The Last Love

The Last Love
Posisi Ini Lebih Aman


__ADS_3

MAAF, TANGAN KAMU KENA AIR LIUR AKU.


Kelopak mata Galang langsung membelalak, usai membaca satu kalimat singkat yang Anggita tujukan padanya. Cepat-cepat ia mencari tisu dan membersihkan tangannya.


“Kamu itu bener-bener ya,” gerutu Galang seraya membasuh tangannya menggunakan hand sanitizer yang berada dalam kantung celana jeans yang ia kenakan.


Dibangkunya Anggita hanya terkikik geli, padahal jelas jika tangan mantan kekasihnya itu basah oleh air mata. Namun, ia tidak ingin Galang mengetahui itu semua, dan membuat pria itu kembali berharap pada dirinya.


Setelah membersihkan tangannya, Galang tidak lagi meletakkan tangannya pada sisi jendela. Anggita pun memiringkan kepala pada kepala Jihan yang kini terlelap, dengan kepala menyandar pada bahu kanannya.


‘Gini aja mungkin lebih aman,’ batin Anggita sebelum benar-benar terlelap.


***


Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, dan menghabiskan waktu sehari semalam dalam mobil, akhirnya mereka sampai di kediaman Galang.


Pak Galih menghubungi supir pribadinya untuk menjemput mereka di rumah Galang. kemudian membantu sang supir serta orang suruhan Galang menurunkan barang-barang bawaan mereka.


Kini mereka bersama kumpul lebih dulu di dalam rumah Galang, mengingatkan tentang kesepakatan mereka jika Kevin akan tinggal bersamanya di kediaman Galang.


“Saya akan membantu Kevin mencari pekerjaan, dan berusaha membuat dia menjadi laki-laki yang bertanggungjawab,” ujar Galang pada kedua orang tua Kevin.


“Iya, Nak. Kami yakin kamu akan mengajarkan Kevin dengan baik. Sekali lagi terima kasih untuk semua bantuannya selama kami berada di kediaman kalian,” jawab Bu Ratih dengan senyum hangat terukir di bibirnya.


“Itu sudah menjadi kewajiban saya, Tante. Tante tidak perlu merasa sungkan,” balas Galang.


Anggita terus memperhatikan sikap Galang dalam berbicara yang tegas dan penuh rasa percaya diri. Sifat laki-laki itu tidak pernah berubah sama sekali, ia selalu optimis dalam semua langkah yang ia ambil, hingga ia merasa jika Galang lebih dewasa dari Alan.


Meskipun ia tidak menatap pria itu secara langsung, dari nada bicaranya saja ia dapat memahami hal tersebut. Masalah yang pria itu hadapi sejak mereka masih mengenyam bangku pendidikan, membuat Galang semakin dewasa dan tepat dalam mengambil keputusan.


“Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu,” pamit pak Galih.


Semua orang di ruang keluarga beranjak dari duduknya. Kevin menghampiri kedua orang tuanya, dan mendekap mereka. Ia tidak menyangka jika akan mengalami moment perpisahaan ini saat usianya masih muda.


“Ingat, jaga istri dan calon anak kamu baik-baik,” pesan pak Galih pada putra bungsunya.

__ADS_1


“Iya, Pak. Aku pasti akan jaga Ana sebaik mungkin,” jawab Kevin tersenyum pada Ana yang kini tersipu malu di sampingnya.


Ana lalu berjalan ke arah Jihan dan Anggita. Mendekap mereka bergantian, dan sangat erat.


“Kak Anggita sama Jihan nanti sering-sering main ke sini ya,” pinta Ana.


“Iya, Ana. Akan kami usahakan,” jawab Anggita sembari mengusap punggung tangan Anaya.


“Harus janji dong. Nanti aku pasti kesepian di sini,” desak Ana karena sudah menerka apa yang akan terjadi. Dua pria yang menemani dirinya sudah pasti akan sibuk bekerja.


“Memangnya kakak sama Kevin nggak cukup ya jadi teman kamu di rumah?” sela Galang berdiri di samping Ana.


Ana langsung menatap kakaknya dengan tatapan sinis, sedangkan Anggita hanya meliriknya sekilas.


“Emangnya Kakak sama Kevin bakalan di rumah? Nggak, ‘kan?” jawab Ana dengan ketus.


