Ternyata Suami Ku Kepala Mafia

Ternyata Suami Ku Kepala Mafia
Episode 96


__ADS_3

Sesampainya Nadia di depan gedung Vora group, ia langsung menuju ruangan Hendrawan yang berada di lantai atas.


BBRRAAKK..


"Aahh..!!" Pekik Nadia kesakitan.


"Maaf-maaf, saya minta maaf" Ucapnya menunduk melihat Nadia. "Nadia?".


"Yanto, kamu sedang apa disini?".


"Ini tempat kerja aku Nad, lalu bagaimana dengan mu? kenapa kamu berada disini".


Nadia tersenyum, "Ini perusahaan papa aku Yanto. Jadi selama ini kamu bekerja disini?".


"Iya, dan ternyata kamu putri dari bos aku sendiri. Wah, kenapa aku tidak tau itu selama ini".


"Hey, hentikan itu. Ah, iya aku sedang buru-buru Yanto. Sorry yah, lain kali kita mengobrol lagi".


"Iya" Angguk Yanto melihat Nadia berlari kearah lift. Ia tersenyum sangat menakutkan, lalu ia pergi.


Begitu Nadia berada di lantai Hendrawan, ia langsung masuk kedalam. Ia melihat Hendrawan dan asistennya itu berada disana sambil memandangi kotak tersebut dimana ia melihat sebuah boneka di lumuri dengan darah. "Kamu lihat ini Nadia? apa yang harus papa lakukan?".


Nadia membulatkan mata, kemudian ia menyambar surat tersebut yang disampaikan kepada Hendrawan. "Kalau kamu masih berani menggangu kehidupan ku dengan putri mu, aku tidak akan segan-segan membunuh orang terdekat mu. Terutama putri mu hahahahha" Isi dalam surat tersebut.


Nadia berkaca-kaca, ia melihat kembali kearah kotak tersebut dengan tangan bergetar. "Papa mendapatkan ini dari mana?".


"Paket yang sengaja di kirim kemari" Jawabnya.


Nadia melap air matanya, "Pa, boleh Nadia membawanya pulang?".


"Mmmm, kamu boleh membawanya. Dan sampaikan pesan ini kepada David kalau papa tidak akan takut lagi kepadanya. Papa akan melawannya kalau dia sampai berani menyakiti keluarga papa sendiri" Nadia pun segera kembali pulang kerumah membawa kotak tersebut.


Sesampainya ia disana, ia melihat David sedang membersihkan ikan hasil pancingannya itu bersama dengan Bagas dan Vincen. "Kamu sudah pulang?" Senyum David melihat Nadia berjalan kearah dengan mata tajam, "Nadia, ada ap..


PPPLLLAAKKK...


"Nadia" Kaget David.


PPPLLLAAKKK...


"Kenapa? kamu marah hhmmm?" Ucap Nadia hendak menamparnya lagi kalau saja tangan kanan David tidak menahan tangannya. "Lepaskan, lepaskan tangan ku bajingan".

__ADS_1


PPPLLLAAKKK...


Tamparnya menggunakan tangan kiri, "Nadia hentikan!" Bentak David menahan kedua tangan Nadia. "Aku mohon hentikan" Kemudian David menatap kedua mata Nadia yang sangat marah kepadanya. "Ada apa lagi sekarang? kenapa kamu tiba-tiba datang dengan keadaan marah seperti ini?".


"Lepaskan tangan ku bajingan".


"Tidak, aku tidak akan melepaskan tangan mu ini kalau kamu tidak menjawab pertanyaan ku Nadia".


"Lepaskan tangan ku bajingan" Teriaknya diwajah David.


"Baiklah, aku akan melepaskan kedua tangan ini, tapi kamu harus menjawab pertanyaan ku. Sekarang katakan apa yang membuat mu sangat marah".


PPPLLLAAKKK... PPPLLLAAKKK... PPPLLLAAKKK..


David mendapatkan tiga tamparan lagi di wajahnya. Namun kali ini ia sangat pasrah, ia tidak menahan tangan Nadia atau pun memarahinya sampai Nadia benar-benar puas dan menjawab pertanyaannya yang membuat ia seperti ini. "Apa kamu sudah merasa pua..


PPPLLLAAKKK..


"Benar, silahkan aku tidak akan melarang mu".


PPPLLLAAKKK... PPPLLLAAKKK...


