
Anggita memaksakan senyumnya, mendengar Alan menyebutnya sebagai perempuan yang baik. Padahal dalam hati kecilnya, ia merasa telah menjadi perempuan paling kejam yang telah hadir dalam hidup pria sebaik Alan.
‘Apa aku memang ditakdirin memiliki peran seperti ini? Menyakiti dua hati pria yang begitu menyayangi dan mencintaiku,’ tanya Anggita dalam hatinya.
“Mau aku anterin pulang? Udah malam juga,” tawar Alan.
“Nggak usah. Lagian sepeda aku juga ada lampunya,” tolak Anggita diiringi gelengan pelan.
“Lampu sepeda itu nggak menjamin kamu aman. Sebentar lagi juga kan kita bakal jarang ketemu. Masih ada banyak hal yang perlu kita bahas, Anggita,” bujuk Alan.
Akhirnya Anggita pun mengizinkan Alan mengantar dirinya pulang.
Dalam perjalanan menuju kontrakan Anggita, Alan mulai mengajukan beberapa pertanyaan tentang kehidupan Anggita kedepannya.
“Kamu mau kerja di mana, kalau udah nggak di rumahku lagi?” tanya pria itu menoleh sekilas ke arah kekasihnya, sebelum kembali fokus menatap jalanan.
“Belum tahu. Tapi nanti aku coba cari-cari lowongan kerja di sekitar sini,” jawab Anggita seadanya.
“Kalo nggak ada, aku mau coba bangun usaha sendiri,” lanjut Anggita mengingat uang yang dulu papa Galang berikan masih ada dengannya. Ia berencana menggunakan uang itu, dan akan kembali menggantinya, seperti yang ia lakukan beberapa tahun lalu.
“Kamu mau bangun usaha apa? Mau aku bantuin?” tawar Alan dengan senang hati.
Namun kekasihnya lebih dulu menolak. “Aku cari kerja lain dulu. Kalau nggak ada baru aku pikirin mau buka usaha apa,” tuturnya.
“Iya, kamu kabarin aku aja. Aku siap bantu kamu kapan pun,” ujar Alan dengan raut muka sumringah.
Anggita hanya mengangguk pelan. Ia terbiasa hidup mandiri selama ini, dan ia memutuskan untuk tidak menyusahkan siapa pun.
***
Sudah ke sana ke mari Anggita mencari pekerjaan, tetapi tidak ada tempat untuk ia bekerja, hingga akhirnya ia pulang dengan raut muka yang sangat lelah.
“Kakak kenapa?” tanya Jihan berjalan menghampiri Anggita yang terduduk lemah lantai kamarnya.
“Nggak papa. Tadi sekolah kamu gimana?” tanya Anggita mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Ia tidak ingin Jihan ikut dipusingkan oleh masalah yang sedang ia alami. Dia hanya ingin adiknya sekolah dengan tenang dan nyaman, tanpa harus memikirkan biaya yang harus dikeluarkan.
“Kak, kalo Kakak lagi ada masalah, Kakak cerita ya sama Jihan. Jihan udah gede, Kak. Masa Kakak terus yang dengerin cerita Jihan. Jihan juga mau denger cerita Kakak,” ujar Jihan ikut duduk lesehan di samping Anggita.
Anggita menarik napas panjang tersenyum lebar menatap adiknya. “Kakak mau bikin usaha, tapi masih bingung mau usaha apa. Kamu ada ide nggak?” tanya Anggita menatap Jihan yang kini langsung berpikir keras.
“Gimana kalo kita buka toko kue?” usul Jihan.
Namun, tidak berselang lama gadis itu justru menggeleng kuat. “Kita jualan kue aja dulu. Nanti kuenya kita titip ke warung-warung, terus Jihan juga jualan di sekolah. Atau nggak kita jualannya online aja, Kak?” papar Jihan dengan mata berbinar.
“Kamu beneran nggak papa, kalo sekolah sambil jualan kue?” tanya Anggita ragu.
“Ya nggak papa, Kak. Memang salahnya di mana? Kan kita mau jualan makanan halal,” jawab Jihan polos.
“Bukan itu yang kakak maksud, Sayang. Kakak mau kamu itu fokus sekolah aja. Nggak perlu susah-susah ikut cari uang,” terang Anggita.
