
“Karena kakak yakin dengan kata hati kakak,” jawab Galang.
Ia sama sekali tidak menceritakan perihal surat yang ia temukan itu, dan kemungkinan besar hanya Jihan yang tahu. Sebab tanpa diminta pun, gadis itu kerap membantu dirinya.
“Jadi, Kakak mau Ana ngelakuin apa?” tanya Ana setelah berhasil mengontrol diri dan menghentikan tangisnya.
Mereka berdua saling bertukar ide, dan berdiskusi dengan serius. Ana pun mendengarkan cerita Galang dengan jelas tentang pekerjan dan semua hal yang Anggita lakukan sekarang.
“Ya udah, Kakak tinggal tunggu aja kabar dari aku. Aku pikirin dulu rencananya apa, biar nggak keliatan banget, kalo semuanya udah kita rencanain,” ucap Ana mengakhiri perbincangannya bersama Galang.
“Tapi kamu janji ya, jangan sampe stress karena bantuin kakak soal ini,” pesan Galang masih terus mengkhawatirkan keadaan adiknya.
Ana mengangguk dengan seutas senyum lebar terukir di bibir indahnya.
“Iya, ini nggak sulit, kok,” jawab Ana seraya bangkit dari tempat duduknya dan pergi menuju kamar tidurnya.
Setelah tiba di kamar tidurnya, Kevin langsung bertanya pada sang istri apa yang mereka bicarakan.
“Biasa, Kak Galang. Dia takut banget calon keponakannya kenapa-kenapa. Jadi, tadi dia nawarin aku untuk cari koki baru, sama perawat untuk jagain aku,” jawab Ana.
Ia kemudian menunduk, mengusap perutnya yang semakin membesar dengan senyum bahagia yang tercetak jelas di wajahnya.
“Terus kamu mau?” tanya Kevin lagi.
Ana menggeleng pelan. “Untuk apa banyak banget manggil orang untuk jagain aku? Pekerja yang ada aja, udah lebih dari cukup,” jawab Ana.
Kevin hanya tersenyum mendengar perkataan istrinya. Dalam hati kecilnya, ia merasa menjadi suami yang tidak berguna, karena selama ini Galang lah yang memenuhi kebutuhan mereka berdua.
Namun, di sisi lain juga ia sadar, jika dirinya masih belum dapat memenuhi segala kebutuhan Ana, yang selama ini hidup bergelimang harta. Ia pun masih perlu belajar banyak dari Galang dalam hal pekerjaan, dan belajar menjadi suami dan ayah yang baik dari orang tuanya.
“Ayo tidur, aku ngantuk,” ajak Ana mulai bergelayut manja pada lengan suaminya.
“Ya udah, ayo,” jawab Kevin langsung membantu Ana berbaring di ranjang, dan menyelimuti istrinya.
Dalam heningnya malam, dan posisi mata yang terpejam, Ana terus memikirkan cara untuk mendekatkan kembali Anggita dan Galang, hingga ia mengabaikan fakta jika kini Anggita adalah kekasih dari kakak laki-laki yang kini mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
Hingga akhirnya ia mulai terlelap dan memasuki alam mimpi.
***
Keesokan hari gadis itu memberi kode pada sang kakak untuk tidak lagi melakukan hal gila, sebelum dia melakukan sesuatu yang membuat Anggita benar-benar jauh dari dirinya.
Setelah Galang dan Kevin pergi kerja, Ana menghubungi Anggita. bertanya banyak hal, hingga ia mengutarakan keinginannya.
“Aku kangen banget sama Kakak. Sama Jihan juga. Udah lama kita nggak ketemu. Mau keluar rumah juga nggak boleh sama mereka berdua,” ujar Ana.
Terdengar tawa lirih dari balik teleponnya, hingga akhirnya Ana mendengar jika Anggita dan Jihan akan berkunjung ke rumah mereka esok hari.
“Beneran, Kak?” tanya Ana masih tidak percaya jika Anggita langsung mengiyakan permintaannya.
“Iya, tapi besok, ya. Soalnya dagangan hari ini udah terlanjur kebuat banyak. Nggak papa, kan?” jawab Anggita.
Ana mengangguk cepat, dan langsung sadar jika saat ini Anggita tidak melihat wajahnya.
