
Karena pikirannya dipenuhi oleh ungkapan para pesuruh orang tuanya, Galang berakhir dengan bermalam dalam ruang kerjanya yang sudah sangat berantakan seperti kapal pecah. Ia terbangun saat matahari mulai menyelinap masuk lewat celah tirai jendela yang berada di sampingnya.
Cahaya yang menyilaukan pandangannya, dan membuat ia dengan berat hati membuka mata. Bola matanya terasa sakit karena menangis semalaman. Galang menyentuh matanya yang terasa sedikit membengkak.
“Ahh,” ringis Galang langsung berhenti menekan matanya, dan beranjak berdiri. Karena penglihatannya tidak terlalu jelas, tanpa sengaja telapak tangannya menyentuh bagian ujung guci serta serpihan kaca yang berserak di dekatnya, membuat telapak tangannya berdarah.
Tanpa menghiraukan lukanya, ia berjalan menuju kamar dan membersihkan diri. Tidak tahu kapan ia tertidur atau pingsan dalam ruang kerjanya. Yang Galang ingat hanyalah cerita dari orang-orang berseragam hitam yang terus memenuhi seisi kepala.
“Aku akan menebus semuanya Anggita, dan aku akan perjuangin cinta kita,” janji Galang pada dirinya sendiri.
Setelah menyemangati diri, Galang bergegas membersihkan tubuhnya untuk pergi memeriksa perusahaan yang kini diurus oleh dua orang kepercayaan yang telah alhamrum papanya rekrut.
Kedatangannya yang mendadak ke dua kantor besar di kota tersebut, membuat seisi kantor bergegas menyiapkan laporan untuk diberikan pada bos besar mereka.
“Selamat datang, Pak Galang,” sapa para petinggi perusahaan.
Galang hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
“Santai saja, saya hanya ingin menemui para kepala divisi untuk melihat kemajuan dan kinerja para karyawan di sini,” ujar Galang setelah melihat semua karyawan terlihat sangat sibuk.
“Baik, Pak,” ucap CEO perusahaan.
Galang hanya menghabiskan waktu satu jam untuk setiap perusahaan yang ia datangi, karena ia tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai. Ia pun mengundang beberapa orang penting di perusahaan untuk menghadiri pernikahan adiknya yang akan diadakan kurang lebih satu minggu lagi.
“Semua ini tidak mendadak, semua sudah saya rencanakan,” ucap Galang saat melihat para bawahannya saling berbisik.
“Baik, Pak. Kami pasti akan datang,” ucap manajer perusahaan mewakili yang lainnya.
Setelah melihat kemajuan perusahaannya, Galang kemudian menemui seorang WO terkenal untuk menyiapkan pernikahan Ana di kediaman orang tuanya.
“Saya tidak ingin sesuatu yang berlebihan, karena adik saya tidak menyukai itu,” ucap Galang saat pihak WO menyodorkan dekorasi pernikahan yang menurutnya terlalu ramai, dan terlalu banyak warna.
Ia bahkan mengirim beberapa contoh pelaminan pada Ana, agar gadis itu memilih sesuai seleranya sendiri.
***
Ana yang saat itu tengah dikunjungi oleh Anggita, tentu langsung meminta pendapat gadis itu.
“Nah pas banget Kak Galang nelpon,” ucap gadis itu begitu riang.
“Aku baru aja mau balas pesan kakak,” ujar Ana saat panggilan mereka baru terhubung.
__ADS_1
“Mau yang mana?” tanya Galang tanpa basa basi.
“Yang awal aja,” jawab Ana dengan raut muka begitu cerah.
Namun, saat Galang mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, Ana melihat mata kakaknya sedikit berbeda.
“Kak,” panggil Ana.
“Hmm?”
“Mata kakak kenapa?” tanya Ana membuat Anggita yang sejak tadi diam menunduk, sedikit mengangkat kepalanya.
“Efek kamera,” jawab Galang asal.
“Iih, mana ada efek kamera sejelek itu,” protes Ana yakin jika mata kakaknya sembab.
“Oke, yang ini aja ya, Mbak,” ujar Galang menyerahkan buku design pelaminan pada pihak WO yang berada di dekatnya.
Tepat saat Galang memberikan buku tersebut, manik mata Ana menatap tangan kakaknya yang dibalut kain kasa.
“Itu tangannya kenapa?” serbu gadis itu.
Anggita yang diam menyimak, menjadi was-was dan cemas mendengar pertanyaan-pertanyaan Ana pada kakaknya.
“Nggak mungkin. Tangan kakak pasti luka,” kukuh Ana yakin jika penglihatannya tidak salah.
