
Sekarang David dan Nadia tengah duduk diatas kursi panjang yang mengarah kearah sebuah waduk air. Tetapi rasa canggung yang sedang Nadia rasakan membuat ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata saat David mengakui kepada si pria tadi kalau dirinya adalah istrinya.
"Ada apa dengan mu?" Tanya David.
"Apa?".
"Dari tadi kamu diam terus. Ada apa?".
"Hahahaha.. Tidak" Jawab Nadia menggeleng.
"Kamu lapar?".
"Tidak".
"Kamu ingin sesuatu? aku akan membelinya".
"Tidak" David tersenyum tipis mengetahui apa penyebab Nadia seperti itu, lalu ia pergi meninggalkannya. "Kamu mau kemana?".
"Aku kesana sebentar, tunggu disini".
"Mmmmmm" Begitu David pergi, Nadia menyentuh jantungnya kembali yang masih berdetak kencang. "Ya ampun, dia hanya mengakui aku sebagai istrinya saja tapi rasanya aku seperti sedang melayang diatas udara. Segitu bahagianya kah aku?".
Tidak lama kemudian David telah berada di hadapannya, ia membawa dua bungkus eskrim coklat dan vanila. "Kamu suka yang mana?".
"Aku lebih suka vanila".
"Inih, disaat seperti ini lebih enak menikmati eskrim" Ucap David duduk. Ia melihat kearah beberapa pasangan pada umumnya sedang menikmati cuaca sore yang sudah hampir malam. "Kamu menikmati tempat ini?".
"Iya, aku baru pertama kali datang kemari".
"Lain kali kamu harus lebih sering datang kemari, tempat ini sangat bagus menghilangkan rasa stres".
"Masa iya sih? tapi aku datang kemari membuat ku semakin stres".
David mengernyitkan dahi.
"Iya, tempat ini bukannya menghilangkan stres tapi malah menambah stres".
"Kenapa?".
"Kamu pasti sering datang kemari bersama dengan wanita, seperti mereka" Jawab Nadia melihat kearah pasangan-pasangan tersebut.
"Kamu tau dari mana?".
__ADS_1
"Aku tau sendiri. Kamu tidak usah membohongi ku".
Tertawa, "Kamu ada-ada saja. Kalau kamu tidak pernah melihatnya secara langsung kamu tidak boleh menyimpulkan secara sepihak".
"Bohong".
"Terserah kamu saja" Kemudian David menyadarkan tubuhnya, ia menatap kearah langit yang sudah mulai gelap dan juga bintang-bintang diatas langit yang kini telah bercahaya.
"Kamu sedang melihat apa?" Tanya Nadia.
"Langit disana, disaat gelap ia memiliki bintang".
"Maksud kamu?".
"Dia memiliki bintang untuk menyinari permukaannya".
Nadia ikutan melihat keatas, ia melihat bintang-bintang disana tampak sangat indah menyinari langit yang gelap. "Benar, aku juga mau seperti langit, disaat aku jatuh aku berharap seseorang menyinari hidup ku".
Mendengar perkataan Nadia, David langsung meliriknya. Lalu Nadia tersenyum, "Terima kasih sudah menyinari hidup ku selama beberapa bulan ini, dan aku juga berharap untuk kedepannya lagi kamu akan selalu menyinari hidup ku sama halnya seperti bintang diatas sana, sampai kapan pun ia akan tetap menyinari langit yang gelap".
"Pandai juga kamu berkata-kata".
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Terima kasih sudah ada untuk ku, meskipun hati mu untuk saat ini aku tidak tau untuk siapa, intinya aku tetap berterima kasih dan bersyukur ada kamu yang menerangi hidup ku".
"Client kita meminta untuk bertemu dengan tuan, sepertinya tuan harus datang kemari" Jawab Vincen.
David melirik Nadia, "Tapi aku sedang bersama dengannya, kami berada di taman. Baiklah, sekitar jam 10 nanti aku akan kesana".
"Baik tuan" David mematikan ponselnya, ia menghampiri Nadia kembali. Sedangkan Nadia yang merasa kalau David sedang sibuk, ia langsung menyuruh David pergi kalau ia ingin pergi. "Berani sekali kamu menguping pembicaraan orang lain" Tersenyum.
"Tidak, aku hanya merasakannya saja".
"Wah.. Hebat sekali kamu bisa merasakannya".
