The Last Love

The Last Love
Impian Baru


__ADS_3

Dengan berat hati akhirnya Alan pun rela berpisah dengan kekasihnya.


“Kamu jaga diri baik-baik ya, tunggu aku di sana,” ucap Alan sebelum melepas kekasihnya untuk pergi ke bandara.


Kini Anggita, Galang, Kevin, Ana, dan Jihan berada dalam satu mobil. Sedang Alan, bu Ratih dan pak Galih berada di mobil yang ada di belakang mereka. Galang bahkan menyediakan seorang supir agar mereka tidak lagi perlu mencari-cari jalan dan alamat menuju kediaman Galang.


Anggita berada di bangku belakang bersama Jihan. Kevin dan Ana saling bersebelahan, dan Galang duduk tepat di samping supir.


“Kak, kakak baik-baik aja?” tanya Jihan menatap kakaknya yang hanya diam membisu.


“Iya, Sayang,” jawab Anggita melengkungkan sudut bibirnya ke atas.


Meskipun mereka terpisahkan oleh bangku mobil, hati Galang sudah cukup senang karena tidak ada penganggu di antara mereka, dan tentu tidak ada pria lain yang membuat hatinya panas.


Sepanjang perjalanan menuju bandara, Jihan tidak mencoba untuk memanggil Galang atau bicara dengan laki-laki itu. Tidak ingin kakaknya tahu jika mereka sempat bertemu dan membincangkan banyak hal.


‘Aku tahu, kakak masih sayang sama Kak Galang. Tapi kenapa kalian malah jaga jarak?’ tanya Jihan dalam hati.


Saat jet keluarga milik Galang mulai mengudara, Jihan dan Anggita saling berpegangan tangan. Kevin yang baru pertama kali menaiki transportasi udara tersebut pun cukup tegang, sehingga Ana berusaha untuk meyakinkan kekasihnya jika mereka baik-baik saja.


‘Jadi aku yang berasa jones di sini,’ batin Galang menatap adiknya dan Anggita yang duduk berpasangan.


Sepanjang perjalanan, jemari tangan Anggita dan Jihan tidak terlepas. Bahkan genggaman mereka semakin mengencang, hingga Anggita tidak tahu jika kini tangan kecil yang berada dalam genggamannya sudah berubah.


“Udah, nggak papa,” ujar Galang mengusap lembut punggung tangan Anggita yang sudah sangat lama ia rindukan.


“Coba kamu buka mata kamu. Ini nggak semengerikan yang kamu bayangin Laras,” bujuk Galang.


“Kamu ngapain di sini? Adik aku mana?” tanya Anggita tanpa membuka mata.


“Jihan lagi nikmatin pemandangan dari atas,” jawab Galang perlahan berhasil membuat Anggita membuka mata.


Ia pun mengintip Jihan yang tengah berbicara dengan seorang perempuan cantik.


“Dia siapa?”


“Pacar aku,” seloroh Galang langsung mendapat pelototan dari Anggita.


“Sana! Kamu nggak takut pacar kamu cemburu?” usir Anggita langsung melepaskan genggaman tangannya dari Galang.

__ADS_1


Galang tersenyum lebar melihat raut muka gadis di sampingnya berubah kesal.


“Nggak ada yang bisa gantiin kamu dalam hati aku Laras,” ungkap Galang dengan senyum hangat yang mampu merobohkan tembok pertahanan Anggita.


“Aku nggak ada dekat sama perempuan mana pun, semenjak kamu pergi,” jujurnya lagi.


Anggita yang mengalihkan pandangannya dari Galang, berusaha keras untuk tidak termakan oleh bujuk rayu mantan kekasihnya itu. Namun, ia pun percaya karena Ana sudah lebih dulu bercerita padanya.


“Bukan urusan aku.” Jawaban yang Anggita berikan begitu ketus, tetapi semua itu tidak membuat Galang menyerah untuk kembali mendapatkan hati gadis di sampingnya.


“Lihat. Bagus, ‘kan?” tunjuk Galang pada pemandangan alam yang tampak dari atas.


Tanpa sadar Anggita pun mengikuti arah yang Galang tunjuk. Pemandangan dari atas ternyata lebih indah. Bahkan ia dapat melihat tempat-tempat yang tidak pernah ia kunjungi.


“Suatu saat, aku akan bawa kamu keliling dunia,” ujar Galang meluncur begitu saja dari bibirnya.


Anggita bergeming. Ia tidak tahu harus menjawab apa, karena di satu sisi ada hati lain yang harus ia jaga.


