Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 41


__ADS_3

Si sekretaris tersebut memberitahu Riwan kalau David tidak ingin diganggu hari ini, dan juga ia mengingatkan kepada Riwan kalau ia ingin menemui David silahkan buat perjanjian terlebih dahulu agar perjalannya datang kemari tidak sia-sia.


Riwan menghela nafas, namun mengingat perjalannya yang sudah datang jauh-jauh membuat Riwan menerobos masuk kedalam ruangan David meskipun sekretaris David sudah melarangnya yang akan mengakibatkan sang bos murka.


BBRRAAKK...


"Aahh.. Maafkan saya tuan, saya sudah melarangnya masuk, tapi dia malah menerobos masuk" Tunduknya begitu Riwan berhasil masuk kedalam.


David menatap pria yang kini berada di hadapannya itu, setelah itu David menyeringai. "Kamu bisa keluar".


"Baik tuan" Jawabnya keluar.


Kemudian David menatap Riwan kembali yang masih berdiri di hadapannya, "Sedang apa kamu disini?".


"Bisa aku duduk kak?".


David kembali menyeringai melihat Riwan, "Kenapa harus duduk kalau kedua kaki mu masih bisa berdiri. Sekarang katakan tujuan mu datang kemari. Aku tidak ingin melihat mu lama-lama disini".


"Baiklah kalau kak David tidak mengizinkan aku duduk, aku hanya ingin memberikan ini kepada mu. Aku mohon, datanglah ke pesta pernikahan ku" Ucap Riwan meletakkan undangannya di atas meja.


"Aku tidak akan datang" Lihatnya di wajah Riwan.


"Aku tau, tapi aku masih punya sedikit harapan kalau kak David akan datang memberiku ucapan selamat atas pernikahan ku".


David tersenyum sinis, ia melihat amplop undangan Riwan terlihat sangat elegan. Lalu David menyambarnya, "Kamu tau, aku tidak pernah menganggap kalian ada apalagi menganggap kalian keluarga. Jadi silahkan bawa ini kembali dan jangan pernah datang ketempat ini lagi, aku tidak ingin melihat mu" Kata David memberikan undangan Riwan.


"Tidak kak, sampai kapan pun kakak tetap keluarga ku meskipun papa dan mama selama ini sudah menelantarkan kakak. Dan maafkan aku kak, karna tidak bisa melindungi kakak selama ini, padahal sebelum bibi menghembuskan nafas terakhirnya. Bibi sempat berpesan kepada ku kalau aku harus melindungi kakak dari orang yang menyakiti kakak. Aku mohon kak, tolong maafkan aku, atau setidaknya aku melihat kakak berada disana".


"Cukup, sekarang kamu keluar. Aku tidak ingin melihat mu disini".


"Tapi kak".


"Keluar...!!" Bentak David sangat marah.


Ceklek!


"Vincen, bawa dia keluar dari sini. Jangan sampai aku melihatnya lagi".


"Baik tuan" Vincen pun langsung membawa Riwan pergi dari sana dengan setetes air mata yang sangat ia sesali sepanjang hidupnya.


Flashback.


Saat sedang berada di dalam kamar, Riwan melihat bibinya itu sedang sekarat di atas tempat tidur. Sedangkan kedua orang tuanya sedang tidak berada di rumah begitu juga dengan David yang masih berada di sekolah.


"Ri-riwan" Panggilnya.

__ADS_1


"I-iya bibi" Jawab Riwan ketakutan melihat bibinya itu.


"Kemarilah, cepat. Bibi ingin memberitahu mu sesuatu".


Riwan melihat samping kiri kanan dan juga depan belakangnya. Lalu ia masuk kedalam kamar tersebut, "Iya bibi, ada apa?" Jawab Riwan semakin ketakutan.


"Mendekatlah" Riwan semakin mendekatinya, kemudian ia menggenggam tangan hangat Riwan. "Jangan takut, ibu dan ayah mu tidak akan tau kalau kamu masuk kedalam kamar bibi".


"Riwan tidak takut bi, tapi tangan bibi sangat dingin sekali. Bibi baik-baik saja? atau Riwan perlu panggil dokter bi?".


"Tidak usah, bibi baik-baik saja sayang. David sebentar lagi akan kembali dari sekolah".


"Mmmmm.. Sebentar lagi kak David akan kembali bibi".


"Iya" Senyumnya. "Riwan, mau kah kamu berjanji kepada bibi? bibi tau kalau kamu itu anak baik, kamu berbeda dengan adik bibi".


"Apa itu bibi?".


"Tolong jangan putra bibi, tolong lindungi dia dari orang yang ingin menyakiti dia".


