The Last Love

The Last Love
Kejamnya Takdir Kita


__ADS_3

Gerakan tangan Galang terhenti, saat ia sudah menarik lengannya jauh ke belakang. Siap untuk melayangkan pukulan telak ke wajah kakak dari laki-laki yang telah menghamili adiknya.


“Alan, kamu nggak papa?” tanya Anggita langsung menghalangi tubuh Alan, dan siap untuk menerima pukulan tersebut.


Matanya terpejam rapat, ia bahkan tanpa sadar menahan napasnya. Tetapi ia tidak merasakan sesuatu mengenai tubuhnya.


“Kamu ngapain ke sini?” tanya Alan dengan suara parau.


“Aku nyari kamu. Kamu pikir aku ngapain di sini,” gerutu Anggita seraya membantu Alan berdiri, dan menjauhkan dia dari lelaki yang hendak kembali menghajarnya.


Tubuh Galang membeku, perlahan kepalan tangannya mengendur dan tangannya kembali ia turunkan. Kepalanya mulai terangkat menatap gadis yang memiliki suara mirip seperti wanita yang telah meninggalkan dirinya.


“Kamu gila ya? Kamu mau bunuh pacar saya? Kalo berani, kamu langkahi dulu mayat saya,” maki Anggita menarik kerah baju pria di hadapannya, dan menantang laki-laki itu.


Galang menahan posisi kepalanya yang masih sedikit menunduk, menatap gerakan bibir wanita yang melontarkan cacian padanya.


Anggita pun terus menunjukkan keberaniannya, tanpa sadar jika pria yang kini ia tantang adalah laki-laki yang mati-matian berusaha untuk ia hindari dan lupakan, meskipun semua itu gagal.


“Pacar kamu?”


Suara Galang begitu pelan, nyaris seperti bisikan. Seketika tubuh Anggita menegang.


‘Suara itu? Nggak mungkin suara Galang, ‘kan?’ tanya Anggita dalam hati.


Tubuhnya yang menegang, membuat cengkeraman tangannya pada kerah baju pria ia semakin kuat.


“Iya, pacar saya!” jawab Anggita dengan tegas.


“Sudah, Anggita. Lebih baik kita pulang,” ajak Alan menarik tangan Anggita hingga ia melepaskan tangannya dari kerah baju yang kotor oleh debu dan bercampur darah tersebut.


Tangan Galang terangkat, menyentuh ujung jemari tangan Anggita yang masih dapat ia sentuh sebelum gadis itu benar-benar berlalu dari hadapannya.


Seakan disengat listrik, tubuh Anggita mendadak bergetar. Sentuhan itu sangat singkat, tetapi ia dapat merasakan sentuhan tangan yang sama dengan enam tahun silam.


“Kamu naik apa ke sini? Kenapa kamu bisa di sini sih,” gerutu Alan karena takut jika terjadi sesuatu pada kekasihnya.


“Anggita!”

__ADS_1


“I—iya?”


“Kamu kenapa? Kamu nangis?” tanya Alan saat melihat air mata yang menetes di wajah kekasihnya.


“Gimana aku nggak nangis, lihat kamu luka-luka?” jawab Anggita menyentuh luka di sudut bibir Alan.


“Udah, aku nggak papa. Jangan nangis dong, maaf ya aku udah buat kamu khawatir. Padahal sebentar lagi aku mau pulang,” ujar Alan mengusap pipi Anggita dan menggandeng tangan kekasihnya keluar dari gang tersebut.


Dari balik tembok, Galang mendengar semua yang mereka bicarakan, membuat luka lama dalam hatinya kembali terbuka. Ia terus mengikuti sepasang kekasih tersebut, hingga manik matanya menangkap sebuah sepeda yang masih melekat kuat dalam ingatannya.


“Kenapa takdir kembali mempertemukan kita?” tanya Galang menatap kepergian Anggita.


“Aku aja yang bawa sepedanya, kamu luka-luka gitu,” ucap gadis itu tidak membiarkan Alan yang memboncengnya.


“Aku berat, Anggita. Nanti kamu nggak kuat dayung sepedanya,” jawab Alan tidak tega melihat Anggita kelelahan.


“Jangan keras kepala, nanti kita makin lama sampe rumahnya,” kukuh gadis itu menyuruh Alan untuk duduk di dudukkan belakang.


Melihat kekasihnya berubah galak, Alan pun menurut, dan menyuruh Anggita memberitahunya jika ia tidak kuat lagi mengayuh sepeda.


