
Setelah David berhasil pergi dari sana tampa sepengetahuan Gery. Mereka langsung berangkat ke indonesia hari itu juga.
Di dalam pesawat, Bagas melihat wajah letih David yang tidak ia ketahui penyebab tuannya itu merasa gelisah. Kemudian David menghela nafas, lalu ia melihat keluar jendela kaca pesawat. "Gery..!!" Gumam David.
Setibanya mereka di indonesia, hari sudah gelap. David meminta kepada Bagas dan Vincen untuk tidak mengikutinya kemana pun ia pergi. "Tuan, sebaiknya tuan istirahat saja" Larang Vincen.
"Iya tuan, sebaiknya tuan kembali pulang. Serahkan kepada kami semua" Sambung Bagas.
"Baiklah, jangan sampai kalian melakukan kesalahan".
"Siap tuan".
David segera pergi dari sana menuju apertemen. Sedangkan Diva dan Nadia yang berada di club tersebut, mereka berpenampilan sama halnya pada tamu disana. "Nadia, kamu tunggu disini".
"Mbak mau kemana?".
"Kamu tunggu saja disini" Jawab Diva meninggalkan Nadia yang berada di depan si bartender. Kemudian Nadia duduk kembali tampa ia sadari kalau saja si bartender telah merasa curiga kepadanya dan juga Diva.
Menunggu Diva datang kembali, Nadia merasa sedikit pusing, "Aaahhh.. Kenapa kepala ku pusing sekali.. Aahhhh" Nadia pun jatuh pingsan.
Si bartender tersenyum, lalu ia membawa tubuh Nadia pergi dari sana. Di dalam kamar, ia membaringkan tubuh Nadia, lalu ia menghubungi nomor Bagas, namun Bagas tidak menjawabnya. Setelah itu ia menghubungi nomor Vincen, tetapi sama halnya dengan Bagas.
DDDRRRRTTTTT... DDDRRRTTTTT...
"Ada apa?" Tanya Vincen begitu ia melihat beberapa panggilan tak terjawab.
"Tuan, saya menemukan satu polisi wanita lagi sedang menyelidiki kita. Saya sudah mengamankannya".
"Ck, Kamu jangan menyentuhnya dulu, Saya akan menghubungi tuan David".
"Baik tuan".
Sambil menunggu David tiba disana, ia mencoba mendekati Nadia yang masih tertidur, "Cantik. Sayang sekali jika akhirnya kamu berakhir ditangan tuan David" Gelengnya.
Hampir 1 jam lamanya ia menunggu David tiba disana, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun telah berada di hadapannya. "Tuan, maaf saya harus memanggil tuan malam-malam seperti ini datang kemari" Ucapnya.
"Dimana?".
"Mari ikut saya tuan" Ajaknya membawa David kedalam kamar.
Ceklek!
"Disana tuan".
"Kamu boleh pergi".
"Baik".
Kemudian David mendekati Nadia kearah ranjang, dengan mata memicing David malah melihat Nadia terbaring lemas. "Hhhmmmsss, apa yang sedang dia lakukan disini?" Kesal David.
DDDRRRRRTTTT.. DDDRRRRTTTTT..
Mendengar ponsel Nadia berdering, David menyambar ponselnya. Disana ia melihat 16 panggilan tak terjawab dari senior Diva.
Ting..
"Nadia, kamu dimana? apa kamu baik-baik saja? kenapa kamu tidak menjawab telpon ku" Isi pesan Diva.
__ADS_1
DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTTT...
David segera mengirim pesan kepada Diva, "Maaf, aku harus pergi" Balasnya.
Diva yang membaca isi pesan masuk Nadia dibuat keheranan, "Kamu pergi kemana Nadia? aku menunggu mu disini?".
David mematikan ponsel Nadia tampa niat ingin membalas pesan masuk Diva. Lalu David membawa tubuh Nadia pergi dari sana menuju mobilnya yang terparkir di parkiran VIP. Namun, Diva yang berkeliling mencari keberadaan Nadia, ia melihat seorang pria bertubuh kekar membopong tubuh Nadia.
"Berhenti disana" Teriak Diva mengeluarkan pistolnya.
David menghentikan langkahnya. Ia tau kalau orang yang baru saja menghentikan langkahnya itu adalah rekan kerja Nadia.
"Berhenti disana" Ulangi Diva kembali mendekati David. "Jangan bergerak, kalau kamu berani bergerak saya akan menembak mu" Jalannya di hadapan David.
Melihat Nadia berada di gendongan David, membuat Diva sangat marah dan semakin menodong pistolnya kepada David. "Lepaskan dia. Cepat".
David mencoba menahan emosi, lalu ia melihat Diva dengan tatapan tajam, "Minggir, jika kamu tidak ingin terluka" Tegas David.
