
3 hari kemudian Nadia telah di perbolehkan kembali pulang kerumah dengan syarat ia tidak boleh melupakan meminum obatnya. "Terima kasih banyak yah dok" Senyum Nadia.
"Sama-sama. Permisi" Sang dokter itu keluar. Begitu juga dengan David dan Nadia langsung meninggalkan rumah sakit tersebut hingga kini mereka telah tiba di apartemen.
Nadia melihat seisi apertemen tersebut tampak semuanya baru, ia melirik David yang berada di sampingnya. Seperti tau ekspresi dari wajahnya Nadia ia langsung memberitahu kalau ia telah menganti semua perabotan dirumahnya dan juga semua pakaian Nadia.
"Wah, berapa banyak uang yang kamu keluar untuk ini semua?" Nadia tersenyum senang melihat rumah itu lebih berwarna lagi dari yang sebelumnya. "Tapi terima kasih banyak sudah membuat ku nyaman. Aku sangat menyukainya, ini lebih bagus dari sebelumnya".
"Bagus kalau kamu menyukainya".
"Mmmmm".
David mendudukan diri diatas sofa, ia membuka ponselnya. Sedangkan Nadia berjalan kearah dapur, ia juga melihat dapur tersebut berubah tidak seperti sebelumnya. "Wah, aku sangat menyukai dapur ini juga" Senang Nadia membuka kulkas, disana juga ia melihat semua bahan-bahan untuk masak tersusun sangat rapi.
"David" Panggilnya.
"Ada apa?".
"Kamu mau makan sesuatu? aku akan memasaknya. Atau kamu mau minum sesuatu yang segar gitu?".
"Tidak usah, aku tidak haus dan lapar".
"Benarkah kamu tidak mau?".
"Mmmmm".
"Ya sudah kalau kamu tidak mu" Nadia tiba-tiba ingin makan nasi goreng. Ia mengeluarkan bahan-bahan yang di perlukan dari dalam kulkas. Setelah itu Nadia memasak nasi, sambil menunggu matang, Nadia menghaluskan cabai, bawang merah dan bawang putih sampai benar-benar halus.
"Selesai, sekarang tinggal menunggu nasi matang" Nadia melihat kearah David kembali, ia masih melihat David sibuk dengan ponselnya. Kemudian ia menghampiri David sambil bertanya dimana David menaruh ponselnya.
"Ada disana, kamu buka laci itu" Jawab David menunjuk kearah laci bawah televisi. "Kamu menemukannya?".
"Iya, aku pikir kamu juga membuangnya".
__ADS_1
"Tidak mungkin aku membuangnya, kamu tidak tau berapa banyak uang ku habis cuman membeli ponsel itu saja".
"Hey, siapa suruh juga kamu membeli ponsel semahal ini. Ada-ada saja" David melihatnya. "Hahahah, aku tidak bilang apa-apa. Ooo, sepertinya nasi ku sudah matang" Nadia kembali berlari ke dapurnya, ia melihat nasi tersebut sudah matang. "Sekarang mari kita masak nasi goreng dengan bantuan resep buatan nenek, semoga rasanya sama persis" Gumam Nadia.
Begitu ia selesai membuatnya, ia melihat Nasi goreng tersebut telah berada di atas meja dengan hiasan cukup menarik. "David, kamu benar-benar tidak mau? aku sudah membuatnya untuk mu juga. Kemarilah rasanya tidak jauh lebih enak dari hotel bintang lima. Ayo kemari".
"Aku tidak lapar Nadia, makanlah kalau kamu lapar" Jawab David tetap sibuk dengan ponsel dan laptop yang baru saja ia ambil dari dalam kamar. "Kalau aku lapar, nanti aku akan menyuruh mu membuatnya lagi".
"Enak saja" Gumam Nadia kesal. Lalu ia membawa nasi goreng tersebut diatas meja sofa. Kemudian Nadia menaruhnya disana, tidak perduli dengan David yang akan merasa terganggu, dengan sangat lahap ia menikmati nasi gorengnya. "Mmmm, rasanya benar-benar sangat enak. Pantas saja Zico menyukai setiap kali aku membuat nasi gore..." Gantung Nadia melihat David menatapnya dengan tajam.