Ekspresi wajahnya yang kesal, mengundang tawa lirih keluarga mereka, karena raut muka Ana terlihat sangat lucu, ditambah dengan Galang yang hanya menanggapinya dengan santai.


“Kapan pun kamu butuh, saya akan datang,” lontar Anggita mengusap pelan pundak Ana, agar wanita itu tidak terlalu terbawa perasaan akan perkataan kakaknya barusan.


Mendengar jawaban Anggita, barulah mood Ana mulai membaik meskipun tetap kesal pada kakak kandungnya.


Setelah mengucapkan salam perpisahan, dan saling mendekap satu sama lain, keluarga pak Galih, Anggita, dan Jihan berjalan menuju mobil yang telah menunggu mereka.


***


Ada rasa yang hilang, saat Anggita baru menyadari jika jarak di antara dirinya dan Galang kembali terbentang, meskipun tidak seluas sebelumnya. Pria yang beberapa waktu ke belakang selalu merecoki hari-hari, dan memenuhi pikirannya, kini tidak lagi terlihat di depan matanya, dan ia harus kembali terbiasa dengan hal itu.


“Kamu mau mampir ke rumah dulu, atau langsung pulang aja?” tanya Alan menoleh ke arah kekasihnya.


“Langsung pulang aja,” jawab Anggita tersenyum singkat.


“Oh, oke. Kalo gitu biar aku yang anter kamu pulang ya,” tawar Alan ingin memperbanyak waktu bersama kekasihnya.


“Eh, nggak usah. Kamu juga pasti capekkan badannya?” tolak Anggita.

__ADS_1


“Udah, nggak papa. Bolehkan, Pak?” tanya Alan pada pak Galih.


“Ya terserah kamu. Kalo Anggitanya nggak keberatan kamu anterin pulang,” jawab pak Galih asal.


“Anggita kenapa nggak mau dianter pulang sama Alan?” tanya bu Ratih menoleh ke arah Anggita.


Gadis itu mengusap pelan tengkuknya dan tersenyum kaku. “Saya takut ngerepotin, Bu. Alan juga pasti capek,” jujur Anggita.


“Nggak papa. Biar ibu juga tenang, nggak takut kamu ada apa-apa di jalan,” tutur bu Ratih, akhirnya membuat Anggita mengizinkan Alan mengantarnya pulang.


Setelah mobil yang membawa mereka sampai di kediaman keluarga pak Galih, Alan yang duduk di bangku penumpang berpindah duduk di belakang kursi kemudi. Siap untuk mengantar kekasihnya pulang dengan selamat.


Sepanjang perjalanan, keduanya terus berbincang tentang pekerjaan yang akan kembali mereka jalankan seperti biasa.


“Kalo kamu masih capek, besok libur aja. Biar aku ngomong sama ibu,” ujar Alan sembari terus menatap jalan raya di hadapannya.


“Nggak usah. Hari ini aja udah cukup kok untuk aku istirahat,” tolak Anggita tidak ingin bersikap semena-mena hanya karena dia berpacaran dengan anak dari majikannya sendiri.


“Beneran? Aku nggak mau kamu sakit karena kecapekan,” balas Alan.


Anggita tersenyum tipis. Andai boleh memilih, ia lebih memilih kelelahan karena melakukan banyak pekerjaan, ketimbang harus lelah karena hatinya yang terus berkecamuk sejak ia bertemu dengan Galang.


“Kamu tenang aja. Pacar kamu kan kuat,” ucap Anggita seraya mengepalkan kedua tangannya, membuat Alan tergelak melihat tingkah kekasihnya.


“Jihan, gimana perasaan kamu tinggal sama seorang wonder woman?” tanya Alan melirik Jihan dari kaca tengah mobil.


“Siapa, Kak?” tanya Jihan, karena sejak tadi tidak menyimak pembicaraan dua orang dewasa di depannya.


“Kakak kamu,” jawab Alan.


Jihan diam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat untuk ia berikan pada Alan.


“Kak Anggita lebih dari itu, Kak. Tapi Jihan nggak mau Kak Anggita selamanya jadi wonder woman Jihan,” jujur Jihan.


Mendengar jawaban Jihan, Anggita pun langsung menoleh ke arah adiknya dengan raut muka bingung.

__ADS_1


“Memangnya kenapa, Sayang?”


***


__ADS_2