
Saat Nadia hendak berangkat kerja, ia melihat David sedang menyiapkan sarapan untuknya dan sebuah bekal berada diatas meja. "Kamu mau kemana?".
"Duduklah" Jawab David memberikan segelas jus di hadapannya. "Hari ini aku bepergian".
"Kemana? sama siapa? kapan pulang?".
David tersenyum, "Aku hanya pergi memancing saja bersama kedua bawahan ku, dan nanti sore aku sudah pulang. Kenapa? kamu mengkhawatir ku?".
"Tidak, aku pikir kamu akan bepergian jauh. Terima kasih jusnya, kalau gitu aku berangkat dulu".
"Kenapa kamu tidak memakan ini dulu?" Tanya David menunjuk roti bakar yang tadi ia taruh diatas piring.
"Tidak usah" Jawabnya. David menatapnya, ia melihat punggung mungil itu telah menghilang di ambang pintu. Setelah itu, David pun segera membereskan kotak bekalnya, lalu membawanya pergi. Di dalam mobil, Ia menghubungi Bagas dan Vincen kalau ia telah perjalanan menuju tempat tersebut.
Sesampainya disana, David menghentikan mobilnya. Ia melihat kedua bawahannya itu telah berada disana dan sedang memasang sebuah tenda tempat mereka berlindung. "Ternyata kalian sudah disini?" Ia juga melihat tiga kursi terletak disana serta api unggun yang menyala akibat cuaca yang sedikit dingin. Lalu David meletakkan bekal yang ia bawa dari rumah diatas meja. "Aku rasa kalian belum sempat sarapan dari rumah, ayo sarapan dulu" Ucapnya menuang kopi diatas cangkir mereka masing-masing.
Bagas menyambar miliknya dan juga Vincen, mereka bertiga mendudukkan diri diatas kursi masing-masing. Kemudian David tersenyum menatap lurus kearah Danau tersebut. "Tuan, apapun yang terjadi kita harus kembali ke Rusia" Ucap Bagas.
"Sepulang dari sini, ku harap kita baik-baik saja, seperti apa yang baru saja Bagas ucapkan kita harus bisa kembali ke Rusia" Sambung Vincen.
"Baiklah, kita akan kembali kesana. Apapun yang terjadi kita harus kembali" Angguk David mengeluarkan pancingnya dari dalam tas. Kemudian melemparkan ke permukaan air. "Kita harus mendapatkan ikan yang banyak".
Mendengar jawaban David, baru kedua orang itu tersenyum mengikuti David mengeluarkan pancing mereka dari dalam tas.
.
Di kantor, Nadia sedang menyelidiki siapa orang di dalam gambar tersebut. "Aku yakin, aku pasti pernah bertemu dengan orang ini, tapi siapa dia?" Gumam Nadia masih memandangi foto itu.
"Nadia" Panggil Zico.
"Mmmm, kenapa?".
Zico mendekatkan kursinya, lalu melihat wajah Nadia tidak seperti semalam. "Wah, ternyata kamu sudah baikan. Syukurlah".
Nadia tersenyum, "Zico, aku belum yakin sih. Tapi kenapa aku merasa seperti pernah bertemu dengan orang ini. Coba kamu perhatikan dia, siapa tau kamu juga pernah bertemu dengannya".
Zico memperhatikan gambar tersebut, "Tidak Nad, aku belum pernah bertemu dengan orang in..
"OMG" Kaget Nadia bangkit berdiri.
"Ada apa Nadia? kamu membuat ku kaget saja".
__ADS_1
"Maaf Zico" Jawab Nadia pergi keluar, lalu ia berlari kearah sel penjara dimana Wilson dan yang lainnya berada dengan nafas ngos-ngosan. "Yah, aku sudah mengingat siapa orang ini" Ucapnya.
Wilson mengerutkan keningnya, "Ada apa lagi kamu datang kemari?".
"Ayo beritahu aku siapa nama orang ini. Aku sudah mengingatnya, aku pernah bertemu dengannya beberapa hari. Cepat beritahu aku".
Wilson tertawa mengejek, "Kamu yakin pernah bertemu dengannya?".
"Iya, aku pernah bertemu dengannya, bahkan kami berdua pernah mengobrol bersama, cuman aku tidak tau namanya siapa".
"Kamu pasti salah orang. Bagaimana bisa kamu bertemu dengannya? dia bukanlah orang yang bisa kamu temui dengan mudah apalagi sempat mengobrol".
