Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 20


__ADS_3

Setelah kepergian Bagas dan Vincen, ia langsung memijit keningnya yang terasa pusing. Kemudian David menyambar ponselnya, ia mengingat rapat pemegang saham hotel A yang akan di laksanakan besok pagi jam 10.


Sore hari, Nadia tengah berada di depan halte bus. Ia merasakan hari ini adalah hari yang paling menyebalkan sepanjang hidupnya.


Flasback.


Sesampainya Nadia di kantor tepat pukul 9 lewat, ia melihat rekan kerjanya sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tampa sepengetahuan mereka, Nadia berjalan dengan pelan menuju meja kerjanya, namum Bayus yang mengetahui kedatangan Nadia langsung bertanya, "Ini sudah jam berapa Nadia?".


"Astaga" Kaget Nadia berdiri tegap. "Maafkan saya pak".


Bayus melihat jam tangannya, "Tidak apa-apa, saya hanya ingin memberitahu mu saja supaya kamu lain kali memberitahu saya atau ke rekan yang lain kalau kamu datang terlambat. Bisa dipahami?".


"Siap pak" Tunduk Nadia.


"Duduklah".


"Terima kasih".


Kemudian Zico tersenyum, lalu membisikkan sesuatu di telinga Nadia. "Aku sudah memberitahu pak Bayus kalau pagi ini kamu datang terlambat. Lain kali kamu jangan telat lagi".


"Terima kasih Co" Balas Nadia tersenyum.


"Mmmmmm.. Kamu sudah sarapan? tadi aku membelikan ini untuk mu karna aku yakin kamu pasti belum sarapan dari rumah. Makanlah".


Nadia menerimanya, "Kamu baik sekali Zico, hingga pada akhirnya aku tidak akan berhenti mengucapkan terima kasih kepada mu".


"Tidak apa-apa, ayo dimakan".


"Mmmmmm".


"Dan ini obat pengar, kamu pasti membutuhkannya".


******************************


Mengingat itu membuat Nadia tak henti-hentinya mengumpati dirinya sendiri, "Kalau saja dia tidak menahan ku, aku pasti tidak akan merasakan malu seperti ini di depan mereka semua. Aarrkkhhh" Geram Nadia meremas rambutnya.


DDDDRRRRTTTT... DDDRRRRTTTTT...


"Mmmmmm?".


"Kamu sedang dimana?".


"Kak Lisa? ada apa kak?".


"Aku sedang berada di tempat xx, aku membutuhkan mu datang kemari".


"Iya, aku akan kesana kak" Nadia segera menyusul Elisa yang berada di tempat karaokean. Namun saat Nadia sedang buru-buru, ia malah tidak bisa menemukan taksi. "Hey.. Ayolah, kenapa taksi tidak ada yang lewat?".


Tin.. Tin...

__ADS_1


"Kamu belum pulang Nad?" Tanya Zico menepikan mobilnya.


"Zico, sedang apa kamu disini? kenapa kamu belum pulang? bukankah tadi kamu sudah pulang?".


"Iya, tapi aku balik lagi saat pak Bayus meminta ku datang mengantarkan sesuatu".


"Oohhh".


"Lalu kenapa kamu belum pulang Nad? atau dari tadi kamu masih disini? ini sudah hampir jam 7 malam".


"Kalau gitu, tolong antarkan aku ke alamat ini Co. Aku butuh tumpangan mu".


"Ngapain kamu kesana? tempat itu..


"Makanya kamu tolong anterin aku".


"Ya sudah naiklah, aku akan mengantar mu".


"Mmmmmm" Angguk Nadia memasuki mobil Zico menuju tempat Elisa berada. "Kakak ku sedang berada disana Co, saat dia menelpon ku, aku mendengar suaranya setengah mabuk dan juga aku mendengar suara pria disana".


Zico pun semakin mempercepat laju mobilnya hingga kini mereka telah tiba di lokasi tujuan. "Ayo".


"Nad, tunggu" Tahan Zico.


"Kenapa?".


"Maksud kamu?".


"Iya, aku merasa ada sesuatu disana. Tempat ini sepertinya tempat perjudian para preman".


"Berarti kakak ku...


"Sshhuueettt.. Jangan sampai mereka mendengar suara mu. Sekarang kamu telpon kakak mu, dia benar-benar berada disana atau tidak".


Nadia mengangguk, ia segera menghubungi nomor Elisa. "Kamu sudah dimana Nadia? kenapa kamu lama sekali?" Bentak Elisa.


"Ini aku sudah berada di depan tempat kakak, tapi aku merasa ada sesu..


"Diamlah, sekarang kamu masuk" Kesal Elisa mematikan ponselnya.


"Ada apa Nad?" Tanya Zico.


"Kakak ku ada didalam Zico, sebaiknya kita masuk saja".


