Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 32


__ADS_3

Melihat Nadia sangat menikmati eskrimnya membuat Zico tak berhenti menunjukkan senyuman manisnya kepada Nadia. Sedangkan Refano yang sedari tadi melihat Zico memandangi Nadia, ia tau kalau Nadia merasa sedikit risih, "Yah.. Berhenti memandangi dia seperti itu" Bisik Refano.


Zico langsung melihat Refano mengernyitkan dahi, "Kenapa?".


"Nadia enggak nyaman".


"Enggak nyaman?" Ia melihat Nadia lalu memanggilnya.


"Mmmmm?".


"Kamu tidak bertanya aku baik-baik saja atau tidak?".


"Tidak".


"Kenapa? aku terluka Nadia".


"Bodo amat, aku sudah selesai. Terima kasih untuk hari ini, sampai jumpa besok".


"Nad.. Nad.. Tunggu Nad.. Aahhhh".


"Zico" Teriak Refano mengejar Zico yang kesakitan. "Kamu tidak apa-apa?".


Nadia menghentikan langkahnya, dengan kesal ia membalikkan tubuhnya sambil berjalan kearah mereka berdua.


PPPLLLAAKKK...


"Aahhh.. Aahhhh.. Aahhh... Sakit Nad" Rengek Zico dipukuli oleh Nadia menggunakan tas.


"Sakit?".


"Yaa.. Ada apa dengan mu? kamu tidak kasihan melihat ku seperti ini? lihatlah, kaki ku masih sangat sakit".


Nadia tersenyum sinis.


"Wah.. Kamu benar-benar tidak perduli yah?".


"Aku pulang, tolong kamu antar dia pulang ok" Senyum Nadia pergi meninggalkan mereka berdua.


Zico pun langsung tersenyum, "Gadis nakal itu".


"Kamu tersenyum?".


"Hhhhmmm?" Refano terlihat kesal, ia pun melepaskan tangan Zico, "Hey.. Ada apa dengan mu?".


"Aku pikir kamu benar-benar kesakitan, ternyata hanya akting di depan dia saja".


"Hey bro, yang benar saja aku mesti harus akting di depan dia. Aku hanya senang saja melihat dia yang galak seperti itu, aku jadi ingat waktu kami pendidikan. Kamu mau tau? sebenarnya dia itu wanita galak, cuman dia selalu berusaha untuk terlihat seperti wanita lembut".


"Kamu menyukainya?".


"Mmmmmm.. Sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Lagian kamu sudah tau kalau aku sangat menyukai Nadia, dan gara-gara kamu juga aku ditolak".


"Kamu masih ingin mengejar cintanya?".


Zico tersenyum, "Sampai kapan pun aku akan tetap mengejar cintanya".


Flasback.


Malam kemarin saat ia kembali kerumah sakit tempat ibunya di rawat, Refano melihat Nadia keluar dari dalam kamarnya. "Nadia? dia mau kemana seperti menyelinap gitu?" Gumam Refano mengikuti Nadia menuju lantai ruangan Vip.


Dari kejauhan ia melihat Nadia sedang berbicara dengan beberapa pria berjas hitam, "Sedang apa dia disan.." Gantung Refano melihat Nadia yang baru saja di dorong salah satu di antara pria itu. "Kurang ajar, berani-beraninya mereka menyakiti.." Gantungnya lagi melihat Nadia mengeluarkan sebuah kartu dari dalam saku. Hingga pada akhirnya, Nadia di perbolehkan masuk kedalam.


"Kamar itu bukanlah kamar sembarangan yang bisa ia masuki dengan semudah itu, lalu siapa yang sedang ia temui?".


Pagi hari saat Refano menyuapi ibunya, ia melihat seorang pria tampan berpakaian rapi memasuki ruangan itu, "Maaf, anda mencari siapa?" Tanya salah satu perawat kepadanya.


"Pasien yang bernama Nadia. Dimana dia?".

__ADS_1


"Kami juga kurang tau, dari semalam dia tidak berada disini tuan".


"Tempat tidurnya dimana?".


"Disana tuan".


"Mmmmm" Bagas berjalan kearah tempat tidur Nadia, ia melibat Refano sedang menyuapi ibunya.


"Siapa dia? kenapa dia mencari Nadia?" Batin Refano.


Tidak lama kemudian, ia melihat Nadia memasuki ruangan mereka. Setelah itu, Bagas membawanya pergi dari sana.


**************************


"Fano.. Fano... Yah Fano".


"Hahhh?".


"Ada apa?".


"Kenapa?".


"Ck, balik nanya lagi" Kesal Zico melihat sahabatnya itu. "Kamu lagi mikirin apa? dari tadi kamu bengong terus".


"Aahhh.. Maaf" Senyum Refano.


"Kamu lagi mikirin apa?".


"Tidak, aku tidak lagi mikirin apa-apa. Ayo, aku akan mengantar mu pulang".