“Iya, nggak papa, Kak. Besok aku tunggu ya, Kak,” jawab Ana ingin melompat kegirangan.
“Oke. Besok saya buatin kue yang spesial untuk kamu dan calon adik bayinya ya,” tutur Anggita dengan suara lembut yang membuat Ana semakin bahagia.
***
Anggita yang saat itu tengah mengemasi dagangan saat Ana menghubunginya, kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Tidak ada penolakan sama sekali atas permintaan Ana, karena ia tahu bagaimana berada di posisi Ana. Ditambah gadis itu setiap hari hanya ditemani oleh para pelayan yang terlalu membatasi diri saat berinteraksi dengan dirinya.
Sembari bekerja, gadis itu terus memikirkan waktu yang pas untuk dia berkunjung ke kediaman Galang. Karena ia berusaha untuk tidak bertemu dengan pria itu.
Setelah kejadian hari itu, Anggita memutuskan untuk meminta Jihan menyebar harga dagangan mereka ke grup teman-teman sekolahnya, sehingga esok pagi sang adik hanya perlu membawa pesanan teman-temannya, tanpa harus menjual donat lebih banyak dari sebelumnya.
Satu per satu pesanan yang Jihan kirim lewat pesan telah ia catat, dan Anggita mulai kembali membuat adonan baru.
“Semoga bisnisku dan Jihan semakin lancar,” ucap Anggita dengan harapan penuh, hingga tiba-tiba ia mendapat panggilan dari nomor yang tidak ia kenal.
“Iya, benar, Mbak. Ini dengan saya sendiri,” jawab Anggita saat perempuan di balik telepon menanyakan nama dan pekerjaannya.
__ADS_1
“Seratus kotak, Mbak?” tanya Anggita terkejut dengan penawaran si penelepon.
“Iya, Mbak. Itu pun masih baru untuk percobaan saja, kalau banyak karyawan di kantor kami yang suka, kemungkinan kami akan pesan lebih banyak dari ini,” jelas lawan bicara Anggita.
Tanpa pikir panjang, Anggita langsung mengiyakan tawaran yang diberikan padanya.
“Mau diambilnya kapan, Mbak?” tanya Anggita lagi.
“Hari ini bisa, Mbak? kalau nggak bisa, boleh besok saja saya ambilnya.”
Karena pemborong dagangannya tidak terburu-buru, Anggita pun menyetujui opsi kedua.
“Oke, Mbak. Insya Allah besok siang sudah bisa diambil,” jawab Anggita dengan wajah sumringah.
Setelah mencapai kesepakatan antara kedua belah pihak, Anggita pun bergegas melanjutkan pekerjaannya. Membuat kue untuk besok agar keesokan hari tidak terlalu banyak memakan waktu.
Rasa lelah dan keringat yang membasahi tubuh, tidak ia rasakan sama sekali. Menurutnya Tuhan telah membukakan pintu rezeki untuk ia kembali menggenapkan uang yang diberikan oleh papa Galang.
Hingga ia tidak sadar jika hari sudah semakin siang, dan Jihan telah kembali dari sekolah.
“Kak, donatnya banyak banget,” ujar Jihan berjalan mendekati Anggita yang masih sibuk dengan bahan adonan.
“Iya, ada yang pesan banyak. Mereka pesan 100 kotak, terus setiap kotak isinya lima macam donat,” jawab Anggita membuat Jihan melebarkan kedua matanya.
Jihan langsung bergegas menuju kamar. Meletakkan tas sekolah, serta langsung bertukar pakaian.
“Eh, kamu mau ngapain?” tanya Anggita saat Jihan duduk di sampingnya.
“Mau bantuin Kakak,” jujur Jihan dengan raut muka polos.
Anggita menggeleng pelan. “Makan dulu, istirahat, nanti baru kamu bantuin kakak,” ujar Anggita meminta Jihan untuk menjauh dari area dapur.
“Yaah, tapi itu banyak banget, Kak. Kakak juga pasti capek dari tadi ngerjainnya, ‘kan? sekarang kita istirahat dulu. Kita makan dulu. Kakak belum makan, ‘kan?” urai Jihan menarik tangan Anggita yang masih berbalur adonan kue.
“Kamu duluan aja.”
__ADS_1
***