kedua orang itu, "Ini persiapan untuk kalian berdua, jangan lupa membawanya besok pagi".
Kedua orang itu mengernyitkan dahi menerima ransel tersebut, lalu Bagas membukanya, ia melihat sebuah pancing di dalamnya. "Tuan ini apa?".
"Aku sudah bilang kalau kita bertiga akan pergi memancing bersama, datanglah ketempat ini, aku akan menunggu kalian disana".
"Tuan".
"Ini bukan perintah, ini permintaan sebagai teman kalian berdua" Senyum David.
.
Sepulangnya David dari markas, ia singgah di sebuah toko bakery. Seperti biasa David akan selalu merayakan hari ulang tahunnya seorang diri tampa orang lain tau baik itu Beyonce, Bagas dan Vincen. "Tolong berikan cake vanila ini" Ucapnya kepada si pegawai toko tersebut.
"Baik, tunggu sebentar tuan" Si pegawai toko tersebut segera membungkusnya ke dalam kotak, lalu memberikan dihadapan David. "Terima kasih sudah berbelanja di toko kami tuan, selamat datang kembali".
__ADS_1
David langsung membawanya memasuki mobil yang terparkir di depan, setelah itu ia menjalankan mobilnya. Sesampainya David di apertemen, ia membawa cake tersebut kedalam kamar, kemudian David memasuki kamar mandi.
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTT..
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTT..
"Nadia" Panggil Zico.
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTT..
"Nadia" Panggilnya lagi dengan suara tinggi.
"Hhhmmm?" Kaget Nadia tersadar.
"Ponsel kamu dari tadi berdering".
"Astaga, terima kasih Zico" Nadia menyambar ponselnya, ia melihat nomor baru, tetapi ia tetap mengangkatnya. "Ini siapa?".
"Nadia, ini aku Riwan" Jawabnya.
"Oohh, ada apa kak?".
"Aku dikantor kak, sepertinya aku tidak sibuk, paling sebentar lagi aku pulang. Kenapa kak?".
"David berulang tahun, kalau kamu punya waktu tolong rayakan ulang tahunnya. Nanti malam seperti biasa dia akan merayakannya seorang diri".
Nadia terdiam.
"Kamu mendengarkan ku Nadia?".
"Mmmm, aku mendengar mu kak".
"Kalau gitu aku tutup dulu, tolong sampaikan selamat ulang tahun ku kepada kak David".
"Mmmmm" Angguk Nadia mematikan ponselnya. Ia melihat jam kini sudah menunjukkan pukul 7 malam. "Zico, aku pulang duluan" Ucapnya langsung berlari keluar dari ruangan itu. Namun sebelum ia menuju hotel tempat ia tinggal, Nadia terlebih dahulu singgah disebuah toko pakaian pria.
"Selamat datang nona, ada yang bisa kami bantu?".
"Iya" Senyum Nadia berjalan masuk. Ia menelusuri semua isi di dalam toko tersebut dengan kedua matanya, hingga yang ia cari akhirnya ketemu. "Itu dia, mbak tolong syal yang itu di bungkus".
__ADS_1
"Baik nona, itu saja?".
"Iya".
Setelah itu Nadia segera pulang, ia melihat jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Kemudian Nadia melirik paper-bag ya itu dengan senyum tipis. "Tuhan, salahkan aku harus memilih jalan ini? meskipun belum 100% aku mengetahui siapa dia yang sebenarnya. Setidaknya biarkan aku Tuhan bahagia bersamanya sebelum semuanya terbukti kalau dia benar-benar orang yang kami cari selama ini" Gumam Nadia mendengus. "Aahh, sampai sekarang aku masih belum mempercayai ini semua".
Kini Nadia telah berada di depan pintu apartemennya, ia membuka pintu. Ia tidak melihat David berada disana atau pun di dapur. Lalu ia melihat pintu kamar David, ia yakin kalau David sudah pulang dan berada di dalam kamarnya. Namun sebelum ia masuk, Nadia mencoba menahan diri untuk menunggu jam 12 malam itu tiba.
"Sebaiknya aku membersihkan tubuh ku dulu" Gumam Nadia memasuki kamarnya, lalu memasuki kamar mandi. Begitu selesai, ia segera keluar dari dalam sana dengan pakaian santai. Kemudian Nadia membaringkan tubuh itu diatas tempat tidur, "Hhooaaamm, aahh aku lelah sekali" Nadia memejamkan mata, dan pada akhirnya ia terlelap.
Jam 12 telah tiba, David menyalakan lilin diatas cake yang tadi ia beli dari luar. "Ayah ibu, hari ini David berulang tahun yang ke 29 tahun" David tersenyum. "Sekarang usia ku sudah mendekati kepala tiga, dan sampai sekarang aku masih belum bisa hidup bahagia seperti teman masa kecil ku yang sudah memiliki keluarga mereka masing-masi...
BBRRAAKK...
"Siapa bilang?" Bentak Nadia berkaca-kaca.
"Nadia" Kaget David. Ia melihat Nadia berjalan kearahnya, lalu wanita itu meneteskan air mata di hadapannya dengan kepala menunduk. "Nadia maafkan aku".
"Minta maaf apa?" Nadia melap air matanya, ia melihat David sedang tersenyum kepadanya. "Aku ingin dipeluk, tolong peluk aku" Ucapnya dengan manja. Dengan senyuman yang semakin melebar di wajah David, pun langsung memeluknya dengan sayang. "Selamat ulang tahun suami ku".
"Terima kasih Nadia" Senang David semakin erat memeluk tubuh itu.
"Jangan bilang kalau kamu hidup sendiri dan tidak bahagia seperti apa yang baru saja kamu ucapkan di depan kedua orang tua mu. Kamu masih memiliki aku David, kamu memiliki aku dan kita adalah keluarga".
"Terima kasih Nadia, terima kasih" Ciumnya di kepala Nadia.
Setelan itu Nadia melepaskan pelukannya, ia mengeluarkan sesuatu dari paper-bag yang tadi ia beli dari toko pakaian. "Sekarang kamu menunduk" David menurut, ia menundukkan tubuhnya di hadapan Nadia. "Aku mencintai mu David, selamat ulang tahun" Ucapnya kedua kalinya memakaikan syal tersebut di leher David. "Bagaimana, kamu menyukainya?".
"Mmmm, terima kasih, aku sangat menyukainya".
"Tentu saja kamu harus menyukainya".
"Tapi, bagaimana bisa kamu tau kalau hari ini aku berulang tahun? Riwan memberitahu mu?".
"Pintar juga kamu bisa menebaknya. Iya, kak Riwan memberitahu ku kalau hari ini kamu ulang tahun. Sekarang boleh aku mencicipi kue ini?".
"Mmmm, aku akan menyuap mu. Ayo buka mulut".
"Aaaa" Nadia membuka mulut, begitu David menyuap kedalam mulutnya ia langsung tertawa sangat bahagia.
__ADS_1