
Sesampainya mereka di rumah, Mira langsung membawa Nadia masuk kedalam rumahnya, kemudian ia membuat segelas kopi hangat. Sambil menunggu Mira menyeduh kopi panasnya, Nadia melihat seisi rumah Mira yang terlihat cukup sederhana.
Lalu ia melihat Mira membawakan kopinya, dengan senyum mengembang diwajah Nadia ia mengucapkan terima kasih kepada Mira sudah membuatkan ia segelas kopi panas.
"Mira, kamu tinggal sendiri?".
"Tidak, aku tinggal bersama orang tua ku. Mungkin mereka saat ini berada di kebun juragan orang kaya di desa ini".
"Oohh.. Terus pekerjaan mu apa Mira?".
"Bekerja di kebun itu juga, dan soal kejadian tadi sebenarnya....
"Kenapa Mira? kalau hal sulit kamu tidak usah cerita kepada ku".
"Tidak, sebenarnya ibu dan ayah ku memiliki hutang kepada mereka. Mereka itu adalah anak buah juragan yang tadi aku beritahu, dia orang yang sangat kejam dan juga tidak berperasaan kepada kaum seperti kami ini".
"Kok bisa gitu yah? dia sudah menikah atau..
"Dia sudah menikah dan sekarang dia memiliki cukup banyak istri".
"Apa?" Kaget Nadia kesal.
"Mmmmm.. Dan aku juga..
"Kenapa dengan mu?".
"Untuk membayar hutang ibu dan ayah ku, aku harus menikah dengan ya. Kalau tidak, dia akan membawa kedua orang tua ku ke penjara" Jawab Mira dengan mata berkaca-kaca.
"Wah.. Itu orang benar-benar bajingan yah, dia pikir dunia ini hanya miliknya saja. Terus, apa kamu akan menikahinya?".
"Aku juga tidak tau, tapi kalau aku tidak menikah dengannya aku tidak akan bisa melihat ibu dan ayah ku berada di penjara dengan tubuh kedinginan".
"Ada berapa banyak hutang ayah dan ibu mu sampai kamu harus menikahinya?".
"200 juta".
"200 juta?".
"Mmmm.. Itu semua karna kakak laki-laki pertama kami, tampa ibu dan ayah tau dia meminjam uang kepadanya dan membawanya kabur seorang diri".
"Lalu dimana kakak laki-laki mu sekarang?".
"Tidak tau, kata orang dia kabur ke luar negeri dengan uang tersebut".
"Astaga, kamu yang kuat yah, semua pasti ada jalan keluarnya kalau kamu banyak-banyak berdoa".
Ia menatap Nadia dengan air mata menetes, "Terima kasih, kamu sangat beruntung hidup penuh dengan kebebasan".
Nadia tersenyum, "Siapa bilang? sebenarnya aku dan kamu tidak jauh beda. Aku juga di jodohkan dengan pria yang tidak aku kenal".
"Berarti kamu sudah menikah?".
"Iya, aku sudah menikah dengan pria pilihan kedua orang tua ku".
"Lalu bagaimana bisa kamu menikahi pria yang sama sekali tidak kamu kenal? apa dia memperlakukan kamu dengan baik? biasanya yang seperti itu, dia akan memperlakukan istrinya seperti budak dan orang asing. Lalu bagaimana dengan mu? apa dia memperlakukan mu dengan adil?".
"Mmmmm.. Dia selalu memperlakukan aku dengan baik, dan yang paling anehnya aku malah jatuh cinta kepadanya" Jawab Nadia tertawa kecil.
"Beruntung sekali kamu".
__ADS_1
"Bisa di bilang, tapi kita tidak tau kedepannya lagi. Entah kenapa aku selalu merasa kalau suatu saat nanti dia akan pergi meninggalkan ku".
"Ye?".
"Aahhh.. Tidak, sepertinya aku tidak boleh berlama-lama disini, kalau gitu aku permisi dulu dan terima kasih banyak untuk kopinya, rasanya sangat nikmat" Puji Nadia menyambar tasnya.
"Tunggu".
"Mmmmm?".
"Sebenarnya tujuan mu kemari apa?".
"Aku ingin menemui seseorang".
"Siapa?".
"Mmmm.. Tunggu sebentar" Nadia mengeluarkan buku tersebut dari dalam tasnya, lalu ia membukanya sambil menyebutkan nama yang ingin ia jumpai itu. "Kamu mengenalnya? dia juga orang kampung sini".
