
Di dalam kamar mandi Nadia membasuh wajahnya yang tadi Raden ludahi, "Ck, rasanya aku ingin membunuhnya" Geram Nadia mengepal tangan, setelah itu ia keluar dari dalam sana.
Tok.. Tok..
"Iya" Jawab Nadia.
"Permisi, pak Bayus ada?" Tanyanya melihat Nadia seorang diri.
"Aahh.. Pak Bayus sedang tidak ada disini. Ada apa?".
"Itu, pak Bayus kedatangan seorang tamu. Bisa saya titip beliau disini?".
"Iya. Silahkan" Angguk Nadia.
"Terima kasih" Ia pun langsung menyuruh masuk pria yang menanti kedatangan Bayus. "Ayo masuk pak. Tapi pak Bayus lagi berada di luar, tidak apa-apa bapak menunggu di dalam kan?".
"Iya tidak apa-apa. Terima kasih banyak".
"Sama-sama pak. Permisi".
"Mmmmmm" Si pria tersebut memasuki ruangan yang hanya di tinggalin oleh Nadia. Dengan senyum mengembang di wajahnya ia melihat Nadia yang juga sedang tersenyum kepadanya.
"Ayo pak, silahkan duduk. Pak Bayus mungkin akan sedikit lama kembali. Bapak mau minum kopi?".
"Apa saya tidak ngerepotin?" Tanyanya tidak enak hati.
"Tidak pak. Sebentar yah" Nadia segera membuatkan segelas kopi hangat untuk si pria paruh baya tersebut. Setelah selesai, Nadia memberikan kepadanya, "Saya tidak tau kopinya kurang manis atau kemanisan, kalau tidak sesuai selera bapak. Bapak bisa memberitahu saya".
"Iya, terima kasih".
"Sama-sama pak" Senyum Nadia kembali ke meja kerjanya. Kemudian si pria paruh baya tersebut menatap Nadia dengan senyum tipis, lalu ia mengeluarkan ponselnya, ia mengambil beberapa gambar Nadia tampa sepengetahuannya.
"Nona" Panggilnya.
"Iya pak" Jawab Nadia melihatnya.
"Sebenarnya saya datang kemari ingin memberitahu pak Bayus mengenai kapal yang sering berlabuh di wilayah kami".
__ADS_1
"Apa?" Nadia langsung mendekati pria paruh baya tersebut. "Aahh.. Maafkan saya pak. Sepertinya informasi yang baru saja bapak ucapkan sangat berarti buat kami. Tolong ceritakan secara detail pak".
"Kalau gitu, kenapa nona tidak ikut saya saja? mungkin akan lebih jelas kalau nona pergi bersama saya langsung ke lokasi" Nadia tampak berpikir, namun melihat kondisi kakinya yang tidak bisa terlalu banyak bergerak membuat ia kesal. "Kenapa nona?".
"Sebenarnya kondisi saya kurang memungkin kan pak. Tadi pagi saya terjatuh di kamar mandi".
"Aahh.. Maafkan saya, saya tidak tau kalau kondisi nona tidak memungkinkan. Kalau gitu saya akan menunggu pak Bayus saja".
Nadia menghela nafas, ia juga tidak ingin duduk dan diam saja di kantor tampa melakukan apa-apa. "Baiklah pak, mari kita lihat lokasinya sekarang juga. Nanti saya akan memberitahu pak Bayus untuk menyusul kesana".
"Tapi nona, bagaimana dengan kondisi nona?".
"Jangan khawatir pak, ada tongkat yang menolong saya".
"Ya sudah kalau nona memaksakan. Soalnya kami juga sangat takut setiap malam kalau kapal tersebut sudah berlabuh di tempat kami mencari nafkah".
"Iya pak. Kami akan melindungi masyarakat dari orang seperti mereka. Ayo".
DDDRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT..
"Aku merindukan mu. Bisakah kamu menemui ku sebentar di luar?".
"Apa? sedang apa kamu kemari?" Senyum Nadia saat pria yang semakin hari semakin ia cintai itu mengatakan kalau ia sedang merindukan dirinya.
"Karna aku merindukan mu. Ayo cepat keluar".
Nadia melirik kearah pria paruh baya tersebut, "Maafkan aku, aku tidak bisa. Sepertinya aku akan sangat sibuk hari ini. Tidak bisakah kamu menunggu ku dirumah saja hhhmmm?".
"Tidak bisa, aku sudah terlanjut datang kemari. Atau aku perlu mendatangi mu kedalam".
