
Setelah selesai mereka segera keluar dari dalam ruangan tersebut, kemudian Nadia mencari keberadaan Wilson yang belum ia lihat sedari tadi. "Vita" Panggilnya wanita itu.
"Aahh, iya kak" Senyum Vita.
"Kalian ikut aku, ada tamu penting yang akan kalian layani" Ajaknya membawa Nadia dan Larisa kesebuah ruangan yang sangat rahasia hanya di tempati tamu penting. Kemudian melihat mereka berdua dengan tegas, "Ingat, jangan sampai kalian berdua melakukan kesalahan. Meksipun kalian anak baru disini, aku percaya kalian akan melakukannya dengan baik. Kalian mengerti?".
"Iya kak, jangan khawatir" Angguk Nadia.
"Bagus, sekarang kalian masuk".
Ceklek!
Dengan mata membulat Nadia melihat mereka semua telah berada disana dengan benda haram yang berada di atas meja dan juga uang merah di dalam tas. "Siapa mereka?".
Si wanita tersenyum, "Mereka yang akan melayani tuan-tuan semua" Jawabnya. "Ayo, isi gelas mereka".
"Baik kak" Angguk Nadia dan Larisa berjalan mendekati mereka. Sedangkan pria yang duduk diujung sana, belum menyadari kedua wanita itu adalah Nadia kalau saja bawahannya itu tidak memanggil saat sedang sibuk dengan ponselnya.
Lalu ia melihat ke depan, dan saat itu juga kedua mata Bagas bertemu dengan kedua mata Nadia yang belum menyadari kalau pria yang di ujung itu adalah Bagas. "Sial, bagaimana bisa dia berada disini?" Gumam Bagas memalingkan wajahnya.
"Ada apa tuan?" Tanya Wilson.
"Kenapa mereka ada disini?" Tanya balik Bagas.
"Siapa tuan? kedua wanita itu?".
"Iya, kenapa mereka berada disini?".
Wilson tersenyum, "Mereka berdua calon istri saya tuan. Bagaimana menurut tuan? mereka berdua sangat cantik bukan?, sehingga aku tidak bisa tidur hanya memikirkannya saja. Tuan lihat wanita itu? aku sangat menyukai keberaniannya, jarang-jarang ada wanita seperti dia" Ucapnya menunjuk Nadia yang sedang menuang alkohol.
Bagas memijit keningnya kesal, lalu menghubungi nomor David. Namun nomor David malah tidak aktif membuat Bagas semakin kesal. "Ada apa tuan? ".
"Tidak, saya mau ke kamar mandi" Jawab Bagas keluar dari dalam sana. Lalu Wilson memanggil Nadia menyuruhnya duduk disana bersama dengan Larisa.
"Sayang" Senyum Nadia.
"Ayo duduk disini" Senang Wilson mengulurkan tangan.
"Mmmmmm" Duduknya disamping Wilson, lalu memperhatikan mereka satu persatu. "Ini semua apa?".
"Hahahah, kamu cukup polos sekali sayang. Kamu mau tau ini apa?".
"Mmmmmm".
"Kamu mau mencobanya supaya kamu tau rasanya seperti apa?".
__ADS_1
"Bolehkah?".
"Tentu saja. Ayo berikan itu kepada ku..
**BBBRRAAKK..
Doorrr**...
"Jangan bergerak" Teriak Bayus memberi peringan. Kemudian memberi kode kepada Nadia supaya menahan Wilson, "Kami dari kepolisian, jangan ada yang bergerak".
Mereka semua terdiam mengangkat tangan, tidak lama kemudian bantuan dari polisi terdekat telah tiba disana. Namun tampa mereka ketahui, anak buah Bagas yang juga berada disana langsung menodong pistolnya kepada Nadia saat ia melihat Nadia mengeluarkan borgolnya. "Nadia awas" Teriak Zico melihat kedua anak buah Bagas berhasil menahan Nadia dan Larisa.
"Aahhh" Kaget Nadia. Lalu ia melihat Zico menodong pistolnya juga, "Zico tidak apa-apa, tidak apa-apa" Ucap Nadia mengajak Zico supaya tidak gegabah. Kemudian membawa mereka keluar dari sana, "Zico tidak apa-apa, percaya kepada ku".
"Nadia. Tidak" Geleng Zico.
"Tidak apa-apa, cepat urus mereka".
"Tapi Nad. Mmmmm" Angguk Zico berkaca-kaca.
Begitu Nadia dan Larisa mereka bawa dari dalam sana, para polisi pun langsung masuk kedalam dengan pistol yang berada di tangan mereka masing-masing sampai membuat pengunjung disana berkeluaran untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.
