
Nadia terdiam, ia melihat Tiara dengan tatapan kosong. "Apa yang harus aku lakukan? haruskah aku benar-benar melupakan dia? padahal bukan aku yang datang, melainkan dia sendiri yang datang kepadaku".
"Aku juga tidak tau alasan dia menemui mu, apa karna cinta atau dengan tujuan lain. Lalu apa yang dia katakan kepada mu?".
"Kamu cantik, melihat mu membuat ku bergairah, dia mengatakan seperti itu kepada ku" Jawab Tiara.
"Kamu menjawab apa?".
"Seperti yang nona bilang kemarin aku menolaknya, tapi bukannya dia percaya, dia malah semakin menggoda ku. Tolong bantu aku nona, aku mohon tolong bantu aku".
"Maaf Tiara, aku juga tidak tau harus melakukan apa untuk membantu mu, jawaban aku tetap sama dengan yang kemarin. Kamu harus lebih berusaha lagi melupakan dia dan selalu menghindari dia. Jangan sampai kamu di cap sebagai pelakor".
"Sialan ni orang" Batin Tiara kesal. "Aku sudah mencobanya nona, tapi dia selalu ada dimana aku berada hiks. Tapi mungkin kalau aku tinggal disini, aku akan lebih berusaha lagi untuk melupakan dia".
"Ya sudah, kamu boleh tinggal disini selama kamu mau. Tapi rumah ini hanya memiliki dua kamar, bagaimana yah?" Gumam Nadia berpikir supaya Tiara dengan nyaman tinggal di rumahnya.
"Tidak apa-apa nona, aku bisa tidur di sofa ini, ini sudah jauh lebih baik".
"Tidak, kamu tidak boleh tidur di sofa".
Ceklek!
Mendengar suara pintu terbuka, Nadia langsung melihat kearah pintu kamar David, ia melihatnya baru keluar. "Kenapa?" Tanyanya.
"Tidak" Senyum Nadia. Lalu David berjalan ke dapur, "Kamu tunggu sebentar yah" Nadia segera menyusulnya, ia melihat David tengah membuat secangkir kopi. "Tunggu, biar aku saja. Tadi juga aku ingin membuat teh untuk mu, tapi Tiara tiba-tiba datang kemari".
"Sedang apa dia kemari?".
"Itu, yang kemarin aku ceritakan. Dia sampai sekarang belum bisa melupakan atau pun menghindari pria itu. Tiara sangat kasihan sekali".
"Terus?".
"Dia meminta kepada ku untuk beberapa hari kedepannya tinggal dirumah ini, tidak apa-apa kan dia tinggal disini? dia akan menggunakan kamar ku".
"Bagaimana dengan mu?".
"Aku akan tidur di kamar mu. Jangan khawatir, aku bisa tidur di sofa, jadi kamu tidak usah merasa tidak nyaman. Boleh yah?".
"Tidak".
"Yaa, kamu tidak boleh egois, kamu enggak kasihan melihat Tiara harus tidur diluar kalau aku tidak bisa tidur dikamar mu?".
"Tidak" Jawab David.
"Ck, kamu jahat sekali" Kesal Nadia memberikan kopi David. Namun ia masih tetap berusaha merayu David supaya ia bisa tinggal di kamarnya. "Ayolah, aku tidak akan berbuat macam-macam ataupun menganggu mu, mmmmm" Senyumnya dengan manis.
David menarik sudut bibirnya seperti sedang mengejek Nadia, "Hoho, jangan mengejek ku seperti itu. Kamu pikir juga aku mau tinggal sekamar dengan mu?".
__ADS_1
"Berarti aku tidak akan membiarkan mu tinggal di kamar ku".
"Eehh.. Jangan seperti itu dong" Tahan Nadia ditangan David. "Maaf, aku minta maaf, aku menarik kata-kata ku tadi hehehe".
"Terserah kamu saja".
"Benarkah?".
"Mmmmm".
"Yes, terima kasih" Senang Nadia melihat Tiara yang masih duduk diatas sofa. Lalu ia menghampirinya, "Tiara!".
"Iya nona".
"Ayo, kamu boleh menggunakan kamar ku".
"Bagaimana dengan nona?".
"Selama kamu berada disini, aku akan tidur di kamar dia" Jawab Nadia melirik kamar David. "Ayo".
