
“Aku harap kejadian hari ini cukup untuk menjadi kenangan kita sebelum kita kembali terpisah,” ujar Galang dalam hati.
Begitu berat rasanya ia memacu mobil kembali ke rumah, karena itu berarti mereka akan kembali berpisah, dan ia akan cemburu melihat pria itu kembali mendekati wanitanya.
Jika ia harus mengizinkan Anggita berdekatan dengan laki-laki lain, ia lebih memilih Denis. Karena sahabatnya itu begitu setia dan baik padanya. Serta ia juga ikut andil dalam menjaga Anggita, walaupun saat itu usia mereka masih remaja.
Hingga mereka tiba di rumah, keduanya tetap saling diam. Anggita lebih dulu keluar dan memasuki rumah, sedang Galang berusaha menenangkan hatinya di dalam mobil.
“Nggak. Aku nggak boleh terus-terusan desak dia. Ingat Galang, Anggita bukan gadis sembarangan yang dengan mudahnya nyakitin hati orang lain,” ujar Galang berusaha untuk sadar dengan posisinya saat ini.
Baru saja Anggita berjalan sampai di depan pintu, Ana dan Jihan sudah lebih dulu datang memeluknya.
“Kak Anggita ke mana? Kita semua panik nyariin kakak,” ujar Jihan dengan mata sedikit bengkak.
“Maaf ya, Sayang. Tadi kakak cuma mau jalan-jalan, nggak tahunya malah kesasar,” jawab Anggita.
Hanya alasan itulah yang cukup logis untuk ia utarakan di hadapan semua orang.
Melihat Alan yang berjalan ke arahnya, Jihan dan Ana pun menjauh. Memberi ruang pada laki-laki itu untuk bertatap muka dengan kekasihnya. Saat ditanya oleh Alan pun, Anggita memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya.
“Kalo kamu mau jalan-jalankan bisa pergi sama aku. Kamu ngomong aja, kita bisa pergi sama-sama,” ujar Alan dengan kedua telapak tangannya menangkup pipi Anggita.
“Maaf. Aku pikir tadi kamu lagi sibuk,” jawab Anggita dengan tatapan bersalah.
Melihat kemesraan di antara keduanya, serta Alan yang terang-terangan menyentuh Anggita, membuat hati Galang memanas.
“Kamu nggak perlu khawatir. Dia baik-baik aja. Cuma kehujanan aja tadi. Jadi, saya bawa dia ke tempat teman saya yang nggak jauh dari tempat saya nemuin dia tadi,” jelas Galang sebelum Alan bertanya lebih banyak dan menaruh curiga pada Anggita.
__ADS_1
“Ya, terima kasih, Gal. Sudah menolong Anggita,” ucap Alan pada Galang.
Mendengar penggalan panggilan Alan pada Galang, Anggita berusaha untuk tidak tertawa, hingga ia menundukkan kepala agar raut mukanya tidak terlalu kentara. Tetapi semua itu sedikitpun tidak luput dari Galang yang memperhatikannya lewat ekor mata.
“Santai saja. Dia kan tamu di rumah ini. Kalau ada apa-apa dengan dia, maka saya yang harus bertanggung jawab,” balas Galang.
‘Seneng ya kamu aku dipanggil gitu,’ batin Galang dengan hati menghangat melihat tingkah Anggita.
“Jihan, kamu ajak kakak kamu ke kamar ya. Takutnya dia juga lupa kamarnya ada di mana,” ujar Galang langsung diangguki oleh Jihan.
Alan yang merindukan kekasihnya dan masih belum puas melihat Anggita, mau tidak mau akhirnya mengizinkan Jihan membawa kekasihnya itu memasuki kamar, karena dia sudah pasti butuh istirahat setelah hujan-hujanan di luar.
“Jangan ilang-ilangan lagi ya. Kalo kamu mau ke luar, kamu bilang aja sama aku. Oh ya satu lagi. Bapak sama ibu setuju kalau kita mau pulang besok,” ujar Alan sebelum Anggita pergi meninggalkannya.
Anggita cukup terkejut mendengar kabar tersebut. Namun urusannya di sini belum selesai.