Nadia tertawa, "Kenapa? aku mengatakan yang sebenarnya. Kalau kamu tidak percaya kamu boleh mencobanya. Rasanya benar-benar sangat enak, tidak beda jauh kalau nenek ku yang memasaknya".
David mendengus kesal melihat nasi goreng tersebut berada di samping laptopnya. "Aku tidak suka..
"Tidak suka apa?" Penasaran Nadia.
"Tidak" David langsung menyambar piring nasi gorengnya, kemudian ia menyendok kedalam mulut sambil mengunyah. Dan benar saja apa yang tadi Nadia katakan, kalau nasi goreng tersebut sangat enak dan gurih.
Nadia tersenyum senang, "Omo, sepertinya kamu menyukai nasi goreng itu. Bagaimana rasanya? apa rasanya pas?".
"Kamu berbohong, bilang saja enak. Itu saja kamu sangat gengsi mengakuinya. Ayo dihabiskan, sayang makanan kalau di buang".
.
Selesai Nadia dan David menikmati nasi goreng mereka masing-masing, Nadia membawanya juga minuman segar. "Kalau gitu aku masuk ke kamar dulu, tubuh ku terasa bau dan lengket".
"Mmmmm" Gumam David melanjutkan pekerjaannya.
Nadia berjalan ke pintu kamarnya, lalu membuka. Dan sesuatu yang membuat kedua mata Nadia langsung berbinar yaitu melihat kamarnya yang sangat cantik dan indah membuat ia tertawa senang.
"Tuhan, bisakah aku memujinya untuk kali ini saja dengan mengatakan kalau dia itu adalah suami idaman yang sangat mengagumkan?" Senang Nadia menunjukkan gigi rata. Kemudian Nadia berjalan kearah jendela kaca, ia melihat pemandangan kota disana sangat indah dan sejuk melihat matahari sebentar lagi akan terbenam. Setelah itu Nadia memasuki kamar mandi.
__ADS_1
Sedangkan David yang masih berada diruangan tengah, ia mendengar suara ketukan pintu. Untuk pertama dan kedua kali ia mengabaikan ketukan tersebut, namun untuk ketiga kalian David segera membukanya.
Ceklek!
David mengernyitkan dahi melihat pria yang berada dihadapannya itu. "Anda siapa?".
"Maaf tuan, apa benar ini alamat rumahnya Nadia Zaliva? saya kemari mengantar paket".
"Paket apa?".
"Saya kurang tau tuan, saya hanya mengantarnya saja".
David menerima paket tersebut, "Apa sudah dibayar?".
"Belum tuan, harganya tertera disitu" Jawabnya menunjuk kertas putih yang menempel di kotak tersebut. "Total semua 250 ribu".
David mengeluarkan dompetnya, lalu membayarnya dengan 3 lembar uang merah. "Sisanya ambil saja".
"Terima kasih tuan" Senangnya membawa uang David pergi.
David menaruh diatas meja, ia melihat kotak tersebut dengan rasa penasaran. Lalu melirik pintu kamar Nadia yang masih tertutup rapat, namun untuk memastikan kotak itu aman, David langsung membukanya dengan pelan-pelan. Begitu terbuka, David melihat isi di dalamnya adalah alat-alat kosmetik seperti, lipstik, maskara, skincare dan yang lainnya.
Melihat itu David tersenyum geleng kepala, tidak lama kemudian Nadia keluar dari dalam kamar. Dengan wajah keheranan ia melihat David sedang melihatnya dengan tatapan tidak bisa ia artikan, "Ada apa kamu melihat ku seperti itu?".
"Kemarilah. Apa ini milik mu?".
"OMG" Dengan rasa malu Nadia menutupi wajahnya dengan rambut. Ia benar-benar tidak tau kalau paket tersebut akan tiba hanya dengan beberapa jam saja. "Yah, kenapa kamu harus membukanya? kamu membuatku sangat malu".
David tersenyum, "Aku membukanya untuk memastikan kotak ini aman atau tidak. Lagian kenapa kamu harus malu? aku tidak bilang apa-apa".
"Iya, tapi dalam hati mu sekarang ini aku yakin kamu pasti sedang mengejek ku".
"Sok tau kamu. Tadi aku sudah membayarnya".
__ADS_1
"Mmmmm, terima kasih banyak. Nanti aku akan menggantinya" Nadia segera membawa barangnya itu kedalam kamar.