Sesampainya di rumah Alan, keduanya memilih untuk masuk lewat pintu belakang setelah mengirim pesan pada Kevin untuk membawakannya pakaian.


“Aku pulang duluan ya,” ucap Anggita pada Alan.


“Kenapa? Kamu kan belum makan.”


“Udah kok. Tadi sore aku makan, badan aku udah pegel-pegel semua,” elak Anggita memijat bahu dan lengannya.


“Ya udah. Mau aku anter?” tawar Alan.


“Nggak usah,” tolak Anggita.


Usai berdiskusi untuk menghadapi pertanyaan yang kemungkinan akan diajukan oleh kedua orang tua Alan, mereka pun kembali ke depan, dan bersikap seakan mereka benar-benar baru pulang.


“Alan, wajah kamu kenapa?” tanya bu Ratih langsung menghampiri putranya.


“Nggak papa, Bu. Tadi itu ada orang yang dijambret, jadi Alan bantuin,” jawab Alan menyengir lebar.

__ADS_1


“Iya, Bu. Kalo nggak ada Alan, nggak tahu gimana nasib orang yang dijambret tadi, Bu,” timpal Anggita menepuk pundak Alan sebagai ungkapan rasa bangga.


“Saya pamit pulang dulu ya, Bu,” ucap Anggita menyalami tangan bu Ratih dan pak Galih, serta membawa Jihan.


“Gimana tadi makannya? Enak nggak?” tanya Anggita saat mereka dalam perjalanan pulang.


“Iya, enak, Kak. Kan kakak yang masak,” jawab Jihan.


Setibanya di rumah, Anggita langsung meminta Jihan untuk istirahat, dan ia pergi menuju kamarnya sendiri. Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya tumpah tepat saat ia baru menutup dan mengunci pintu kamarnya.


“Kenapa takdir begitu kejam sama kita, Galang? Kenapa kita harus ketemu lagi?” lirih Anggita menutup mulutnya, agar isakkannya tidak terdengar sampai keluar kamar. Ia menekan kuat dadanya, rasa sakit atas sikapnya sendiri pada Galang, membuat hatinya terluka.


Namun, ia pun berusaha untuk menepis semua itu. Anggita berusaha yakin jika pria yang ditemui oleh kekasihnya bukanlah Galang.


“Nggak mungkin. Nggak mungkin dia di sini, untuk apa? Pasti aku cuma berhalusinasi aja,” ujar Anggita berusaha untuk menyanggah apa yang dirasakan oleh hatinya.


Ia menatap jemari tangannya yang sempat bersentuhan dengan laki-laki itu.


“Pasti aku yang terlalu berlebihan,” bantahnya lagi.


***


Di sisi lain, Galang pun mengurung dirinya, dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun, meskipun adiknya begitu cemas saat melihat kakaknya pulang dengan pakaian kotor dan wajah terluka.


“Takdir macam apa ini Anggita? Apa semua itu benar kalo kamu nggak punya perasaan apa-apa sama aku selama ini?” tanya Galang mengingat bagaimana tajamnya tatapan Anggita dari sela rambutnya yang terjuntai menutupi wajahnya.


“Apa semua itu belum cukup untuk kamu nyakitin aku? Kamu bahkan nggak bisa ngehargai perasaan laki-laki yang tulus mencintai kamu,” ujar Galang mengenang masa-masa sulitnya ia melewati hari demi hari, dalam kesendirian.


Bahkan setelah orang tuanya tiada, ia masih tidak dapat menemui sahabat lamanya, karena orang tua Denis melarang keras mereka untuk kembali saling mengenal.


Semua kenangan saat mereka bersama, hingga malam terakhir ia melihat Anggita, terus berputar dalam kepala Galang. Tatapan tajam, dan nada bicara Anggita masih sama seperti malam terakhir pertemuan mereka.


“Kenapa, Anggita? Apa karena aku nggak nolongin kamu waktu kamu dikurung ditoilet sekolah karena ulah Rania? Apa karena orang tua aku nggak restuin hubungan kita? Apa yang buat kamu sebenci itu sama aku?” tanya Galang dengan dada yang terasa sesak.


Ingin rasanya ia menarik gadis itu dan menanyakan semuanya. Bertanya alasan dibalik kepergiannya yang begitu mendadak, serta alasan kuat Anggita sangat membenci dirinya.


***

__ADS_1


__ADS_2