"Tapi bibi, bagaimana bisa aku melindungi kak David? sedangkan aku masih kecil".


"Tidak, bibi yakin kamu pasti bisa melindungi kakak kamu David" Jawabnya memberi sesuatu ditangan Riwan. "Berjanjilah kalau kamu akan melindungi David untuk bibi yang terakhir kalinya mmmmm?".


"Kalau David sudah tumbuh dewasa, tolong berikan ini kepadanya. Jangan sampai ayah dan ibu mu tau kalau kamu menyimpan benda ini, ini adalah peninggalan bibi dan paman mu satu-satunya yang kami titipkan untuk David".


"I-ini apa bibi? kenapa bentuknya seperti kunci?".


"Nanti kamu akan tau dari kakak mu David".


"Baiklah bibi, aku akan menyimpannya".


"Terima kasih. Kini saatnya bibi pergi dengan tenang".


"Bi-bibi" Teriak Riwan melihat ibu David bernafas satu-satu.


**************


Mengingat itu, Riwan langsung melepaskan tangan Vincen. "Tunggu, aku harus memberikan benda ini kepadanya. Kalau tidak, aku akan melupakannya lagi" Kata Riwan kepada Vincen.


"Kamu mau kemana?" Bentak Vincen.


"Aku harus memberikan ini kepada kak David" Jawab Riwan berlari memasuki ruangan David kembali.


BBRRAAKK..

__ADS_1


"Kak" Lihatnya diwajah David yang semakin terlihat kesal. "Maafkan aku kak, aku tau kak David tidak ingin melihat ku..


BBBUUNNGGHHH...


Satu pukulan kuat mendarat diwajah Riwan, "Aahhh...!!" Ringis Riwan menyentuh sudut bibirnya, kemudian David menarik kerah bajunya.


"Ini yang kamu mau dari ku, aku sudah memperingatkan kamu untuk tidak muncul lagi di hadapan ku, tapi kamu malah tidak mendengarkan ku. Apa kamu masih menganggap ku orang yang sama seperti yang kamu kenal selama ini hhhmmm?".


"Maafkan aku kak, sampai kapan pun kamu tetap kakak ku yang selama ini aku kenal. Meskipun kakak sangat membenci ku karna papa dan mama".


"Hahahahha.. Yah, kamu tidak beda jauh ularnya dari kedua orang tua mu, dan sekarang kamu mencoba menipu ku? hahahha.. Kamu pikir aku bodoh yang bisa kamu bodohi?".


"Tidak kak, tidak" Kesal Riwan meninggikan suaranya di hadapan David.


"Yah.. Berani sekali kamu meninggikan suara mu disini".


BBBUUNNGGHHH...


"Aahhh...!!".


"Dengar, aku peringatkan kamu sekali lagi kalau kamu masih ingin hidup. Jangan pernah menunjukkan wajah ini lagi di hadapan ku, kalau tidak, dengan tangan ku sendiri aku akan membunuh mu. Camkan itu".


"Kalau gitu, kenapa tidak sekarang saja kakak membunuh ku. Aku siap mati ditangan kakak" Ucapnya bangkit berdiri.


"Apa?".


"Ayo bunuh aku kak, kalau kakak benar-benar ingin membunuh ku".


David meremas tangannya, ia benar-benar sangat marah kepada pria yang berada di hadapannya itu. "Yah" Lihatnya kearah Vincen yang berada di ambang pintu.


"Siap tuan".


"Berikan pistol mu kepada ku".


Vincen membulatkan kedua matanya, "Tapi tuan".


"Berikan, aku ingin menghilangkan manusia seperti dia dari muka bumi ini".


Vincen mendekati David, ia mencoba menenangkan tuannya itu dengan lembut, tetapi David yang sangat marah langsung mengambilnya dari dalam jas hitam Vincen. "Tuan!".


"Diam!" Dengan pistol yang kini berada di tangan David, ia menodong di kepala Riwan yang pasrah dengan apa yang akan David lakukan kepadanya. "Ini yang kamu mau, maka aku akan mengabulkannya".


"Aku tidak takut kak. Silahkan kalau kakak ingin membunuh ku, aku datang kembali hanya ingin memberikan ini kepada kak David" Riwan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi. "Terima kasih banyak sudah bertahan selama ini kak dan maaf karna aku tidak bisa menepati janji ku kepada bibi untuk melindungi kak David selama ini, dan sekarang. Benda ini sudah berada di tangan kakak".


David mengernyitkan dahi melihat kunci yang berada diatas tangannya itu, "Dari siapa kamu mendapatkannya?" Tanya David dengan mata merah.

__ADS_1


__ADS_2