
Begitu Nadia dan Salsa keluar dari dalam sana, mereka berdua langsung melihat Zico sedang menunggu dengan tatapan tajam. "Risa, sepertinya Zico ingin memakan kita" Senyum Nadia memanggil Zico. Kemudian Zico menghela nafas, ia tidak tau mau mengatakan apa untuk membuat kedua wanita itu mengerti. "Yah, maaf. Semua ini kita lakuka..
"Sudah, aku sangat lelah" Potong Zico memasuki mobilnya. Setelah itu mereka segera meninggalkan tempat tersebut, lalu Nadia melirik jam ponselnya, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
"Hhmmsss, apa dia tidak mengkhawatirkan ku?bahkan mengirim pesan saja dia enggan bertanya kepada kenapa aku tidak pulang sampai jam segini. Dasar laki-laki egois".
"Kenapa?" Tanya Zico.
"Tidak" Gelengnya.
.
Sesampainya mereka di depan rumah Larisa, Larisa segera turun dari dalam mobil Zico. "Kamu sudah bekerja keras hari ini Risa. Terima kasih" Senyum Nadia.
"Iya kak" Balas Larisa. Setelah itu Zico menjalankan mobilnya menuju kediaman keluarganya berada di jalan xx. Namun Zico merasa aneh, ia sedari tadi melihat Nadia terus-menerus melirik ponselnya.
"Ada apa Nadia? sedari tadi aku melihat mu terus menerus melirik ponsel mu. Apa sesuatu terjadi?".
"Tidak, aku hanya lelah saja hari ini hhooaamm".
"Kamu mengantuk?".
"Mmmmm, sangat" Zico pun segera menancap pedal gas mobilnya, ia juga merasa sudah mengantuk. Tidak lama kemudian, begitu mereka tiba di depan rumahnya, Nadia tidak lupa berterima kasih sudah mengantarnya sampai rumah.
"Kalau gitu aku balik ya Nad".
"Iya Co, hati-hati dijalan".
"Mmmmm" Seperginya Zico, Nadia melihat rumahnya itu, setelah itu ia pergi mencari taksi yang masih beroperasi. Begitu Nadia menemukan, ia langsung masuk kedalam. "Pak, hotel xx ya".
"Iya nona" Angguknya membawa Nadia.
Di dalam mobil Nadia menghela nafas berat, ia merasa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan setelah apa yang ia lakukan dengan Larisa. "Iiisss, mengingatnya membuat ku ingin membunuhnya" Gumam Nadia.
Setelah Nadia tiba di hotel, ia segera memasuki apartemennya, ia melihat seisi rumahnya terasa sangat hening dan juga gelap melihat lampu yang sudah padam. "Sepertinya dia sudah tidur, inikan sudah pukul 4 pagi" Namun Nadia yang penasaran, ia berjalan kearah pintu David untuk memastikan kalau David benar-benar sudah tidur apa belum.
__ADS_1
Ceklek!
"Dia sudah tidur" Gumam Nadia melihat wajah David sudah tidur. Kemudian ia berjalan mendekati David, dengan senyum tipis Nadia mencoba menyentuh wajah tampan David, tetapi kedua mata itu langsung terbuka membuat Nadia terkejut. "Astaga".
David mengangkat tubuhnya, ia melihat Nadia masih menyentuh dadanya. "Kamu dari mana saja baru pulang?".
Tersenyum, "Tentu saja kerja. Kamu ada-ada saja, kalau gitu aku keluar dulu".
"Tunggu" Tahan David menarik tangannya. Lalu menarik tubuh Nadia kedalam dekapannya, "Aku tidak bisa tidur, malam ini tidurlah disini".
Mendengar itu, kedua mata Nadia langsung berbinar-binar sambil mengulum senyuman dengan jantung yang berdegup kencang sampai membuat David ikut merasakan setiap detak jantungnya. "Nadia" Panggilnya.
"Iya" David menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, ia menatap kedua manik mata Nadia sangat indah. "Ke-kenapa?" Tanya Nadia dengan pipi merona.
David tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum? apa ada sesuatu yang aneh?".
"Iya, otak mu sedikit aneh".
"Apa?".
"Yah..!!" Bentak Nadia.