“Kita sudah selesai,” ucap Anggita mengingatkan Galang agar tidak melewati batasan mereka.


Kata-kata itu berhasil membuat Galang tidak lagi menggoda dirinya, atau berbicara seolah mereka merupakan sepasang kekasih.


Sedang ia duduk di samping perempuan bertubuh ramping dengan pakaian modis.


“Sepertinya saya gagal,” adu Galang pada perempuan di sampingnya.


“Gagal itu kesuksesan yang tertunda, Tuan,” jawab perempuan yang merupakan salah satu orang suruhannya.


“Berarti kalau saya belum mendapatkan hati dia, artinya saya belum sukses?”


Pertanyaan Galang sontak membuat gadis itu tertawa, hingga Anggita pun menoleh ke arahnya.


“Dia hanya berusaha untuk tidak goyah, Tuan,” bisik gadis itu.


“Jangan menoleh, Tuan. Dia sedang melihat kita,” larangnya saat Galang ingin menoleh ke arah Anggita.


“Oke. Kalau begitu terus tertawa agar dia semakin cemburu,” perintah Galang.


Gadis itu melebarkan kelopak matanya, karena begitu sulit baginya untuk tertawa saat tidak ada hal yang lucu, sehingga ia memutuskan untuk mengubah cara berinteraksinya dengan Galang, agar tidak ketahuan oleh gadis yang diam-diam memperhatikan mereka.

__ADS_1


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga jam, kini mereka dalam perjalanan menuju kediaman Galang. Bukan hanya Kevin dan Jihan yang terpana melihat rumah bak istana tersebut, tetapi juga Anggita yang notabenenya pernah menjadi kekasih putra sulung sang pemilik rumah.


“Ayo masuk,” ajak Galang kemudian memerintahkan para pelayan untuk membawa koper mereka. Sebelum tiba di rumah, Galang meminta sepuluh orang yang ikut andil dalam menyakiti Anggita dan Jihan untuk tidak muncul di hadapan mereka, sebelum ia panggil.


Kevin yang mabuk perjalanan, akhirnya langsung beristirahat di kamar tamu yang ada di lantai pertama, agar ia dapat segera membaringkan tubuhnya. Ana pun dibawa oleh para pelayan untuk menuju kamarnya. Hingga kini tinggallah Anggita dan Jihan yang berada di hadapan Galang.


“Bisa ikut aku sebentar?” pinta Galang menatap kakak beradik di hadapannya.


“Ikut ke mana?” tanya Anggita penuh waspada.


“Ada orang yang ingin bertemu kalian,” jujur Galang.


Jihan pun mengangguk, dan menyetujui permintaan Galang.


Mereka berjalan menaiki lantai dua di rumah tersebut, dan memasuki ruangan yang menurut Anggita sebuah ruang kerja.


“Kenapa kamu bawa kami berdua ke sini?” tanya Anggita saat Galang menutup pintu dari dalam.


“Laras, tenanglah. Aku nggak pernah ada niat buruk sama kamu,” ungkap Galang berusaha sabar melihat sikap Anggita yang sangat mencurigai dirinya.


“Duduklah. Sebentar lagi mereka akan datang,” suruh Galang menunjuk sofa yang ada di dekat mereka.


Jihan yang yakin jika Galang tidak melakukan hal buruk padanya, menarik tangan Anggita agar mereka duduk bersama.


“Suruh mereka masuk,” titah Galang dari balik telepon.


Tidak lama kemudian, delapan orang berpakaian kaos santai memasuki ruang kerja Galang.


Seketika tubuh Jihan dan Anggita menegang saat tatapannya bertemu dengan para pria yang pernah menyiksa mereka. Tanpa sadar, Jihan meremas tangan Anggita dengan kuat, hingga membuat Anggita menunduk dan meringis kesakitan.


Melihat Jihan yang takut, Galang langsung menghampiri Jihan dan mendekapnya.


“Syuut! Kamu tenang ya. Semua baik-baik aja. Mereka mau minta maaf sama kamu,” ujar Galang mengusap rambut Jihan.


Bahu gadis itu sudah bergetar, dan isakannya mulai terdengar samar.


“Aku takut. Mereka orang jahat,” ucap Jihan tidak berani untuk menatap orang-orang yang berdiri di hadapannya.


“Maksud kamu apa bawa mereka ke hadapan kami berdua?” tanya Anggita melayangkan tatapan membunuh pada Galang.

__ADS_1


***


__ADS_2