"Aku mengatakan yang sebenarnya kalah aku pernah bertemu dengannya".
"Dimana?".
"Dirumah sakit".
Wilson pun semakin tertawa mengejeknya, "Kalau kamu sudah selesai, sebaiknya kamu pergi saja. Ayo pergi".
Nadia kesal, satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaannya adalah David. Berarti David-lah salah satu orang yang selama ini mereka cari. Kemudian ia tertawa sambil berjalan mencari keberadaan Bayus saat ini berada di ruang meeting bersama dengan Rico dan Raka. "Permisi pak, boleh saya masuk?".
"Ada apa Nadia?".
"Kenapa kamu bertanya itu Nadia?".
"Aku penasaran pak".
"Mmmm, kemarin saya sudah membahasnya dengan atasan kalau sampai mereka ditemukan maka mereka akan mendapatkan hukuman tembak mati".
"Tembak mati?".
"Iya, kenapa kamu seterkejut itu Nadia?".
"Maaf pak, lalu bagaimana dengan Wilson dan rekannya?".
"Paling mendapatkan hukuman sesuai dengan apa yang tertokok disidang nanti".
"Oohh, kalau gitu saya permisi dulu pak. Terima kasih".
"Mmmmm" Angguk Bayus kembali fokus dengan pembahasan mereka. Sekeluarnya Nadia dari sana, ia melihat foto itu kembali, lalu menghubungi nomor ponsel David.
__ADS_1
DDDRRRTTTTT.. DDDRRRTTTTT...
"Hahahhaha" Tawa ketiga orang itu saat David hanya mendapatkan satu ekor ikan kecil saja.
DDDRRRTTTTT.. DDDRRRTTTTT...
"Kenapa dia tidak mengangkat ponselnya?" Gumam Nadia menghubungi nomor itu kembali.
DDDRRRTTTTT.. DDDRRRTTTTT...
"Tidak diangkat, sedang apa dia sekara.." Gantung Nadia begitu ia mendapatkan notifikasi dari David. "Aku sedang memancing bersama dengan mereka, maaf aku tidak bisa mengangkat panggilan mu. Sampai jumpa dirumah, aku akan membawa ikan yang banyak untuk mu" Nadia membulat mata, ia melihat gambar ketiga orang itu di layar ponselnya. "Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? apa yang harus aku lakukan Tuhan?" Teriak Nadia dalam hati meremas ponselnya.
.
Jam 3 sore Nadia berada di dalam kantin seorang diri. Lalu ia melihat seorang warga negara asing sedang tersenyum kepadanya dengan ramah. Setelah itu, pria tersebut datang menghampirinya, "Permisi nona cantik, boleh saya duduk disini?".
"Silahkan" Jawab Nadia.
"Thank you nona cantik. Perkenalkan nama saya Gery, saya baru kemarin tiba di indonesia".
"Oohh, sedang apa anda kemari? tempat ini bukanlah tempat yang bisa anda datangi semudah itu? sedangkan anda bukanlah warga kenegaraan kami".
Gery tersenyum, "Saya kemari ada sesuatu yang perlu saya urus".
"Oohh" Gumam Nadia menyedot minumannya. "Kalau gitu saya permisi dulu, pekerjaan saya sangat banyak".
"Tidak apa-apa, silahkan" Angguk Gery melihat Nadia telah pergi meninggalkannya. "Nadia, wanita yang David cintai setelah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah membuka hati kepada wanita. Dan sekarang dia mencintai wanita yang polos dan cantik, hahahha Lumayan juga. Tapi aku tidak suka dengan pekerjaannya" Kemudian Gery memanggil anak buahnya yang berada di meja sebelah.
"Iya tuan?".
"Beritahu Yanto segera membawa wanita itu ketempat persembunyian. Aku ingin segera mengakhiri permainan ini".
"Baik tuan".
"Mmmmm, ayo" Perginya meninggalkan kantin tersebut. Sedangkan Nadia, ia sedang menerima panggilan dari Hendrawan. Pria paruh baya itu sedang bertanya, apa Nadia sudah melaporkan siapa David yang sebenarnya atau tidak.
"Pa, tolong berikan Nadia waktu. Nadia mohon, tolong jangan mendesak ku".
"Mau sampai kapan lagi Nadia? kamu tidak punya banyak waktu, dia baru saja mengancam papa kalau David akan membunuh papa dan mama kamu".
"Apa?".
__ADS_1
"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa datang kekantor papa. Lihatlah apa yang sudah dia lakukan".