"Kalau gitu kamu dibelakang ku, biar aku yang duluan" Zico menaiki anak tangga menuju pintu masuk, disana ia melihat dua orang pria bertubuh kekar berjaga di depan pintu, "Permisi" Panggil Zico.


"Siapa?" Tanya mereka.


"Itu, kakak saya berada di dalam. Saya ingin menemuinya" Jawab Nadia.

__ADS_1


Si kedua pria itu saling tukar pandangan, lalu menyuruh Nadia masuk kedalam, "Kamu disini, kamu tidak di izinkan masuk".


"Kenapa saya tidak bisa masuk? Saya juga berhak menyakinkan keselamatan tunangan saya sendiri. Minggir".


"Kami tidak mengizinkan dua orang masuk, kalau kalian tidak mau silahkan pergi dari sini".


"Tidak apa-apa Zico, kalau terjadi sesuatu aku akan segera memberitahu mu".


"Ya sudah, cepat beritahu aku kalau sesuatu terjadi kepada mu. Aku akan menunggu mu disini".


"Mmmmmm" Angguk Nadia memasuki ruangan tersebut yang di penuhi oleh pria bertato dan juga wanita seksi. "Astaga, ini sebenarnya tempat apa?" Gumam Nadia mencari keberadaan Elisa.


"Mencari siapa?".


Nadia melihat pria yang baru saja menegurnya itu, lalu ia tersenyum. "Saya ingin menemui wanita ini, apa tuan mengenalnya?" Nadia menunjukkan foto Elisa.


"Kamu ikut saya" Ajaknya membawa Nadia ke suatu tempat yang tidak ia ketahui. Setibanya mereka di depan pintu ruangan, pria bertato itu menyuruh Nadia masuk kedalam.


"Maaf, apa benar kakak saya berada disana?".


"Sebaiknya kamu masuk saja".


"Baiklah" Nadia segera mendorong pintu tersebut, namun yang ia lihat hanyalah setitik terang cahaya tepat di samping sudut dinding. "Ada apa ini? kenapa tempat ini sangat gelap sekal..." Gantung Nadia begitu si pria bertato itu tiba-tiba menutup pintu ruangan. "Yah.. Yah.. Kenapa kamu mengunci ku disini?" Teriak Nadia ketakutan. "Yah.. Buka pintunya bangsat" Dengan kuat Nadia menendang pintu, hingga ia membangunkan pria yang berada disana.


"Diam..!!".


Nadia langsung membulatkan kedua matanya, dengan tangan bergetar ia menyambar ponselnya. Namun, tiba-tiba saja ponsel Nadia tidak bisa mendapatkan sinyal. "Sial, bagaimana bisa aku menghubungi Zico kalau sinyal saja tidak ada disini?" Gumam Nadia mengotak-atik ponselnya.


"Diamlah.. Jangan sampai kamu membuat ku marah".


"Suara itu" Kaget Nadia. "Kenapa suara itu familiar sekali?" Nadia memberanikan diri mendekati sumber suara, kemudian Nadia menyalakan senter ponselnya. Dengan langkah hati-hati Nadia melangkahkan kedua kakinya, namun kaki kanan Nadia tiba-tiba saja tersandung oleh sebuah kaki panjang tepat di samping tempat tidur "Aahhhh" Pekik Nadia terjatuh kesakitan begitu juga dengan pria yang baru saja ia timpah.


"Astaga" Nadia segera berdiri, lalu mencari keberadaan ponselnya yang tergeletak diatas lantai. "Aku yakin itu David, itu pasti David" Gumam Nadia. "Ini dia" Nadia menyenternya kearah pria itu kembali, tetapi saat itu juga baterai ponsel Nadia habis. "Aaa.. Menyebalkan sekali" Lalu Nadia mencari stok kontak disana, begitu ia menemukannya, ia langsung menyalakan lampu kamar tersebut.


"Aaaiiisss.. Kenapa kamu menyalakan lampu it.." Gantungnya melihat wanita yang sedang berdiri dihadapannya itu. "Kamu? apa yang sedang kamu lakukan disini?".


"Ba-bagaimana dengan mu? apa yang sedang kamu lakukan disini?" Bentak Nadia dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu menangis?"


"Iya, aku menangis. Kamu puas? dasar bajingan".


David mengerutkan keningnya, "Apa? kamu menyebut ku bajingan".


"Iya, aku menyebut mu bajingan. Kenapa? kamu marah? silahkan.. Aku tidak akan perduli".


"Hhhmmmsss" Dengus David. "Kamu kemari".


Nadia semakin menumpahkan air matanya, ia benar-benar sangat marah kepada pria yang berstatus suaminya itu. "Apa kamu tidak mendengar ku?".

__ADS_1


__ADS_2