Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 14


__ADS_3

Di dalam apertemen, Nadia meletakkan bekalnya diatas meja. Kemudian ia membukanya, "Wah, ini semua makanan kesukaan aku" Senyum Nadia mengeluarkan ponselnya.


DDDDRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT...


"Iya sayang".


"Ma" Senang Nadia.


"Kenapa? apa kamu sudah memakannya?".


"Terima kasih ya ma. Mama tau saja kalau Nadia sangat merindukan masakan mama".


"Iya sayang. Jangan lupa memakannya bersama dengan suami mu".


"Iya ma" Angguk Nadia mematikan ponselnya. Setelah itu ia memasukkan kedalam open, sambil menunggu David pulang kerja Nadia memasuki kamarnya.


Jam 7 malam Nadia menunggu David di meja makan, namun yang ditunggu tak kunjung kembali pulang. "Kenapa dia lama sekali? ini sudah jam 7 malam lewat" Gumam Nadia menyambar ponselnya. "Apa sebaiknya aku menghubungi dia? tapi aku tidak bisa menghubungi dia kalau bukan alasan sangat penting. Kalau gitu aku akan menunggunya 20 menit lagi, kalau dia belum kembali pulang juga baru aku akan menelponnya".


Setelah 20 menit lamanya Nadia menunggu David, tetapi yang di tunggu masih tetap saja belum pulang. "Bukanya aku khawatir, tapi untuk memastikan dia baik-baik saja ada baiknya aku menghubungi dia, lagian kemarin dia duluan yang menghubungi ku, jadi bukan aku yang pertama" Gumam Nadia menghubungi nomor David.


DDDRRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT..


"Mmmmmmm?" Jawab David dengan suara berat.


"Akhirnya. Tuan, ini saya Nadia. Kenapa tuan belum kembali pulang?".


"Nadia?".


"Iya. Apa tuan baik-baik saja?" Tanya Nadia mendengar suara mabuk David.


"Tidak, aku tidak sedang baik-baik saja" Jawab David.


"Apa. Lalu tuan sedang dimana?".


"Aku?".


"Iya, tuan sedang dimana? aku akan datang kesana".


"Aku sedang di kantor".


"Baiklah, saya akan kesana" Nadia segera menyusul David yang sedang berada di kantornya. Namun ia lupa menanyakan alamat kantor David yang sebenarnya sehingga Nadia langsung menghubungi Hendrawan. "Pa, tolong beritahu Nadia alamat kantor tuan David".


"Ada apa? baiklah" Hendra segera mengirim alamat perusahaan David.


Setibanya Nadia di depan gedung perusahaan David, ia masuk kedalam loby. "Permisi, saya mau bertanya lantai ruangan tuan David ada dimana pak?" Tanya Nadia kepada security yang berjaga di dalam loby.


"Ada urusan apa nona? sebelumnya sudah ada janji?".


"Belum sih. Tapi saya harus menemuinya pak".

__ADS_1


"Maaf nona, kami tidak bisa. Sebaiknya nona membuat janji terlebih dahulu, lagian ini sudah jam 9 malam. Sepertinya tuan David sudah kembali pulang".


"Gara-gara dia belum kembali pulang makanya aku datang kemari" Gumam Nadia berjalan ke arah lift.


"Nona" Panggil security tersebut mengejar Nadia.


"Iya" Jawab Nadia.


"Maaf nona, sebaiknya nona kembali pulang".


"Maaf pak, saya harus menemuinya" Nadia menekan tombol lift menuju lantai David yang tidak ia ketahui letak lantainya berada dimana. "Tolong jangan halangi saya pak. Sekarang cepat beritahu saya lantai ruangan tuan David"


Security marah, lalu ia memanggil rekannya yang lain untuk membawa Nadia pergi dari sana, namun pintu lift yang sedang Nadia tungguin telah terbuka. Nadia dengan cepat masuk kedalam lift sehingga security itu tidak mengetahuinya. Setelah itu Nadia menghubungi nomor Hendra kembali.


Ting...


Nadia keluar dari dalam lift setibanya ia di lantai 25, disana ia melihat semua lampu sudah padam. Nadia berjalan mencari letak ruangan David, "Tadi papa bilang ada disebelah kanan dari sini. Lalu dimana ruangannya?" Gumam Nadia melihat sekitarnya.


Kemudian Nadia berjalan lebih jauh lagi, disana ia melihat sebuah pintu diterangi cahaya lampu yang belum padam. "Itu ruangan apa?" Jalan Nadia mendekati, hingga akhirnya ia membaca tulisan di depan ruangan tersebut bertulisan presdir room. "Ini dia".