Diva tertawa sinis, "Kamu tidak tau siapa dia? dia seorang polisi. Sedikit saja kamu berani menyentuhnya..
"Aahhhh" Rengek Nadia yang baru tersadar.
David pun langsung melepaskan tubuhnya hingga Nadia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. "Nadia" Tarik Diva.
"Mbak Diva. Kita ada dimana?".
"Kita ada di parkiran, pria itu ingin mencuri mu" Jawab Diva masih menodong pistolnya kepada David.
Nadia melirik kearah pria yang baru saja Diva tunjuk. "Tuan David? a-apa yang sedang tuan lakukan disini?" Kaget Nadia.
"Kamu mengenalnya?" Tanya Diva.
"Kamu yakin pulang bersama dengan dia?".
"Iya mbak".
"Ya sudah, kalau terjadi apa-apa cepat beritahu aku".
"Iya mbak" Angguk Nadia. "Kalau gitu kami pergi duluan mbak. Ayo tuan" Ajak Nadia.
Didalam mobil susana disana tampak sangat hening tampa ada percakapan dari antara mereka berdua, "Tuan" Panggil Nadia.
David terdiam.
"Tuan" Panggilnya lagi.
David masih saja terdiam.
Ketiga kalinya ia mencoba memanggilnya kembali, namun David yang masih terdiam, akhirnya Nadia mengalah. Setelah 20 menit menempuh perjalanan menuju apertemen, kini mereka telah tiba disana. "Tuan aku lapar" Ucap Nadia mengikuti langkah kaki David.
BBBRRRAAKKK..
"Aahhh...!! Kenapa tiba-tiba berhenti sih?" Rengek Nadia menyentuh keningnya. "Aahhhh, ini sakit sekali".
David memutar tubuhnya, lalu ia melihat Nadia yang masih merengek seperti anak kecil. "Ini, gunakan ini untuk membeli makanan" David langsung memasuki lift begitu ia memberikan kartu kredit di tangan Nadia.
"Astaga.. Dia benar-benar tidak punya perasaan. Bagaimana bisa dia menyuruhku membeli makanan sedangkan aku terluka seperti ini" Kesal Nadia berjalan menuju loby.
__ADS_1
Di dalam Restoran, Nadia masih melihat beberapa pasangan berada di dalam restoran. Memilih mengabaikan mereka, Nadia segera memesan beberapa menu untuk dirinya dan juga David.
Sambil menunggu pesanan selesai, Nadia melihat sekitar restoran itu kembali. "Hhhmmm, bukankah itu kak Lisa? sedang apa dia disini sampai jam segini?" Gumam Nadia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam lebih. "Dan laki-laki itu, sepertinya bukan pacar kak Lisa deh. Lalu siapa laki-laki itu?".
"Mbak, pesanannya sudah selesai. Total semua 750 ribu" Ucap si pelayan restoran.
"Ini mbak".
"Tunggu sebentar yah".
"Mmmmmm" Angguk Nadia melirik kearah Lisa dan laki-laki yang berada di hadapan sang kakak.
"Ini mbak, terima kasih".
"Iya, sama-sama" Senyum Nadia menerima kartunya kembali. Sebelum meninggalkan tempat tersebut, Nadia ingin sekali menghampiri Elisa, tetapi ia takut Elisa malah marah kepadanya. "Biarkan saja" Gumam Nadia keluar dari sana.
Saat menuju lift, "Eekkhh tunggu" Teriak Nadia menahan mereka. Namun pintu lift tersebut sudah tertutup, "Yah" Dengus Nadia menunggu lift yang lain.
"Permisi" Panggil seseorang dari belakang.
"Iya" Jawab Nadia.
"Apa kartu ini milik nona?".
"Astaga, kenapa aku malah menjatuhkannya sih? terima kasih ya" Senyum Nadia rama.
"Sama-sama nona" Balasnya tersenyum. "Apa nona sedang menunggu lift?".
"Iya".
"Aku juga".
"Hhhmmmm?".
"Tidak, nona tinggal di lantai berapa?".
"38".
"Sama, aku juga tinggal di lantai itu. Kenapa kita tidak menggunakan lift eksekutif saja?".
"Emang bisa?".
"Bisa, siapa bilang tidak bisa? ayo" Ajaknya membawa Nadia menggunakan lift eksekutif. "Silahkan masuk".
"Terima kasih".
Didalam lift, si pria tersebut menatap Nadia dari atas sampai bawah, namun Nadia yang terlihat biasa saja tidak merasakan curiga kepadanya.
Ting..
"Akhirnya. Terima kasih banyaknya" Senang Nadia pergi meninggalkan dirinya.
"Nona tunggu".
"Iya?".
"Bisa aku bertanya nama nona siapa?".
__ADS_1
"Nadia" Jawabnya. "Permisi".