The Last Love

The Last Love
Tidak Sesuai Isi


__ADS_3

“Kamu itu lagi hamil, Ana. Jadi nggak boleh pergi sendirian,” jawab Anggita tetap kukuh mengantar Ana mencari makanan di dapur.


Akhirnya Ana pun mengizinkan Anggita untuk menemaninya. Kehadiran Anggita membuat ia merasakan kehadiran sosok kakak perempuan yang tidak pernah ia rasakan. Meskipun Galang tak kalah perhatiannya dengan Anggita, tetap saja punya kakak yang sejenis itu rasanya tetap berbeda. Galang dengan sikapnya yang tegas, dan Anggita yang selalu memperhatikannya dengan kelembutan dan penuh kasih sayang, sehingga ia terkadang merasakan kasih sayang seorang ibu, yang tidak pernah diberikan oleh almarhumah mamanya.


Sesampainya di dapur, Anggita membantu Ana membawa beberapa kue, buah, dan camilan lain yang ada di kulkas.


“Jangan minum-minuman bergas dan bersoda, nggak baik untuk janin kamu, Ana,” ujar Anggita saat Ana hendak mengambil sekaleng minuman bersoda yang ada di pintu lemari pendingin.


“Terus aku minum apa?” tanyanya dengan raut muka ditekuk. Meneguk minuman dingin itu sangatlah nikmat bagi Ana.


“Minum ini aja,” jawab Anggita mengambil beberapa susu kotak dan memberikannya pada Ana.


Karena Anggita memberikan dan demi kebaikannya, Ana pun menerima susu tersebut.


“Sudah?” tanya Anggita melihat tangan mereka sudah penuh dengan makanan.


“Udah, Kak. Nanti malah jatuh kalo kebanyakan bawanya,” jawab Ana menyengir lebar, karena sekarang saja jumlahnya sudah sangat banyak.


Dengan perlahan, mereka berjalan menaiki tangga. Anggita hanya menunggu di depan pintu, tidak enak memasuki ruang pribadi Ana, ditambah di dalam ada Kevin.


“Makasih ya, Kak,” ucap Ana setelah semua makanan yang mereka bawa sudah berada di kamar.


“Sama-sama, jangan terlalu banyak makannya ya, nggak baik juga makan jam segini,” pesan Anggita sebelum meninggalkan bilik tidur Ana.


Baru saja ia hendak menaiki tangga, terlihat Galang berjalan berlawanan arah dengannya.

__ADS_1


“Galang, aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Anggita saat mereka berhenti pada anak tangga yang sama.


“Ya udah, kalo gitu kita ngobrol di atas aja,” jawab Galang kembali naik menuju rooftop rumahnya.


Baru saja mereka sampai di atas, lambaian angin malam lebih dulu menyapa mereka. mengantarkan rasa dingin, meskipun Anggita masih mengenakan cardigan yang Galang berikan.


Cantik. Mantan kekasihnya terlihat begitu cantik dengan dress panjang serta rambutnya yang terhempas oleh tiupan angin. Temaram cahaya lampu rooftop yang jatuh mengenai wajah Anggita, membuat wajahnya tampak semakin teduh.


‘Sadar, Lang. Sadar!’ batin Galang mengingatkan dirinya sendiri.


“Kamu mau ngomong apa?” tanya Galang berjalan menuju sofa yang ada di dekatnya.


Anggita yang terpana dengan keindahan malam di hadapannya, nyaris lupa dengan tujuan awalnya mencari Galang.


“Laras, kamu mau ngomong apa?” ulang Galang saat gadis di dekatnya masih bergeming.


Kedua alis Galang tertarik ke dalam, hampir menyatu tepat di tengah atas batang hidungnya. Manik mata pria itu memicing, dengan bibir sedikit mengerucut.


“Pulang?”


“Iya,” jawab Anggita singkat dan padat.


“Apa aku alasan kamu mau cepat-cepat kembali ke kota itu?” tanya Galang meletakkan kaleng minumnya yang masih berisi setengah di atas lantai, dan berjalan mendekati Anggita.