Akan tetapi Jihan mulai paham bagaimana kakaknya bekerja keras siang malam untuk kehidupan mereka berdua. Oleh sebab itu, ia pun kini bersikeras ingin membantu kakaknya mencari uang.
“Kan nanti kalo uangnya udah terkumpul, terus dagangan kita laris, kita bisa buka toko kue sendiri, Kak,” urai Jihan.
“Makasih ya, Sayang,” ucap Anggita seraya merengkuh tubuh kecil Jihan ke dalam dekapannya.
“Tapi kamu harus janji, sekolah dan belajar tetap jadi nomor satu,” pesan Anggita setelah ia melepas dekapannya.
“Iya, Kak. Jihan janji akan belajar yang rajin dan lebih giat lagi,” jawab Jihan.
Setelahnya Anggita menyuruh Jihan untuk bertukar pakaian selagi ia menyiapkan makan siang untuk mereka berdua. Selesai makan, Anggita meminta Jihan untuk belajar dan dia akan menelusuri internet untuk mencari cara membuat kue yang enak, serta bahan-bahan yang harus mereka siapkan.
Cukup lama mereka berkutat dengan kegiatan masing-masing, hingga keduanya menuntaskan semua hal yang mereka kerjakan.
Anggita memutuskan untuk membuat kue dengan beragam bentuk dan rasa, serta dengan bahan yang berbeda dari umumnya.
“Serius Kakak mau buat dari sayuran?” tanya Jihan.
“Dua rius! Karena sekarang masih jarang orang buat kue donat dengan bahan sayur-sayuran. Nanti kita coba dulu buat sedikit, untuk menguji berapa lama donatnya bisa bertahan, dan bagaimana rasanya,” terang Anggita.
__ADS_1
Netra Jihan semakin bercahaya mendengar penjelasan Anggita perihal bisnis yang akan mereka rintis bersama.
“Jadi, bisa aja nanti orang-orang yang anaknya nggak suka makan sayuran, jadi suka karena donat buatan kita,” tutur Anggita.
Jihan kemudian mencatat semua bahan-bahan dan alat yang mereka butuhkan. Kemudian bergegas menuju pasar untuk membeli semua bahan dan alat yang sudah mereka catat.
“Kita pergi naik apa, Kak?” tanya Jihan saat ia telah selesai bersiap.
“Kita pergi naik angkot aja biar mudah bawanya,” jawab Anggita.
Mereka lalu berjalan kaki menuju jalan raya. Menunggu angkot yang melintas. Namun, cukup lama mereka menunggu, tidak banyak angkot yang lewat. Ada juga sudah terisi penuh oleh penumpang yang sebagian besar merupakan anak sekolah.
Diam-diam Jihan mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi Galang agar menemui mereka di tempat mereka menunggu.
Namun, tiba-tiba Anggita memanggil dirinya. Membuat Jihan langsung mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
“Ayo naik,” ajak Anggita menarik tangan adiknya agar naik ke angkot lebih dulu.
“Eh, tapi, Kak ….”
Ucapan Jihan terhenti saat kini mereka sudah berada di dalam angkot yang mulai melaju perlahan. Sedang pesannya baru saja terkirim pada Galang.
‘Kakak jemput kamu sekarang,’ batin Jihan membaca pesan dari Cakra.
Kelopak mata Jihan melebar, melihat Galang membalas pesannya hanya dalam hitungan detik. Padahal ia berharap pria itu belum membaca pesannya, agar dapat ia hapus secepat mungkin.
‘Jihan sama Kak Anggita udah di angkot, Kak,’ ketik Jihan pada room chatnya bersama Galang.
Ia berharap Galang masih belum pergi menjemputnya. Namun, hingga mereka sampai di pasar, tidak ada lagi balasan pesan dari Galang, membuat Jihan sedikit bernapas lega karena tanda centang dua tersebut sudah berganti menjadi warna biru.
Sesampainya di pasar, mereka mulai memilih sayuran seperti wortel, bayam. Bahkan ada umbi-umbian yang juga Anggita beli.
“Kita nggak bisa jual makanan ini, kalau kita nggak mencicipinya lebih dulu,” kata Anggita saat ia bertanya kenapa kakaknya langsung membeli beragam sayuran.
***
__ADS_1