Setelah itu mereka menyuruh Nadia dan Larisa masuk kedalam mobil, namun Bagas yang tidak mereka ketahui entah dimana membuat mereka terpaksa langsung pergi begitu saja sambil mengirim sebuah pesan di ponselnya.
"Diam" Ucapnya.
Nadia mendengus menyeringai kepada pria yang di sampingnya itu. "Kamu pikir kamu siapa menyuruh saya diam?".
PPPLLAAKK..
"Kak" Kaget Larisa.
"Tidak apa-apa Risa".
"Kakak baik-baik saja? Yah, kamu kasar sekali menampar seorang wanita? dasar laki-laki tidak berperasaan" Si pria itu tertawa mengejek mereka berdua. "Dasar laki-laki psikopat".
Setibanya mereka disebuah gedung tua dengan mata tertutup. Mereka segera membuka penutup di mata Nadia dan Larisa, lalu ia melihat tempat itu terlihat sangat kumuh dan menakutkan, Dan tempat itu juga terlihat seperti tempat alat bengkel mobil rongsokan dan di dalamnya mereka melihat pria-pria bertubuh besar disana sedang berjaga menggunakan jaket hitam.
"Kak, apa kita akan berakhir disini?".
"Tidak Risa, kita akan keluar dari dalam sini dengan selamat. Percaya kepada ku" Lalu Nadia melihat si pria itu, "Kumohon, tolong lepaskan dia. Dia tidak tau apa-apa, dia hanya anak baru yang mengikuti perintah ku".
Larisa menangis, "Iya, saya masih anak baru yang tidak tau apa-apa. Tolong selamatkan aku, aku mohon hiks.. hiks.. Ibu ku pasti sedang mengkhawatirkan aku dan juga ayah ku. Tolong lepaskan aku".
Mereka tertawa melihat Larisa yang sangat ketakutan meminta supaya mereka membebaskan dirinya. Namun melihat polosnya wajah Larisa membuat mereka percaya kalau ia tidak tau apa-apa dan hanya mengikuti perintahnya saja."Baiklah, tapi sayang kali kalau kami melepaskan mu begitu saja. Bagaimana kalau kita membuat persyaratan?".
__ADS_1
"Yah, Lepaskan saja dia. Saya akan memenuhi semua persyaratan yang akan kalian minta" Jawab Nadia merasa pusing di kepalanya.
"Hahahhaha, baik sekali wanita itu. Apa kalian berdua saudara?".
"Tidak, cepat lepaskan dia".
"Baiklah. Tapi kalau sampai kamu buka mulut, mencari mu sampai ke ujung dunia tidaklah hal yang susah untuk kami lakukan. Kamu mengerti?".
"Iya" Angguk Larisa melap air matanya.
"Bawa dia pergi" Mereka langsung membawa Larisa pergi dari sana dengan mata tertutup. Kemudian si pria itu mendekati Nadia, lalu memperhatikan wajahnya. "Kenapa aku merasa seperti pernah melihat mu?".
"Aku tidak mengenal mu" Jawab Nadia jatuh pingsan.
"Hey, kamu pingsan?".
DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTT...
"Iya tuan" Jawabnya mengangkat ponsel.
"Kalian dimana?" Tanya Bagas.
"Kami di markas tuan, kami berhasil menyelamatkan diri dari polisi yang tiba-tiba datang. Tuan berada dimana? apa tuan baik-baik saja".
"Mmmmm" Gumam Bagas.
"Tapi kami membawa kedua wanita itu tuan pergi dari sana untuk menyelamatkan diri ke markas".
"Apa?" Kaget Bagas membuang rokoknya.
"Ada apa tuan?".
"Iiiisssss" Bagas mematikan ponsel, ia segera meninggalkan tempat tersebut menggunakan sepeda motor milik si wanita pelayan disana menuju markas tempat Nadia saat ini berada. Sesampainya Bagas, ia langsung masuk kedalam melihat anak buahnya itu sedang memandangi wajah Nadia yang sedang tertidur.
"Hentikan, tuan bagas sudah datang".
Ia bangkit berdiri melihat wajah Bagas yang sangat marah, "Tua..
BBBUUNNGGHH...
"Tuan!" Kagetnya. "Kenapa tuan memukul saya?".
BBUUNNGGHHH..
"Aahhh.." Ia menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Ia sama sekali tidak tau alasan Bagas tiba-tiba memukulnya dengan keadaan sangat marah. "Tolong maafkan saya tuan, tapi saya tidak tau letak dari kesalahan saya dimana" Ucapnya memohon di hadapan Bagas.
__ADS_1