"Maafkan aku" Tarik David kembali. Namun Nadia tetap mendorong tubuhnya menjauh darinya. "Kenapa? kamu tidak ingin memeluk ku?".
"Tidak mau, lebih baik aku tidur di kamar ku dari pada harus tidur bersam..
Cup.
"Kamu terlalu berisik" Tidak perduli Nadia akan mendorongnya lagi, ia membawa Nadia ke dalam pelukannya. "Tidurlah, aku tau kamu sangat lelah".
"Bajingan" Umpat Nadia.
"Aku tau itu" Jawab David menyentuh wajah mulus Nadia dengan sayang. "Karna aku bajingan aku tidak layak menjadi suami mu dan melakukan tugas ku sebagai suami mu Nadia" Sambung David dalam hati.
__ADS_1
Sedangkan Nadia yang merasa tiba-tiba melihat perubahan di wajah David membuat ia merasa bersalah. "Kamu baik-baik saja? maaf kalau kata-kata ku tadi membuat mu marah".
"Tidak" Jawab David tersenyum tipis. Lalu ia menuruni tempat tidur keluar dari dalam kamar membuat Nadia semakin merasa bersalah serta merasa bingung dengan perubahan David yang secara tiba-tiba.
"Yah, kamu mau kemana?" Tanya Nadia mengikutinya dari belakang. Ia melihat David berjalan kearah dapur, "Dia mau ngapain?" Dengar rasa penasaran ia melangkah kembali, disana ia melihat David membuka sebotol anggur diatas meja. "David!".
"Kenapa kamu kemari?".
"Bagaimana dengan mu? kenapa kamu tiba-tiba ingin meminum anggur?".
David meneguk anggur tersebut dengan sekali tegukan saja, kemudian melihat Nadia yang berada di hadapannya. "Aku tidak bisa tidur, pergilah. Aku ingin sendiri".
"Tidak mau, kalau kamu tidak bisa tidur aku akan menemani mu menghabiskan anggur ini" Nadia menyambar gelasnya, lalu menuang anggur tersebut kedalam gelas sampai gelasnya benar-benar penuh. Lalu meminumnya, namun tangan David telah duluan menahan tangannya.
"Hentikan" Ucapnya dengan suara berat.
"Lepaskan, aku juga tidak bisa tidur".
"Hentikan" Ucap David mengulanginya lagi.
"Tidak mau".
"Aku bilang hentikan Nadia" Bentak David mulai merasa pusing, kemudian menarik gelas Nadia dari tangannya. "Jangan membuat ku marah, hari ini aku sangat leleh. Masuklah kedalam kamar mu".
"Kenapa kamu memaksa ku? terserah aku mau disini apa tidak" Cuek Nadia mendudukan diri diatas kursi, lalu menyambar gelas itu lagi. "Sayang minuman semahal ini di buang".
"Nadia" Panggilnya.
"Kenapa? kamu masih ingin melarang ku? aku tidak mau pergi dari sini, hari ini aku juga sangat lelah, sangking lelahnya aku ingin menghilang dari dunia ini" Gumam Nadia sedih. Kemudian melihat David hendak pergi meninggalkannya, "Kamu mau kemana lagi? tidak bisakah kamu duduk saja dan mendengar kan cerita ku?" Ucapnya dengan lembut.
David menghentikan langkahnya, ia melihat wajah memelas Nadia yang sedang memohon seperti anak kecil. "Jangan pergi, kumohon".
"Sebaiknya kamu istirahat" Ujar David.
"Tadinya aku ingin istirahat saat berada di dalam pelukan mu, tapi sekarang tidak lagi saat kamu pergi begitu saja tampa alasan, dan sekarang kamu malah pergi lagi meninggalkan aku di saat aku nyaman duduk disini. Sebenarnya mau kamu apa? mmmm?".
__ADS_1
"Maaf, aku hanya tidak bisa berpikir jernih".
"Kalau gitu duduklah, kamu harus melupakan segala yang membuat pikiran seperti ini. Dan aku juga akan melupakan segala apa yang terjadi hari ini" Senyumnya. "Ayo duduk, kita harus melupakan semuanya tampa ada yang tertinggal, supaya kita bisa melanjutkan hidup yang pahit ini".