The Last Love

The Last Love
Cinta Beda Rasa


__ADS_3

Karena keduanya sudah sama-sama setuju, akhirnya mereka sebagai orang tua menuruti permintaan mereka, baik itu Alan atau Kevin yang lebih dulu menikah, mereka sama-sama mengharapkan seorang cucu.


“Ya sudah, nanti malam kita akan ke sana. Kamu tahu rumahnya, ‘kan?” tanya pak Galih pada Kevin.


“Tahu, Pak.”


“Kamu sama Jihan ikutkan Anggita?” tanya bu Ratih memastikan.


Dengan terpaksa, Anggita pun menuruti permintaan Kevin. Ia berharap jika tangan yang ia rasakan beberapa hari lalu bukanlah tangan Galang—mantan kekasihnya.


***


Malam pun tiba. Kini Kevin beserta keluarganya siap untuk mendatangi kediaman Ana. Sepanjang jalan Anggita menutup rapat bibirnya, jemari tangannya saling tertaut, takut jika hal yang sangat ia hindari benar-benar ada di depan matanya.


“Kakak kenapa?” tanya Jihan merasa sikap kakaknya berbeda sejak malam ia meninggalkan dirinya di rumah bu Ratih.


“Hm? Nggak papa, Kok,” jawab Anggita tersenyum kaku.


Semakin dekat perjalanan mereka, semakin kencang pula degup jantung Anggita.


“Assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam,” sahut Ana dari dalam.


Mendengar suara tamu sudah datang, Ana langsung membuka pintu dan menyalami tangan kedua orang tua Kevin, hingga pandangan mereka saling bertemu.


Gadis itu terlihat sangat cantik, meskipun sangat gugup, Ana berusaha untuk bersikap senormal mungkin.


“Mari silakan masuk Om, Tante,” ujarnya mempersilakan, dan menjauh dari ambang pintu.


Manik mata Anggita terus tertuju ke depan, hingga tatapannya bertemu dengan laki-laki yang ia harap hanya sebatas halusinasi.


“Kakak ganteng,” lirih Jihan menatap Galang dengan rasa haru dan bahagia.


Tanpa sadar genggaman tangannya pada Anggita mengencang.


“Euum, aku ke mobil bentar ya. Ada barang Jihan yang ketinggalan katanya,” ucap Anggita pada Alan yang berdiri di samping Jihan.


“Ya udah, jangan lama-lama ya,” jawab Alan.


“Kak, itu kakak ganteng,” ucap Jihan dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Bertahun-tahun lamanya gadis itu mengenang sosok Galang yang begitu hangat dan baik padanya. Meskipun Alan baik, semua itu tidak dapat menggantikan Galang dalam hati Jihan. Laki-laki itu yang telah membawa banyak warna dalam hidup dia dan kakaknya.


“Mungkin mereka cuma mirip aja, Sayang. Kamu diem aja ya. Kalaupun itu memang dia, pasti dia udah lupa sama kita. Kan udah lama,” ujar Anggita berharap Jihan tidak akan mengatakan apa pun.


“Anggap kita nggak pernah ketemu sama orang itu ya,” pesan Anggita sebelum kembali mengajak adiknya ke dalam.


“Kenapa, Kak? Kan kakak yang ngajarin Jihan untuk nggak sombong sama orang yang udah baik sama kita,” lontar Jihan melepaskan genggaman tangan Anggita.


“Semua udah berlalu Jihan. Nanti kita diem aja. Kalo udah di rumah, kakak jelasin semua sama kamu,” janji Anggita pada adiknya.


Akhirnya Jihan pun menurut, dan mereka kembali masuk.


Kedua belah pihak keluarga tengah membicarakan perihal pernikahan Kevin dan Ana. Mulai dari tempat melakukan pernikahan, tempat mereka tinggal, sampai di mana wanita itu akan melakukan persalinan.


“Saya tidak ingin mereka tinggal dikeramaian dalam waktu dekat ini,” ucap Galang dengan tegas.


“Apa kamu benar-benar siap untuk menjaga adik saya?” tanya Galang menatap Kevin.


“Saya sudah siap, Kak,” jawab Kevin dengan kedua sudut bibir terangkat.


“Kalau itu yang Nak Galang inginkan, kami akan mencarikan rumah untuk mereka yang jauh dari keramaian,” ujar pak Galih mengikuti keinginan Kevin.