Ceklek!


"Astaga, kenapa gelap sekali? tuan.. " Panggil Nadia. "Tuan" Panggilnya lagi.


BBBRRRRAAKKK..


"Astaga" Kaget Nadia melonjak. Kemudian Nadia mendekati arah sumber suara pecahan gelas di arah sofa. "Tuan...!!".


"Hhhhmmm? tuan David?".


David melihat Nadia, "Apa yang sedang kamu lakukan disini?" Tanyanya.


"Tuan. Apa tuan baik-baik saja" David menghela nafas memijit keningnya, "Astaga, tuan mabuk?".


"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" Tanya David kembali.


"Aahhh.. Itu, saya mengkhawatirkan tuan" Senyum Nadia.


David memicingkan matanya, lalu ia tersenyum tipis mendengar perkataan Nadia yang tengah mengkhawatirkan dirinya. "Sebaiknya kamu kembali pulang".


"Lalu bagaimana dengan tuan? saya datang kemari karna mengkhawatirkan tuan".


"Pulanglah. Kepala ku sangat pusing" Lelah David menyandarkan tubuhnya lagi diatas sofa.


"Tapi tuan".


"Pulanglah".


"Kalau gitu saya akan menemani tuan disini".

__ADS_1


"Pulanglah".


"Bagaimana bisa saya kembali pulang sedangkan tua.. Aakkhhh" Kaget Nadia begitu David tiba-tiba menarik tangannya, hingga tubuhnya terjatuh di dada bidang David. "Tu-tuan" Gelagapan Nadia dengan mata membulat.


"Aku sudah menyuruh mu pulang, harusnya kamu kembali pulang. Tapi sekarang kamu malah ingin bermalam disini bersama ku, itu tandanya.." Gantung David menyisikan anak rambut Nadia.


Nadia terdiam, ia tidak bisa melakukan apa-apa seakan ia telah terhipnotis dengan David hanya dengan mendengar suaranya saja. "Ada apa dengan ku? kenapa hati ini seakan pasrah. Oohh tidak, ayolah Nadia, kamu harus sadar Nadia, ayo sadar Nadia" Teriaknya dalam hati.


David menyentuh pipi mulus Nadia sampai bibirnya, "Jangan lakukan itu tuan" Geleng Nadia menutup mata.


"Kenapa?" Tanya David dengan suara seksi.


"Sa-saya belum siap tuan".


David tersenyum, tampa Nadia sadari David langsung menarik wajahnya Nadia hingga bibir mereka berdua bertemu. "OMG" Kaget Nadia membulat. Lalu Nadia manarik wajahnya, namun David telah tertidur dibawahnya. "Hhhmmm? apa dia tidur?" Gumam Nadia menyentuh wajah David. "Tuan, tuan" Panggilnya. "Ck, pakai tidur lagi" Dengan kesal Nadia memperbaiki cara tidur David.


Lalu ia melihat wajah letih David, setelah itu Nadia mencari selimut yang bisa David gunakan. "Pakai ini saja" Nadia menyambar jas David yang tergantung.


Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, Nadia segera pergi dari sana sambil berharap semoga David melupakan kejadian hari ini.


.


Paginya, David terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekitar ruangan tidak menemukan siapa pun disana. Kemudian David melihat jas yang berada di atas tubuhnya, namun David yang masih merasa pusing di kepalanya, tidak memikirkan siapa yang telah menaruhnya disana, lalu ia memasuki kamar mandi.


Sedangkan Nadia yang tengah bersiap-siap berangkat kekantor, ia tidak lupa menikmati sarapan pagi.


Begitu Nadia selesai ia langsung keluar dari dalam apertemen menuju lift, "Selamat pagi nona".


"Astaga" Kaget Nadia.


"Aahh.. Maaf" Senyum Yanto merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Kenapa kamu baru berangkat? ini sudah jam 7 lewat" Tanya Nadia menekan tombol lift.


"Aku masih punya banyak waktu nona" Jawab Yanto.


"Tidak usah memanggil ku nona. Panggil Nadia saja. Sepertinya umur kita tidak terlalu jauh".


"Mmmmmm" Senyum Yanto.


Ting..


Pintu lift terbuka, mereka berdua segera masuk kedalam. "Oohh iya Nadia, kamu kerja dimana?".


"Aku? aku seorang polisi Yan".


"Polisi?".


"Mmmmmm" Angguk Nadia.

__ADS_1


"Oohhh" Gumam Yanto memperhatikan Nadia dari pantulan kaca lift.


__ADS_2