Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 87


__ADS_3

Sekeluarnya Nadia dari sana, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu bejalan kearah kantin, ia meminta minuman segar. "Nadia" Panggil Yanto yang ketepatan berada disana.


"Ooo, Yanto. Sedang apa kamu disini?" Tanya Nadia menghampirinya.


Yanto tersenyum, "Silahkan duduk. Aku kemari bersama dengan atasan ku, tapi aku tidak tau alasannya datang kemari. Beliau hanya menyuruhku menunggu disini".


"Oohh" Angguk Nadia.


"Mmmmm" Senyum Yanto melihat Nadia yang terlihat sangat keren. "Kamu tidak sedang sibuk?" Tanyanya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.


"Tidak terlalu Yan" Jawab Nadia menerima jajanan itu. "Wah, apa kamu selalu membawanya kemana pun kamu pergi Yanto? terima kasih".


"Iya Nad, karna aku sangat menyukainya aku selalu membawanya kemana pun aku pergi".


"Kamu ada-ada saja" Geleng Nadia tersenyum. Lalu membuka bungkus jajanan itu, ia segera memakannya.


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Aku di kantin Zico" Setelah itu Nadia mematikan ponselnya. Tidak lama kemudian ia melihat Zico diambang pintu, "Disini" Panggilnya melambaikan tangan.


Zico pun langsung menghampiri mereka, ia melihat Yanto sedang tersenyum kepadanya dengan senyuman ramah. "Hallo, saya Yanto pak" Ucapnya memperkenal diri.


"Zico. Tidak usah panggil Pak, sebut nama saja. Kamu siapanya Nadia?".


"Dia satu tetangg..


"Hahahaha.. Dia teman lama ku Zico, iya teman lama ku. Iyakan Yanto?" Potong Nadia memberi kode.


"Aaa.. Iya" Angguk Yanto. "Kita teman lama".


"Oohh, berarti kamu sudah lama mengenal Nadia. Terus, sedang apa kamu disini?".


"Aku kemari sedang menemani atasan, tidak tau alasannya apa, dan ketepatan tadi aku melihat Nadia sedang membeli minuman segar itu. Oohh iya Nad, apa dia juga menyukai jajanan ini?".


"Tidak tau, coba berikan kepadanya. Siapa tau dia menyukainya" Yanto mengeluarkan jajanan itu lagi dari dalam tasnya, lalu memberikan ditangan Zico. "Kamu coba dulu Co, aku yakin kamu akan ketagihan. Rasanya sangat enak".


Zico pun segera membukanya, lalu memasukkan kedalam mulut sambil mengunyah secara perlahan melihat Nadia dan Yanto sedang memperhatikannya. "Kenapa?".


"Bagaimana rasanya?" Tanya Nadia.


"Mmmm, enak. Aku menyukainya".


Nadia senang dan Yanto, "Aku juga sangat menyukainya Zico. Coklatnya sangat lumer".

__ADS_1


"Kamu mendapatkannya dari mana? aku belum pernah mencobanya".


"Dari toko dekat kantor ku bekerja. Jajanan ini memang sangat langka, dan aku rasa jajanan ini juga hanya di jual disitu saja. Kalau kamu mau, aku akan membelinya untuk mu, nanti aku menitipkan kepada Nadia".


"Boleh, Anika pasti menyukainya" Senyum Zico mengingat Anika sangat menyukai jenis makanan yang dilumuri coklat. "Nanti aku akan membayarnya atau kamu mau sekarang? aku akan membayar mu".


"Aaa tidak usah, aku akan memberi mu dengan gratis sebagai tanda pengenalan kita".


"Kamu yakin tidak dibayar? harganya mungkin sangat mahal".


Yanto tertawa, "Tidak, harganya masih bisa dibeli".


"Kalau gitu terima kasih" Tawa Zico ikut tertawa.


.


Kini jam menunjukkan pukul 11 pagi, David keluar dari dalam apertemen menggunakan jaket hitam menuju markas mereka. Namun saat ia tiba disana, ia melihat anak buahnya itu sedang menunduk tidak seperti biasanya ia kalau datang kesana. "Ada apa?" Tanyanya.


"Tidak tuan" Geleng mereka.