“Kamu nggak nyaman ketemu aku?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Cepat atau lambat aku tetap akan kembali ke sana. Kita juga nggak ada apa-apa. Nggak ada alasan untuk aku tetap berada di sini,” terang Anggita tanpa rasa ragu.


Ia bahkan membalas tatapan Galang. Saling menyelami kedalaman manik mata satu sama lain. Mencari sesuatu yang tersembunyi di sana.


“Paling nggak pikirin, orang-orang yang udah lama nyari kamu dan hampir putus asa karena kamu nggak kembali selama bertahun-tahun. Masa lalu kamu bukan cuma tentang aku, Laras. Ada orang-orang yang juga selama ini sayang dan rindu sama kamu. Sekarang mereka udah ketemu sama kamu, paling nggak luangin waktu kamu untuk ketemu dan pamitan dengan cara yang lebih baik dari sebelumnya,” tutur Galang mengingatkan. Jika masih ada Citra dan Farah yang begitu menyayangi dia dan Jihan. Bahkan mereka pun juga membantu Anggita dengan tidak terlalu dekat dengannya saat resepsi pernikahan Ana.


“Mau sebaik apa pun cara aku berpamitan, kami tetap akan pisah lagi, Galang,” jawab Anggita dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah lelah menangis seharian di bawah guyuran hujan, yang masih menyisakan rasa sakit di kepalanya, dan ia tidak ingin kembali menangis di hadapan Galang sekarang.


“Paling nggak mereka tahu kamu pergi ke mana, dan kamu baik-baik aja. Kamu tenang aja, mereka nggak akan ngerusak hubungan kamu sama pacar kamu. Kalau memang itu yang kamu khawatirin. Kalau mereka egois, mereka akan kejar kamu saat resepsi waktu itu. Tapi buktinya apa? Nggak, Ras. Mereka nunggu aku untuk jelasin semua, dan mereka nggak ganggu kamu. Cukup dengan aku kamu bangun tembok pembatas setinggi mungkin, tapi jangan dengan mereka. Kamu bisa temuin mereka dengan cara yang beda, dan buat kisah baru untuk kamu ceritain ke pacar kamu tentang pertemuan kalian,” ungkap Galang tidak ingin Anggita menyia-nyiakan orang-orang tulus yang selama ini menyayanginya, hanya untuk menjaga perasaaan dan hubungan yang sudah ia bangun lama.


“Aku nggak tahu gimana mau ketemu mereka. Mereka juga kerja di kantor kamu, nanti kalo dia mikir aneh-aneh gimana?” jujur Anggita.


Ia sedih karena Galang terkesan memarahi dirinya sekarang, padahal ia sudah menyiapkan diri untuk tidak terpancing emosi, ataupun membuat keributan lagi di antara mereka.


“Kalau kamu terus-terusan cuma mikirin perasaan dia. Siapa yang bisa ngerti perasaan dan diri kamu, selain kamu sendiri Laras? Oke. Untuk pertemuan kalian, aku akan bicarain sama mereka. Tapi aku minta, kamu tunda kepulangan kamu dua atau tiga hari lagi,” pungkas Galang.


Lelah bicara panjang lebar pada Anggita membuat tenggorokannya kembali kering, sehingga Galang mengambil minumannya, dan meneguknya hingga tandas.


Setelah menghabiskan minumannya, Galang membuatkan Anggita susu jahe untuk menghangatkan tubuh mantan kekasihnya itu.


“Ini minum dulu,” ucap Galang menyodorkan sebotol susu jahe hangat pada Anggita yang diterima dengan baik oleh gadis itu.


Anggita meniup minuman di tangannya, dan menyesapnya perlahan. Rasa hangat mulai menjalar di tenggorokkannya hingga perut, membuat rasa dingin di tubuhnya mulai menghilang dan ia dapat menikmati suasana malam dari ketinggian dengan cukup tenang.


“Kertas itu udah lama banget. Jadi kamu nggak perlu terlalu yakin dengan isinya,” kata Anggita setelah keheningan menguasai sekitar mereka.

__ADS_1


“Aku nggak harus dengar kata-kata kamu tentang surat itu,” jawab Galang tak goyah sedikitpun dengan rasa yang ada di hatinya, dan hal-hal yang ia yakini tentang perasaan Anggita.


***


__ADS_2