
Setelah mengembalikan sepeda yang mereka sewa, Anggita mencari waktu singkat untuk membisikkan pada Jihan, agar ia bersikap seakan ini benar-benar pertemuan keduanya dengan Citra dan Farah, tanpa menyinggung atau membahas hal yang berbau masa lalu.
“Memangnya kenapa, Kak? Mereka nggak inget sama Jihan?” tanya Jihan begitu lirih.
Tatapan gadis itu sangat sendu berbalut sedih, padahal baru beberapa saat lalu ia tertawa lepas bersama sang kakak dan calon kakak iparnya.
“Nanti kalo kita udah pulang, kakak ceritain semuanya. janji,” ucap Anggita sungguh-sungguh.
Jihan hanya mengangguk lemah. Menuruti apa yang kakaknya minta dan siap untuk mendengar penjelasan Anggita nanti.
***
Kini mereka sudah tiba di sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari taman hiburan yang cukup luas tersebut.
“Aku pesan minuman dulu ya,” pamit Citra.
Ia melirik Farah, agar tidak melakukan hal aneh yang dapat menghancurkan rencana mereka. Dengan sedikit was-was, Citra bangkit dari tempat duduknya menuju meja pelayan. Memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka berlima.
Tidak sampai setengah jam, semua pesanan Citra sudah tertata di atas meja.
“Ayo cicipin dulu makannya.” Citra mempersilakan Alan, Jihan, dan Anggita menyantap makanan di hadapan mereka.
Anggita mengangguk ramah, ia mengambil kentang goreng yang ada di hadapannya.
“Jadi kalian ini pacaran ya?” ulang Farah sebelum bertanya lebih banyak pada Anggita.
“Iya, Mbak,” jawab Anggita singkat.
“Udah berapa lama? Eh, tapi kok kalian bisa ada di sana? Salah satu dari kalian kerabat mempelaikah?” tanya Citra lagi.
“Ya. Mempelai prianya adik saya,” jawab Alan ditimpali dengan anggukkan kepala oleh Anggita.
Lagi-lagi Citra dan Farah ber oh ria. Perbincangan mereka terus berlanjut, hingga mereka mulai kembali merasa dekat dan tidak lagi canggung untuk bertanya banyak hal. Sesekali Alan menjawab pertanyaan yang diajukan padanya. Selebihnya Anggita dan Jihanlah yang lebih banyak berbicara.
“Kamu cantik banget, mau nggak kalau jadi adik kami berdua?” Farah yang sudah sangat gemas sejak tadi ingin mendekap Jihan, berhasil mengajukan tawaran tersebut.
Jihan hanya diam. Ia menggigit bibir bawahnya dengan netra bergerak gelisah. Tentu saja ia sangat senang, tetapi ia bingung bagaimana cara mengungkapkan kebahagiannya sekarang.
__ADS_1
“Ayo sini,” panggil Citra melambaikan tangan agar Jihan berjalan ke arahnya.
Ragu-ragu, Jihan beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Citra dan Farah. Mereka saling berpelukan. Pelukan hangat yang sangat Jihan rindu, dan ingin rasakan sejak mereka baru bertemu di taman tadi.
“Maafin kita berdua ya, Sayang. Tapi mbak yakin, kakak kamu pasti akan jelasin semuanya,” bisik Citra di dekat telinga Jihan.
Gadis itu hanya mengangguk pelan.
“Tetap jadi adik baiknya kita berdua ya, Jihan,” pesan Farah sebelum melepaskan dekapannya.
Tidak ada balasan dari Jihan. Ia ingin menangis sekarang. Tidak tahu kenapa mereka harus bersandiwara seperti sekarang.
“Jadi, kalian akan tinggal di sini, atau gimana?” tanya Citra menatap Anggita dan Alan bergantian.
“Besok kami akan kembali ke tempat tinggal kami,” jawab Anggita berusaha untuk tegar, dan bersikap seolah semua baik-baik saja.
“Kenapa nggak tinggal di sini aja?” tambah Farah.
“Karena sebentar lagi Jihan mau sekolah,” jawab Jihan dengan polos.
“Oh iya. Padahal kita baru ketemu dan kenal sebentar ya. Tapi rasanya itu….”