Di dalam kamarnya, Anggita kembali bertanya pada Jihan tentang keputusan sang adik untuk bertemu dengan orang-orang yang telah berbuat jahat pada mereka berdua.
“Iya, Kak. Jihan udah siap ketemu sama mereka. Kakak udah bilang sama Kak Galang?” jawab Jihan.
Anggita mengangguk pelan. “Nanti kakak kasih tahu dia lagi,” ucap Anggita mengulas senyum hangat pada adiknya. Ia juga meminta maaf pada Jihan karena sudah membuat adiknya itu menangis ketakutan.
“Untung tadi ada kak Ana yang temenin Jihan di kamar sambil nunggu Kakak,” papar Jihan, membuat Anggita bersyukur karena orang-orang di sekitarnya menyayangi Jihan meskipun ia tidak berada di sisi adiknya.
Ia yakin jika perbuatan baik yang ia lakukan, akan berbalik pada dirinya sendiri. Anggita bukanlah gadis yang sangat baik, tetapi ia selalu berusaha menjadi orang yang baik dan melakukan semua hal dengan tulus.
Tidak dapat ia bayangkan bagaimana jika Ana tidak menemani adiknya, mungkin saja mata berbinar Jihan masih mengucurkan air mata saat ia pulang tadi.
__ADS_1
***
Anggita duduk termanggu di kamarnya menatap langit malam kota yang telah lama ia tinggalkan. Semua masih terasa sama, begitu pula dengan cinta yang ada di hatinya. Kata-kata Galang kembali berputar dalam kepalanya, bagai musik yang diulang berkali-kali. Karena terlalu menikmatinya, kejadian bersama Galang beberapa waktu ke belakang mulai bermunculan.
Sesekali ia tersenyum, tertawa kecil, dan terkadang kesal sendiri mengingat sifat menyebalkan Galang. Sejujurnya Galang tidak menyebalkan, dia sangat baik dan saat bersama dirinya, Anggita merasakan satu hal.
Bersama Galang ia menjadi dirinya sendiri. Mengekspresikan semua perasaannya dengan jelas. Kesal, marah, ngambekan, semua ia perlihatkan dengan jelas tanpa peduli dengan reaksi atau respon Galang terhadapnya.
Namun, saat bersama Alan ia selalu menjaga sikap. Menjadi pribadi yang baik dan tidak banyak tingkah. Ia pun tidak meminta banyak hal tiap kali mereka pergi bersama. Dalam hati kecilnya, Anggita merasa bersalah pada kekasihnya itu. Alan selalu memintanya untuk lebih terbuka dalam banyak hal, tetapi ia justru melakukan hal yang sebaliknya. Ada banyak dan semakin banyak hal yang Anggita harus sembunyikan dari kekasihnya.
“Aku harus jaga jarak sama Galang, sebelum Alan mikir yang nggak-nggak. Setelah semuanya selesai, aku akan jauh-jauh dari dia,” putus Anggita memantapkan hatinya.
Ia keluar dari kamar dan pergi menuju kamar Galang. Mengetuk pintu kamar Galang beberapa kali, tanpa ada jawaban.
“Kak Anggita. Kakak nyariin Kak Galang?” tanya Ana berjalan mendekati Anggita.
“Iya. Apa dia sudah tidur ya?” tanya Anggita berbalik menatap Kana.
“Kak Galang jarang tidur jam segini, Kak. Jam segini itu masih sore kalo bagi dia. Coba Kakak naik tangga yang ada di dekat ruang kerja dia. Dia biasanya ada di atas sana,” saran Kana.
“Oke. Kamu sendiri kenapa keluar? Nanti Kevin nyariin lho,” goda Anggita karena Ana keluar kamar seorang diri.
“Mau cari makanan di dapur, Kak. Perut aku laper banget,” jawab Ana mengusap perutnya yang datar.
“Ya udah, ayo saya antar,” ucap Anggita menuntun Ana menuruni tangga.
“Eeeh, nggak usah, Kak. Aku bisa jalan sendiri,” tolak Ana tidak ingin Anggita menunda waktu untuk bertemu dengan kakaknya, meski ia sendiri penasaran kenapa malam-malam begini, Anggita ingin menemui Galang bukan kekasihnya.
__ADS_1
***