The Last Love

The Last Love
Superhero


__ADS_3

“Karena Kakak juga butuh sosok superhero,” seloroh Jihan membuat Anggita dan Alan tergelak.


“Kakak siap kok untuk jadi superhero kalian berdua,” ujar Alan kembali menatap Jihan lewat cermin.


Bocah SMP itu hanya membalasnya dengan senyuman, karena yang Jihan butuhkan bukanlah sekedar kata-kata. Ia ingin Galang. Ingin Galanglah yang menjadi superhero kakak dan dirinya, karena pria itu terbukti telah menyelamatkan kakaknya dan dia dalam banyak hal. Mulai dari meluluhkan hatinya dan benar-benar mengobati traumanya dengan membuat ia memaafkan masa kelam yang begitu dalam, serta membawa Anggita kembali saat Anggita hilang entah ke mana.


Sesampainya di rumah, Alan langsung berpamitan pulang. Anggita pun tidak menahan kekasihnya karena mereka sama-sama lelah dan butuh tidur yang cukup hari ini.


***


Rutinitas Anggita kini kembali seperti biasa. Menjadi pembantu di kediaman keluarga Alan. Lambat laun ia merasa semakin bingung dengan hatinya sendiri, tidak tahu siapa sebenarnya yang bertahta di sana, dan siapa yang ia inginkan untuk menjadi ‘superhero’ dalam hidupnya seperti yang sempat adiknya katakan waktu itu.


Kehadiran Galang yang tidak sepenuhnya hilang setelah kembalinya mereka ke rumah masing-masing, tidak dapat membuat Anggita sepenuhnya mengenyahkan pria itu dari pikirannya. Galang selalu memiliki cara tersendiri untuk meluluhkan hatinya, yang tidak pernah Alan lakukan padanya.


“Ahhh! Kenapa aku jadi memikirkan dia,” gerutu Anggita saat ia tengah memasak di dapur kediaman pak Galih.


“Ada apa, Anggita?” tanya bu Ratih berjalan mendekati Anggita yang berbicara seorang diri.


“Hm? Nggak ada apa-apa, Bu,” jawab Anggita menyengir lebar.


Sepanjang waktu bekerja di kediaman kekasihnya, Anggita mulai merasa harus sedikit menjaga jarak dengan Alan, hingga saat keluarga tersebut baru selesai menyantap makan malam, Anggita memberanikan diri untuk mengutarakan keinginannya.


“Ada apa, Nak? Tumben sekali kamu ingin mengatakan sesuatu sampai menunggu selesai makan malam begini,” ujar pak Galih melihat raut muka Anggita yang sedikit tegang.


Beliau merasa jika hal yang ingin Anggita katakan saat ini sangat penting.


“Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Ibu dan Bapak,” ujar Anggita menatap dua majikannya.


“Jadi aku ngeganggu ya di sini?” tanya Alan karena Anggita tidak membawa serta namanya, padahal ia berada di antara mereka.


“Eh, nggak. Kamu juga harus tahu apa yang mau aku omongin sekarang,” sanggah Anggita cepat.

__ADS_1


Alan mengulas senyum lebar, melihat kekasihnya yang langsung khawatir.


“Oke. Jadi, kamu mau ngomong apa? Mau minta kita segera nikah, biar bisa nyusul adik aku?” goda Alan membuat bu Ratih langsung mencubit perut putranya.


“Lho, mungkin aja kan Anggita mau ngomong langsung ke Ibu dan Bapak, biar surprise.” Alan membela diri.


“Bukan itu. Saya ingin mengatakan jika saya ingin berhenti bekerja di sini,” lontar Anggita seketika membuat ketiga pemilik rumah tersebut mematung menatap dirinya.


“Lho, kenapa dadakan gini, Nak? Apa kamu nggak nyaman kerja di rumah ini lagi? Atau anak ibu ini nyakitin kamu?” berondong bu Ratih masih syok mendengar keinginan Anggita, yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya.


Anggita mengibaskan tangan dan menggeleng pelan.


“Nggak, Bu. Alan nggak salah apa-apa, Ibu dan Bapak juga nggak salah apa-apa, kok,” ujar Anggita sebelum terjadi perdebatan yang tidak ia inginkan.