David melihat ke kotak tersebut, ia melihat boneka berbentuk anggota keluarga Nadia berada disana di lumuri darah segar. "Kamu mendapatkannya dari mana Nadia? bagaimana bisa kamu menuduh ku melakukan hal menjijikan seperti ini?".


"Apa? hal menjijikkan kamu bilang? hahahaha, aku sudah tau kamu siapa David. Jadi tidak usah berpura-pura lagi".


"Maksud kamu apa Nadia?".


"Mafia bajingan" Jawabnya mengumpat David dengan kasar.


Deng...


Bagaikan disambar petir David membulatkan kedua matanya melihat Nadia. "Kenapa? kamu terkejut atau kamu penasaran dari mana aku tau kalau kamu seorang Mafia? hahahhaha kamu sudah melupakan siapa aku hhhmmm?".


"Nadia" David mencoba menyentuhnya.


"Singkirkan tangan kotor mu itu. Dasar psikopat, kamu lebih dari seorang binatang, kamu itu iblis, kamu itu iblis yang menjelma jadi manusia. Kamu tau itu?".


"Nadia kumohon hentikan".


"Kenapa? apa aku tidak pantas mengatakan itu?".

__ADS_1


"Kumohon Nadia hentikan".


"Kenapa David? kenapa?" Teriaknya.


David mencoba mendekatinya lagi, "Benar, aku akui semua itu benar, apa yang baru saja kamu katakan itu semuanya benar. Tapi aku mohon kamu tenang dulu, mari kita bicara ini dengan baik-baik" Sentuhnya ditangan Nadia.


"Jangan menyentuh ku" Nadia melangkah mundur. "Aku tau kamu pasti ingin membunuh ku setelah aku tau kamu siapa? bukankah dunia mafia kalian seperti itu?".


"Tidak, aku tidak akan menyakiti mu. Aku hanya meminta mu tenang dulu Nadia" David mendekatinya lagi.


Bukannya percaya dengan apa yang baru saja David ucapkan, Nadia malah mengancam David mengeluarkan ponselnya kalau saja dia berani melangkah satu langkah lagi, ia akan memberitahu polisi lainnya siapa dia sebenarnya. "Silahkan beritahu mereka, tapi sebelum itu mari kita bicara dulu".


Nadia menyeringai, "Kamu pikir aku bodoh David?".


"Kamu tidak bodoh Nadia, kemarilah. Aku hanya ingin memeluk mu".


"Dasar bajingan, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu setelah aku tau kamu siapa sebenarnya?" Nadia menekan sebuah tombol di ponselnya menghubungi Bayus, namun David telah duluan merampas ponsel tersebut dari tangannya, lalu memeluk tubuh Nadia yang sedari tadi bergetar. "Lepaskan, lepaskan aku".


"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu, kamu milik ku, kamu milik ku, hanya kamu yang aku miliki, hanya kamu satu-satunya keluarga ku Nadia".


"Aku tidak milik mu dan kamu bukanlah keluarga ku" Dengan kuat Nadia mendorong tubuh David sampai pelukan itu terlepas.


"Nadia".


"Jangan bergerak, kalau tidak" Nadia melirik kamar David, lalu berlari masuk kedalam sana mencari sesuatu yang bisa melindungi dirinya kalau sampai David berbuat macam-macam.


"Nadia, Nadia" Panggil David mengejarnya. "Nadia buka pintunya. Apa yang kamu lakukan disana?" Nadia tidak menjawabnya, ia sibuk membuka semua laci di dalam kamarnya. "Nadia" Panggilnya lagi. "Kalau kamu tidak membuka pintu ini, aku akan mendobra..


Ceklek!


"Jangan bergerak" Nadia menodong pistol yang ia temukan di bawah bantal tempat tidur David.


"Nadia" Kaget David mengangkat kedua tangannya . "Kumohon kamu tenang dulu Nadia, benda itu sangat berbahaya, kamu bisa menyakiti dirimu sendiri".


"Aku tidak perduli" Jawab Nadia.


"Aku mohon Nadia, kamu tenang dulu. Setelah kita bicara, terserah kamu membawa ku kekantor polisi atau membunuh ku sekarang juga terserah kamu. Sekarang letakkan pistol itu, nanti kamu terluka".


Tertawa, "Setelah itu kamu mengambil pistol ini dan langsung membunuh ku, bukankah aku benar?".


"Tidak, aku tidak akan menyakiti mu Nadia. Aku berjanji aku tidak akan menyakiti mu. Sekarang berikan benda itu, kumohon".

__ADS_1


__ADS_2