"Ck, aku bisa membaca dari raut wajah mu saja tuan David yang terhormat" Kesal Nadia.
"Oohh.. Aku pikir kamu menguping".
"Kami pikir aku apaan menguping pembicaraan mu? meskipun aku seorang polisi aku tidak suka melakukan hal seperti itu".
"Bagus, aku suka itu" Senang David.
.
__ADS_1
Begitu David mengantar Nadia pulang, tiba-tiba ia mendapatkan panggilan dari Zico sebelum David pergi meninggalkannya di dalam kamar. "Iya Zico?".
"Kamu sedang apa Nad? aku merasa jenuh malam minggu ini".
Nadia melirik David, lalu ia tersenyum. "Aku juga bosan nih di dalam kamar, dan sekarang juga masih jam 8 malam. Bagaimana kalau kita kelua.." Gantung Nadia saat David menarik ponselnya. "Kenapa?".
David menghela nafas meremas ponsel Nadia yang berada di tangannya, "Ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat saja, aku tidak akan lama".
Nadia tersenyum, "Baiklah, sekarang kembalikan ponsel ku" Namun David yang masih saja menggenggam ponselnya membuat Nadia berkata. "Jangan khawatir, aku tidak akan kemana-mana asalkan kamu berjanji tidak akan pulang lama. Ayo berikan".
David langsung memberikan ponselnya, lalu ia pergi meninggalkan Nadia tampa sepatah kata untuknya, "Dasar pria egois". Kemudian Nadia menggeleng sambil tersenyum-senyum sendiri seperti orang kerasukan. "Apa dia cemburu? aku melihat wajahnya sangat kesal saat aku mengajak Zico keluar. OMG hahahaha".
Sesampainya David di club, ia disambut oleh kedua anak buahnya yaitu Vincen dan Bagas. "Ditempat biasa tuan" Ucap Bagas.
"Mmmmm" Gumam David mengikuti mereka.
Ceklek!
David langsung melihat mereka semua sedang menikmati alkohol masing-masing dan sebagian lainnya memakai obat larangan tersebut. "Hahahah.. Tuan David, bawa dia kemari Bagas" Ucap salah satu diantara mereka menyuruh Bagas.
David tersenyum, lalu ia mendudukan diri disana sambil menerima gelas alkoholnya. "Apa kabar tuan David, sudah lama kita tidak bertemu".
"Aku sangat sibuk" Jawab David sekali teguk meminum alkoholnya. Kemudian si pria itu memberi tahu David kalau bisnis yang ia jalankan itu sangat sukses besar, "Aku turut senang, tapi jangan menjualnya untuk dibawah umur. Aku tidak suka".
"Kenapa?".
"Kalau aku bilang jangan jual, jangan" Jawab David memantik rokoknya melihat mereka semua, "Ini juga peringan untuk kalian, aku tidak mau diantara kalian menjual barang tersebut untuk anak dibawah umur, mereka tidak memiliki uang untuk membelinya".
"Lalu bagaimana dengan mereka yang memiliki cukup uang untuk membelinya tuan?".
"Kamu yakin mereka memiliki uang?".
"Iya tuan".
"Mulai sekarang jangan berikan. Mereka membelinya dengan uang orang tua mereka sendiri".
"Apa salahnya tuan? mereka semua adalah anak orang kaya. Dan kita juga tidak tau itu uang keringat orang tuanya atau uang penggelapan dana" David menatapnya, ia melihat wanita yang berada disampingnya itu terlihat sangat menikmati setiap sentuhan si pria tersebut. "Ada apa tuan? tuan menyukainya?".
David menyandarkan kepalanya, ia menatap langit-langit ruangan itu sambil memijit keningnya tampa ia sadari Tiara kini berada di sampingnya. "Tuan" Panggilnya.
"Hhhmmsss.." David mendengus melihat Tiara, lalu ia tersenyum menyambar gelas alkoholnya yang sudah terisi. "Malam ini kamu sangat cantik".
Tiara langsung tersenyum lebar, "Terima kasih tuan" Kemudian David menatapnya, "Tuan" Panggilnya lagi.
__ADS_1
"Mmmmm?" Suara itu terdengar sangat seksi dikedua telinga Tiara. Lalu David menyentuh wajahnya dengan lembut, "Kenapa dengan wajah mu?" Suara itu pun semakin lembut. "Pipi mu memerah".