“Maaf kalau nanti alasan saya ini cukup aneh, tapi alasan saya kali ini memang karena Alan,” tutur Anggita menatap kekasihnya.


“Saya merasa kami berdua tidak ada jarak sama sekali. Saya tidak merasakan rasa rindu pada Alan. Karena itu saya ingin sedikit membuat jarak di antara kami berdua, untuk merasakan hal tersebut,” jelas Anggita.


Memang terkadang butuh jarak agar dapat merasakan arti sebuah kerinduan. Dan mungkin memang inilah yang Anggita butuhkan sekarang.


“Jadi, kamu selama ini nggak rindu sama aku?” tanya Alan pada kekasihnya.


“Diam dulu. Ibu paham maksud Anggita,” potong bu Ratih.


Karena pekerjaan dan kisah cinta mereka dua ranah yang berbeda.


“Kalau memang itu sudah jadi keinginan dan keputusan kamu, saya nggak bisa berbuat apa-apa. Tapi, boleh saya minta waktu untuk kamu tetap bekerja di sini sampai saya mendapatkan pengganti kamu?” pinta bu Ratih.


“Bisa, Bu,” jawab Anggita.


Setelah keduanya saling setuju, bu Ratih mempersilakan Alan dan Anggita bicara empat mata di halaman rumah. Setidaknya udara di sana lebih segar dibandingkan di dalam rumah.

__ADS_1


“Kamu nggak pernah kangen sama aku?” tanya Alan setelah mereka duduk bersama di bangku halaman rumah.


“Kangen. Tapi nggak sering, dan bukan rasa rindu yang sebenarnya aku rasain,” jujur Anggita.


“Kita tiap hari ketemu, dan cuma malam kalau aku sudah pulang aja kita berjarak. Singkatnya, aku pengen ngerasa rindu sama kamu,” tutur Anggita berusaha mengatakan dengan jelas apa yang ia inginkan.


Meskipun alasan tersebut tidak sepenuhnya benar, tetapi hanya dengan cara itulah ia dapat merasakan apa yang hatinya mau dengan lebih jelas.


“Kamu pahamkan maksud aku?” tanya Anggita saat Alan tak kunjung merespon perkataannya.


“Paham. Cuma kenapa baru sekarang? Setahun kita jalanin hubungan ini, kita baik-baik aja,” ujar Alan menatap dalam kedua manik mata Anggita.


Anggita tidak langsung menjawab pertanyaan Alan. Ia membasahi bibirnya dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Sebenernya aku udah lama pengen ngomong ini. Cuma aku takut. Takut kamu jadi berpikiran gini ke aku,” ucap Anggita.


“Dan ternyata benar, kamu jadi mikirnya ke mana-mana,” lanjut Anggita sedikit kecewa.


“Bukannya aku mikir ke mana-mana, aku berpikiran begitu karena kita belum pernah bahas soal ini sebelumnya, dan buat aku keputusan kamu terlalu mendadak,” ungkap Alan tidak sedikitpun menutupi perasaannya.


“Maaf. Aku nggak mau nanti kamu malah nentang keputusan orang tua kamu,” sesal Anggita.


“Ya udah, nggak papa. Aku juga seneng kalo kamu pengen ngerasain rindu sama aku,” ujar Alan tidak ingin Anggita bersedih.


“Maaf, kalo aku buat kamu marah dan kecewa karena keputusan aku,” ujar Anggita dengan tatapan penuh rasa bersalah.


Alan mengangguk pelan, dengan senyum hangat yang menenangkan. “Awalnya aku memang kecewa, tapi setelah dipikir-pikir keputusan kamu ada benernya juga. Aku juga pengennya kamu bener-bener jadi calon menantu di rumah ini. Bukan datang untuk kerja, tapi untuk ngunjungi orang tua aku,” papar Alan membayangkan hubungan mereka yang semakin membaik setelah ini.


“Jadi … sekarang kamu nggak marah lagi sama aku?” tanya Anggita menatap dalam manik Alan.


“Iya, aku nggak marah. Mana bisa aku marah sama perempuan sebaik kamu,” jawab Alan seraya mengusap pipi Anggita.

__ADS_1


***


__ADS_2