“Kak Anggita lihat kan, Kak. Kalo tangan kak Galang luka?” tanya Ana menoleh ke samping.
Mendengar adiknya menyebut nama Anggita, Galang langsung bertanya di mana adiknya berada dan dengan siapa.
“Aku di rumah sama Kak Anggita. Dia nganterin aku makanan, karena aku nggak selera makan makanan buatan pelayan,” jujur Ana.
“Kenapa? Memangnya masakan mereka nggak enak?” tanya Galang menahan diri untuk tidak membahas Anggita. Meski dalam hati ia berharap adiknya itu mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Anggita.
“Aku permisi pulang dulu ya,” ucap Anggita tidak ingin berlama-lama mendengar suara Galang.
Namun, suara Anggita justru membuat Galang semakin ingin mendengar suara gadis yang baru kemarin ia katakan sebagai perempuan kejam.
“Yaah, Kakak kok cepet banget pulangnya?” rajuk Ana membuat Galang menahan rasa senang.
“Kerjaan saya di sana belum selesai, Ana. Kan ada kakak kamu,” jawab Anggita menunjuk ponsel dalam genggaman Ana.
__ADS_1
“Tapi aku kesepian di sini, Kak. Memangnya nggak boleh ya sama tante Ratih Kakak di sini lama-lama?” tanya gadis itu dengan raut muka memelas.
“Maaf ya. Tapi memang sebelum ke sini, saya meninggalkan beberapa pekerjaan di sana,” ucap Anggita berusaha untuk segera menghilang dari kediaman gadis berbadan dua tersebut, meskipun ia ingin menemani Ana agar gadis itu tidak kesepian.
“Ya udah, kalo gitu Kakak hati-hati ya,” ucap Ana tidak lagi berusaha untuk menahan Anggita.
Gadis itu mengangguk dan berbalik menuju pintu utama.
“Kan ada kakak,” lontar Galang menyadarkan Ana jika panggilan mereka masih terhubung.
“Iya tahu. Tapi kan cuma di telepon aja,” jawab Ana mengerucutkan bibirnya.
“Nanti kalo semua udah beres, kakak langsung ke sana,” ujar Galang tidak tega meninggalkan adiknya lama-lama.
Setelah mengakhiri panggilannya bersama Ana, Galang kembali memanggil orang-orang yang menemuinya semalam.
“Saya akan kembali ke luar kota. Tugas kalian… ah tidak. Ini bukan tugas, tetapi hukuman karena kalian sudah menyakiti orang-orang yang saya sayangi,” koreksi Galang.
Sepuluh orang di hadapan Galang mulai gusar, karena takut jika bos baru mereka akan memberikan tugas yang susah dan berbahaya.
“Baik, Tuan.” Mereka hanya dapat patuh, tanpa tahu apa yang akan diperintahkan.
“Kalian harus membantu para WO yang akan mengurus pernikahan adik saya selama saya di luar kota. Kalau sampai terjadi kesalahan, hukuman kalian akan semakin berat,” jawab Galang dengan tegas.
“WO Tuan? Maksud Tuan, nona Ana yang akan menikah?” tanya salah satu pria yang terkejut mendengar berita tersebut.
“Ya. Jadi kalian harus bekerja dengan maksimal, sampai hari H,” tukas Galang.
“Baik, Tuan. Kami akan mengurus semuanya,” ucap mereka serentak.
Hati mereka tidak lagi gundah setelah tahu apa hukuman yang mereka terima. Menurut mereka, ini bukanlah sebuah hukuman, melainkan sebuah nikmat, karena mereka ikut andil dalam acara sakral tersebut.
Sudah cukup lama mereka melakukan pekerjaan kotor demi pundi-pundi uang untuk menghidupi keluarga mereka. Tetapi sekarang? Mereka sangat senang, karena mereka melakukan hal yang berguna, dan membuat keluarga tuannya bahagia.
“Hanya satu minggu. Jadi, kalian tidak akan punya waktu untuk malas-malasan,” ujar Galang lagi.
“Baik, Tuan.”
Galang kemudian memberi mereka waktu untuk membagi pekerjaan sebelum ia kembali menemui adiknya, serta Anggita.
“Tunggu aku, Anggita. Aku pasti akan kembali dan mempersatukan cinta kita,” ujar Galang sebelum ia memasuki mobil menuju bandara.
__ADS_1
Namun ia lupa jika gadis yang ia cintai memiliki kekasih, dan tidak tahu apakah cinta gadis itu masih sama seperti dulu atau telah berubah.
***