Tiara menyeringai tampa Nadia ketahui, "Kenapa jadi seperti ini sih? aku malah mempersatukan mereka berdua. Sial-sial".
Begitu Nadia memberikan kamarnya kepada Tiara, ia segera keluar dari sana sambil membawa selimut dan bantal. "Selamat istirahat Tiara".
"Iya nona, terima kasih banyak".
**Tok.. Tok..
Ceklek**!
Ia melihat David sedang berada diatas tempat tidur dengan ponselnya. "Aku datang" ucapnya berjalan kearah sofa, Ia menaruh selimut dan bantalnya disana. Kemudian Nadia membaringkan tubuhnya, tampa ia ketahui kalau David sedang melihatnya.
"Siapa menyuruhmu tidur disana?".
"Hhhmmm?".
"Menyuruh mu tidur disitu?".
"Lalu aku tidur dimana? masa iya aku harus tidur diatas lantai sih? kamu tidak boleh sejahat itu juga kepada ku. Jadi biarkan saja aku tidur diatas sofa ini mmmm".
"Siapa juga menyuruh mu tidur diatas lantai?".
"Terus aku tidur diman.." Gantung Nadia melihat David berada di atas tempat tidur. "Hey, tidak usah, aku tidur disini saja".
"Nadia!".
"Baiklah, aku akan tidur disana" Nadia berjalan kearahnya. Ia melihat David sedang melihatnya, "Terima kasih sudah membiarkan aku tidur disini. Mmmm, ini sangat nyaman sekali heheheheh".
__ADS_1
David tersenyum tipis, ia membiarkan Nadia tidur sana. Namun Nadia yang belum bisa menutup kedua mata membuat ia terus memperhatikan David yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Tuan David yang terhormat" Panggilnya.
"Jangan memanggil ku seperti itu".
"David!".
"Ada apa?".
"Aku ingin memberitahu mu sesuatu".
"Tentang apa?".
"Entah kenapa, aku merasa kurang nyaman dengan Tiara".
"Karna apa?".
"Aku juga tidak tau, aku hanya merasa kurang nyaman saja. Aku merasa kalau Tiara sedang mengincar apa yang aku miliki, tapi aku tidak tau itu apa. Padahal aku tidak memiliki sesuatu yang istimewa".
David meletakkan ponselnya, ia melihat Nadia yang berada disampingnya. "Kalau kamu tidak nyaman, kenapa kamu membiarkan dia tinggal disini".
"Hhmmss.. Aku merasa kasihan kepadanya, dia bilang dia sedang berusaha melupakan pria itu".
"Dasar bodoh!".
"Hhhmmm?".
"Harusnya kamu tidak mengizinkan dia tinggal disini".
"Aku juga tiba-tiba berpikir seperti itu, harusnya aku tidak membiarkan dia tinggal dirumah ini. Tapi sekarang sudah terlambat, tidak mungkin aku menyuruhnya pergi".
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTTTT..
"Ada apa Vin?".
"Tuan, besok jam 9 pagi ada meeting".
"Mmmmmm" David mematikan ponselnya. Ia segera membaringkan tubuhnya. "Tidurlah, tidak usah memikirkannya lagi".
"Mmmmm" Gumam Nadia. Ia pun berusaha memejamkan kedua matanya, tetapi ia malah tidak bisa tidur. "Kamu sudah tidur?".
Tidak ada jawaban.
"Sepertinya dia sudah tidur" Ia memperhatikan wajah David. "Sebenarnya aku menakutkan kamu, aku takut kalau Tiara merebut mu dari ku. Karna setiap kali dia menceritakan pria itu, aku merasa kalau pria itu adalah kamu. Apa yang harus aku lakukan? apa kamu akan mengatakan kalau aku sedang cemburu dan tidak percaya kepada mu?".
"Tentu saja aku cemburu, aku sudah berapa kali mengatakan kepada mu kalau aku mencintai mu. Dan aku juga tidak mau kehilangan mu, aku tidak akan rela kalau kamu bersama dengan wanita lain. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk melarang mu, aku tau kamu akan mengatakan kalau aku ini hanyalah jaminan hutang orang tua ku".
"Jadi kapan pun kamu mau, kamu pasti akan meninggalkan ku. Ya Tuhan, membayangkannya saja membuat jantung ku berhenti berdetak" Nadia menyeka air matanya, ia langsung membelakangi David.
__ADS_1