“Setelah menikah, biarkan Kevin tinggal di sini bersama saya. Saya tidak akan melepas adik saya begitu saja, sebelum memastikan Kevin akan menjaga dia dengan baik. Kamu setuju?” tanya Galang kembali menatap Kevin.


“Baik. Jadi, untuk pernikahannya akan dilakukan di luar kota. Saya akan menyiapkan semuanya,” ujar Galang tak ingin membebani pihak laki-laki. Hartanya tidak akan habis hanya untuk membiayai pernikahan adiknya.


Kevin beralih menatap Anggita. Meminta persetujuan gadis itu, karena beberapa hari lalu ia menyerahkan uang untuk pernikahannya pada Kevin.


“Maaf, pak Galang. Kevin bukan keluarga miskin yang tidak mampu membiayai pernikahannya sendiri. Kami sudah menyiapkan uang untuk resepsi pernikahan mereka. Jadi Anda tidak perlu menghabiskan uang Anda sendiri, karena ini pernikahan mereka berdua,” ujar Anggita setelah sejak tadi hanya diam menyimak.


“Pak?” ulang Galang tidak menyangka jika Anggita akan memanggilnya dengan sebutan itu.


“Apa ada yang salah? Bukankah Anda wali dari Ana?” tanya Anggita.


“Ya. Karena kedua orang tua kami sudah tiada, dan hanya saya yang menjaga adik saya,” jawab Galang dengan tatapan yang begitu tajam.


Bibir Anggita kembali tertutup, setelah sejak tadi ia bertanya-tanya di mana keberadaan kedua orang tua Galang yang sudah memisahkan mereka.


“Baiklah, karena itu permintaan dari pihak kalian, untuk resepsi pernikahan saya akan angkat tangan,” putus Galang.


Anggita menghela napas lega.

__ADS_1


Usai pertemuan keluarga tersebut, Ana mengantar mereka sampai ke beranda rumah.


“Boleh saya bicara sebentar?” ucap Anggita memilih untuk keluar paling terakhir.


“Boleh. Ada apa, Kak?”


“Boleh saya tahu di mana makam kedua orang tua kamu?” tanya Anggita.


Terdengar aneh memang, tetapi ia ingin menemui makam kedua orang tua mantan kekasihnya.


Ana pun memberitahu letak makam kedua orang tuanya yang ada di luar kota. Kota yang menyimpan banyak kenangannya bersama Galang dulu.


“Kalau kamu ada waktu, kunjungilah makam mereka, dan ceritakan semuanya pada mereka,” pesan Anggita dengan senyum ramah.


“Jaga calon buah hati kalian baik-baik ya,” ucapnya lagi.


“Kamu nggak perlu khawatir. Sebelum kamu mengatakan itu, saya sudah menjaga dia dengan baik.”


Mendengar balasan dari kakak Ana, Anggita pun hanya mengangguk tanpa menoleh ke belakang.


Seperti ada yang tersangkut di tenggorokannya sampai ia begitu sulit untuk kembali berbicara pada cinta pertamanya.


Setelah kembali ke rumah, Jihan langsung meminta jawaban dari Anggita.


“Kenapa kakak ganteng nggak nyapa kita, Kak? Dia beneran lupa sama kita?” tanya Jihan terus menuntut jawaban dari kakaknya.


Semua pertahanan yang telah ia bangun bertahun-tahun runtuh begitu saja.


“Jihan Sayang. Kita udah lama nggak ketemu. Jadi, mungkin aja dia beneran lupa sama kita,” jawab Anggita berusaha untuk menghibur hati adiknya.


“Kalo gitu kita buat dia inget dan kenal sama kita lagi, Kak,” sarannya.


Anggita menggeleng pelan. “Untuk apa? Semua udah berlalu. Kan sekarang ada kak Alan, ada bu Ratih, pak Galih. Mereka juga baik sama kita,” ucap Anggita terus mengusap wajah Jihan yang basah.


Adiknya menangis karena laki-laki yang dulu sangat dekat dengannya, kini sudah berubah menjadi orang asing.


“Nggak usah diingat lagi ya. Anggap aja kita nggak pernah kenal sama dia,” bujuk Anggita membawa Jihan masuk dalam dekapannya.


“Hiks … pa-dahal Jihan kangen kakak ganteng,” jujur Jihan dalam dekapan kakaknya.


“Kan Jihan punya kakak. Ada kak Alan juga yang baik sama kita,” jawab Anggita berusaha untuk tetap kuat.

__ADS_1


“Beda, Kak.”


***


__ADS_2