"Mmmmmmm".


.


Sesampainya Nadia di apertemen, ia mendudukan diri diatas sofa yang berada di ruang tengah, kemudian ia mengalihkan padangan matanya kearah pintu kamar David sambil menghela nafas, "Apa mereka sudah tiba?".


Tok.. Tok.. Tok..


"Hhhmmm? siapa?" Nadia menghentikan langkahnya. Ia berjalan kearah pintu, tetapi sebelum ia membuka pintu, Nadia terlebih dahulu memastikan siapa yang telah mengetuk pintunya. "Kenapa tidak ada orang? jelas-jelas aku mendengar seseorang sedang mengetuk pintu ini" Gumam Nadia menggeleng.


Tok.. Tok.. Tok..


"Astaga" Kesal Nadia berhenti. Ia pun dengan cepat membuka pintu, "Yah..." Bentaknya sangat marah.


"Nadia ini aku".


"Yanto?".


"Mmmmmm".


"Aahhh.. Maafkan aku, aku pikir tadi entah siapa?".


Yanto tersenyum, "Ini. Aku membawanya untuk kamu".


"Ini apa Yanto?" Tanya Nadia menerima kantong kresek itu.


"Pasti kamu sudah lupa, itu jajanan yang kemarin aku janjikan untuk mu".


"Jajanan?".


"Mmmmm.. Bukalah".


Begitu Nadia membukanya, ia pun langsung mengingat saat mereka berada di atas gedung, "Astaga Yanto aku melupakannya, heheheh.. Terima kasih banyak yah. Kamu baik benget sih".


"Iya, sama-sama Nad, kalau kamu masih mau kamu bisa memintanya lagi. Di rumah ku sangat banyak, aku sengaja membelinya karna aku juga sangat menyukai jajanan ini".


"Wah.. Iya, lain kali aku akan memintanya lebih banyak lagi. Terima kasih banyak ya Yanto, aku masuk dulu..

__ADS_1


"Nadia tunggu" Tahan Yanto.


"Iya?".


"Itu..


"Itu apa Yanto?".


Dengan senyum kaku Yanto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Itu, bolehkah kamu menawarkan aku segelas kopi?".


Nadia tersenyum begitu juga dengan Yanto yang masih ikut tersenyum sangat malu, "Baiklah. Ayo masuk, aku akan membuatkan mu segelas kopi hangat".


"Benarkah?".


"Mmmm.. Sebagai ucapan terima kasih karna kamu sudah memberikan ini. Ayo".


"Iya".


Di dalam apertemen, Nadia menyuruhnya duduk diatas sofa dengan tv menyala. Sambil membuat kopi untuknya, Yanto tak berhenti mengalihkan pandangan matanya di seisi dalam ruangan tersebut. "Yanto, kamu mau cemilan apa? disini ada biskuit sama..


"Terserah saja Nad".


"Aku buatin biskuit aja yah".


"Mmmmmmm".


Nadia pun membawakan 1 gelas kopi dan biskuit kesukaannya. "Kopinya sangat panas, minumnya hati-hati Yanto".


"Iya, terima kasih Nad" Dengan pelan-pelan Yanto menyeruput kopi panasnya. Lalu ia melihat Nadia, "Suami kamu dimana Nad? kok aku tidak melihatnya?".


"Ohh.. Suami aku lagi di luar negeri Yanto".


"Luar negeri?".


"Iya, baru tadi dia berangkat kesana".


"Mmmmm.. Dirumah sebesar ini kamu tidak takut tinggal sendiri Nad?".


Nadia tersenyum sambil menggeleng.


Tidak lama kemudian Yanto telah habis menyeruput kopi panasnya, setelah itu ia melihat Nadia. "Terima kasih banyak yah Nad, kopi buatan kamu sangat nikmat".


"Iya".


"Kalau gitu aku balik dulu".


"Iya".


Seperginya Yanto dari rumahnya, ia segera membersihkan gelas kotor Yanto. Setelah itu, baru Nadia memasuki kamarnya dengan tubuh lelah, "Tidak terasa waktu sangat cepat berjalan" Gumam Nadia melihat jam menunjukkan pukul 6 sore. Lalu memasuki kamar mandi.


Tidak ingin berlama-lama disana, Nadia melihat wajahnya di depan cermin. "Tadi Zico menyadarinya enggak yah? mata ku bengkak sekali".


DDDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT...


"Kamu sudah sampai rumah Nad?" Tanya Zico langsung begitu Nadia mengeser tombol hijau.


"Iya, kamu?".


"Iya".


"Mmmmm".


"Oohh iya Nad..


Tut.. Tuk..Tuk..


"Aahhh" Tawa Zico begitu Nadia mematikan ponselnya secara sepihak. "Kamu ya Nad, benar-benar deh" Geleng Zico meletakkan ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2