Kemudian David melirik Bagas dan Vincen, ia melihat mereka berdua biasa saja seperti biasanya. Setelah itu David melanjutkan langkahnya, namun saat ia melangkah, ia melihat sebuah kalung terletak diatas lantai dekat kaki salah anak buahnya itu. Lalu David berjalan mendekati benda tersebut sampai membuat anak buahnya itu kebingungan dan juga ketakutan melihat David berjongkok dihadapannya. "Tuan, maafkan saya" Jongkoknya juga sedikit menjauh dari hadapan David.


Lalu mereka melihat David mengambil kalung tersebut, melihat itu Bagas langsung membulatkan mata melirik Vincen yang sedang kebingungan dengan perubahan wajahnya. "Kenapa Bagas?".


"Maksud kamu?".


"Tua..


"Milik siapa ini?" Potong David bertanya melihat mereka mengangkat kalung tersebut. "Kalian tidak ada yang kehilangan".


Mendengar itu, baru Bagas bernafas dengan legah meremas pakainya. "Kami tidak tau tuan" Jawab mereka.


"Tuan, sepertinya itu milik saya" Ucap Vincen mendekati David.


"Milik mu?".


"Iya tuan".


"Kamu yakin ini milik mu? apa kamu sedang menyukai seorang wanita?".


"Hhhmmm? Aahh, tidak tuan" Jawab Vincen tertawa. "Aku hanya menyukainya saja, iya tuan aku hanya menyukai kalung itu saja".


David menatapnya sampai membuat Vincen linglung, "Kamu tidak bisa berbohong Vincen, kamu pikir aku tidak tau?".

__ADS_1


"Maaf tuan" Tunduknya.


David geleng kepala, kemudian melihat mereka semua. "Tidak ada yang memilikinya?".


"Tidak tuan" Jawab mereka.


Lalu Bagas menunjuk tangan, "Saya tuan, tolong berikan kalung itu kepada saya tuan".


"Kamu yakin ini milik mu?".


"Iya tuan, kalau kalung itu tidak milik tuan berarti itu milik saya. Tolong berikan itu kepada saya tuan, saya mohon" Jawab Bagas menegang.


"Baiklah" Angguk David memberikan ditangan Bagas. "Pastikan kamu mengembalikan kepada pemiliknya, dia pasti sangat kehilangan" David langsung pergi menuju ruangannya.


Bagaikan disambar petir, Bagas menutup mata mengepal kedua tangannya, ia benar-benar sangat marah kepada kedua anak buahnya itu. Setelah itu Bagas segera menyusul David kedalam ruangannya, ia sudah bisa menebak kalau David mengetahui soal kejadian semalam.


Tok.. Tok..


"Mmmmm".


Ceklek!


"Tuan, maafkan saya. Saya berjanji kejadian ini tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya lagi".


David tersenyum melihat Bagas yang menyesal, "Tidak apa-apa, aku tau alasan mereka melakukan itu. Tapi kenapa kamu diam? kamu tidak tau atau kamu tidak mengingatnya kalau semua tempat ini dipenuhi CCTV?".


Bagas pun langsung tersadar melihat ruangan David kalau David pernah meminta kepada mereka berdua untuk menaruh semua CCTV di setiap sudut ruangan tampa salah satu anak buah David ketahui. "Maaf tuan, aku melupakannya".


"Tidak apa-apa. Kali ini aku tidak akan menghukum mereka karna mereka tidak menyentuh Nadia. Sekarang Panggil Vincen kemari".


"Baik tuan" Bagas segera memanggil Vincen.


Kemudian David memandangi komputernya, ia melihat setiap aktivitas yang anak buahnya lakukan, bahkan ia mengetahui kalau diantara anak buah ya itu salah satu mata-mata yang Steven kirim.


Tok.. Tok..


"Masuk" Jawab David melihat mereka berdua, lalu menyuruhnya duduk diatas sofa begitu juga dengan dirinya. "Vincen Bagas" Panggilnya.


"Iya tuan" Jawab mereka berdua.


"Terima kasih sudah menjadi sahabat dan juga bawahan ku selama ini. Sebelum terlambat aku ingin pergi bersama dengan kalian, bagaimana dengan memancing? kalian menyukainya?".


Bagas dan Vincen kebingungan, mereka tidak tau maksud dari perkataan David. Tapi ucapan itu mampu membuat kedua hati pria itu terasa sesak seperi tertusuk tombak. "Tuan, kami tidak mengerti maksud tuan apa? tolong jangan buat kami kebingungan, dan berhenti mengajak kami liburan bersama. Kami tidak menyukai liburan dan kami juga sangat tidak menyukai memancing" Jawab Bagas menahan air mata.

__ADS_1


__ADS_2