Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 27


__ADS_3

Di dalam mobil Steven dan Gery tengah mempersiapkan sebuah piston di punggung mereka masing-masing dan juga sebuah alat peledak. "Kalian sudah siap?" Tanya Gery kepada beberapa anggotanya yang sengaja mereka bawa.


"Siap bos" Jawab mereka.


"Bagus" Gery melirik jam tangannya. "Sekarang sudah jam 10, ayo" Turunnya dari dalam mobil bersama dengan Steven.


Dengan senyuman mengembang diwajah Steven dan Gery. David telah mengetahui kedatangan mereka begitu Bagas menunjukkan sebuah video yang selalu mengarah kepada mereka. "Bersiaplah".


"Siap tuan" Angguk Bagas.


David kembali menikmati alkoholnya, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan para tamu semakin ramai. "Steven.. Malam ini diantara kita harus ada yang mati" Gumam David tersenyum.


Steven dan Gery telah berada di dalam, mereka langsung mencari keberadaan David. Kemudian Steven menghentikan si pengantar minuman. "David ada dimana?".


"Tuan David?".


"Dimana dia?".


"Oohh.. Tuan David ada disana" Tunjuknya kearah David yang sedang tertawa bersama dengan para wanita.


Steven tersenyum, lalu mengeluarkan pistol dari dalam jasnya. "Malam ini, kamu harus mati David" Seringai Steven membidik David.


Doorrr...


Mendengar suara itu, semua para tamu disana langsung berteriak histeris sambil berlari menyelamatkan diri mereka masing-masing.


Sedangkan Bayus dan teamnya segera masuk kedalam dengan pistol yang berada ditangan mereka.


"Tuan" Kaget Bagas melihat wanita yang tadi bersama dengan David tertembak dihadapan mereka.


"Ayo" David mengeluarkan pistolnya. Ia mencari tempat aman, disana ia melihat Steven tengah mencari dirinya. "Mendekatlah Steven" Gumam David menodong pistolnya, namun saat David ingin menembaknya. Tiba-tiba polisi berada disana dengan pistol yang ada ditangan mereka, "Sial, bagaimana polisi ada disini?" Umpat David melihat mereka hingga kedua matanya berhenti pada Nadia. "Aaiiss" Semakin kesal David menembak Steven.


Doorrr..


Namun Gery yang melihat David langsung mendorong tubuh Steven hingga peluru David meleset. Kemudian Gery menembakinya, tetapi David segera berganti tempat membuat peluru Gery tidak mengenai dirinya, "Sial, bunuh mereka semua" Geram Gery tidak perduli kepada polisi yang berada disana.


Tembak menembak pun terjadi diantara mereka, bahkan Bayus dan teamnya ikutan menembak bagi siapa yang mereka lihat menggunakan senjata api. "Zico, awas" Teriak Nadia melihat anak buah David menembaknya.

__ADS_1


Doorrr...


BBBRRAAAKKK...


"Aahhh.. Nadia" Kaget Zico.


"Kamu baik-baik saja?".


"Mammmm.. Bagaimana dengan mu?".


"Aku baik-baik saja" Jawab Nadia melihat sekitarnya.


"Nadia, kamu kemari" Teriak Diva.


"Mmmmmm" Angguk Nadia mendatangi Diva yang sedang bersembunyi di balik tembok. Ia melihat tangan Diva yang bergetar, lalu ia menggenggamnya. "Ada apa mbak?".


"Hhhhmmm?".


"Tangan mbak bergetar. Kalau seperti ini, mbak tidak akan bisa menembak mereka".


Diva melihat tangannya yang bergetar, lalu tersenyum sedih. "Sejak kedua rekanku mati sangat menggenaskan tepat di hadapan ku, aku mulai merasakan ini. Mereka menembaknya tampa perasaan, dan pada akhirnya aku sampai sekarang masih takut. Tapi aku selalu berusaha melakukan yang terbaik meskipun hari-hari itu selalu menghantui ku" Beritahu Diva.


Diva tersenyum, kemudian Nadia melihat seseorang sedang membidik mereka. Dengan cepat Nadia menembaknya sebelum musuh menembaknya duluan.


Doorrr...


"Mbak tunggu disini" Nadia berlari mengejar pria yang tadi menembaknya. Namun ia tiba-tiba kehilangan jejaknya, "Sial" Umpat Nadia. Lalu ia melihat Steven tengah berjalan kearahnya dengan pistol yang ia todong tepat kepada dirinya, "Akhirnya, tiba saatnya aku akan meninggalkan semuanya" Gumam Nadia menutup mata.