"Yah.. Jangan lakukan kan it..u" Gantung Nadia melihat si pria paruh baya tersebut pergi begitu saja meninggalkan dirinya. "Pak, bapak mau kemana?" Teriak Nadia mencoba mengejarnya. Tetapi si pria itu telah menghilang dari hadapannya. "Hey, ada apa dengannya? perasaan tadi aku menyuruhnya menunggu sebentar, tapi dia malah langsung pergi" Gumam Nadia menempelkan ponsel itu kembali di telinga. Namun David telah menyudahi sambungan telepon mereka.
"Wah.. Bahkan dia juga menutup telponnya secara sepihak" Geram Nadia kesal.
.
David yang kini berada di luar kantor polisi sedang menanti pria yang tadi mengajak Nadia pergi. Lalu ia tersenyum sinis, "Sekarang kamu mencoba mencari kelemahan ku? baiklah, sejauh mana kamu akan pergi" Gumam David melihat pria tersebut memasuki mobilnya.
__ADS_1
David pun segera mengikutinya dari belakang tampa sepengetahuannya. Namun saat perjalan, ia merasa seseorang sedang mengikutinya, "Sial" Umpatnya semakin menancap pedal gas mobilnya.
Kemudian David tersenyum menakutkan, "Sepertinya kamu sudah menyadarinya" David pun semakin menancap pedal gas mobilnya hingga kejar-kejar mobil pun terjadi diantara mereka berdua. "Sekarang kamu mau kemana bajingan" Senyum David kembali semakin menancap pedal gas mobilnya sampai mereka berada di jalan yang sangat sepi.
Tin.. Tin.. Tin..
David mengklaksonnya sampai beberapa kali dengan membuka pintu kaca mobil. "Yah, berapa banyak mereka mengaji mu?" Tanya David menatapnya.
Ia tersenyum sinis, lalu membanting mobilnya di mobil mewah David. "Saya tidak mengenal kamu siapa, sebaiknya kamu pergi sebelum mobil mewah mu itu hancur".
"Saya tidak akan perduli" Jawab David malah membanting mobil mewahnya di mobil si pria tersebut dengan tawa menakutkan. "Kamu mau mati bersama ku?".
"Brengsek" Geramnya semakin mempercepat laju mobilnya. Tetapi sebelum ia menginjak pedal gas mobilnya, David telah duluan menghadangnya di depan. "Aarrhhh.. Sial sial sial" Teriaknya dengan luka di kepalanya ketika ia menabrak mobil David.
"Kamu keluar" Ucap David melap wajahnya yang sedikit terluka.
"Hhhmmmsss" Ia pun langsung keluar dengan pisau ditangan kirinya. "Hhhiiiaarrkkhh".
BBBUUNNGGHHH..
Dengan sekali tendangan saja ia tercampak di samping mobilnya. Kemudian David tersenyum mengeluarkan pistolnya. "Sepertinya kamu sudah bosan hidup, kamu mau aku melubangi anggota tubuh mu dimana? sudah hampir 2 bulan aku tidak pernah membunuh orang lagi. Ayo cepat katakan, dimana aku harus menaruh peluru ku?".
Ia tertawa mengejek David, "Sudah berapa banyak nyawa kamu bunuh? tidakkah kamu takut kepada langit? dan sekarang kamu ingin membunuh ku? hahahahha.. Silahkan bunuh, aku sama sekali tidak takut dan aku sangat penasaran kalau saja istri dari seorang mafia mengetahui pekerjaan suaminya yang sebenarnya".
"Hahahahaha" Tawa David tidak perduli dengan apa yang baru saja ia ucapkan. "Kamu penasaran? kamu mau tau ekspresi wajahnya seperti apa saat ia tau kalau aku seorang mafia? hahahhaha.. Tapi sayang sekali, sekarang kamu akan tinggal hanya nama saja. Atau kamu mau berdoa dulu?".
"Cuuuiiihhhh" Tampa rasa takut ia meludahi wajah David.
"Tidak apa-apa, Selamat tinggal" David melangkah mundur dengan pistol yang ia todong kepada si pria tersebut.
Doorrr.. Doorrr.. Doorrrr...
"Hahahhaha" Dengan tawa memuaskan David melihat darah bercucuran dari dalam tubuh si pria paruh baya itu, lalu ia mendekatinya. "Apa rasanya sakit? atau rasanya sangat sakit sekali?".
"David. Li-lihat saja nanti, kamu juga akan mati seperti ku. Seseorang akan datang membunuh mu dan juga orang yang kamu cintai karna kamu tidak pantas bahagia. Lihat saja nanti, cepat atau lambat kamu akan menyusul ku" Tawanya menghembuskan nafas terakhirnya.
"Ck, aku tau. Aku tau aku tidak pantas hidup bahagia dengan orang yang aku cintai. Dan karna itu juga aku berusaha tidak mencintai dia, kamu mau tau? karna dia terlalu baik untuk pria brengsek seperti aku".
__ADS_1