"Mmmmm" Angguk Mira dengan raut wajah cemas. "Maaf, kenapa kamu ingin mendatanginya? kamu tidak takut kepadanya?".
"Takut? kenapa? apa dia orang berbahaya?".
"Iya, dia mantan narapidana dan baru kemarin dia keluar dari penjara selama 6 tahun lamanya".
"Apa?".
"Iya, sebaiknya kamu tidak usah kesana, itu sangat berbahaya. Orang warga disini saja tidak berani menatap kearah rumahnya, apalagi kamu yang pendatang".
"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja. Boleh kamu antar aku kesana".
"Tapi".
"Mmmmm" Angguk Mira memasuki mobilnya.
Kemudian Nadia menjalankan mobilnya, ia melihat sekitar pedesaan tersebut tampak asri dan indah. "Kamu sudah lama tinggal di desa ini?".
"Sejak dari kecil aku belum pernah meninggalkan desa ini".
"Kenapa? kamu tidak ingin menikmati suasana di kota?".
"Aku lebih suka tinggal di desa ini bersama keluarga ku".
"Wah.." Tawa Nadia. "Dan sepertinya juga aku menyukai desa ini, kalau ada waktu aku ingin sekali mengajaknya liburan kemari".
"Siapa? suami mu?".
"Iya".
"Oohh.. Sepertinya kamu benar-benar mencintai suami mu".
"Tentu saja, dia pria tampan yang pernah aku temui".
Mira tertawa, "Aku penasaran setampan apa suami mu itu".
"Kalau kamu melihatnya kamu pasti akan jatuh hati kepadanya".
"Hey.. Kamu pikir aku apaan menyukai suami orang. Lebih baik aku menjadi perawan tua dari pada harus merusak rumah tangga orang".
__ADS_1
"Hahahaha.. Aku hanya bercanda Mira, kamu terlalu serius sekali".
"Ck, kita belok kanan".
"Apa rumahnya masih jauh?".
"Tidak, kita sudah sampai. Disana, rumahnya ada disana" Jawab Mira menunjuk rumah pria yang ingin Nadia temui tersebut.
"Baiklah, kamu tunggu disini saja. Biar aku yang kesana".
"Apa?".
"Jangan kemana-mana, aku tidak akan lama" Nadia segera keluar dari dalam mobil. Lalu ia berjalan kearah rumah si pria tersebut.
Tok.. Tok.. Tok..
"Permisi, apa ada orang di dalam?".
Tok.. Tok..
"Permisi!".
Tok.. Tok..
Ceklek!
"Anda siapa?".
"Aahh.. Akhirnya, boleh saya masuk?".
Ia mengernyitkan dahi melihat Nadia dari atas sampai bawah, "Saya tidak mengenal anda siapa. Silahkan pergi".
"Tunggu dulu" Tahan Nadia saat pria tersebut ingin menutup pintu rumahnya. "Maaf, izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan" Dengan cepat Nadia langsung menerobos masuk kedalam rumahnya. "Wah, rumah mu cukup rapi juga yah, kamu tinggal sendiri?".
Ia menatap Nadia dengan tajam sambil mengepal kedua tangan, "Kalau kamu tidak ingin terluka, sebaiknya kamu keluar".
"Hey.. Tamu adalah raja, harusnya paman menawarkan ku segelas kopi atau minuman segar" senyum Nadia.
DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTTT..
"Aahh.. Tunggu sebentar. Iya ada apa?" Senyum Nadia menerima panggilan dari David.
"Kamu dimana?".
"Kenapa? kamu merindukan ku?" David tersenyum, "Ooo, sepertinya kamu sedang tersenyum. Wah, aku jadi ingin melihat wajah mu tersenyum, aku yakin kamu pasti terlihat sangat tampan".
"Jangan menggoda ku Nadia".
"Hey, aku tidak sedang menggoda mu tuan David, aku mengatakan yang sebenarnya".
"Sekarang kamu ada dimana?".
"Aku? Aaa, aku sedang berada di depan seorang pria yang tidak aku kenal. Dan sepertinya dia ingin menerkam ku" Jawab Nadia tersenyum kepada pria yang berada di hadapannya itu. "Maaf, dia suami ku, sepertinya dia mengkhawatirkan istri ya ini" Bisik Nadia.
"Nadia jangan bercand..
"Aarrkkhhh".
BBBRRRAAKK..
__ADS_1