Doorrr..


"Aaakkhhh.." Mendengar suara itu, Nadia langsung membuka kedua matanya saat seseorang datang memeluknya. "Ka-ka.." David menariknya pergi dari sana tampa Steven ketahui siapa yang telah menyelamatkan dirinya.


"Sial" Ia tidak ingin membuang-buang waktunya. Steven kembali mencari keberadaan David sambil menginjak mereka yang telah tumbang diatas lantai dingin.


Sedangkan Vincen yang tadi melihat David menyelamatkan Nadia, ia segera mengikutinya dari belakang. Ia tidak habis pikir dengan tuannya itu, bisa-bisanya seorang David mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan seorang wanita.


Melihat darah bercucuran dari punggung David membuat Nadia khawatir, ia dengan cepat menghempaskan tangannya. Lalu David menghadap kearah Nadia, ia melepaskan topinya, "Apa yang kamu lakukan disini? kamu ingin mati?" Teriaknya sangat marah.

__ADS_1


Nadia terkejut, namun ia tiba-tiba merasakan ada sesuatu dalam hati yang membuat ia merasa sedikit hangat. "Bukankah kamu sudah tau kalau aku seorang detektif? kenapa kamu masih bertanya?. lalu bagaimana dengan mu? kenapa kamu bisa berada disini dengan pakaian seperti ini?" Tanya balik Nadia dengan mata berkaca-kaca.


David menghela nafas melihat Nadia mengeluarkan air mata, ia berjalan mendekatinya. Tetapi saat itu juga David mendapatkan serangan dari anak buah Gery.


Doorrr..


"Aaakkhhh" Pekik David menyentuh perutnya yang tertembak.


Dengan mata bergetar Nadia melihat David tertembak di hadapannya, "Tu-tuan" Gelagapan Nadia semakin mengeluarkan air matanya. Setelah itu Nadia mendengar suara tembakan di belakangnya sampai tiga kali. "Tuan.. Tuan.. Tuan" Panggilnya menahan darah yang bercucuran dari dalam perut David.


David tersenyum, ia melihat Nadia semakin menangis sambil memanggilnya. "Ck, kamu terlalu rewel" Tidak lama kemudian David jatuh pingsan.


Vincen pun segera mendatangi mereka, ia melihat David terbaring di atas pangkuan Nadia. "Kamu siapa? aku mohon tolong selamatkan dia hiks.. hiks..".


"Minggir" Vincen mengangkat tubuh David, ia berlari menuju mobil yang berada di halaman belakang, kemudian menyuruh Nadia masuk kedalam mobil. Dengan kecepatan tinggi Vincen menginjak pedal gas mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Setibanya mereka disana, tenaga medis yang bertugas di ruang IGD segera berlari kearah mereka. "Dokter, tolong selamatkan dia. Aku mohon tolong selamatkan dia" Tangis Nadia yang sedari tadi.


"Mohon tenang" Ucap sang dokter membawa David masuk. Mereka menggunting pakaian David, melihat darah yang terus menerus berkeluaran dari dalam tubuh David membuat ia banyak kehilangan darah, sehingga David membutuhkan transfusi darah supaya ia bisa di operasi.


"Kalau gitu ambil darah saya saja dok" Ucap Nadia.


"Ada yang tau golongan darah pasien?".


"O" Jawab Vincen.


"Saya O dok, silahkan ambil darah saya sebanyak-banyaknya dok".


"Baiklah, ayo ikut kami" Ajak mereka membawa Nadia keruang operasi. Namun sebelum Nadia masuk, mereka menyuruhnya terlebih dahulu membersihkan tubuhnya. Setelah itu, baru mereka mengizinkannya masuk, disana ia melihat David terbaring lemas di meja operasi.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Bertahanlah, aku mohon bertahanlah" Doa Nadia dalam hati.


"Sudah siap?" Tanya si perawat.


"Iya sus" Jawab Nadia.


Operasi pun langsung berjalan, "Kalau nona merasa pusing, cepat beritahu kami".

__ADS_1


"Iya sus".


Operasi telah berlangsung selama 20 menit, Nadia masih saja menyumbangkan darahnya meskipun ia sudah merasa pusing. Dan pada akhirnya ia pun jatuh pingsan. "Nona, nona nona" Panggil mereka, namun Nadia tidak mendengarnya lagi.


__ADS_2