Kedua sudut bibir Anggita terangkat ke atas. Sedih rasanya harus kembali pisah dengan dua wanita yang telah ia anggap sebagai kakak sendiri. Semua perhatian yang Citra dan Farah berikan pada dirinya dan Jihan, tidak ada yang bisa menggantikannya.
Sebelum berpisah, Anggita menyempatkan diri untuk mendekap mereka berdua dengan erat. Sedang Alan sudah lebih dulu pergi menuju mobil.
“Kamu beneran mau pergi besok?” tanya Citra.
“Iya, Mbak. Makasih karena udah nyempetin waktu untuk ketemu aku dan Jihan, dan maaf karena kita harus bersikap kayak gini,” jujur Anggita.
“Ini semua Galang yang ngatur, Anggita. Dia bahkan kasih kami izin pulang lebih awal, biar bisa ketemu kamu sama Jihan,” ungkap Citra.
Anggita tahu, dan ia merasa berhutang budi pada Galang yang tetap membantu dirinya, meskipun ia terkadang bersikap tidak baik pada laki-laki itu.
“Aku harap kamu bahagia sama pasangan baru kamu itu ya,” ujar Farah dengan mata berkaca-kaca.
“Walaupun kita berharapnya kamu tetap sama Galang,” lontar Citra begitu jujur.
__ADS_1
Anggita hanya dapat tersenyum pahit. Sulit rasanya untuk kembali bersama ketika sudah ada orang lain di antara mereka.
“Aku pulang dulu ya, Mbak,” pamit Anggita.
“Eh, tunggu, Git! Kita minta nomor kamu ya, kita nggak mau kehilangan kamu lagi,” ucap Farah langsung menyodorkan ponselnya pada Anggita.
“Ini nomor aku, Mbak. Kalian berdua pulangnya hati-hati ya,” pesan Anggita sebelum berjalan meninggalkan mereka.
“Jihan pulang dulu ya Mbak,” ucap Jihan menyalami tangan Citra dan Farah, tetapi mereka justru kembali mendekap Jihan dengan erat.
“Pokoknya kita harus sering video call ya. Kita berdua kangeeeen banget sama kamu,” ujar Farah seraya menyeka air matanya yang mengalir tanpa bisa dicegah.
Keduanya terus melambaikan tangan dan tersenyum saat melihat mobil yang membawa Jihan dan Anggita perlahan menjauh dari pandangan mereka.
“Aahhhh, aku masih kangen banget sama mereka,” kata Farah dengan tangis yang mulai pecah.
“Iih, jangan nangis di sini, Far. Malu tahu diliatin,” gerutu Citra bergegas membawa Farah menuju mobil yang telah Galang sewakan untuk mereka berdua.
Hampir satu jam Citra berusaha untuk menenangkan Farah yang menangis tersedu.
“Gimana kalo ternyata cowok itu nggak bisa bahagiain dia? Gimana kalo dia nyakitin Anggita?” tanya Farah pada sahabatnya.
“Jangan ngomong gitu. Kita doain Anggita bahagia, kalo tuh cowok sampe nyakitin Anggita sama Jihan, aku pastiin hidup dia nggak akan tenang,” jawab Citra dengan tangan terkepal.
“Heem. Sekalian potong aja ‘anu’nya,” imbuh Farah dengan suara parau.
“Iya, nanti kamu sendiri yang potong,” sahut Citra berusaha menahan tawanya agar tidak pecah.
Setelah menenangkan Farah, Citra menghubungi Galang. Memberitahu bosnya jika mereka telah bertemu dan bercerita banyak hal.
“Sekali lagi terima kasih, Pak,” ucap Citra.
“Nggak usah pake terima kasih, Mbak. Kalian berdua itu udah jadi bagian penting dalam hidup Anggita. Saya nggak mau sampe dia lupa dengan itu semua,” jawab Galang dari balik telepon.
“Kamu bagian yang sangat pentingnya, Galang,” ujar Citra mengingatkan posisi bosnya itu dalam hidup Anggita.
“Di masa lalu, Mbak. Masa depan dia ada di depan kalian berdua tadi,” sanggahnya.
__ADS_1
“Sudah dulu ya, Mbak. Saya masih ada kerjaan. Besok juga saya akan pergi dari kota ini sama mereka. Mobilnya kalian bawa aja dulu,” jelas Galang sebelum mengakhiri panggilan mereka.
***